
“Zura.. Jika aku memintamu memaafkan ku, dan mempertahankan pernikahan kita, apakah kamu bersedia?”
Mata Aiden yang hitam dan dalam, seolah tengah menangkap seluruh dunia dalam pandangan Zura. Pertanyaan laki-laki itu diucapkan dengan sangat fasih dan baik, dan dengan suara yang rendah namun sangat meyakinkan. Menghadapi Saffir Azura dan ketenangan yang ia bawa membuat Aiden ikut berada dalam ketenangan itu. membuat pikirannya yang kusut sedikit lebih baik, dan hatinya yang diguncang badai mulai berhenti.
“Meski aku telah berkhianat dan menyakitimu..” ucap Aiden lagi, menyambung kalimatnya ketika wanita di depannya masih saja diam.
Mata mereka semakin mendekat karena Aiden sedikit mencengkeram tangannya yang kini merengkuh pinggang Zura. Dia merasa takut dan gugup menanti jawaban gadis itu. Nafas yang menggelitik perlahan menerpa kulitnya. Jika bukan karena sakit, jika bukan karena dia merasa sangat hina dan tak pantas, Aiden pasti sudah melummat bibir Zura.
Cukup lama dalam posisi diam yang canggung itu membuat Aiden perlahan melemahkan cengkeraman tangannya yang merengkuh pinggang Zura. Mungkin, gadis itu enggan menjawabnya. Atau mungkin, gadis itu butuh waktu. Aiden mengerti, karena kesalahannya memang terlalu fatal untuk dimaklumi.
Zura masih terdiam. Tubuh Aiden kembali menjauh darinya. Dan gadis itu masih terhanyut dalam pikirannya. Ucapan Aiden membuatnya otaknya mengalami korsleting, kesulitan mencerna situasi dengan baik.
“Zura..” panggilan Aiden membuat gadis itu terkesiap, kembali ke kesadarannya.
Aiden tersenyum.
“Tidak apa.. tidak per- ehm..”
“Zu--”
‘Ouh sial!! Apa yang Zura lakukan?!!’
Seperti diguncang ribuan badai, hati Aiden berkecamuk. Bagaimana tidak?! Tiba-tiba Zura melummat bibirnya dengan sangat lembut. Astaga!! Ia merasa kesadarannya dibawa melayang ke angkasa raya.
Benar. Hanya itu yang kini Zura pikirkan. Dan tanpa berpikir lebih banyak, gadis itu memberikan sebuah ciuman lembut. Zura memasukkan lidahnya, membelit lidah Aiden. Membuat ciuman itu semakin dalam. Zura mengalungkan tangannya pada leher Aiden, menikmati cuumbuannya.
Setelah kembali dari keterkejutan yang memabukkan itu, perlahan Aiden menutup matanya. Tangannya meraih tengkuk Zura, dan ia membalas ciuman gadis itu. Bukan ciuman penuh nafsu, namun ciuman dalam yang manis. Ciuman penuh hasrat. Dalam sekejap, kini laki-laki itulah yang memimpin, semakin memperdalam hasrat mereka.
“Emh..” Zura mendorong Aiden kala nafasnya semakin terkikis. Dia yang memulai, dan dia yang kewalahan sendiri.
“Haa. Haa..” deru nafas Zura memburu mengisi paru-paru. Wajahnya yang merona ia tenggelamkan dalam bahu lebar Aiden. Gadis itu memindahkan tangannya, merengkuh Aiden. Tentu saja, Aiden merasa sangat bahagia, sampai lupa kalau ia tengah sakit.
“Aku tahu..” ucap Zura lirih. Membuat Aiden kembali mengerutkan dahi.
“Tahu?? tentang apa?”
“Aku tahu kamu memang sangat pandai berciuman.”
“Haha..”
__ADS_1
Zura melepaskan pelukannnya, meski tangan mereka masih saling berada di tubuh satu sama lain. Kini Zura menatap Aiden dengan lebih serius.
“Aku tahu tentang kejadian di hotel itu, kejadian saat kamu bermalam dengan wanita asing. Paman memberitahu ku.”
Seketika kebahagiaan yang sebelumnya datang hancur. Aiden menatap Zura yang kini kembali menundukkan wajahnya. Astaga!! Dia tak sempat memikirkannya. Paman Zura adalah pemilik ASeana!! Bukan hal yang sulit untuk mengetahui hal itu.
“Sejak kapan?” tanya Aiden lirih.
Sedetik sebelumnya, Aiden sempat berpikir dan berharap dia dimaafkan karena ciuman Zura. Namun sekarang tidak lagi. Mungkin, gadis di dekapannya ini hanya mencoba menenangkan dirinya agar tidak mengamuk seperti terakhir kali. Atau mungkin gadis ini hanya tengah memberikan keramahan untuk terakhir kali.
Sejak kapan Zura tahu dia berkhianat? Sebanyak apa Zura tahu? Apakah saat datang ke VCB Zura sudah tahu? Saat Aiden melecehkannya, apa Zura sudah tahu?? Semua pikiran kusut Aiden yang sebelumnya membaik, kini rasanya semakin kusut. Ia menatap Zura menanti jawaban gadis itu.
“Dua hari setelah kejadian.” Jawab Zura lirih.
Aiden terdiam. Apalagi saat melihat Zura yang masih menunduk. Memang dia bisa apa? Dia hanya bisa menunggu ucapan apa yang akan keluar dari bibir manis Zura yang sebelumnya memberikan ciuman indah.
“Paman meminta ku segera bercerai denganmu..” ucap Zura lagi, semakin lirih.
“Ya. Itu memang hal yang sewajarnya terjadi. Aku akan-”
“Aku menolaknya..”
“Apa?!!!” Seketika Aiden menatap wajah Zura intens. Perlahan, gadis itu mengangkat wajahnya dengan senyuman samar.
“Aku menolaknya..” ucap Zura lagi. Kali ini, mata Aiden kembali memanas, dan air hangat itu jatuh membasahi wajahnya.
“Sungguh??”
“Ya..”
“Sekarang juga tidak berubah pikiran?”
“Ya.. Aku ingin memberikan kesempatan kedua untuk--” Zura terdiam sejenak, “untuk kita..” bisiknya lirih.
“Jadi.. kita tidak perlu bercerai?”
“Hm..”
Dengan cepat, Aiden memeluk Zura. Membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Lama. Sangat lama dalam diam. Zura juga menerima itu, membiarkan Aiden dan berusaha menenangkannya.
__ADS_1
Sampai kemudian, mata Aiden menatap sesuatu di dalam pot berisi bunga artifisial yang bertengger indah di ujung meja, tepat di samping tempat tidurnya. Aiden perlahan melepaskan pelukannya. Matanya sudah tidak lagi meneteskan air mata, justru kini memicing tajam.
“Ada apa, Aiden?” tanya Zura, sedikit khawatir, dan lebih banyak merasa heran.
Aiden tak menjawab. Tangannya dengan sigap meraih ponsel yang juga tergeletak di atas meja. Ia tampak menekan layar ponsel itu, lantas mendekatkannya ke telinga.
“Ken.. segera datang ke kamar ku.” Ucap Aiden singkat. Dan tanpa menunggu jawaban lebih banyak, ia memutuskan sambungan.
Zura tentu saja semakin tak mengerti dengan perubahan situasi ini.
“Ada apa, Aiden? Apa ada masalah?” tanya Zura.
Dan belum sempat Aiden menjawab, pintu terbuka dan menampakkan sosok Ken yang tampak sedikit terengah. Ia memang bergegas datang karena panik. Dan di belakangnya, Heris dan Helios juga muncul. Melihat itu, Aiden menghembuskan nafasnya dengan kesal.
“Aku memaafkan kamu untuk kali ini, Ken. Hanya untuk kali ini!” geram Aiden.
Tentu saja Ken hanya menatap Aiden dengan dahi berkerut. Dia tak mengerti. Zura juga ikut menatap Aiden karena tak mengerti. Melihat itu membuat Aiden berdecak kesal. Lantas tangannya menuding ke arah pot bunga.
“Alat penyadap suara itu, kamu yang memasangnya bukan?!”
Seketika semua mata menoleh ke arah yang Aiden tunjuk.
Zura ikut mengerutkan dahinya. Aiden menunjuk pot bunga, tapi apa maksudnya? Zura memicing dan mengamati pot itu lebih lekat. Lantas matanya menangkap sebuah alat berbentuk bulat dan berwarna hitam.
Zura menoleh, menatap ke arah Ken, dan laki-laki itu hanya bungkam dengan wajah yang memutih karena pucat. Bahkan Heris dan Helios juga sama. Zura berbalik menatap Aiden, yang tampak jengkel dan menahan amarah. Garis wajahnya mengeras dan tatapannya begitu tajam menatap Ken, Heris, dan Helios. Perlahan, Zura menelan saliva.
“A- alat penyadap?!”
...**...
...Well, ini episode tambahan untuk hari ini. Meski emang sebenernya aku pengen up 2 episode per hari. Tapi maaf ya para readers, aku belum bisa. Aku usahain setidaknya per episode lebih panjang. Apa kalian sadar kalo episodenya lebih panjang dari beberapa hari sebelumnya? Meski cuma sedikit wkwk. Intinya, maaf karena aku belum bisa menjadi penulis yang baik...
...Dan buat Zura, hmm...
...Ada gak yang berpikir Zura tuh lemah di episode ini? Gapapa si kalo berpikir gitu. Tunggu aja, karena episode tentang perasaan Zura nanti bakal ada tersendiri. Dan setelah itu, ku harap sedikit menyenangkan hati kalian yang berpikir kalo Zura lemah...
...Jangan lupa, like, fav, dan yang lain. Aku butuh support dari kalian untuk menyelesaikan karya ini. Meski karya ku belum sempurna, tolong bantu aku dengan support kalian...
...Stay healthy semua...
__ADS_1