
Terimakasih sudah menunggu..
Kondisi saya sudah membaik, berkat doa kalian semua.
Selamat membaca
**
Waktu berlalu dengan cepat sejak hari itu. Detik menjadi jam, menjadi hari, menjadi minggu. Entah untuk alasan apa, Zura selalu bersikap manis. Sukses membawa Aiden melayang tinggi. Masalah yang tengah Aiden hadapi berat. Bahkan sangat berat. Ia seolah berperang dengan dunia. Tapi, setiap kali Aiden melangkah masuk ke mansion ini, semuanya seketika terasa lebih ringan.
Selalu ada Zura yang menyambutnya dengan pelukan dan candaan. Ada Heris dan Helios, juga Ken. Bahkan Varlos yang akhir-akhir ini seringkali mampir.
Zura memutuskan untuk menarik gugatannya untuk Rebecca dan Andre. Dia ingin fokus mengurus dan merawat Aiden. Dan tentu saja, Varlos menjadi orang di garda pertama yang menyetujuinya. Lelaki mana yang takkan terharu saat istrinya memperhatikannya sedemikian rupa. Zura yang telah ia sakiti, memilih untuk menemani Aiden pada saat dirinya berada dalam musibah.
“Kalian istirahatlah dulu, sudah malam.” Ujar Aiden, menatap ke arah Heris dan Helios.
“Anda juga selamat beristirahat, tuan.” Jawab Helios.
“Tentu, kakak. Selamat menikmati waktu intim dengan kakak ipar.” Heris mengedipkan satu matanya, menggoda Aiden.
Aiden hanya tertawa renyah. Dia bahagia. Jauh lebih bahagia dari ketika ia mendapat penghargaan sebagai aktor terbaik. Ia lantas mulai melangkah masuk ke dalam mansion, yang diikuti oleh Ken.
“Kau juga istirahatlah lagi di sini, Ken..” ujar Aiden lagi, menoleh sekilas ke arah Ken.
“Hem, aku takkan sungkan.” Jawab Ken. Memang hampir 5 kali dalam seminggu ia akan tidur di mansion Aiden. Mau bagaimana lagi, mereka kadang terlampau sibuk dan pulang larut. Mengurusi rapat dewan, menghandel berita yang merebak, atau sekadar untuk menghindar dari kejaran wartawan.
“Ngomong-ngomong, di mana istriku?” gumam Aiden. Selama ini, meksi pulang larut, Zura akan menyambut kedatangannya. Kecuali saat perempuan itu ketiduran di sofa karena lelah menunggu.
“Atau dia ketiduran di sofa lagi?” gumam Aiden lagi.
“Aku tak tahu. Aku lelah, aku mau tidur dulu. Bye..” ujar Ken sambil lalu. Ia memang sangat lelah. Tenaga dan pikirannya terforsir mengurusi masalah Aiden.
Aiden hanya mengangguk singkat. Ia juga berlalu, berjalan menuju sofa yang terletak di ruang santai, sejenis ruang keluarga. Namun, dari langkahnya masih di kejauhan saja ia malah mendengar samar suara beberapa wanita yang memenuhi ruangan. Memang, karena hari mulai malam, jadi rasanya tempat ini sepi. Aiden bertanya-tanya, siapa yang bertamu?
Ternyata Luci dan Selen sedang bersama dengan Zura di sana.
Dan mereka tengah terisak, kecuali Zura.
“Hm??”
__ADS_1
Gerakan dan gumaman lirih Aiden membuat Zura menyadari kedatangannya. Gadis itu dengan cepat mendatangi Aiden.
“Kamu sudah pulang?” tanya Zura.
Cup..
Seperti sebelumnya, Aiden memberikan senyuman dan kecupan singkat di kening gadis itu.
“Istriku semakin hari semakin cantik saja..” ujar Aiden dengan senyuman manisnya.
“Astaga! Lama-lama aku akan diabetes.” Kelakar Zura.
“Memang kenapa?” tanya Aiden dengan kening berkerut.
“Aku terlalu banyak mengonsumsi asupan yang manis-manis. Terutama yang satu ini.” Gurau Zura sambil mencubit ringan pipi Aiden. Mereka berdua lantas terkekeh bersama. Dan tentu saja, semua momen itu terekam jelas oleh mata Luci dan Selen.
“Huuu.. dasar yang lagi bucin!” gerutu Selen dengan suara seraknya. Bahkan gadis itu tak tanggung-tanggung kembali mengeluarkan ingusnya.
“Dunia serasa punya berdua, yang lain dikutuk jadi batu!” sambung Luci, yang sama-sama bersuara serak.
Zura dan Aiden lagi-lagi hanya terkekeh ringan.
“Eh, em..” Zura seketika salah tingkah.
“Aku, menceritakan tentang masa lalu kamu, apa itu masalah?” tanya Zura kemudian.
Aiden lantas hanya menaikkan satu alis.
“Yang tempo lalu diceritakan oleh Kak Varlos?” tanya Aiden memastikan.
“Iya.” Lirih Zura.
Aiden menatap lekat Zura. Bukannya dia keberatan. Hanya saja, setelah ia bangun dari tidurnya di sofa, Zura dan yang lainnya sama sekali tak membahas tentang cerita Varlos. Hanya matanya yang nampak bengkak karena menangis. Akhirnya, Aiden bertanya pada Varlos karena dia tak sepenuhnya mendengar apa yang Varlos ceritakan. Lalu, Aiden merasa tak keberatan. Dan hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada yang mengungkitnya.
Jadi, Aiden sedikit terkejut saat sekarang Zura bilang ia menceritakan kisah itu pada Selen dan Luci.
“Ya. Tak masalah.” Ujar Aiden kemudian.
“Lalu, setelah itu, apa yang terjadi?” tanya Selen, kali ini menatap Aiden menuntut jawaban.
__ADS_1
“Apanya yang apa?” tanya Aiden balik. Ia perlahan mendekat dan ikut duduk di sofa, sambil menggandeng jemari Zura.
“Setelah bocah sialan itu dibawa ke rumah sakit. Apa yang terjadi?” dengus Selen.
Aiden nampak berpikir sejenak. Sebenarnya, dia lelah. Hari juga sudah malam. Namun sepertinya dua orang itu sangat penasaran. Dan saat matanya melirik ke arah Zura, istrinya ternyata juga tampak penasaran.
“Emm.. sebenarnya, aku tak terlalu ingat. Karena saat itu aku masih sangat kecil. Tapi kak Varlos pernah menceritakannya.” Ujar Aiden.
“Jadi, apa yang terjadi?” desak Luci lagi.
“Tak banyak yang terjadi. Aku butuh satu bulan lebih mendekam dalam bangsal rumah sakit. Dan butuh waktu lebih lama lagi untuk proses pemulihan. Dan saat itu, kak Varlos bahkan sampai sempat berhenti sekolah. Ia terus saja merawat dan menungguku. Ia tak sudi jika orang lain saja yang merawatku. Kak Varlos juga takut ibuku akan datang lagi dan kembali menyakitiku.”
“Kak Varlos sangat kereen..” manja Selen dengan mata berkaca, yang lagi-lagi siap menumpahkan banjir.
“Benar, hks.. sekarang aku tahu kenapa Zura sangat mengidolakannya..” sambung Luci.
Aiden mendengus kasar. Entah kenapa ia masih sebal mendengar soal Zura yang mengagumi Varlos. Sesayang-sayangnya Aiden pada kakaknya, ia tetap tak rela memberikan Zura.
“Aku hanya mengidolakannya sebagai pengacara kok. Aku bahkan baru tahu Varlos memiliki adik. Bahkan dia adalah sosok yang segila itu dalam hal menyayangi Aiden.” Ujar Zura.
“Dan sebesar apa pun aku mengaguminya, orang yang ku cintai sekarang hanya Aiden seorang.” Ujar Zura lagi, memberikan kecupan singkat untuk Aiden. Dan tentu saja, itu saja sudah cukup untuk kembali membuat mood Aiden membaik.
“Ehm. Sudah sudah. Lalu, bagaimana dengan orangtua Varlos?” tanya Selen lagi, menginterupsi.
Aiden menyandarkan kepalanya. Ia tadi hendak bertanya pada Zura, tapi urung melakukannya.
“Sejak hari itu, ibu, maksudku nyonya Monica, berusaha untuk ikut peduli. Dan ya, memang, pelan-pelan nyonya Monica mulai menyayangiku dengan tulus. Mungkin aku mulai memanggilnya ibu sejak kelas 2 SD. Sedang ayah..”
Aiden diam sejenak. Zura yang merasakan firasat tak menyenangkan mengelus pelan lengan Aiden, dan laki-laki itu pun tersenyum sejenak dan menatap lembut Zura. Seolah ia tengah berterimakasih karena istrinya telah membantu menenangkan hatinya.
“Ayah, butuh waktu yang lebih lama. Meski rumah tangganya sekali lagi bertahan, ada dinding tak kasat mata antara ayah dan ib- nyonya Monica. Setelah nyonya Monica menerima dan menyayangiku sekalipun, ayah masih belum bisa menerima keberadaanku. Lalu perlahan, hubungan mereka kembali membaik. Sayangnya, hubungan ku dengan ayah masih saja dingin untuk waktu yang sangat lama.”
“Sudahlah, ini sudah malam. Aiden juga lelah dan butuh tidur. Kalian beristirahatlah. Cari sendiri kamar tamu yang kosong.” Potong Zura kemudian. Ia bahkan mengajak Aiden untuk segera naik ke atas tanpa persetujuan. Selain karena suasana yang tiba-tiba canggung, Zura juga ingin Aiden segera beristirahat.
“Baiklah baiklah..” ujar Luci kemudian, hanya bisa menatap kepergian Zura.
**
Sebagai bonus, haruskah aku up 2 episode hari ini?
__ADS_1