
“Zu.. makanlah..” suara Luci melengking saat Zura dan Aiden masuk.
Zura pun mengambil dua bingkisan. Luci, Selen, dan Ken kini tengah duduk lesehan di karpet bawah. Entah sejak kapan pula Heris dan Helios bergabung di sana dan kini tengah ikut makan. Yang jelas, mereka duduk di bawah karena sofanya takkan cukup. Lagipula, lebih enak makan di bawah.
“Heris, Helios, siapa yang sekarang berjaga?” tanya Aiden.
“Para bodyguard yang dipanggil sudah datang. Mereka sedikit terlambat memang.” Jawab Heris sambil menikmati makanannya.
Dengan telaten, Zura membantu Aiden duduk. mengatur sedemikian rupa agar kantong berisi cairan infus tak membuat laki-laki itu kesulitan. Zura menyentuh pelan dahi Aiden, sangat panas. Entah bagaimana laki-laki ini bisa bersikap biasa saja. Sebelumnya Aiden hanya mengalami malnutrisi dan darah rendah, (juga karena stres dan kurang tidur). Mungkin karena semua masalah yang terus datang membuat laki-laki itu kini demam tinggi. Zura menyadari demam Aiden saat sebelumnya mereka berpelukan.
“Tunggu sebentar, kamu belum bisa menikmati makanan ini. Aku akan mengambilkan bubur.” Ucap Zura, yang hanya dibalas senyuman oleh Aiden.
Jujur saja, kepala Aiden rasanya berputar. Lidahnya tak enak. Dan laki-laki itu juga kedinginan. Kondisinya malah memburuk meski sudah meminum obat siang tadi.
“Aku juga membawa bubur putih kak.” Ucap Selen sambil membuka kembali bingkisan, mencari bubur putih, lantas menyerahkannya pada Zura.
“Terimakasih, Selen.” Ucap Zura.
“Apa Aiden demam?” tanya Ken kemudian. Meski hanya duduk di samping Aiden, suhu panas laki-laki itu terasa.
“Ya. Dia demam entah sejak kapan. Bisakah kamu memanggil dokter untuk meminta obatnya?” pinta Zura. Ken hanya mengangguk singkat dan berdiri untuk memanggil dokter. Gadis itu kemudian beralih menatap Aiden.
“Mau tidur di atas ranjang saja? Kondisi mu tampaknya buruk, Aiden..” bujuk Zura. Aiden hanya menggeleng pelan.
“Aku ingin disuapi dulu.”
Zura merona. Entah kenapa Selen ikut merona. Luci yang menangkap hal itu mengerutkan dahinya.
“Apakah kamu terpesona pada kakak iparmu sendiri?” tanya Luci. Dia tak membenci Selen. Tapi Luci memang tak sedekat itu dengan Selen. Melihat Selen yang merona karena sikap Aiden membuat Luci curiga. Dia takut Zura akan terkena masalah nantinya, atau mungkin saja ditusuk dari belakang.
“T-t-t- tidaak kaak..” gugup Selen. Aiden yang kini menatapnya membuat Selen makin gugup dan merona.
Zura menatap adik sepupunya itu yang wajahnya memerah.
“Jangan mengusiknya, Luci. Selen itu memang fans berat Aiden sejak lama.” Bela Zura. Ia mengenal Selen dengan baik.
“Aku hanya takut dia bermuka dua dan menusuk mu, Zu. Kau tahu aku sangat menyayangimu. Hal semacam itu sering terjadi.” Luci masih menatap tajam ke arah Selen.
“T-t- tidak, sungguh!! Aku sangat menyayangi kakak! Lagian kenapa hanya aku? bukankah bisa jadi kamu yang berkhianat dan menusuk kakak dari belakang?” seru Selen, tak terima dengan tuduhan Luci.
“Apa kamu bilang?! Hei!! Tak ada yang tidak aku tahu tentang Zu!! Aku tahu lebih banyak daripada kamu!” Luci balas berseru.
“Sudahlah!! Aiden sedang sakit.” Zura menengahi.
Mereka berdua saling mendengus dan memalingkan wajah.
__ADS_1
“Selen, Luci memang sahabat baikku. Dia takkan berkhianat. Dia memang tahu hampir segalanya tentang ku. Yah, setidaknya sejak kami saling mengenal.” Ucap Zura, membuat Luci berbinar.
Zura meringis dalam hati. ia memang memberitahu Luci hampir segalanya, kecuali fakta tentang perasaan terpendamnya terhadan Aiden.
“Luci. Kamu juga! Jangan asal curiga pada Selen. Dia salah satu fans fanatik tingkat tinggi yang mengurus banyak fandom Aiden. Wajar jika dia terpesona memlihat idolanya.” Lanjut Zura. Kali ini giliran Selen yang menatap Zura dengan mata berbinar.
“Kamu sungguh fans ku?” tanya Aiden dengan senyuman ramahnya. Lagi-lagi membuat Selen tersipu dan melambung tinggi.
Sayang, tatapan tajam Luci membuat perasaannya agak hancur. Dengan cepat, Selen menetralkan perasaannya.
“Ehm.. Ya! Tapi jangan salah pahan! Aku lah orang yang paling keras menentang ayah saat dia ingin kalian berdua bercerai.” Ucap Selen.
Ia kembali menatap Aiden dengan tatapan tajam namun tampak malu-malu.
“Ingat! Jika kakak menyakiti kak Zura dan membuatnya terluka, aku takkan segan, meski aku fans kakak.” Lanjut Selen.
Zura hanya tersenyum. Tingkah Selen yang seolah seperti remaja itu menggemaskan. Sudah lama sejak terakhir kali ia bercengkerama dengan nyaman bersama Selen.
“Aku takkan menyakitinya. Setidaknya, aku takkan dengan bodoh sengaja menyakitinya.” Ucap Aiden serius.
Astaga!! Lagi-lagi jantung Zura rusak.
“Ouuuw.. Lihatlah, kak Zura merona.” Ledek Selen.
“Waah.. kakak ipar malu-malu..” ucap Heris yang sudah selesai makan. Ia tertarik ikut menggoda Zura, membuat gadis itu semakin merona.
Mereka kemudian tertawa. Padahal tengah terjadi masalah serius. Namun tidak ada salahnya jika bersantai sejenak, menikmati makanan dan suasana yang hangat dan akrab. Helios juga hanya tersenyum. Ia tak memarahi Heris yang memanggil Zura dengan sebutan kakak ipar. Rasanya sudah lama sekali, sejak ia merasakan kehangatan yang begitu hidup seperti hari ini. Merasakan lagi membuat Helios merasa hatinya hangat, panas, sesak, dan hampa. Seolah ada kerinduan dan kesepian yang selama ini ia abaikan, dan sekarang tengah memberontak menunjukkan diri.
Terkadang, masalah yang datang memang membuat kita merasakan rasa memiliki terhadap orang-orang yang berada di samping kita. Kebersamaan, kesetiaan, dan menghadapi bersama masalha itu membuat beban yang sangat berat menjadi sedikit ringan. Hati manusia menjadi lebih kuat. Ketakutan yang menghampiri berganti menjadi tekad untuk membuktikan diri. Dan entah bagaimana, dalam sudut hati yang sangat dalam, orang itu justru merasa bersyukur.
Helios menatap suasana itu dengan mata berkaca. Rasanya, sangat menyesakkan.
...**...
Aiden sempat tertidur sejenak. Namun ia terbangun. Demamnya belum turun. Yang lain telah terlelap karena lelah, termasuk Selen dan Luci yang memutuskan menginap. Dan Helios yang sekarang bertugas jaga. Helios membantu menyeka tubuh Aiden yang penuh keringat dengan kain yang dibasahi air hangat. Membantu berganti pakaian agar Aiden merasa lebih nyaman. Juga dengan telaten menjaga kain kompres Aiden tetap hangat.
“Helios..” panggil Aiden lirih. Laki-laki itu kini kembali terbaring di atas ranjang. Helios pun menatap Aiden.
“Ya, tuan..” jawab laki-laki itu.
Aiden tersenyum sangat tipis. Hampir tak terlihat. Ia menatap langit-langit ruangan dengan mata menerawang.
“Bagaimana kabar bi Inah dan pak Awit?” tanya Aiden.
“Mereka khawatir dengan keadaan tuan. Tapi mereka baik-baik saja.”
__ADS_1
Aiden diam cukup lama, namun mata laki-laki itu masih terbuka. Membuat Helios merasa sedikit khawatir.
“Apa ada yang anda butuhkan, tuan?” tanya Helios.
Sejenak, Aiden tak langsung menjawab. Ia masih menatap langit-langit ruangan kamarnya.
“Jangan memanggil ku tuan lagi.” Ucap Aiden kemudian.
Selama ini laki-laki itu diam dan tak terlalu peduli. Tapi sekarang tidak lagi. Setelah sekian lama menjalani hidup sebagai orang asing, Aiden merasakan kehangatan karena kehadiran Zura. Ia takut kehilangan gadis itu. kehangatan itu membuatnya memikirkan tentang kebersamaan. Memikirkan bahwa ternyata memiliki seseorang yang kita sayangi dan menjadi keluarga adalah hal yang luar biasa.
Aiden tak pernah benar-benar merasakannya.
Seseorang yang kesepian dengan orang kesepian yang keras kepala bertemu. Orang kesepian yang keras kepala itu enggan menerima orang lain. Itulah Aiden. Meski ia menyadari rasa hormat Heris dan Helios, meski ia merasakan perhatian bi Inah, Aiden tak peduli. Ia merasa asing dengan semua itu. Hubungan mereka hanya sewajarnya. Selama ini hanya seperti itu.
“Anda berubah, tuan..” ujar Helios setelah sekian lama. Mata laki-laki itu sedikit meredup, tidak seperti sebelumnya yang tampak menjaga garis tegas.
“Ya. Aku sendiri merasa bingung, Helios.” Jawab Aiden.
Sejak kapan? Entahlah. Ketika Aiden menikahi Zura, perasaan yang ia miliki hanya sekadar obsesi dan hasrat. Menginginkan tubuh gadis itu. Hanya sekedar itu. Saat ia menikmati malam pertama yang sangat menggairahkan, Aiden pikir ia hanya merasa terikat karena mengambil keperawanan Zura. Saat ia enggan meninggalkan Zura, Aiden pikir ia hanya merasa belum puas.
Aiden pikir hanya itu.
Mungkin, Aiden mulai memikirkannya semakin dalam setelah malam saat ia mengkhianati Zura. Ia baru memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Kenapa hatinya sangat sakit? Kenapa rasanya sangat menyesakkan? Di masa lalu, Aiden juga pernah berselingkuh dan ia dengan gamblang mengatakannya pada kekasihnya. Lalu mereka putus. Tak ada perasaan sakit atau sesak dalam hatinya. Kenapa sekarang ada? Kenapa ia sangat enggan meninggalkan Zura?
“Anda berubah banyak sejak bersama nona..” gumam Helios.
Aiden menoleh, menatap ke arah Helios.
“Kamu benar. Jadi, kamu bisa panggil dia kakak ipar mulai sekarang, Helios..”
Helios terdiam sesaat, lidahnya sedikit kelu.
“Saya hanya seorang yatim piatu yang anda selamatkan, tuan.”
“Mulai sekarang kalian adikku. Kamu, dan Heris. Aku tak ingin kehilangan kehangatan yang aku rasakan sekarang.” Ucap Aiden. Ia lantas menatap lekat wajah Helios yang tertunduk.
“Kamu juga merasa begitu bukan? Wajahmu mengatakan semuanya tadi.” gumam Aiden lagi, mengingat saat sebelumnya tertawa bersama dengan yang lain. Aiden memang ikut tertawa kecil, namun matanya tak sengaja menatap ke arah Helios yang tersenyum. Seolah, Aiden tengah bercermin dengan perasaannya sendiri.
Helios hanya diam, dengan tangan sedikit terkepal.
Sulit. Sulit sekali baginya memanggil Aiden dengan sebutan kakak, seingin apapun hatinya merengek. Helios bukan Heris yang bisa dengan santai memanggil Aiden dengan sebutan kakak, Zura dengan sebutan kakak ipar, Bi Inah dengan sebutan ibu, maupun pak Awit dengan sebutan ayah. Bagi Helios, sebutan itu amat sangat berharga sampai ia merasa asing.
Aiden diam. Menatap Helios yang masih tertunduk tak menjawab. Sekali lagi, ia merasa tengah bercermin. Dalam diri Helios seolah terlukiskan perasaannya selama ini. Sama persis. Yang berbeda adalah kepribadian mereka. Helios orang yang memiliki kepribadian sangat mirip dengan Zura, penuh kehormatan diri. Sedang Aiden kebalikannya. Ia hanyalah seorang laki-laki berengsek lagi bajingan.
...**...
__ADS_1