
Heris dan Helios adalah saudara kembar. Mereka adalah sopir pribadi yang bergantian bekerja untuk Aiden. Kali ini Helios yang tengah bekerja untuk Aiden, sementara Heris menjaga kediaman Aiden dengan para satpam di sana. Mobil itu berjalan perlahan menuju hotel tempat mereka menginap. Rapat hari pertama telah selesai dan sukses. Namun ekspresi Aiden nampak tertekuk. Helios adalah orang yang pendiam, lebih pendiam dari saudara kembarnya Heris. Meski begitu, bahkan dia bisa merasakan bahwa suasana diam di mobil itu agak sedikit berbeda.
Aiden duduk di belakang dan mengenakan kacamata hitam. Sementara Ken duduk di samping Helios. Ken yang sangat peka dengan atasan sekaligus sahabatnya itu melirik ke arah Aiden. Dan laki-laki itu menatap ke luar jendela dengan diam dan terlalu fokus. Itu membuat Ken memperhatikannya dan merasa penasaran.
“Astaga.. apa kau memakai kacamata hitam untuk menutupi kelopak mata yang mulai menghitam itu?” tanya Ken.
Mata Aiden memang sedikit menghitam. Semalam ia hampir tidak tidur sama sekali. Ditambah kesibukan hari ini. Sekarang bahkan tahu-tahu sudah malam lagi. Aiden hanya mendengus kesal, tak menanggapi ocehan Ken. Ken mengangkat satu alisnya. Dia bertanya-tanya apa kiranya yang mengganggu Aiden. Setelah sekian lama berpikir, asisten handal itu menemukan satu asumsi yang menurutnya paling mungkin.
“Apa terjadi sesuatu antara kamu dengan Zura? Apa kamu sedang frustasi kesekian kalinya?” tanya Ken.
“Sepertinya kamu bahkan melewati malam yang sangat panas jika melihat kissmark kemarin.” Lanjut Ken yang mengingat kissmark di leher Aiden saat mereka berangkat.
Kini Aiden mengalihkan tatapannya dari pemandangan luar. Dia menatap Ken dengan sebal. Dia bersiap marah, namun dia mengurungkannya. Aiden memang frustasi karena Zura, dan Ken adalah orang yang biasanya membantu Aiden saat hal semacam ini terjadi. Jadi, Aiden memutuskan untuk berkonsultasi pada Ken.
“Hei! Apa pendapatmu mengenai Zura?” tanya Aiden.
__ADS_1
“Hem.. Aku berniat mengincarnya jika bukan karena kamu mengincarnya lebih dulu.” Jawab Ken santai.
“Kamu berani?! Aku akan mengirim kamu ke Afrika saat kamu masih menyisakan niat itu meski hanya sebesar upil.” Ucap Aiden setengah berteriak.
Ken tertawa. Lucu rasanya menggoda Aiden terkait Zura. Biasanya Helios lebih suka diam dan tidak ikut campur sama sekali. Namun kali ini dia sedikit tertarik dengan pembicaraan itu dan akhirnya menyela.
“Saya mendengar kabar dari Haris. Nona beradaptasi dengan baik di rumah. Bahkan nona sudah cukup dekat dengannya dan Pak Awit. Nona juga menyapa Heris dan para satpam.” Ucap Helios.
“Benarkah? Wah.. hebat sekali. Kupikir dia akan meringkuk di dalam rumah dan takut bertemu orang lain.” Ucap Ken.
Dan Zura akan selalu baik-baik saja tanpa Aiden.
Zura adalah perempuan yang sangat luar biasa, sangat bersinar, dan hatinya baik. Zura adalah perempuan bermartabat, dan Aiden adalah laki-laki bajingan. Aiden memaksa situasi Zura dimana dia hanya bisa menikahi Aiden. Tapi terlepas dari seberapa mendesak situasinya, mungkin lebih baik jika Zura tidak menikah sama sekali dibanding harus menikah dengan bajingan sepertinya. Zura akan selalu bisa melewati masalahnya dengan baik.
Kenapa Aiden memikirkan hal tak berguna semacam ini? Apa karena dia takut? Apa yang dia takutkan?
__ADS_1
“Hei..” ucap Aiden, entah siapa yang sebenarnya dia panggil.
Ken dan Helios sama-sama diam, seolah menunggu Aiden untuk berbicara.
“Kau sangat mengenalku bukan? Aku hidup dengan bebas, dan merasa baik-baik saja meski aku hidup sebagai seorang bajingan. Aku selalu berpikir bahwa aku terpesona pada Zura. Kupikir hanya itu saja. Namun aku sekarang bertanya-tanya. Sebenarnya, apa yang kurasakan pada gadis itu? Aku rasa, aku terlalu terobsesi padanya. Bahkan aku berpikir aku tak ingin melepaskannya. Tapi, untuk apa?” ucap Aiden penuh tanya. Suaranya lirih.
Ken membelalak, lantas mengerjapkan matanya. Dia masih tak percaya dengan apa yang dia lihat dan dengar. Butuh beberapa saat sampai Ken menemukan sebuah jawaban yang terasa pas di hatinya.
“Hm.. apakah itu penting? Apa ada masalah? Jika kamu tak mengetahuinya sekarang, kamu bisa mengenali perasaanmu perlahan. Bahkan jika aku menjawabnya, belum tentu jawaban itu benar. Tapi, aku meyakini satu hal. Kamu melihat Zura sebagai wanita spesial dibanding semua wanita lain yang pernah kamu kenal. Jadi, bukankah kamu hanya perlu menjadi diri sendiri dan mengikuti kata hati?” ucap Ken.
Aiden menatap Ken lama. Dia memikirkan kata itu dengan baik-baik. Aiden tak terpikirkan sama sekali. Lebih banyak dia dilema antara mempertahankan Zura atau melepaskannya. Kenapa dia tidak mengikuti kata hati saja? Aiden telah hidup seperti itu selama ini. Apa dia sedang bimbang untuk berubah? Kenapa harus berubah? Aiden pun menutup matanya. Dia memutuskan untuk tidur.
Ken melirik ke arah Aiden yang tampak terlelap. Benar-benar bodoh. Bahkan Ken bisa melihat betapa spesialnya Zura bagi Aiden. Dan juga, bukankan pemandangan ini sudah menjelaskan semuanya? Fakta bahwa Aiden sangat memikirkan Zura dan fakta bahwa dia sangat peduli pada gadis itu. Bahkan jika perasaan Aiden bukan cinta, dia pasti sangat menghargai gadis itu. Dan mungkin saja, takkan ada wanita lain yang begitu spesial dalam hidup Aiden seperti halnya Zura. Aiden telah menemui sangat banyak wanita, namun hanya untuk Zura dia selalu melakukan segala upayanya.
Bukankah semua itu sudah cukup menjelaskan perasaan Aiden pada Zura?
__ADS_1