
“Aku tak tahu kebenarannya. Tapi menurut ku, malam itu Aiden tak benar-benar berselingkuh. Atau mungkin, dia terlalu traumatis karena perasaan bersalahnya hingga ia tak mampu mengingat memori malam itu sedikit pun.”
Zura dan Varlos terdiam, hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing. Varlos lantas menoleh, menatap Zura lebih lekat, masih dengan senyuman manis yang sangat memikat.
“Kau tahu? Sejujurnya, kamu adalah tipe wanita ideal ku. Sayang sekali hubungan kita hanya bisa sebatas kakak dan adik ipar.”
Zura mengerutkan dahinya.
“Apa menurut anda ini sesuatu yang pantas dibicarakan?” tanya Zura, bahkan gadis itu mengganti bahasanya menggunakan formal.
“Misal kamu seorang janda sekalipun, aku pasti tetap akan terpikat dan merasa beruntung jika menikah dengan mu, Zura.”
Semua orang yang mendengar kalimat Varlos pasti akan berpikir laki-laki itu tengah menggoda Zura.
“Tolong jangan hancurkan fantasi saya mengenai kharismatik anda, tuan Varlos!”
“Haha..” Varlos terkekeh ringan, ia kembali menatap ke depan, entah melihat ke arah mana.
“Saya pikir tak ada yang lucu, tuan Varlos..”
“Aku serius. Aku benar-benar terpesona melihatmu. Aku akan menerima dirimu apa adanya. Aku juga akan menerima masa lalu mu. Sekali lihat saja, aku langsung tahu bahwa kamu orang yang sangat berpendirian. Dan aku juga orang yang serius serta totalitas. Kita akan menjadi pasangan yang sangat cocok dan serasi, Zura.”
Sejenak Zura terdiam. Pikirannya melanglang buana mendengar pengakuan sang idola. Varlos mengucapkan itu sambil menatap teguh ke depan, bukan menatap Zura dengan tatapan menggoda. Varlos hanya berbicara jujur mengenai pendapatnya. Entah kenapa, Zura merasa sedikit teriris hatinya.
‘Aneh. Varlos juga tipe lelaki idaman ku. Aku bersedih karena hatiku bergetar mendengar apa yang Varlos ucapkan. Lalu kenapa aku tidak berharap?’ batin Zura.
Gadis itu pun ikut menatap ke depan. Tubuh mereka berjejer dan menghadap ke arah yang sama.
“Jika anda ada dalam salah satu pilihan saya sebelumnya, saya pasti akan memilih anda, tuan Varlos. Lebih dari apa pun, anda adalah tipe laki-laki ideal yang paling saya idam-idamkan. Tapi, keputusan itu mungkin tak akan berlaku di masa sekarang, atau pun masa depan.”
Ya, meski kekaguman bukan cinta, Zura pasti akan lebih memilih Varlos, jika di masa lalu pilihan itu ada. Varlos jelas orang yang berkomitmen sepenuhnya dalam suatu hubungan. Siapa pun yang akan menjadi istri Varlos nantinya, wanita itu pasti akan sangat bersyukur. Sejak awal melihat Varlos secara langsung, Zura sudah berpendapat demikian. Namun, semua itu tak lagi penting, dan tak ada gunanya.
Varlos menoleh, menatap Zura. Gadis itu pun turut menoleh dan membalas tatapan teduh Varlos, yang kembali mengulas senyum simpul.
“Aku akan menerima segalanya tentangmu, Zura. Aku juga akan berkomitmen sepenuhnya. Aku juga bersedia memperjuangkan mu, menunggu kamu bercerai dan menunggu kamu siap untuk kembali membina bahtera rumah tangga.”
Varlos menjeda sejenak ucapannya.
“Hanya jika orang yang kamu nikahi sekarang bukan Aiden.”
__ADS_1
Zura terpaku dengan mata melebar. Wajahnya kaku, berbanding terbalik dengan wajah Varlos yang masih tampak santai dengan senyumannya.
“Aku sangat menyayangi adikku, lebih dari apa pun. Aku sangat menyayanginya sampai aku tak membenci tingkah nakal anak itu. Bagi ku, kebahagiaan Aiden adalah hal yang amat sangat penting.”
“Karena itu, aku tak merasa malu mengatakan ini, meski aku tahu aku tak pantas..”
“Ku mohon.. tolong jangan tinggalkan Aiden. Teruslah bertahan di samping adikku. Berikanlah ia kehangatan. Teruslah bersamanya dan mendukungnya. Maafkanlah kesalahannya.. Setidaknya, berusahalah untuk melakukan semua itu. Aku sangat memohon pada mu, Saffir Azura Antarest. Sebanyak apa pun rasa sakit atau kecewa yang harus kamu emban, aku tak peduli.”
Air mata Zura menggenang. Gadis itu merasakan hatinya dicampur aduk. Di hadapannya, ada seorang kakak yang meminta Zura memaafkan kesalahan adiknya. Seorang kakak yang sangat tulus, dan sangat menyayangi adiknya. Seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya.
Entah kenapa, rasanya menyakitkan. Varlos meminta Zura melupakan pengkhianatan Aiden. Varlos meminta Zura menerima Aiden seutuhnya. Varlos meminta Zura menemani dan mendukung Aiden sebagaimana seharusnya seorang istri. Dan Varlos meminta Zura untuk tidak meninggalkan Aiden.
Zura akan menyanggupinya jika kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja.
Tapi, apakah mudah memaafkan suami yang telah berselingkuh dan berlaku kasar? Zura tak semurah hati itu.
“Kau tahu aku seorang pengacara, Zura. Dan bukan hanya itu, koneksiku ada di seluruh kota ini. Mulai dari orang-orang jujur yang teguh, hingga kapitalis tamak yang culas dan licik.”
“Meski harus menodai seluruh karirku, meski harus mengkhianati semua kerja kerasku selama ini, aku tak peduli. Jika Aiden tersiksa saat harus melepaskan mu, maka aku akan membuatmu tak bisa lepas dari Aiden.”
“Meski kamu merasa bagai hidup di neraka, aku akan membuatmu tak memiliki pilihan lain selain bertahan bersama Aiden.”
Varlos benar. Zura tak pernah memaafkan Aiden seutuhnya. Meski ia memberikan Aiden kesempatan kedua, hatinya tak lagi sama. Meski ia bisa bersikap seadanya seolah tak berubah, nyatanya penilaian Zura telah berubah.
Zura menatap Varlos nanar, dengan sebuah senyum pahit yang sangat tipis dan terpaksa. IA tengah menghadapi musuh yang terlalu berbahaya.
Varlos, adalah manusia pertama yang bisa menebak perasaan Zura. Menebak bahwa semua yang ia lakukan hanya sebuah sandiwara luar biasa.
Varlos tersenyum, dengan senyuman sama. Senyuman yang kini terasa menyesakkan bagi Zura. Senyuman yang membuat harga diri dan keteguhan hatinya goyah. Senyuman yang membuat gadis itu merasakan tebing di bawah pijakannya. Senyuman manis, yang terasa sangat mengerikan.
“Aku tidak sedang meminta, Zura. Aku sedang mengancam.”
“Jadi, lakukanlah tugas itu dengan baik.”
Dengan ulasan senyum yang sama itu, Varlos melangkah keluar dengan langkah pasti yang tak goyah. Meninggalkan Zura, seolah ia tak pernah berada di sana sebelumnya.
...**...
“Selena!”
__ADS_1
Panggilan itu membuat tubuh Selena terpaku. Jika sang ayah sudah memanggilnya dengan nada dingin seperti ini, apalagi dengan menambah huruf ‘a’, maka hidupnya tak lagi aman tentram.
Selena menoleh ke arah ayahnya, yang memasang wajah keras dan acuh. Menandakan bahwa kemarahan pria paruh baya itu sudah memuncak.
“Ada apa, ayah?” tanya Selen, berusaha keras membuat suaranya tak bergetar. Tentu saja semua keberanian ini berkat ajaran Zura.
Meski keberanian itu diiringi rasa gentar.
“Apa yang kakakmu lakukan?” tanya Dhika kemudian.
“Kak Adam? Aku tak tahu..” Selen mengangkat bahunya dengan cuek. Ia tahu bahwa kakak yang dimaksud ayahnya adalah Zura, kakak sepupu Selen. Gadis itu hanya sengaja menjawab demikian. Lagipula, kakak sekaligus saudara kandung Selen memang hanya Kak Adam.
“Maksudku gadis itu, Selen!!” geram Dhika. Ia masih kesal dengan keponakan yang selama beberapa tahun terakhir terus saja hidup sesukanya. Terlebih, Dhika masihmerasa kesal dan marah karena ia lengah dan membuat keponakan yang ia jaga bertahun-tahun malah menikahi seorang laki-laki yang dikenal bajingan.
Selen menatap ayahnya denga wajah lelah dan sedih.
“Kak Zura adalah keponakan ayah satu-satunya. Tidak bisakah ayah bersikap lebih baik padanya?” tanya Selen. Ia benar-benar lelah dengan ayahnya yang sangat membatasi kehidupan Zura, bahkan lebih ketat daripada dirinya dan Adam.
“Apa aku bersikap jahat?!” Suara Andhika meninggi.
“Hentikan obsesi Ayah pada kakak. Ayah menyakitinya!!”
“Aku hanya ingin menjaganya!! Aku menganggapnya seperti putriku sendiri!”
“Ayah seperti seorang Ayah yang hanya ingin mengekploitasi putrinya!”
“SELEN!!”
Mata Selen berkaca.
“Ayah terus membuat rencana hidup untuk kakak. Apa ayah pikir ayah telah memberi kebebasan pada kakak untuk memilih hidupnya? Omong kosong!”
“SELEN!!!”
“Ayah menyuruh kakak menjadi wanita karir atau guru. Selalu hanya pilihan A atau B. Tapi kakak ingin pilihan C. Kakak ingin menjadi seorang penyanyi, kakak ingin menjadi komposer lagu, kakak ingin menjadi desainer sekaligus model. Apa ayah tahu? Bagian mana kakak bebas memilih?”
“Ayah tak pernah, sekalipun, ayah tak pernah benar-benar memahami kakak. Aku tahu, kakak tahu, semua orang juga tahu ayah menyayangi kakak. Hanya saja, ayah menunjukkannya dengan cara yang kurang tepat. Kakak sudah dewasa, dan dia bukan lagi putri ayah yang harus ayah atur segala jalan hidupnya. Dia ingin menjalani kehidupan dengan pilihannya sendiri."
"Tolong, hormati pilihan kakak, dan ayah cukup mengatakan bahwa ayah akan membantu dan mendukungnya. Ayah hanya perlu meyakinkan kakak, bahwa ayah selalu ada untuknya dan akan membantunya, kapan pun kakak meminta.”
__ADS_1