Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Satu Penyelesaian


__ADS_3

Aiden berusaha mengatur nafasnya. Ia berhasil datang 5 menit sebelum rapat dimulai. Dan ketika itulah Varlos memberinya pesan agar Aiden sengaja masuk terlambat sekitar 10 atau 15 menit. Jadi, sekarang Aiden tengah gugup, melangkah pelan sambil menggenggam jemari Zura. Tiba di depan ruang konferensi rapat, keringat dingin mulai mengalir pelan. Aiden memang sedikit gugup. Tapi ia tahu pasti, menampakkan ketakutan adalah sebuah kecacatan.


“Tidak apa. Apa pun yang terjadi, semua akan baik-baik saja..” hibur Zura, berusaha menenangkan. Dan beruntungnya, Aiden memang merasa lebih baik sekarang.


“Kamu sungguh tidak masalah ikut masuk?” tanya Aiden, menatap lekat dua manik Zura. Masuk ke dalam sana akan membuat posisi Zura buruk, bahkan mungkin lebih buruk dari Aiden.


“Aku sekarang bagian dari Antarest Entertainment bukan?” tanya Zura balik. Ya, alasan kenapa ia ikut Aiden masuk adalah karena proses pengalihan kepemilikan saham 15% yang sempat dipermasalahkan sebelumnya kini telah resmi menjadi milik Zura.


Aiden kini menoleh ke belakang, menatap Ken.


“Jika terjadi sesuatu di dalam, utamakan keselamatan istriku.” Ujar Aiden tegas, yang diangguki singkat oleh Ken.


Zura mengangkat satu alisnya. Ken mode serius ini sangat langka. Tidak ada gurat canda. Bahkan ia hanya menampakkan senyuman kaku sekilas, bukan senyuman ramah. Benar-benar berbeda.


Aiden sekali lagi menghembuskan nafasnya. Zura dengan segera ikut menyiapkan diri dan fokus. Perlahan, pintu ruangan itu terbuka, membawakan hawa pengap dan mencekam dari para petinggi dan pemegang saham. Yang semuanya, berlomba-lomba menjatuhkan Aiden.


...**...


Nyatanya, Antarest Entertainment dicetuskan dan didirikan langsung oleh Aiden. Ia yang menjadi pelopor, penanggung jawab, serta pemilik sesungguhnya. Meski menjadi bagian cabang dari Antarest Group, seluruh sepak terjang dan keberhasilan Antarest Entertainment tak lepas dari keterlibatan Aiden.


Tidak ada yang menyangka. Akuisisi perusahaan periklanan kecil itu akan meraksasa. Berubah menjadi salah satu cabang perusahaan dengan keuntungan paling tinggi. Menjadi agensi entertainment terbesar dalam negeri. Bahkan meski Aiden menciptakan skandal demi skandal tanpa habis, pamornya terus meningkat. Para petinggi mulai jengah. Pemegang saham, direktur, dan banyak orang yang semakin iri dengan Aiden. Kenapa laki-laki yang gemar bermain wanita, bukannya mendapat ujaran kebencian, Aiden malah mendapat lebih banyak pengakuan cinta dan penggemar baru.


Bahkan saat ini. Ketika Aiden dalam kondisi seterpojok ini, masih banyak penggemar yang berada di sisinya. Dan berani sekali, laki-laki itu malah masuk terlambat dengan menggandeng tangan seorang aktris skandal, Saffir Azura. Sialnya, melihat secara langsung kecantikan gadis itu memang membuat laki-laki baik muda atau tua akan terpana sejenak, terpesona. Sungguh, hati para petinggi itu semakin panas, ingin meledak. Tapi tak masalah. Karena sebentar lagi, Aiden akan tamat.


“Sepertinya kamu sungguh tak punya malu, heh!” ujar Haribo, laki-laki berumur 50 tahunan dengan perut buncit. Di antara semua orang, dia adalah yang paling membenci Aiden.


Aiden menatap pak tua itu datar. Sekilas Zura melirik wajah suaminya. Terkadang, jiwa aktor seorang Aiden Antarest memang hebat. Buktinya, laki-laki yang sebelumnya tampak gugup, kini tengah berdiri tegak seperti laki-laki paling angkuh di dunia, yang tidak peduli dengan apa pun.


Brak!


“Dasar anak haram! Kamu masih berani membawa simpananmu ke rapat ini setelah terlambat?” sinis pak tua itu lagi. Kini separuh ruangan itu juga berwajah masam, menatap Aiden sangat tak suka.


“Apakah kamu tak punya sopan santun sedikit?”


“Dasar tukang korupsi. Sebenarnya berapa banyak keuntungan yang kamu curi?”


“Turunkan posisi anak haram itu!”


“Ya, turunkan.”


“Ya, dia tak pantas.”


“Anak Rendahan!!”


Entah bagaimana kericuhan itu menjadi. Bahkan semakin menjadi. Aiden masih berdiri tegak tanpa peduli. Ia mendengarkan semua makian dan hinaan itu dengan wajah menyebalkan itu. Meski begitu, Zura tahu. Aiden tidak sedang baik-baik saja.


BRAAAAAKKKK!


“DIAAM!!”


Teriakan Varlos terlalu membahana untuk membuat seisi ruangan itu mengabaikannya. Terlalu mencekam, sampai mereka kesulitan bernafas. Suasana diam seketika memenuhi ruangan. Memanfaatkan kesempatan itu, Aiden menarik kursi. Ia mempersilahkan Zura duduk, lantas ikut duduk di sebelahnya dengan anggun.

__ADS_1


“Jadi, mari kita mulai rapatnya.” Ujar Varlos kemudian.


Aiden menatap kakaknya sekilas dan tersenyum. Sedangkan salah satu tangannya menggenggam jemari Zura, seolah mengatakan pada gadis itu bahwa semua akan baik-baik saja. Kini, ia kembali menatap ke depan. Varlos pun memulai rapatnya. Ia mulai memaparkan permasalahan yang dibahas, yaitu kelayakan Aiden memimpin perusahaan.


“Pertama, mengenai pemberitaan tentang anak haram, aku mewakili keluarga Antarest mengakui bahwa berita itu fakta.” Ujar Varlos.


Seketika seluruh ruangan itu panas. Mereka semakin memojokkan Aiden.


“Ini adalah bagian dari Antarest. Bukankah artinya Aiden tidak memiliki hak mengemban perusahaan?”


Berbagai stigma miring mulai merebak. Apalagi mereka mulai mengaitkan dengan sikap Aiden yang terkadang tanpa sopan santun, seenaknya, dan selalu menjadi pembuat skandal.


Varlos lantas menatap ke arah ibunya, Nyonya Monica.


“Apa anda memiliki pendapat?” tanya Varlos.


Ruang rapat itu mulai kembali hening, menatap ke arah Nyonya Antarest.


“Aiden adalah putraku. Terlepas ia lahir dari rahimku atau tidak, dia tetaplah putraku. Lagipula, beberapa kantor cabang dipimpin oleh orang yang bahkan baru ku kenal. Kenapa darah Antarest tidak boleh memimpin perusahaan ini? Aiden adalah bagian dari Antrest. Justru dia sangat berhak mendapatkan posisi ini bukan?”


Ujaran Nyonya Monica yang dingin membuat semua orang semakin bungkam. Faktanya, Aiden diakui sebagai putra Antarest.


“Selain itu, tidak ada pencapaian Antarest Entertainment yang lepas dari jerih payah Aiden. Nyatanya, atas arahan adikku juga bukan yang menyelesaikan semua masalah akhir-akhir ini? Apa ada yang tidak setuju? Coba saja turunkan dan keluarkan dia dari perusahaan, dan aku yakin Atarest Entertainment akan segera jatuh. Bahkan, aku sendiri akan menjadi orang pertama yang meruntuhkannya.”


Orang-orang hanya bisa menunduk. Mereka takut, segan, namun juga memang hanya bisa diam. Jika Varlos berkata demikian, maka pasti akan terjadi demikian. Antarest Entertainment bisa bertahan tanpa Aiden. Namun, Antarest entertainment takkan bisa bertahan jika Varlos ingin menjatuhkannya.


Zura menghembuskan nafasnya lega. Ia sungguh bersyukur mendengar apa yang dikatakan Nyonya Monica dan Varlos barusan. Ia lantas menoleh ke arah Aiden. Laki-laki itu menatap sekeliling dengan tenang dan tegas. Aiden mengetuk meja, menimbulakan bunyi yang menarik perhatian semua orang.


Ruangan itu kembali riuh.


“Tu- tunggu, kau bilang, istri?” tanya salah satu petinggi. Semua orang kembali menatap Aiden. Ya, tak ada yang tahu jika Aiden telah menikah.


Aiden balas menatapnya dengan satu alis terangkat.


“Kau? Aku masih CEO sekaligus pemegang saham tinggi di sini.” Ujar Aiden.


“Yah, meski sekarang kak Varlos memegang saham lebih tinggi sih.” Lanjutnya.


Semua orang makin riuh. Memang, mereka lupa keluarga Antarest memegang 59% saham. Lupa bahwa Aiden memegang saham yang sangat besar. Tepatnya, mereka pikir Nyonya Monica dan Tuan Muda Varlos akan berada dalam pihak mereka untuk menjatuhkan Aiden. Sayangnya, mereka justru membela si anak haram itu. Lalu, setahu mereka Aiden lah yang memiliki saham paling tinggi. Sejak kapan menjadi Varlos?


“A-apa maksud anda?” tanya salah seorang pemegang saham, yang kini kembali menggunakan bahasa sopan. Ya, bagaimanapun Aiden memiliki saham tinggi. Dan jauh jika dibandingkan dengannya yang hanya memiliki nominal kecil, tak sampai 10%.


“Aku tahu kalian bingung. Seperti yang kalian tahu, aku memegang saham 30%, kak Varlos 17%, dan Ibu 12%. Namun, sejak aku menikah, aku mengalihkan 15% sahamku pada istriku. Saat itu lah aku mendapat masalah karena seseorang dengan sengaja memalsukan bukti. Dia berniat mengambil 15% saham yang hendak ku alihkan. Gara-gara itu, aku sampai kehilangan 2% nilai sahamku.”


Semua orang kembali ribut. Namun itu tak lama, karena Aiden mendadak berdiri dengan sedikit menggebrak meja.


“Seperti yang ku jelaskan barusan. Aku telah menikah. Dan istriku kini memegang 14% saham Antarest Entertainment. Dan karena itu pula, wanita yang ku bawa kemari, tentu adalah Nyonya Muda Antarest.”


Aiden mengulurkan tangannya ke arah Zura. Dengan sebuah senyuman, gadis itu pun meraih jemari Aiden dan ikut berdiri.


“Saffir Azura Antarest, istriku.” Ujar Aiden, memperkenalkan Zura pada semua orang.

__ADS_1


Zura mengangguk sekilas, tersenyum simpul. Semua orang sempat diam. Mereka terkejut, sekaligus terpana pada kecantikan Zura. Varlos pun ikut berdiri, dan diikuti pula oleh nyonya Monica.


“Mau seperti apa pun rapatnya, suara terbanyak dipilih berdasarkan kepemilikan jumlah saham bukan? Jika saham milikku, ibu, dan adik iparku digabung, itu saja sudah cukup untuk memutuskan. Mau atau tidak mau, Aiden tetap akan memimpin perusahaan.” Ujar Varlos. Tanpa menunggu persetujuan lagi, ia pun beranjak pergi. Diikuti pula oleh Nyonya Monica. Aiden juga mengajak Zura pergi.


Perlahan, keriuhan ruangan itu kembali. Tepat sebelum Varlos membuka pintu, ia pun berbalik.


“Jika kalian masih tidak puas dengan hasil ini, tak masalah. Aku masih punya banyak cara membuat kalian diam.” Ujarnya, lantas melangkah pergi.


Semua orang menelan ludah. Mereka tahu, Varlos adalah orang berbakat yang menakutkan.


...**...


“Ck, aku hanya jadi hiasan dinding.” Gumam Ken kesal. Ia bahkan terlupakan, dan hanya berdiri mematung di dalam ruangan.


Aiden terkekeh.


“Yah, masalahnya selesai karena kita berhasil menyelesaikan semua projek kerja sebelum rapat hari ini.” Ujarnya. Semua takkan selesai semudah ini jika rapat diadakan saat beberapa projek masih menggantung dan terbengkalai.


“Semua berkatmu juga, Ken. Terimakasih karena membantu Aiden.” Ujar Zura.


“Sebelum kamu menjadi istri Aiden, aku sudah menjadi asistennya selama bertahun-tahun, Zura.” Jawab Ken sambil ikut terkekeh. Sayangnya, candaan merekaharus digantikan.


“Ehem..” suara serak Nyonya Monica membuat ketiga orang itu menoleh, menatap Monica dan Varlos.


“Ibu, kakak.. terimakasih atas bantuan kalian.” Ujar Aiden.


“Tentu.” Jawab Varlos singkat.


Sementara Zura merasa canggung. Ini kali keduanya bertemu dengan sang mertua, yang ternyata ibu tiri Aiden. Zura pun mengangguk sopan dan tersenyum kaku.


“Se- selamat siang, I- ibu.. kakak..” ujar Zura gugup.


Ah. Aiden baru ingat, jika ini pertama kali Zura bertemu ibunya bersamanya. Dan ia belum memperkenalkan Zura secara resmi.


“Ibu.. menantu ibu sangat cantik bukan?” ujar Aiden kemudian, mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Monica yang melihat itu lantas terkekeh ringan.


“Benar. Dia sial sekali harus menikahi anakku yang nakal dan bandel.”


Mendengar ejekan ibunya, Aiden pun mengerucutkan bibir. Varlos tertawa ringan, dan Ken ikut terkekeh. Sedang Zura terpana melihat tawa ringan ibu mertuanya yang sejak kemarin berwajah datar.


Monica yang menyadari kegugupan Zura lantas memeluk wanita itu.


“Selamat datang, menantu..” ujarnya.


“Karena rapatnya sudah selesai, ayo kita cari makan. Kita lanjutkan ngobrolnya di sana.” Ajak Varlos kemudian.


...** ...


...Well, guys, percayalah bahwa setiap masalah selalu memiliki jalan keluar....

__ADS_1


__ADS_2