Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Membujuk


__ADS_3

“Ck.. apa lagi?” tanya Aiden, mendecak dan mendengus kesal.


'Gadis ini, berani sekali dia terus bermain-main!' Gerutu Aiden dalam hati.


“Mandi! A-aku bepergian seharian dan belum mandi. Jadi.. aku-


“Kalo begitu, ayo mandi bersama!” potong Aiden cepat.


Zura menatapnya tak percaya.


“Tidak boleh!” ucapnya tegas. Itu adalah mimpi buruk.


“Kenapa?!” Aiden benar-benar merasa semakin kesal.


Zura menatap aiden. Laki-laki ini benar-benar terlalu agresif. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jangan marah atau terbawa emosi, justru saat ini Aiden harus dihadapi dengan lembut.


“Bagaimanapun, ini pertama kalinya untuk.. kita. Ya.. ma-malam pertama. Em.. ma-ma-maksudku.. kamar mandi itu.. untuk pertama kali.. itu.. Itu tak etis bukan? A-aku takkan kabur. Janji!!” ucap Zura dengan tergagap, menunjukkan piece dengan jarinya. Wajahnya merah karena malu.


Aiden tercengang, membeku.


'Pertama kali untuk kita? Itu benar. Apalagi orang yang bersamaku sekarang adalah Zura. Gadis penuh etiket.'


Aiden pun melepaskan tangannya.


Zura menatapnya tak percaya.


'Semudah itu??' Namun, dia tak boleh menunggu lagi.


“Aku.. akan mandi..” ucapnya dan dengan segera pergi, kabur dari laki-laki itu.


'Pfft..'

__ADS_1


Aiden menatap Zura yang setengah berlari. Dia menahan tawanya. Benar-benar lucu dan menggemaskan. Mendadak, Aiden merasakan sakit di bagian tangannya yang memar.


Astaga, dia bahkan lupa bahwa dia baru saja kecelakaan dan dirawat. Hanya memar memang, tapi tentu saja sakit. Aneh bahwa Aiden benar-benar melupakannya. Apa Zura sebegitu mempesonanya? Aiden merasa bahwa dirinya bertingkah sangat bodoh.


Sungguh, betapa bodohnya!


Aiden pun segera berjalan. Dia akan mandi di kamar lain atau Zura akan kembali membuat alasan.


...**...


Gemericik air mengalun tak beraturan. Sama seperti debaran hati Zura. Dia menutup matanya merasakan guyuran air hangat di tubuhnya. Benar-benar memalukan. Zura merasa dia belum cukup siap dengan perkembangan yang terlalu cepat. Namun, dalam hati gadis itu tak mengelak bahwa tubuhnya seolah menginginkan hal yang sama. Ciuman Aiden, sentuhan tangannya, bahkan lebih. Tubuhnya terasa aneh seolah mendambakan itu semua.


Zura tak berniat bersikap munafik. Alasan kenapa dia membangun dinding yang sangat kokoh dan tinggi adalah karena dia sendiri bisa merasakan pesona Aiden.


"Aku tahu bahwa aku dengan mudah akan jatuh terpikat. Jadi, ku pikir lebih baik aku tidak pernah memulainya. Aiden terlalu berbahaya. Pesonanya benar-benar tingkat iblis." gumam Zura lirih.


Zura selalu membatasi hidupnya dengan disiplin tinggi. Dan dia bangga dengan itu. Dia hidup dengan kebanggan itu, dan dia tak berniat untuk bebas. Namun, ada kalanya dia melihat orang-orang yang bebas dengan sedikit rasa iri. Hanya itu.


Tapi di antara semua orang, hanya ada satu orang yang entah bagaimana membuatnya terpikat. Menatap orang itu membuatnya goyah. Orang itu adalah Aiden. Orang yang berulangkali mengajak Zura menjalin hubungan, dan terus ia tolak dengan dingin. Dan semakin waktu ia mulai goyah. Tapi karena hatinya yang mulai goyah itulah, Zura semakin mengukuhkan pertahanannya.


Bagaimana bisa dia percaya pada orang yang selalu beralih hubungan asmara?!


Awalnya, Zura pikir Aiden adalah tipe laki-laki rendahan yang suka mempermainkan perempuan dan bermain seenaknya. Meski berkali-kali Aiden mengajaknya berkencan, skandal tentang laki-laki itu masih kerap muncul. Tapi, Zura lantas menyadari bahwa aiden tak seburuk itu. Malah Zura yang semakin terpesona dengan fakta-fakta kecil yang dia tahu tanpa sengaja.


Ada satu waktu dimana Aiden mengatakan hal ini pada salah satu temu, dan Zura yang bergegas menghindar.


“Kau pikir aku akan menggoda mu? Aku takkan melakukannya. Apa kau tak membaca berita kalau aku sedang menjalin hubungan dengan seorang top model bernama Astrin?”


Zura mengenakan bathrobe. Ia telah selesai dengan mandinya.


Jika diingat lagi, Aiden saat itu mengatakan kalimat itu dengan suara dingin dan wajah acuh. Dan itu benar-benar membuat Zura tercengang. Sejak saat itu, pandangan Zura terhadap Aiden banyak berubah. Bukan sekali dua kali saja dia mencuri pandang melirik Aiden. Zura juga seringkali diam-diam mencari berita Aiden menggunakan tab samaran.

__ADS_1


Tetap saja, itu tak mengubah sikap Zura yang memasang tembok tinggi untuk Aiden. Semakin ia terpesona, maka akan semakin tinggi dan kokoh dindingnya.


"Tapi itu di masa lalu. Sekarang, aku tamat. Nasib ku sudah tamat.." keluh Zura.


Sekarang, dia justru menjadi istri Aiden. Rasanya benar-benar aneh. Mungkin, Aiden memang bersikap licik, membuatnya sangat kesulitan dan dengan sengaja menghalanginya bertemu Krish. Tapi Zura sama sekali tak menyalahkan Aiden dan siasatnya. Toh, memilih Aiden adalah keputusannya sendiri tanpa paksaan.


Dan juga, kenapa dia malah diam-diam merasa senang?


Zura selalu bilang dia tak berniat munafik terhadap perasaannya. Lalu, ini apa?


"Benar-benar munafik!!"


Zura pun keluar dari kamar mandi dengan rambut tergerai yang masih basah. Tiba-tiba jantungnya kembali berdebar. Banyak hal yang kini juga berkelebat dalam fantasinya. Pandangannya kemudian terpaku pada sosok Aiden yang tengah berusaha memberikan obat pada lengannya.


'Apa dia terluka?'


Zura pun mendekati Aiden yang tengah duduk di atas kasur. Dia terhenti sejenak, menelan ludah. Aiden tampak sangat seksi dengan bathrobe yang dikenakannya. Sebagian tubuh bagian atasnya terbuka. Wajahnya tampak lebih lembut dengan rambut yang masih basah. Beberapa air menetes dari ujung rambut hitamnya, yang entah kenapa semakin menekankan kata seksi pada sosoknya.


Ugh.. wajah Zura rasanya memanas.


Aiden masih sibuk dengan lukanya, belum menyadari kehadiran Zura. Gadis itu pun kembali mendekat. Dia lantas duduk di samping Aiden. Membuat Aiden mengalihkan pandangannya, menatap Zura.


“Um.. apa butuh bantuan?” tanya Zura dengan canggung.


Aiden berhenti. Dia menaikkan satu alisnya, kemudian menjawab pertanyaan Zura.


“Tentu.” Ucapnya.


Zura mengambil salep di tangan Aiden. Dia dengan lembut mengoleskan salep itu pada bagian yang memar. Setelah merata, Zura pun mengambil perban dan mulai membalut luka itu dengan rapi. Dia pernah mengikuti kegiatan PMR, jadi dia tahu sedikit tentang obat-obatan dan cara merawat seseorang.


Itu membuat Aiden takjub. Wanita di depannya benar-benar luar biasa. Dia keluarga konglomerat, tapi hidup dengan mandiri. Dia cerdas, pemberani, pekerja keras, tangguh, disiplin, dan tahu banyak hal. Hari demi hari menjadi tahun sejak pertama kali Aiden melihat dan tertarik pada gadis itu. Tapi, ketertarikannya tak hilang bahkan setelah 4 tahun. Aiden malah semakin menggila setiap kali ia melihat Azura.

__ADS_1


“Selesai..” ucap Zura kemudian, dengan senyum simpul yang tak nampak jelas. Aiden tersenyum tipis.


Begitu pula sekarang. Aiden lagi-lagi terpesona.


__ADS_2