
Pagi saat Ken mendapat pesan singkat dari Aiden, laki-laki itu hanya menyeringai kecil. Dia memang sedikit kesal, namun dia tak lagi terkejut. Aiden memintanya mengosongkan jadwal selama 3 hari ke depan. Yah, lagipula, ini bukan pertama kalinya Aiden melanggar kontrak kerja. Sekarang 2 hari sudah berlalu dan sudah kembali malam. Mungkin, Aiden tengah melewati malam panas lagi dengan Zura. Meski sedikit iri, Ken ikut bahagia untuk sahabatnya.
Sayangnya, Ken salah besar. Dia berpikir Aiden mengosongkan jadwalnya untuk menghabiskan waktu manis bersama Zura setelah menyelesaikan permasalahan yang membebani hatinya. Lalu, kenapa laki-laki bajingan itu sekarang malah tampak persis seperti mayat hidup? Bagaimana Ken tidak terkejut!
Tiba-tiba ia dipanggil datang ke rumah sakit tengah malam karena Aiden kini dirawat.
“Kamu sangat kacau, Aiden..” ucap Ken lirih.
Melihat kondisi Aiden membuat Ken tahu bahwa masalah laki-laki itu dengan Zura belum selesai. Bahkan mungkin tambah buruk. Sebagai seorang sahabat sekaligus asisten, Ken tidak bisa membiarkannya. Masalah karir akting Aiden memang bisa diabaikan. Tapi, bagaimana dengan masalah Antarest Group? Jika Aiden mengabaikan pekerjaan itu juga, maka ia akan segera hancur. Sekarang saja, banyak petinggi yang meremehkan dan terus berusaha menjatuhkan Aiden.
Aiden hanya diam. Dia tak berniat mengabaikan Ken, hanya saja kepalanya terlalu pening.
Tok tok!
Suara ketukan pintu itu membuat Ken beranjak mendekat. Setelah pintu terbuka, terpampang sosok Heris dan Helios dengan raut wajah yang khawatir.
“Bagaimana kabar tuan Aiden?” tanya Helios setelah masuk ke dalam ruang rawat inap itu. Tangannya masih menjinjing keranjang berisi aneka buah. Sementara Heris di sampingnya hanya diam dengan wajah khawatir.
Ken menghembuskan nafas kasar.
“Apa Zura tak datang?” Ken justru balik bertanya. Dia tak mengerti masalah apa yang sebenarnya terjadi antara Aiden dan Zura. Tapi, membiarkannya hanya akan membuat nasib Ken kedepannya semakin di ambang jurang.
“Keen..” Aiden berucap lirih dan menatap sang asisten tajam. Laki-laki itu tak punya cukup tenaga untuk memarahi Ken.
“Nona belum pulang ke mansion.” Ucap Helios berbisik, memutuskan menjawab Ken meski Aiden sudah nampak sangat marah. Heris menatap kakaknya sedikit takjub. Jika melihat Aiden seperti itu, Heris takkan berani menjawab pertanyaan Ken.
Ken yang mendengarnya hanya mengangguk singkat. Meski sekarang kepalanya semakin panas seolah akan meledak. Sungguh, orang yang paling kesulitan dan paling rugi dalam kondisi ini mungkin adalah Ken. Dia harus mengurus banyak hal menggantikan Aiden. Termasuk kemarahan banyak pihak. Tidak adakah hari yang damai untuk seorang asisten?
__ADS_1
“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Aiden tajam. Dia tak bisa mendengar bisikan Helios.
“Beristirahatlah, tuan. Atau haruskah saya mengabari nyonya besar mengenai keadaan anda?” tanya Helios.
Aiden mendengus sebal. Helios! Orang itu, meski tampak dingin dan acuh, dia selalu memperhatikan lebih baik dibanding orang lain. Lihatlah bagaimana sekarang Aiden merasa terancam hanya karena satu kalimatnya!
Bahkan Ken mengangkat satu alisnya dengan wajah penuh antusiasme. Dia merasa takjub dan tertarik.
‘Aku harus belajar dari Helios!’ batin Ken dalam hati. Ia akan mengingat hal ini dengan baik mulai sekarang. Jika ia berhasil lulus dari sesi belajar bersama Helios, Aiden takkan lagi bisa bersikap semena-mena.
Heris meraih buah yang ada di tangan kakaknya, lantas ia mendekati Aiden.
“Ka- Tuan.. makanlah dulu buahnya. Aku akan mengupas kulitnya.” Ucap Heris. Hampir saja dia keceplosan memanggil kakak di depan Helios. Jika Helios tahu, dia harus mendengar ceramah panjang lebar, dan itu menyebalkan.
Helios hanya melirik sekilas ke arah Heris. Ia justru beralih mendekati Ken dan berbisik lagi dengan pelan.
Ken melirik ke arah Aiden sejenak.
“Aku bisa mencari tahu di mana Zura sekarang. Tapi apa tak masalah mengundangnya saat hubungan mereka seburuk ini? Kamu yakin tidak apa?” bisik Ken lirih. Melihat bagaimana Helios mampu membuat Aiden bungkam, Ken jadi sedikit percaya pada laki-laki ini.
“Tentu. Aku yakin tak apa. Meski tuan Aiden sangat pemarah, kita bisa percaya pada nona Zura. Nona sangat penyabar dan berhati lapang.”
Ken mengangguk singkat. Ia segera keluar dari kamar itu untuk menjalankan tugasnya.
...**...
"Silahkan minumnya, asisten Ken.." ucap Helios, memberikan kopi kaleng.
__ADS_1
"Terimakasih." Ken melirik singkat ke arah Helios sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku sudah mengirim pesan ke Luci. Menurut mu, apa Zura akan datang?"
"Nona pasti datang. Setidaknya meski hanya untuk memenuhi kewajiban, nona pasti akan datang."
Mendengar jawaban Helios membuat kening Ken berkerut.
"Memenuhi kewajiban??"
Helios berbalik, menatap Ken.
"Apa anda tak mengenal nona dengan baik? Dia adalah orang yang sangat peduli dengan kewajibannya. Meski orang lain tak melihat, meski orang lain tak peduli, meski orang lain menghujatnya. Bagi nona, kewajiban adalah kewajiban. Termasuk kewajiban seorang istri menjaga suaminya yang sakit. Separah apa pun pertengkaran mereka, nona tetap akan datang dan merawat tuan."
Ken hampir tak berkedip. Matanya melebar mendengar tiap kata yang diucapkan Helios.
"Ya, jika aku memikirkannya, kamu benar."
Ken hanya bisa mendengus sebal. Setelah ia lagi-lagi memikirkannya, Ken merasa bahwa mustahil Zura yang membuat masalah. Sudah pasti gadis itu korbannya. Sama seperti Ken yang sekarang juga menjadi korban.
"Helios, aku akan lebih sering menghubungimu di masa depan. Simpan nomor ku, oke?! Aku sudah mengirim pesan ke ponsel mu." ucap Ken.
Helios mendesah panjang. Dia merasa malas meski baru membayangkan Ken yang akan sering menghubungi ponselnya di masa depan. Ayolah, Helios bukan Heris yang senang berbincang.
Malas memikirkan lebih jauh, Helios memilih kembali masuk, dan tampak Heris yang masih bersikukuh membuat Aiden makan meski hanya sesuap.
Ken hendak menyusul saat itu juga. Sayang, sebuah panggilan protes lain karena absen Aiden kembali menggetarkan ponselnya.
__ADS_1
"Sial!! Ini takkan mudah." Gerutu Ken. Melihat nama yang terpampang di layar kecil itu membuat mood nya kembali memburuk.