Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Semakin Diabetes


__ADS_3

Aiden segera merebahkan diri di atas ranjang. Ia menghela nafas. Dengan telaten, Zura mulai melepaskan kaos kaki Aiden. Perhatian kecil semacam ini selalu membuat Aiden merasa terharu. Sejak kecil, Varlos seringkali hanya akan memarahinya agar dia lebih mandiri. Jadi perhatian semacam ini terasa sangat menyentuh.


“Ayo cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, dan sikat gigi dulu, baru tidur.” Ajak Zura.


Aiden terkekeh ringan, namun ia segera bangkit kembali.


“Kamu tahu, kadang aku merasa seperti balita yang sedang diasuh.” Gurau Aiden. Zura pun hanya ikut tertawa kecil.


“Ya. Kamu harus belajar banyak dari caraku merawatmu.” Ujar Zura, sembari menarik Aiden, membawanya ke kamar mandi.


Aiden tersenyum. Ia benar-benar selalu merasa beruntung karena menikah dengan Saffir Azura. Lihatlah, bahkan jika Zura sudah cuci muka dan sikat gigi sebelumnya, gadis itu tetap saja dengan perhatian penuhnya akan mengantar, menemani, dan menunggu Aiden.


“Untuk apa memangnya? Aku harus melakukan hal yang sama pada mu di lain waktu?” tanya Aiden.


“Em.. itu juga boleh. Tapi, kamu perlu belajar juga agar nanti terbiasa mengajarkan hal-hal baik untuk anakmu.”


Seketika Aiden yang tengah membasuh mukanya dari sabun berhenti. Ia menoleh ke arah Zura.


“Anakku? Yang aku inginkan adalah anak kita. A-nak ki-ta!” tegas Aiden.


“Ya ya baiklah. Cepat sikat gigi.” Perintah Zura dengan acuh, padahal ia berdebar mendengar penuturan Aiden.


Aiden pun dengan cepat menyikat giginya. Dan setelah selesai ia berbalik. Seperti biasa, Zura yang sudah siap dengan handuk di tangannya membantu mengeringkan wajah, tangan, dan kaki Aiden. Tak lupa juga ia memberikan baju ganti yang nyaman. Setiap kali ini terjadi, Aiden selalu tersenyum. Rasanya, ia tak akan pernah merasa bosan dengan perhatian Zura.


“Sudah. Ayo tidur.” Ajak wanita cantik itu.


Aiden memberikan kecupan singkat sebelum beranjak. Mereka pun naik ke atas ranjang. Entah sejak kapan, Aiden terbiasa mengelus rambut Zura sebelum tertidur. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan terbangun dalam rumah tangga mereka. Semua hal manis itu tak pernah ada dalam bayangan seorang Aiden. Seorang laki-laki bajingan yang terus saja bergonta-ganti wanita. Seorang laki-laki bajingan yang sebelumnya hanya tahu cara merayu untuk bercinta.


Sekali lagi, Aiden menyesali masa lalunya. Masa lalu dimana ia tak pernah menginginkan dan memimpikan sebuah pernikahan.


“Aiden..” lirih Zura. Gadis itu mengeratkan tubuhnya ke dalam dada bidang Aiden.


“Hm.. ada apa, sayang?” tanya Aiden dengan lembut. Jemarinya masih menyusuri rambut Zura yang terasa sangat halus.


“Kamu masih ingat malam saat kamu mabuk? Saat kita berhubungan intim di salah satu kamar VCB?” tanya Zura. Aiden menghela nafasnya. Ia diingatkan lagi dengan satu kesalahan lainnya di masa lalu.


“Maafkan aku.. Maafkan aku untuk segalanya. Segala kesalahan sebelum atau pun setelah kita menikah. Semuanya. Maafkan aku..” ujar Aiden. Rasanya, meski ia terus mengulang kata maaf sampai milyaran kali pun tetap takkan cukup.


Zura menggeleng pelan.


“Bukan itu maksudku. Aku tidak sedang menyalahkan, Aiden..” Ujar Zura.


“Lalu?”


“Sejak malam itu, sebenarnya, tak lama setelah kejadian itu, aku berhenti mengonsumsi pil kb.”


Aiden mengernyit. “Ya, lalu..?”


“Aku.. sedikit menyesalinya. Jujur saja, aku takut wanita yang kabarnya bermalam denganmu saat dinas itu datang dan mengaku ia hamil. Jadi, aku menyesal karena sebelumnya mengonsumsi pil kb. Jika aku hamil lebih dulu, misal, mungkin aku akan memiliki lebih banyak alasan dan keberanian untuk mempertahankan pernikahan kita.”


Aiden tak menyangka Zura akan memiliki pemikiran itu. Namun Aiden memilih diam, menunggu ucapan Zura dengan sabar.


“Ya. Saat itu, pikiran cerai lebih mendominasi. Ada banyak ketakutan dan keraguan dalam hatiku. Selalu aku ragu dan ujungnya selalu memikirkan perceraian.”


“Namun, sekarang tidak lagi. Sekarang, aku ingin mempertahankan pernikahan kita. Bahkan jika wanita itu, atau wanita lain dari masa lalumu datang, ayo kita cari jalan terbaiknya bersama-sama.” Lirih Zura.


Aiden menghembuskan nafasnya panjang, mengeratkan tangannya yang memeluk punggung Zura.

__ADS_1


“Hm.. terimakasih. Terimakasih untuk segalanya. Dan terimakasih karena ingin bertahan bersamaku.”


“Aiden, apa kamu sungguh tak mengingat apa pun tentang malam itu?”


“Tidak. Demi tuhan, aku tak mengingat satu detik pun bagaimana aku bertemu dengannya atau berakhir dalam ranjang yang sama.”


Mereka saling diam untuk beberapa saat. Ada banyak hal yang ingin Aiden sampaikan. Ada banyak hal pula yang ingin Zura tanyakan. Namun semuanya tertelan.


“Ah, tapi maksudku bukan ini.” Ujar Zura lagi, memecahkan suasana. Ia mendongak, menatap lekat ke arah Aiden, membuat manik mereka bertemu. Memang, tidak ada niatan gadis itu membahas hal menyedihkan ini lagi sekarang.


“Lalu..?”


“Em, kita, akhir-akhir ini kita seringkali melakukannya bukan?” bisik Zura.


Aiden masih tak mengerti apa yang istrinya maksudkan.


“Itu.. bercinta..” lanjut gadis itu, masih setengah berbisik.


“Iya, lalu?”


“Lalu, aku sudah berhenti meminum pil kb.”


“Ah!!” seketika Aiden mulai mengerti apa yang hendak Zura sampaikan. Dan benar saja, ucapan Zura selanjutnya sukses membuat Aiden berbunga-bunga.


“Sebelumnya, kamu mebahas tentang anak, bukan? Jadi, kita mungkin harus mulai banyak berdoa.”


Mendengar penuturan manis itu, Aiden pun tersenyum lebar.


“Ya. Banyak berdoa dan berusaha.”


“Hm.. badanku lelah, dan besok sudah akan kembali bugar- Ah!!. Ayo tidur.” Aiden berjengit sedikit merasakan cubitan Zura di pinggangnya. Tetap saja, ia bahagia.


Mereka lantas terkekeh ringan. Zura kembali mendekatkan diri ke arah Aiden. Ya, akhir-akhir ini, dia selalu bangun kesiangan gara-gara Aiden. Bukan karena malam yang panas, tapi karena pagi yang selalu berisik.


“Zura, aku mencintaimu..”


“Hm, aku juga sangat mencintaimu, Aiden..”


"Hm.. dan aku lebih mencintaimu.."


...**...


Meski hari masih pagi, Ken sudah mulai disibukkan dengan beberapa data. Bagaimana pun, masalah yang menimpa Aiden harus secepatnya diselesaikan. Dan sekarang, semua persiapannya telah memasuki tahap akhir. Tak sia-sia perjuangannya selama ini. Setelah ini selesai, Ken harus meminta cuti 2 minggu ke luar negeri.


“Nak Ken, non Zura belum turun?” tanya bi Inah. Ia tengah membawa nampan berisi berbagai makanan, terutama potongan buah, cemilan pagi wajib untuk Zura.


“Taruh saja di meja Bi. Mereka mungkin akan turun sebentar lagi. Aiden ada jadwal setengah jam lagi.” Jawab Ken.


“Oh, baiklah. Silahkan dinikmati makanannya.” Ujar bi Inah, yang dijawab terimakasih oleh Ken. Bi Inah pun meninggalkan Ken dan kembali ke dapur. Masih banyak hal yang harus ia kerjakan.


“Oh, cemilan paginya sudah datang?” tanya Heris. Ia dan Helios baru saja menyelesaikan olahraga pagi dan mengatur para pengawal. Ken pun menatap dua orang itu dengan lekat.


“Kalian tak lupa kalau hari ini adalah hari penting bukan?” tanya Ken.


Ya. Ini adalah hari penting.


Hari ini, langkah besar pertama untuk memperbaiki citra Aiden akan dijalankan. Setelah selama ini mereka sibuk melakukan banyak pertemuan dan negosiasi pribadi, hari ini Aiden akan menghadiri rapat pertama bersama para petinggi Antarest Entertainment. Dan setelah itu, Aiden akan langsung menghadiri konferensi pers.

__ADS_1


Heris dan Helios yang mendapat pertanyaan dari Ken pun mengangguk. Heris dengan penuh semangat, dan Helios dengan wajah sedikit tegang.


“Apa mereka belum turun?” tanya Heris.


“Sialnya, iya. Ku harap Aiden tak melupakan hal penting ini.” Jawab Ken dengan kesal. Ia memakan cemilan yang dibawakan bi Inah untuk melunturkan emosinya.


“Aku yakin tuan Aiden pasti sedang menyusahkan nona Zura sekarang.” Ujar Helios. Ia menghembuskan nafas panjang.


Sementara itu, di kamar Aiden, Zura memang sedang kesal. Persis yang diucapkan Helios, Aiden benar-benar menyusahkan Zura.


“Ck! Bagaimana bisa kamu tidak memberri tahu semalam, heh?” gerutu Zura.


“Maaf, aku lupa.”


“Dan pagi tadi kamu malah mengajak bercinta sampai—sudah, cepat bersiap!!” Zura melotot ke arah Aiden.


Dalam waktu singkat, Aiden sudah selesai. Masalahnya Zura. Rambutnya masih basah, dan gadis itu tampak sibuk dengan remeh temeh yang lainnya.


“Apa harus sesempurna itu?” tanya Aiden. Zura benar-benar terlalu sibuk memperhatikan tampilannya.


“Kamu bercanda?! Ini pertama kalinya aku keluar mendampingi. Terlebih, kamu sendiri yang bilang kalau ada banyak kemungkinan identitas sebagai nyonya Antarest akan terkuak.”


“Iya iya, aku minta maaf. Sini, aku bantu mengeringkan rambut.”


Zura mengerang, namun ia akhirnya tetap duduk manis. Saat Aiden mengeringkan rambutnya, ia memoles make up ringan.


“Kaki ku masih sedikit lemas.” Gerutu Zura. Wajahnya memanas mengingat permainan panas Aiden tadi pagi.


“Haha.. maaf maaf, aku sungguh lupa. Jadi, rambut indah ini mau diapakan hm?”


“Kamu bisa membuat ikatan kuncir kuda? Berpenampilan sederhana dan anggun adalah yang terbaik di situasi sekarang.”


Dengan telaten, Aiden menyisir rambut itu dan membuat ikatan yang rapi. Zura sampai tersenyum lebar. Ia mengenakan beberapa hiasan rambut sederhana, yang entah kenapa yampak sangat elok saat Zura yang memakainya.


“Sudah siap, nyonya?”


“Sepatu kita, Aiden.”


“Ah, iya. Lupa.”


...**...


“Wohoooo.. pasangan abad ini akhirnya turun juga.” Seru Heris semangat.


“15 menit sebelum acara dimulai, heh?” sindir Ken.


“Sudahlah, Ken, ayo kita segera berangkat. Aku tahu aku terlambat jadi jangan mengulur waktu lebih banyak.”


Tanpa banyak kata, mereka berlima segera menaiki mobil, dengan Helios sebagai sopir. Ia sempat memberikan bingkisan sebelum melajukan mobilnya.


“Sarapan dulu, nona..” ujar Helios singkat, yang dijawab dengan tatapan terharu oleh Zura. Matanya berbinar melihat kotak bekal berisi aneka potongan buah segar. Sepertinya Helios sengaja meminta bi Inah membungkuskannya.


“Thankss Helios..” seru Zura semangat. Entah kenapa Aiden merasa sedikit cemburu melihat interaksi itu.


“Jangan cemburu untuk hal yang tidak perlu.” Ujar Zura yang ternyata menangkap reaksi masam Aiden.


“Helios hanya memberiku makanan. Daripada cemburu, kita makan bersama saja.” Ujarnya lagi, dan mulai menyodorkan satu potong buah ke mulut Aiden. Bagus saja, karena setelah itu Aiden menyengir lebar dan membuka mulutnya, menerima suapan Zura.

__ADS_1


__ADS_2