Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Interogasi Sang Mertua


__ADS_3

Dua gelas lemontea hangat bertengger rapi di atas meja. Juga ada beberapa camilan sehat dan buah, yang memang merupakan makanan kegemaran Zura. Ia dan Nyonya Monica kini tengah duduk berdampingan. Dan hal bagusnya, Zura tak lagi gugup seperti tadi.


“Maaf karena tidak menyambut kedatangan anda dengan baik, nyonya.” Ujar Zura kemudian, mengulas senyuman paling ramah. Ia bersyukur karena sekarang ia sudah bisa menguasai diri.


Monica meletakkan cangkir setelah menyesap isinya sedikit. Gerakannya sangat elegan. Sorot matanya masih tampak dingin dan tegas. Meski nada bicaranya cukup lembut, tetap saja tak ada senyuman ramah tamah. Sukses membuat Zura merasa ketar ketir.


“Jadi, apa hubunganmu dengan Aiden?” tanya Monica to the point.


Menurut Monica, pertanyaan itulah yang paling penting. Aiden bukan seseorang yang gila harta, dan Varlos seorang yang sangat kompeten. Jadi, menurut Monica masalah Aiden yang satu itu memang tak terlalu penting. Apalagi setelah panggilan terakhir kali, Monica yakin bahwa Aiden takkan kenapa-kenapa. Tetap saja Monica berniat mengunjungi Aiden. Dan malah ia menemukan Zura di sini. Jadi, siapa yang tak akan penasaran? Monica melupakan masalah sidang. Hubungan Aiden dan Zura jauh lebih menarik minatnya.


Zura menelan saliva. Ia bingung. Haruskah ia menjawab kekasih? Atau jujur dan mengatakan bahwa ia adalah istri Aiden?


“Kenapa tak menjawab?”


Zura terkesiap. Namun dengan cepat ia menguasai diri, kembali mengulas senyum yang tampak kaku.


“Maaf, nyonya..”


“Tidak apa. Jadi, apa hubungan kalian?”


Nada bicara yang dingin itu benar-benar membuat Zura tertekan. Apalagi pertanyaan Monica terkesan menuntut.


“Maaf telah lancang, nyonya. Saya dan Aiden..”


Zura diam sejenak, memantapkan hatinya. Ia akan jujur saja. Lebih baik jujur saja, bukan?


“Kami.. telah menikah.”


“Oh, jadi kalian-


“APA?!!”


Monica terperangah, menatap Zura tak percaya. Bahkan butuh waktu sekian detik sampai wanita itu menutup mulutnya dan kembali mengatur ekspresi wajahnya.


“Ehm, maaf, nona. Tapi, apa aku tak salah dengar? Kamu.. menikah dengan Aiden?” tanya Monica kemudian.


“Ehm.. Ya. Maaf karena telah lancang menikahi putra anda.”


Monica berkedip.

__ADS_1


“Ah, tidak. Bukan itu maksudku.”


Zura menatap Monica tak mengerti. Ibu Aiden itu tiba-tiba mengalih. Mencari ponselnya dan dengan segera menghubungi salah satu nomor di sana. Zura bisa melihat sekilas bahwa Monica kini menghubungi Varlos.


“Varlos!!”


Setelah pekikan itu, Monica berdiri dan pergi, meninggalkan Zura untuk beberapa waktu, tampak sibuk dengan banyak pertanyaan dan percakapan dengan Varlos. Zura menelan ludahnya. Ia hanya bisa menunggu sampai kemudian sang mertua kembali duduk di kursi.


Ah, bagaimana jika mertuanya itu tak merestui hubungannya dengan Aiden?


Yang bisa Zura lakukan sekarang hanya memantapkan hati agar ia bisa menghadapi sang mertua.


Monica duduk menghadap Zura. Meski masih tampak dingin, entah kenapa rasanya ada binar antusias pada manik wanita paruh baya itu.


“Kamu benar sudah menikah dengan Aiden? Pernikahan yang sah menurut agama dan hukum? Oh, apa kalian menyewa katerdal, wihara, kapel, gereja, biara, atau masjid? Atau outdoor? Indoor? Hotel?”


Zura melongo. Mendapat cecaran pertanyaan itu membuatnya sedikit terkejut. Namun sedetik kemudian gadis itu kembali tersenyum. Lagipula, aneh sekali mendengar sang mertua menyebutkan berbagai tempat ibadah. Ayolah, ia dan Aiden memiliki agama yang sama.


“Kami menikah secara sah, menurut agama dan hukum. Tapi kami melakukannya dengan sangat sederhana di biro pencatatan sipil. Di sana memang disiapkan ruangan khusus untuk itu.”


Monica diam sejenak, mencerna ucapan Zura.


“Ma- maafkan saya, nyonya. Saat itu situasi saya sedikit mendesak sehingga saya memaksa Aiden.” Ujar Zura, mencoba mengucapkannya sesopan mungkin. Ia merasa bersalah. Mereka menikah terburu-buru juga karena tuntutan Zura.


“Apa kalian menikah kontrak? Seperti di film?”


Glek!!


Benar! Tapi mana mungkin Zura mengatakannya. Tunggu, kenapa tidak mungkin?


“Diam, artinya dugaanku benar.”


“Nyo- nyonya, saya harap anda tidak salah paham. Kami memang memiliki kesepakatan. Tapi kami menikah dengan sungguh-sungguh.” Bela Zura, meski sedikit terbata, suaranya masih terdengar sopan. Entah kenapa ia tak ingin berbohong pada mertuanya. Firasatnya mengatakan bahwa berbohong sekalipun sang mertua akan langsung tahu kebenarannya.


Monica memicingkan matanya.


“Bisa bawakan padaku surat kontrak kalian?” Suara Monica terdengar tegas. Dan lebih seperti perintah daripada pertanyaan.


Zura meremaas pelan ujung pakaiannya. Dia takut melakukan kesalahan.

__ADS_1


“Tolong tunggu sebentar.” Ujar Zura kemudian. Gadis itu kini sepenuhnya telah tenang, meski hanya nada bicaranya. Hati Zura masih bergemuruh, justru lebih bergemuruh. Tapi, entah kenapa ia malah lebih bisa mengendalikan diri sekarang. Lagipula, mau tak mau ia tetap harus menghadapinya.


Beberapa waktu kemudian, Zura pun menyerahkan map kuning, berisi kontrak nikah mereka. Sekarang Zura baru ingat jika kontrak mereka sudah tak sepenuhnya berlaku. Aiden telah melanggar salah satu poin penting di sana.


Monica mencerna isi kontrak itu dengan seksama. Termasuk tanggal disahkannya surat kontrak. Kening wanita paruh baya itu mengernyit. Otaknya memang brilian. Sebagai direktur Antarest yang sangat disegani, tentu saja ia memang harus memiliki kecerdasan yang luar biasa.


Zura merasa tegang. Terlebih saat Monica tampak menghembuskan wajahnya.


“Apa kalian berniat bercerai?” tanya Monica kemudian, suaranya tampak lirih.


“Ya? Apa?”


Monica kini menatap Zura dengan lekat. Raut dingin di wajahnya tampak sedikit berkurang.


“Jika sesuai dengan perjanjian ini, kalian seharusnya bercerai bukan?”


Zura masih diam, mencoba mencerna situasi. Apa Monica tahu tragedi Aiden bermalam dengan seorang wanita di hotel itu? Tapi ia tak boleh gegabah menentukan maksud ucapan Monica.


“Aku mendapat kabar bahwa Aiden bermalam bersama seorang wanita di salah satu VIP Room hotel Antarest. Aku yakin kamu juga sudah tahu soal itu.”


Zura menelan ludah. Dia lupa. Hotel yang Aiden tinggali saat itu adalah Hotel Antarest. Tentu saja ibunya akan tahu!!


Kini giliran dia yang menghembuskan nafasnya.


“Saya.. memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini, nyonya. Aiden juga berpikir demikian.” Ujar Zura kemudian. Wajahnya tampak tenang. Setelah mengingat kembali badai yang menghantamnya beberapa hari terakhir, menghadapi pertanyaan sang mertua jadi terasa lebih ringan.


“Kamu yakin soal itu?”


Lagi. Pertanyaan yang terkesan mengintimidasi. Dalam dan tajam. Tapi Zura tak lagi gugup atau tegang. Ia justru merasa tertantang untuk melewati semua ini dengan baik.


“Ya. Tidak ada rumah tangga yang terjalin tanpa rintangan dan cobaan. Terlebih lagi, saya seharusnya lebih menyadari dan bersiap diri dengan baik. Laki-laki yang saya nikahi adalah Aiden Antarest, seorang putra Antarest, seorang bintang negeri, dan seseorang yang dipuja para wanita. Saya tidak ingin menyerah terlalu cepat, nyonya. Sejak Aiden menjadi suami saya, saya seharusnya menerima Aiden sepenuhnya, termasuk kekurangan dan cela yang ia miliki.”


Jawaban Zura penuh dengan keteguhan hati. Tanpa keraguan. Monoca menatap lamat-lamat gadis di depannya. Beberapa saat kemudian, wanita itu pun beranjak dari duduknya. Wajahnya yang datar membuat Zura tak bisa menebak apa yang tengah ibu mertuanya pikirkan.


“Baiklah. Untuk sekarang, aku pamit dulu. Ayo lanjutkan perbincangan kita lain kali.”


Zura menelan saliva. Ia hanya bisa mengangguk singkat, mengantarkan sang mertua ke depan kediaman.


Ah, Monica bahkan sampai lupa bahwa niat awalnya adalah mengunjungi Aiden.

__ADS_1


...**...


__ADS_2