
Zura dengan kesal mengembalikan ponsel itu pada Luci.
'Sesuai dugaan. Ini benar-benar ulah Aiden.' Batin Zura kesal.
Bagaimanapun, Aiden pasti punya banyak cara menyadapnya saat dia berada di kamar hotel.
'Ck.. jarang ada orang yang membuatku mengucapkan kata-kata kasar. Ah masa bodoh!'
Lagi-lagi Zura hanya bisa mengutuk Aiden dalam hati. Setidaknya karena Zura adalah publik figure, dia selalu bersikap baik untuk menjaga imagenya. Tapi siapa yang takkan marah dalam situasi ini?
...**...
Hari itu Zura harus terus berkejaran dengan waktu. Dia masih tak bisa menemui Krish atau yang lainnya. Dia merasa kesal.
"Sekarang bahkan sudah sore. Aku mungkin akan gagal."
“Tapi, kenapa Aiden sampai melakukan ini? Apa dia memang sebenci itu padamu?” tanya Luci yang tiba-tiba merasa penasaran.
Zura mendengus kesal.
“Kurasa Aiden bukan orang yang sekekanakan itu, apalagi pada perempuan.” Jawab Zura singkat.
Itu benar.
Setahu Zura, Aiden selalu memperlakukan wanita yang menjadi kekasihnya dengan baik, dan dia tetap menjaga batasan terhadap wanita meski dia seorang playboy bajingan. Bahkan jika dia sangat marah, dia akan menahan diri jika itu perempuan. Tentu saja Aiden akan bersikap bengis jika yang melakukannya adalah laki-laki.
“Lalu kenapa dia melakukannya padamu? Apa dia menganggap kamu laki-laki?!” tanya Luci serius.
"Pfft.."
__ADS_1
Zura menahan tawanya.
“Dia tidak kekanakan pada perempuan, kecuali aku.” jawab Zura.
Namun, saat itu cukup berisik hingga suaranya tak terlalu terdengar oleh Luci. Luci hanya mengernyitkan dahinya. Dia memilih diam. Mobil itu sudah mulai melangkah pelan memasuki area parkir. Mereka sampai di lokasi selanjunya.
Pada akhirnya mereka kembali ke kota C. Tempat dimana mereka memang tinggal. Tempat ini bahkan hanya 20 menit dari kediaman Luci. Dan paling hanya 10 menit untuk pergi ke biro pencatatan sipil. Berkat Aiden, Zura harus mengemudi berkeliling seharian sampai kota K.
Sebenarnya, sedikit banyak Zura tahu kenapa Aiden melakukan ini padanya. Tetap saja, dia tak yakin. Seseorang seperti Aiden yang dapat mengganti wanita kapan saja. Bagaimana bisa dia percaya pada kata-kata playboy semacam itu?
“Ah!! Krish!!” teriak Luci.
Zura, pun terkesiap. Ia langsung mengikuti arah pandang Luci. Benar saja, Krish berjalan sendirian di sana. Zura membuka pintu mobilnya.
"Luci aku duluan, tunggu aku di sini!!"
Takkan ada waktu lain. Zura berlari. Krish tampak berbalik pergi. Dia pun meraih pergelangan tangan itu. Krish berbalik dengan ekspresi terkejut.
“Krish..” ucapnya pelan.
Krish, laki-laki dengan rambut lurus, wajah putih, dan bibir merah itu menatap Zura dengan tatapan terkejut. Ada sorot kesedihan di matanya. Zura sedikit canggung karena melihat ekspresi wajah Krish. Dia segera melepas tangannya.
“Krish.. ada yang ingin ku sampaikan. Aku butuh bantuan mu..” ucap Zura.
Bahkan jika dia merasa tak enak, dia sangat membutuhkan bantuan Krish. Raut wajah Krish seketika berubah. Itu tampak tak menyenangkan, membuat Zura ragu mengucapkan kalimat selanjutnya. Krish menunduk, lantas membuka mulutnya.
“Aku tak tahu apa yang terjadi. Apa itu kesalahan?” ucap Krish.
“A.. Apa?” Zura tak mengerti maksud ucapannya. Tapi entah kenapa dia merasakan firasat buruk.
__ADS_1
“Apa kamu dijebak? Atau apa? Aku tak tahu. Tapi.. bagaimana bisa dengan begitu teganya melakukan aborsi?” Krish menatap Zura dengan tatapan kecewa.
Sekejap, dunia Zura lantas runtuh. Kelelahan yang dirasakannya sepanjang hari seolah baru menyerbunya sekarang.
'Sebelumnya, ku pikir tak masalah jika Krish tak percaya padaku. Asalkan Krish mau menerima aku apa adanya.' batin Zura
'Tapi.. tiba-tiba perasaan ini menggangguku. Krish adalah seorang rekan yang cukup dekat. Dan Krish bilang dia mencintaiku. Tapi lagi-lagi tanpa perlu bertanya apakah berita itu benar atau tidak, semua orang sudah menilai ku dengan rendah.'
Bagaimana Zura percaya pada kata cinta Krish sebelumnya?
'Setidaknya.. setidaknya.. tanyakanlah apakah berita itu benar atau tidak.'
Zura menatap Krish. Ada sedikit kesedihan dalam wajahnya yang tegas. Perasaannya kacau. Namun entahlah apa Krish melihatnya atau tidak. Zura mengatur nafasnya sebelum mulai berbicara.
“Maaf. Maaf karena seperti inilah kondisiku sekarang.” Ucap Zura pelan.
Dia menundukkan kepalanya sekilas sebagai sapaan hormat, lantas meninggalkan Krish yang masih berkecamuk dengan perasaannya.
Krish hanya diam.
Sebenarnya, entahlah dia percaya atau tidak dengan berita itu. Tapi Krish telah berusaha melepaskan Zura setelah ditolak, dan ia merasa dikhianati karena berita itu.
Berita yang memiliki bukti konkret.!!!!
'Bagaimana jika Zura memang melakukan tindakan keji seperti aborsi?'
Perasaan itu membuatnya kecewa, sedih, dan marah. Tanpa sadar jadi seperti ini.
Krish tidak bisa mengendalikan perasaannya. Dia butuh waktu untuk menerima rasa sakit hatinya. Rasa kecewa dan marah karena perasaannya ditolak Zura dengan tegas.
__ADS_1
Begitulah percakapan mereka berakhir. Baik Krish maupun Zura, saling memunggungi satu sama lain.