Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Menemui Luci


__ADS_3

“Oh Tuhan!! Zura, kamu mengagetkan ku!!” Seru Luci, dan dengan cepat gadis itu menarik Zura masuk ke dalam rumahnya. Ia sebelumnya sedikit terkejut saat melihat seseorang dengan syal, masker, topi, dan kacamata hitam tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Namun, setelah melihat lebih jelas, gadis itu langsung mengenali bahwa orang aneh di depannya adalah Zura.


“Di mana bibi?” tanya Zura. Pasalnya, beberapa kali dia menekan bel, tetap tidak ada jawaban. Sembari meletakkan barangnya, Luci melangkah masuk. Dan Zura mengikutinya setelah memastikan pintu terkunci dengan baik.


“Ibuku sedang keluar. Dia akan pulang sore nanti.”


“Ooh.. baiklah.”


Luci meninggalkan Zura yang kini duduk dengan nyaman di sofa. Ia mengambilkan buah dan air putih hangat.


“Kamu selalu sangat peka dan baik, Luci..” ucap Zura dengan sebuah senyuman lebar.


“Hm..”


Luci memang orang yang paling tahu tentang gaya hidup sehat Zura yang sangat menyukai buah. Gadis itu juga gemar meminum air putih hangat. Belum lagi soal agenda ketat olahraga yang ia miliki. Dari situ pula stamina Zura yang sangat baik berasal. Sebagai seorang model sekaligus aktris, Zura selalu mampu mengikuti jadwal padatnya dan tak pernah kelelahan. Jika teringat tentang masa itu, jujur saja Luci rindu. Sangat rindu melewati hari-hari konyol, mendebarkan, melelahkan, dan menyebalkan dengan sang sahabat. Berteman dengan Zura membuat kehidupannya berwarna.


“Zuu..” panggil Luci. Ia ingat dulu sebelum Zura menjadi aktris, gadis itu memang gemar memanggil begitu. Namun setelah karir Zura dan kesibukannya melanda, demi profesionalisme, Luci sangat jarang memanggil Zura dengan panggilan itu. Bahkan ia sempat melupakan panggilan kesayangan Zura.


“Ah, sudah lama sekali ya.. Sejak kamu memanggilku Zuu dan aku memanggil kamu Cici.” Gumam Zura. Gadis itu dengan fokus mengupas apel. Karena risih dan gerah, ia melepaskan syal, masker, topi, dan kacamata hitam yang sebelumnya ia kenakan. Mulutnya mengunyah anggur hijau yang terasa sangat nikmat.


“Oh Astaga!! Kiss mark?!!”


“Uhukk!!” sontak saja seruan Luci membuatnya tersedak. Meski ia segera meminum air putih hangat, tenggorokannya masih saja terasa panas. Dan wajahnya merah padam.


“Upsss.. sorry..” lirih Luci kala melihat Zura yang sangat tersiksa.


“Ehm.. ya..” jawab Zura singkat. Ia lupa kalau syal yang ia kenakan seharunya tak boleh di buka. Karena jejak yang Aiden tinggalkan sangat banyak di lehernya.

__ADS_1


“Uwaah.. Melihatnya saja, aku langsung tahu seberapa ganasnya seorang Aiden.” Mata Luci berbinar takjub, membuat Zura tak mampu mengontrol ekspresi malas dan enggan dalam wajahnya.


“Diam lah, Luci!!”


Jika sahabatnya tahu bahwa Aiden bersikap kasar semalam saat bercinta, mata Luci pasti akan berkilat penuh kemarahan. Bukan malah takjub seperti sekarang.


“Stamina Aiden memang terkenal luar bias- Ah!! Aku mengerti!” Luci tiba-tiba memekik, membuat Zura terkejut dan menatap sahabatnya penuh tanya.


“Apa yang kamu mengerti?”


“Stamina Aiden memang terkenal sangat luar biasa. Namun, kamu juga, Zuuuu..”


Wajah Zura kembali merah padam. Luci benar. Zura yang bertahan saat digempur berkali-kali oleh Aiden, artinya dia juga memiliki stamina yang luar biasa.


“Bisakah kita abaikan hal itu?” tanya Zura, sembari tangannya berkali-kali menyentuh leher. Zura sangat malu karena ia tak sengaja membuka jejak kissmark di lehernya setelah bertemu Luci.


“Baiklah baiklah baiklah. Jadi, ada masalah apa, nyonya Antarest?”


“Seperti dugaan ku, kamu memang sangat peka. Sebagai sahabat ku, tingkat peka yang kamu miliki agak keterlaluan.”


“Haha. Ya. Mungkin saja memang begitu. Lalu, apa masalah mu sekarang?” tanya Luci lagi.


“Em.. Yah.. itu.. hanya saja.. sulit untuk..” Zura kembali diam, terlalu sulit menjelaskan masalah yang ia hadapi tanpa membuat Aiden dipandang buruk.


Sebagai seorang istri, bukankah sudah tugas dan kewajiban Zura untuk menjaga harkat dan martabat suaminya?


Tapi, Heii!! Sudah zaman apa sekarang?! Di zaman ini, wajar sekali dua orang sahabat, apalagi sesama perempuan, saling bercerita tentang segala hal bukan? Tetap saja, Zura ingin menjaga harkat dan martabat Aiden, suaminya.

__ADS_1


“Bisakah kamu menceritakannya dengan jelas?!” geram Luci. Melihat tingkah Zura dan kegugupan gadis itu membuatnya malah tak sabar.


Zura menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Ha- hanya saja.. Aku rasa aku dan Aiden bertengkar..”


“What?? Kalian bertengkar?? Kenapa??”


“Tidak-


“Wait, bukankah sebelumnya kamu bilang Aiden tidak pulang karena sedang punya masalah??”


“Luci!! Dengarkan dulu aku berbicara!”


“Eh, Oke! Sorry..”


“Jadi, Aiden memang sedang memiliki masalah. Aku mencoba mendatanginya dan bertanya. Awalnya tak terlalu buruk. Namun, dia tak bisa terbuka pada ku. Dan pagi tadi dia marah. Lalu aku malah ikut-ikutan marah. Dan kami bertengkar.”


“Oooh.. baiklah. Tapi ada yang aneh. Kenapa pagi tadi Aiden marah? Maksud ku, jelas sekali bahwa kalian melewati malam panas bersama.”


“Ehem.. Intinya, terjadi sesuatu. Dan pagi tadi kita bertengkar karena sama-sama emosi.”


“Ugh!! Kamu selalu cerita setengah-setengah.”


“Jadi, kamu tak ingin memberi aku saran?”


“Jujur lah Zura.. Kamu tak butuh saran dari ku bukan? Ku pikir, kamu hanya butuh tempat menginap sementara karena perasaan mu tengah kacau.”

__ADS_1


Seketika itu Zura diam. Sudah lama sekali. Sejak terakhir kali Zura merasakan sensasi ini. Sensasi saat Luci menebak pikirannya terlalu tepat sampai membuatnya merinding.


...**...


__ADS_2