Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Permintaan Aiden


__ADS_3

“Mungkin sebaiknya kita bercerai, Zura..” ucap Aiden.


Seketika, senyuman tipis Zura luntur. Dengan cepat gadis itu berusaha menguasai ekspresi wajahnya.


“Apa kamu bisa menjelaskan alasannya pada ku, Aiden?”


Mata Aiden kembali berkaca. Mendengar namanya disebut membuat Aiden semakin merasakan kehangatan yang menyesakkan. Zura terus menyebut namanya, memanggilnya, seolah mereka tidak sedang membicarakan suatu permasalahan pelik. Terlebih, gadis di depannya bertanya dengan suara rendah yang tenang. Padahal, Aiden tahu perasaan Zura juga pasti tengah berkecamuk hebat. Zura wanita yang tangguh dan teguh, namun dia masih seorang manusia.


“Kamu tidak lagi memiliki hutang janji, Zura. Kamu telah menepati janji pada pamanmu untuk menikah. Berita dan rumor buruk tentang aborsi dan perselingkuhan mu juga telah dibersihkan. Pernikahan kita juga tidak diketahui khalayak. Jika kita bercerai sekali pun, takkan ada masalah. Tak ada gunanya lagi mempertahankan pernikahan ini..” ucap Aiden.


Zura menatap Aiden dengan nanar, matanya berkaca-kaca, sebagaimana mata Aiden yang tampak memerah. Namun perempuan itu berusaha tetap bersikap tenang menghadapi Aiden. Kehidupan telah mengajarinya bahwa emosi dan amarah hanya akan memperkeruh keadaan. Tentu saja ada masanya dia tak bisa menahan diri. Tapi sekarang, belum saatnya. Zura masih harus bisa menahan gejolak hatinya.


“Hanya karena itu?” tanya Zura dengan lembut. Meski hatinya semakin bergemuruh. Bahkan tenggorokannya terasa panas karena menahan diri.


Aiden menatap wajah Zura dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu lagi-lagi, Aiden menarik sudut bibirnya dan menampakkan sebuah senyuman pahit. Dia tak lagi bisa, menahan diri untuk tidak mengatakannya pada Zura.


“Aku telah mengkhianatimu, Zura..” ucap Aiden kemudian, sangat lirih. Dengan mata berkaca, dan senyuman yang penuh kepahitan.


Rasa bersalah. Dan rasa gagal. Dua perasaan itu telah menghantui Aiden dan membuat laki-laki itu terus terpuruk. Hatinya kacau antara mempertahankan dan melepaskan Zura. Nahasnya, saat ia mulai berpikir untuk meminta maaf dan mempertahankan Zura, kejadian dua malam lalu terjadi. Bagaimana bisa Aiden menatap wajah Zura sekarang? Ia bahkan merasa dirinya sangat hina.


Padahal, sejak perjanjian pertama, Zura telah menyatakan dengan jelas bahwa ia takkan menerima pengkhianatan.


Zura menelan ludah. Ia sama sekali tak mengira bahwa Aiden akan mengucapkan hal ini. Dan saat melihat Zura menunjukkan air muka penuh kebingungan itu, Aiden kembali mengeratkan genggaman tangannya, membuat Zura menatap laki-laki itu.

__ADS_1


“Aku telah mengkhianatimu, Zura. Malam terakhir saat aku berada dalam perjalanan bisnis, aku mabuk dan salah memasuki kamar. Aku mungkin tak mengingat apa pun tentang malam itu. Aku juga sama sekali tak mengenal gadis itu. Sayangnya, bekas percintaan kami tertinggal sangat jelas di tubuh satu sama lain.”


“Aku telah mengkhianatimu, Zura. Dan aku sangat tersiksa oleh rasa bersalah. Karena itu lah aku pergi menghindar dan aku terlalu malu untuk pulang ke rumah. Aku terus bimbang untuk meminta maaf dan berusaha mempertahankan pernikahan ini, atau harus haruskah aku mundur dan melepaskannya. Namun.. pada malam nahas kemarin, aku justru membuat kesalahan ku semakin besar.”


Zura diam. Bibirnya begitu kelu. Meski ia ingin membuka suara, nyatanya semua itu tercekat dalam tenggorokannya yang panas dan serak. Mendengar semua itu secara langsung dari Aiden membuat perasaannya kacau. Amat sangat kacau.


“Maafkan aku.. sungguh..” ucap Aiden lirih.


Meski gadis di depannya masih tampak tangguh menahan air mata, Aiden tahu bahwa Zura pasti sangat membencinya. Siapa yang tidak benci? Mereka melakukan malam pertama dengan sedikit kasar. Lalu Aiden meninggalkannya pergi pada pagi keesokan harinya. Dan saat kembali, Aiden tak pulang ke rumahnya. Dan saat bertemu, Aiden justru melecehkannya dengan sangat kejam dan tanpa perasaan. Kemudian, kini ketika mereka bertemu kembali, Aiden mengakui perselingkuhannya dan mengajak bercerai.


Usia pernikahan mereka bahkan belum menginjak satu bulan. Hanya dua pertemuan sejak mereka menikah. Dalam dalam dua pertemuan itu, Aiden telah memperlakukan Zura dengan sangat bejat.


“Jika mengikuti ego ku, aku ingin tetap mempertahankan hubungan kita, Zura. Malam di mana aku melakukan kesalahan, aku merutuki diri karena tidak mengingat apa pun. Aku tak tahu apa yang terjadi, dan bagaimana aku berakhir bercinta dengan seorang wanita yang tak aku kenal. Tapi, yang paling membuatku tersiksa adalah karena aku merasa sangat kacau dan bersalah. Aku telah mengkhianati istriku.”


“Sekarang, aku tidak yakin. Aku sama sekali tidak memiliki keyakinan bahwa aku mampu membahagiakan dan memperlakukan kamu dengan baik. Hidup bersamaku membuat kamu yang bersinar sempurna memiliki noda hitam dan cela. Aku kini sadar, bahwa ternyata aku memang tak pantas untukmu. Banyak laki-laki yang akan menghargaimu jauh lebih besar. Dan mereka akan memperlakukanmu dengan lebih baik dan mungkin akan sempurna. Dan mungkin orang itu bukan aku, aku tak akan pernah bisa melakukannya.”


Kini air mata Zura sudah kembali mengalir deras. Tangisan gadis itu tak bersuara, namun tubuhnya tampak berguncang hebat. Aiden memaksakan dirinya untuk duduk. Meski kepalanya terasa berdentum karena sakit, atau tubuhnya yang terasa sangat berat, Aiden berusaha bertahan. Melihat Zura yang menangis jauh lebih menyakitkan untuknya. Perlahan, Aiden merengkuh tubuh Zura dengan lembut, mengusap punggung gadis itu.


“Maaf.. sungguh, maafkan aku..”


Itu bukanlah permintaan maaf agar Zura tetap bertahan bersamanya. Itu sebuah permintaan maaf sekaligus salam perpisahan. Aiden akan melepaskan Zura. Dia tahu, di antara semua orang di dunia ini, mungkin dia lah orang yang paling tidak pantas berada di sisi Zura.


Waktu berlalu perlahan, dengan air mata Zura perlahan juga mengikis. Gadis itu telah menangis cukup lama dalam rengkuhan Aiden. Zura mendorong bahu Aiden pelan kala keadaannya telah kembali tenang. Dengan lembut, laki-laki itu menghapus jejak tangisan yang masih tampak membasahi pipi Zura.

__ADS_1


“Haha..” Zura tiba-tiba terkekeh ringan. Bahkan dengan senyuman yang begitu manis. Meski ada sisa kepahitan di sana. Senyum itu tetap sama, tetap sebuah senyum yang memikat hati para lelaki.


Ah! Siapa pula laki-laki yang takkan berdesir melihat senyuman itu, kecuali laki-laki tidak normal. Aiden menatap bingung, namun juga menahan ludahnya karena terpesona wajah manis di depannya.


“Kamu sedang menggoda ku dengan senyuman itu, Zura. Jangan tersenyum terlalu manis atau aku akan kesulitan melepaskanmu.” Ucap Aiden. Entah dia tengah mengancam, memuji, atau merayu.


Sejenak, Zura terdiam. Menyisakan senyuman masih sedikit tertinggal di sudut bibirnya.


“Apakah senyuman ku manis?” tanya Zura pelan. Ia tak menatap wajah Aiden. Bukan karena malu, melainkan karena hatinya masih terasa kacau.


“Ya. Amat sangat manis. Kalau tidak, bagaimana bisa aku terpesona selama bertahun-tahun.”


Baru kemudian, Zura mengangkat wajahnya, menatap Aiden. Tidak ada jejak tersipu dalam wajah gadis itu. Aiden hanya membalas tatapan itu dengan manik yang sama. Jika berhadapan dengan Zura, ia tak akan bisa menebak hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini juga masih sama. Hatinya tersihir hingga ketar ketir, dan gadis di depannya masih dengan wajah penuh ketenangan.


“Apa artinya semua itu? Suami ku berselingkuh, dan mengajakku bercerai.”


Aiden menelan ludahnya, mengetatkan gigi. Wajah Zura masih begitu teguh menatapnya tanpa gentar. Justru Aiden lah yang kini merasa gentar. Tatapan Zura sangat teduh menenangkan, lalu kenapa hati Aiden seperti tersayat ribuan sembilu?


“Kamu adalah orang yang paling berbakat menyentil hati orang lain, Zura.”


“Aku hanya mengatakan kenyataan.”


Aiden menarik pingang Zura dengan pelan. Membuat dua tubuh itu kembali menempel. Wajah keduanya begitu dekat. Tapi hanya itu, Aiden tak berniat mengambil keuntungan apa pun. Ia hanya ingin menikmati waktu ini, meski mungkin akan segera berakhir. Dengan keberanian terakhir, Aiden menatap Zura dengan tatapan yang begitu dalam.

__ADS_1


“Zura.. Jika aku memintamu memaafkan ku, dan mempertahankan pernikahan kita, apakah kamu bersedia?”


__ADS_2