Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Aku Menginginkannya


__ADS_3

Aiden terbangun pelan. Setelah berita merebak, ia sungguh lelah dan pening. Kepalanya pusing. Kini seluruh dunia tahu bahwa dia hanya seorang anak haram. Seorang lelaki hina, yang lahir dari wanita murahan.


Nyatanya, Aiden memang lahir karena kesalahan.


Dan ia hanya sebuah aib, yang kini terungkap.


“Ken.. aku sedikit takut..” gumam Aiden.


Ken melirik singkat. Begitu pula Heris dan Helios. Mereka akhirnya bisa sampai di depan mansion. Namun Aiden malah minder.


“Kenapa?” tanya Ken.


“Zura pasti sudah tahu kan? Aku takut menghadapi reaksinya..” lirih Aiden, yang sukses membuat Ken melongo tak percaya.


“Nona tidak akan menilai anda dari status kelahiran anda, tuan..”


Siapa lagi yang mengucapkan suara itu selain Helios, satu-satunya yang masih bersikap formal pada Aiden.


“Ya, kakak tak perlu khawatir. Kakak ipar bahkan tampak senang dan lega saat mendengar kakak akan pulang.” Sambung Heris.


“Kamu sudah mendengarnya bukan? Sekarang, ayo kita masuk, aku akan mengantar.” Ujar Ken.


Tak lagi bisa mengelak, mereka pun keluar dari mobil, melangkah perlahan ke arah pintu mansion. Mansion Aiden, dimana ada Zura di sana.


Ceklek..


Suara pintu itu membuat Zura segera beranjak dari sofa. Di depan pintu mansion itu, tampak empat orang laki-laki dengan wajah kusut dan lelah. Aiden, Ken, Heris, dan Helios. Zura menghembuskan nafasnya.


Syukurlah, setelah dua hari terakhir tidurnya tak karuan, akhirnya sekarang Zura bisa melihat Aiden pulang. Sejak fakta bahwa Aiden adalah anak haram terungkap ke publik, suaminya itu tak pulang ke rumah. Hanya Ken, Heris, atau Helios. Mereka hanya menyampaikan salam Aiden.


Lalu siang tadi Heris mengatakan bahwa Aiden akan pulang, jadi Zura menunggu. Menunggu sangat lama. Karena nyatanya sekarang sudah pukul setengah 2 dini hari.


“Aiden.. selamat datang..” ujar Zura, berusaha memberikan senyuman terbaik.


Aiden balas menatap Zura dengan senyuman pahit yang terpaksa.


“Ya, aku pulang..” lirihnya dengan suara serak.


Kini, tatapan Zura beralih kepada tiga orang di belakang Aiden.


“Heris, Helios, istirahatlah. Kalian juga sulit beristirahat bukan?”


“Ken juga, istirahatlah di sini saja. Ada beberapa kamar tamu yang kosong. Anggap saja rumah sendiri.”


Zura membuka tangan, seolah menggiring mereka pergi. Ketiga laki-laki itu pun mengangguk singkat.


“Terimakasih, nona..”


“Terimakasih, kakak ipar..”


Zura mengangguk singkat, menatap kepergian Heris dan Helios.


“Terimakasih, Zura..” ujar Ken juga.

__ADS_1


Lagi-lagi Zura mengangguk. Ketiga laki-laki itu pasti terlalu lelah sehingga mereka bahkan enggan menolak saran Zura.


Kini, gadis itu kembali menatap Aiden. Ia menggamit jemari Aiden. Padahal, selama ini Aiden lah yang selalu melakukannya, termasuk memberi kecupan singkat. Hubungan mereka memang hanya sebatas itu. Aiden menahan diri sekuat tenaga karena ia tahu bahwa Zura belum sepenuhnya memaafkannya. Dan kebetulan juga masalah demi masalah yang mengguncang membuat ia mau tak mau mengalihkan fokusnya dari Zura.


Tapi, kali ini berbeda. Aiden tahu bahwa Zura bermaksud menghibur hatinya. Ia sungguh bersyukur, karena gadis manis ini adalah istrinya.


“Ayo, kamu juga harus beristirahat..” lirih Zura, mengajak Aiden naik ke kamarnya.


“Aku baru saja tidur. Beberapa jam saat di perusahaan, dan beberapa menit lalu di dalam mobil.”


“Tetap saja, kamu lelah, Aiden. Ayo segera ke kamar.”


Mereka tak lagi berbincang, karena kini mereka sudah mulai memasuki kamar. Zura pun mengunci pintu sebelum ikut duduk di tepi ranjang.


“Bi Inah sudah beristirahat?” tanya Aiden.


“Ya. Aku menyuruhnya beristirahat.”


“Dan kamu menungguku?”


Sebuah senyum kecil terulas di sudut bibir Aiden.


“Aku sudah tidur banyak tadi siang. Dan aku menunggu karena Heris bilang kamu akan pulang, Aiden..” ujar Zura.


“Terimakasih.. Aku ingin memarahi Heris. Tapi nyatanya, aku sangat lega karena melihatmu setelah pulang ke rumah, sayang..”


Zura terdiam, menelan saliva. Ia kembali teringat bahwa Aiden kini selalu memanggilnya dengan sebutan sayang.


“Apa?!”


Zura berkedip, ia terkejut. Ia bahkan refleks bertanya kerena terlalu terkejut dengan ucapan Aiden.


“Tidak.. tidak ada, aku hanya bercanda.” Ucap Aiden, yang lagi-lagi mengulas senyum. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya. Dan ia juga merasa sedikit bersedih karena tak bisa mencium bibir manis Zura. Ia sudah sangat merindukannya. Amat sangat merindukan tubuh gadis itu.


Zura menatap Aiden, bahkan mulutnya sedikit terbuka. Zura juga beberapa kali membuka menutupnya, urung bicara. Astaga.. situasi ini sungguh canggung.


“Tidak apa, aku minta maaf karena kelepasan mengucapkannya, Zura..” ujar Aiden.


Zura menelan saliva. Ia mengalihkan pandangan sejenak, lantas kembali menatap Aiden.


“Kau, boleh melakukannya kok.” Lirih Zura kemudian.


“Hah??”


Zura mendongak, kembali menatap Aiden yang tampak terkejut.


“Ah, tapi yang tadi hanya bercanda buk-


“Ehm..”


Zura sedikit mengerang, perlahan ia menutup matanya karena kini bibir Aiden telah membungkam bibirnya. Ah, ciuman lembut ini. Ciuman manis yang menggoda dari Aiden. Ciuman yang telah ia rindukan sejak lama. Bodoh sekali bukan, karena ia malah sangat merindukan ciuman Aiden setelah semua yang terjadi.


Aiden tak lagi segan. Ia sungguh sangat merindukan Zura. Tangannya perlahan beralih ke tengkuk gadis itu. Ia semakin memperdalam ciumannya dengan lummatan yang belitan lidah yang handal. Mengeksplorasi manisnya bibir Zura. Ah, Aiden sungguh rindu. Tubuhnya semakin mendekat ke arah Zura. Saat ia merasa cengkeraman tangan gadis itu semakin mengerat, Aiden melepaskan tautan bibirnya.

__ADS_1


“Hah.. hah..”


Zura menatap Aiden dengan mata sayu, berusaha mengisi kembali paru-parunya. Dan tak lama, Aiden kembali mencuumbu bibir merekah gadis itu. Semakin dalam, semakin liar. Tangannya perlahan membawa Zura ke sisi tengah ranjang. Jemari itu perlahan bergerak menyusuri lekuk tubuh Zura. Menyusup masuk ke dalam piyama yang dikenakan gadis itu. Sembari ciumannya yang liar mendorong tubuh Zura agar rebah di atas ranjang.


“Engh..”


Zura kembali mengerang pelan. Kini Aiden tengah menyesap lehernya, dan tangannya juga mulai bergerak nakal. Menjelajah ke lekuk tubuhnya. Bermain-main dengan lidah dan tangannya yang terasa besar. Zura merasakan tubuhnya memanas. Erangan kecil tertahan terus lolos dari bibirnya. Tubuhnya refleks bergerak menanggapi sentuhan Aiden. Tangan kecil itu mencengkeram selimut. Wajah gadis itu memerah dengan nafas memburu. Entah bagaimana hingga kini semua pakaian telah tertanggalkan dari tubuhnya.


“Aide- Aaaahh!!”


Zura membusung terkejut. Tangannya kini mencekal kepala Aiden yang mulai bermain di tempat paling sensitif dalam tubuhnya. Mata Zura berkabut, berusaha melihat Aiden. Dan laki-laki itu, dengan nafas yang sama-sama memburu, dengan tatapan penuh hasrat dan gairah. Aiden mendongak, menatap Zura. Menghentikan aksinya.


Zura masih berusaha mengatur nafasnya. Ia bisa melihat keraguan dan keinginan kuat yang kini memenuhi Aiden. Ia tahu, Aiden kini bimbang. Aiden tengah berusaha meredam hasratnya demi Zura. Demi menunjukkan kesungguhan dan ketulusan tekadnya.


Zura kembali merebahkan kepalanya dengan mata terpejam, bernafas dengan sedikit lebih teratur. Tangannya yang mencekal rambut Aiden perlahan ia lemahkan.


“Aiden..” lirih Zura.


Aiden hanya menelan saliva dengan susah payah. Jemari Zura kini menyusuri rambut laki-laki itu dengan perlahan. Tidakkah Zura tahu bahwa tingkahnya justru menaikkan hasrat Aiden? Tanpa sadar, tangan Aiden menegang, menekan dan tanpa sengaja memberikan rangsangan. Membuat tubuh Zura kembali dihinggapi sensasi itu. Dan erangan rendah kembali terdengar.


Aiden terkesiap. Itu sungguh tak sengaja!! Dia tak berniat bercinta hanya untuk memuaskan hasratnya. Tidak. Dia ingin Zura juga menikmatinya. Ia ingin Zura juga menginginkannya.


Lalu, kenapa jemari Zura masih menyusuri helaian rambutnya dengan lembut? Kenapa gadis itu tak menolak?


“Aiden..” lirih Zura lagi.


Seketika, Aiden mengangkat tubuhnya, membuatnya sejajar di depan wajah gadis itu.


“Ya. Ya, sayang..”


Zura tersenyum kecil. Ia membuka matanya dengan sayup. Perlahan, ia mengalungkan tangannya dan menarik kepala Aiden. Mendekatkan telinga laki-laki itu dengan bibirnya. Ia menjilat dan menggingit pelan.


“Engh.. sa- sayang..”


“Hm..”


Pandangan mereka bertemu. Dua netra yang sama-sama memikat dan indah. Zura mengelus pelan wajah Aiden. Ia kembali menariknya, menutup matanya pelan, dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman lembut yang dalam. Tangannya bergerak perlahan, merasakan tiap jengkal tubuh suaminya yang sempurna dan indah. Membuka kancing kemeja Aiden dengan lembut. Namun entah bagaimana gadis itu melakukannya dengan sangat cepat.


Saat ciuman keduanya terlepas dan saling meraup udara, Aiden merasakan semilir angin diantara keduanya. Netra laki-laki itu menatap ke arah Zura, seolah memastikan apa yang ia pikirkan. Dan sebuah anggukan singkat dengan senyuman tipis yang sangat manis telah menjawabnya.


“Kamu yakin?” tanya Aiden.


“Ya..”


Lagi-lagi Zura mendekatkan telinga Aiden dengan bibir mungilnya yang sedikit bengkak. Wajahnya merah padam. Ah, sebenarnya Zura sangat malu. Tapi dia tak ingin Aiden berhenti.


Gadis itu berbisik dengan pelan sembari jemarinya menyusuri surai Aiden. Dengan suara yang menggetarkan hati laki-laki itu. Aiden bisa merasakan seluruh darang dalam nadinya ikut berdesir. Kata-kata yang ditunggunya akhirnya terucap dari bibir manis Saffir Azura.


“Aku menginginkannya, Aiden..”


“Aku menginginkanmu..”


...**...

__ADS_1


__ADS_2