Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Seorang Paman dan Pemikirannya


__ADS_3

“Paman?” Zura menatap lelaki yang dipanggil ‘paman’ itu dengan tatapan bertanya-tanya.


Bagaimana tidak? Tiba-tiba pamannya berkunjung ke rumahnya. Ralat, rumah Aiden. Paman Dhika datang setelah membuat keributan besar di antara para satpam dan penjaga. Lebih anehnya lagi, Paman Dhika datang dengan raut wajah yang menampakkan rasa tidak suka yang begitu jelas. Ada gurat kemarahan dan kesedihan di dalamnya. Zura menghembuskan nafasnya. Entah masalah apa lagi yang ‘tanpa sengaja’ telah ia buat. Yang jelas, pamannya takkan datang tiba-tiba dengan amarah kecuali ada sesuatu yang salah.


“Permisi.. Silahkan non, pak, dinikmati minumannya.” Bi Inah datang dengan membawa minuman dan cemilan dalam nampan. Zura tersenyum menatapnya.


“Bi, tolong jangan keluar dari dapur dulu. Yang lain juga tolong jangan ke mari. Kami ingin membicarakan sesuatu yang penting.” Ucap Zura.


“Iya. Tentu non. Silahkan berbincang dengan nyaman.” Jawab bi Inah dengan anggukan pasti. Bi Inah lantas pamit undur diri.


Zura beranjak duduk di sofa di hadapan paman Dhika, menatap orang tua yang telah merawatnya.


“Ada masalah apa, paman?” tanya Zura dengan pelan dan sopan. Tadinya dia ingin menanyakan kabar. Tapi karena paman Dhika sepertinya membawa berita buruk, Zura mengurungkannya. Ia tak ingin membuat amarah pamannya meledak.


“Di mana suami mu?” tanya paman Dhika dengan sangat tajam.


Seketika itu pula Zura membeku. Aiden seharusnya sudah pulang sejak kemarin. Tapi dia tak kunjung datang. Juga tak memberi kabar apa pun. Saat orang-orang mansion bertanya, Zura hanya tersenyum dan bilang Aiden akan sedikit terlambat. Selamaman pula gadis itu menunggu sampai kantung matanya menghitam. Jangankan pulang, seutas kabar pun tak ada. Dan pagi ini, tiba-tiba pamannya datang dengan amarah meledak menanyakan Aiden. Bagaimana Zura harus menjawabnya?


Gadis itu tersenyum.


“Aiden sedang sangat sibuk. Pernikahan kami mendadak dan tanpa persiapan. Padahal, hari-hari ini Aiden hampir sama sekali tidak memiliki waktu luang. Paman tak perlu khawatir. Aiden sudah memberi tahu aku sebelumnya.”


BRAAKK!!


Andhika pun dengan berangnya menggebrak meja. Membuat Zura berjengit kaget.


“SIBUK?!! Sibuk kamu bilang?”


Zura menelan ludahnya. Memangnya kenapa? Sungguh, kemarahan pamannya sangat menakutkan. Bahkan saat Zura dikabarkan aborsi, paman Dhika tak semarah ini.

__ADS_1


“Ada apa paman?” tanya Zura, masih berusaha bersikap sopan dan menahan ketakutannya.


“Kamu sungguh tak tahu?” Paman Dhika menatap Zura dengan nanar.


Zura semakin bingung. tadi pamannya marah besar, sekarang tampak sangat bersedih. Sebenarnya kenapa?


“Ini salah ku. Selena benar. Seharusnya aku percaya pada mu. Ini sungguh salah ku..”


Zura menatap pamannya dengan bingung. kenapa pula melibatkan Selen?


Ah! Apakah sekarang pamannya tahu bahwa berita aborsi dan selingkuh itu palsu? Entahlah. Lagipula, tahu pun sudah tak ada artinya.


Brak!!


“Ayah!!”


Suara melengking itu membuat Zura dan Andhika menoleh. Selen tampak datang dengan wajahnya yang sama-sama kesal. Dia mendekat dan berdiri di hadapan Ayahnya dengan amarah meluap.


Zura yang melihatnya dengan cepat menghampiri Selen.


“Selen.. tenanglah.” Ucap Zura dengan lembut.


“Kak! Ini salah Ayah. Ayah sendiri yang tak percaya pada kakak. Ayah sendiri yang memaksa kakak menikah!!” Teriak Selen kencang. Dengan keras, lagi-lagi paman Dhika menggebrak meja dan berdiri dengan wajah yang sama-sama marah. Selen yang biasanya takut ekarang hanya menatap ayahnya dengan mata berkaca.


Ah entahlah! Orang-orang mansion belum tahu bahwa status Zura adalah istri Aiden. Yang mereka tahu, Zura hanyalah kekasih Aiden. Bagaimana jika setelah ini mereka tahu? Zura memutuskan memikirkan hal itu nanti. Sekarang, melihat Selen dan Paman Dhika bertengkar jauh lebih memusingkan.


“Aku memang ingin kakakmu segera menikah! Lalu keluar dari dunia artis yang penuh kebusukan! Apa yang salah?!” Teriak Dhika dengan penuh amarah.


“Ya! Dan sekarang kakak sudah menikah! Lalu Ayah datang untuk memintanya bercerai?!”

__ADS_1


“Tunggu, bercerai?” Zura menatap paman Dhika dengan tatapan bertanya. Sayang, jangankan dijawab, pertanyaannya bahkan tak didengarkan. Paman Dhika dan Selen masih saling berteriak.


“Aku ingin dia menikah! Tapi bukan dengan bajingan!”


“Bajingan apa? Ayah sendiri yang merestuinya!!”


“Itu karena aku tak tahu berita selingkuh dan aborsi itu palsu!!”


“Itu karena Ayah tak percaya pada kakak!!”


Teriakan Selen itu sempurna membuat Andhika diam. Benar. Itu memang kesalahannya. Andhika juga tahu. tapi bukankah tak masalah selagi Zura bercerai. Itulah yang kini ada dalam pikiran Andhika. Dia sungguh tak rela keponakannya menikah dengan seorang bajingan seperti Aiden.


“Tetap saja. Aku tak ingin Zura menikahi seorang bajinga. Itu memang salah ku. Jadi bukankah seharusnya aku memperbaikinya sebelum menjadi lebih jauh?” ucap Andhika. Kali ini dengan nada suara yang rendah.


Zura hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia lantas membimbing paman dan sepupunya itu agar kembali duduk di sofa.


“Sudahlah. Ayo duduk dan bicarakan ini dengan baik.”


“Zura—


“Paman!!” Zura memotong ucapan paman Dhika, menatapnya dengan lekat.


“Paman merasa bersalah karena menghakimi ku tanpa tahu kebenarannya bukan? Tapi faktanya, aku yang sekarang sudah menikah. Aku sudah bukan tanggung jawab paman. Dan aku sudah tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkan paman lebih dari keinginanku sendiri.”


Andhika bungkam. Ia selalu tahu. Keponakannya Zura adalah gadis yang santun dan sangat menghormatinya. Alih-alih memaksa, gadis itu berusaha meyakinkannya saat pertama kali ingin keluar rumah untuk mandiri dan terjun dalam dunia peran. Dan juga, Andhika sangat terlambat menyadarinya. Dia sangat terlambat menyadari betapa gadis itu sangat mencintai dan menghormatinya sampai mengorbankan banyak keinginannya.


Andhika baru tahu itu semua setelah pertengkaran besarnya dengan Selena sehari lalu. Dalam amarah yang sangat besar, Selena mengungkapkan semuanya. Bahwa Zura sangat menyukai tarian, dan gadis itu hanya bisa bermain diam-diam karena tahu pamannya tak menyukainya. Beberapa kali pula gadis itu mendapat tawaran panggung sejak SMP, namun lagi-lagi ditolak. Justru ia menghabiskan waktu untuk belajar karena pamannya yang menuntutnya menjadi anak yang cerdas dan membanggakan.


Zura juga sangat menyukai musik dan drama kolosal. Namun ia selalu menolak tampil karena takut pamannya kecewa. Pamannya ingin dia maju ke atas panggung sebagai siswa berprestasi. Dan pamannya juga tak menyukai main-main semacam itu. Andhika memang tak suka melihat para pemeran panggung saat mengisi hiburan. Dan karena rasa tanggung jawab, Andhika justru meminta Zura mempelajari bela diri dasar. Bahkan saat SMA dan kuliah, Zura memilih jurusan berdasarkan perintah dan keinginan Andhika.

__ADS_1


Selena menatap ayahnya yang termenung. Dia tahu ayahnya pasti tengah memikitkan pertengkaran terakhir mereka.


“Tolong jangan membuat kakak bersedih lagi lebih banyak, Ayah. Bisakah ayah mendengarkan keinginan kakak? Aku tahu ayah sangat menyayangi kakak dan ingin melindunginya. Tapi di mata ku, cara Ayah salah. Tidakkah ayah bisa menghargai kakak?”


__ADS_2