
'Ugh…'
Perlahan, Aiden membuka matanya. Kepalanya terasa pening. Ada sensasi kesemutan saat dia hendak menggerakkan tangannya. Ah! Dia kecelakaan.
Ingatan terakhirnya adalah bagaimana supir pengganti itu dengan handal menyingkir. Tapi tetap saja, mobil Aiden menabrak pembatas jalan dan berguncang. Aiden memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia menatap sekitar dan sosok Ken berdiri di sana.
“Ken..” lirih Aiden, memanggil.
“Anda sudah sadar? Tidak ada masalah serius. Tangan anda hanya memar, dan anda pingsan karena syok benturan. Tapi tetap saja anda harus beristirahat.” Jelas Ken. Dia tampak tenang.
Meski begitu, beberapa orang tampak berjaga di sekeliling ruangan itu. Aiden menatap mereka tak suka. Ken pasti menghalanginya kemanapun. Aiden menatap jam dinding. Pukul 3 sore. Dia harus segera menemui Zura.
“Aku akan pergi.” Ucap Aiden singkat.
“Tidak boleh! Jika anda bersikeras, saya akan melenyapkan data penyelidikan yang anda minta terakhir kali.” Ancam Ken.
Aiden menatapnya frustrasi.
“Aku harus pergi!” ucap Aiden, bersikeras.
Ken menatapnya tajam, sebelum akhirnya menghela nafasnya panjang.
“4 jam. Anda boleh keluar 4 jam lagi.” Ucap Ken.
Aiden pun dengan pasrah mengiyakannya.
Bagaimanapun, sebenarnya Ken sedang menunggu hasil lab untuk memastikan Aiden baik-baik saja.
“Terus awasi Zura.” Perintah Aiden singkat.
“Baiklah.” Jawab Ken.
Aiden memutuskan menghabiskan waktunya dengan membuka ponsel. Ia merasa sangat gelisah dan cemas. Ia tahu cukup mustahil bagi Zura mengejar jadwal dan menemui orang-orang itu. Namun Aiden tetap merasa cemas. Aiden lantas membuka laptopnya. Dia mulai mengerjakan beberapa data yang ditinggalkannya hari ini. Ken juga hanya duduk tenang dan sudah sibuk sendiri. Dia memang orang paling kompeten yang pernah dikenal Aiden.
Sekitar 1 jam lebih berlalu, Aiden kemudian mengingat sesuatu yang menarik minatnya.
Aiden menatap Ken.
__ADS_1
“Bagaimana dengan penyelidikan yang ku minta? Bisakah kamu mengirim datanya?” tanya Aiden.
Ken menatap Aiden, mengernyitkan dahinya. Data? Ken berpikir sejenak sebelum dia menangkap apa yang Aiden maksudkan.
“Aku akan mengirim semuanya. Masih diselidiki dan aku juga belum mengeceknya karena banyak kesibukan.” Ucap Ken.
“Baiklah.” Jawab Aiden.
Beberapa data pun mulai masuk. Aiden merasa sedikit terhibur dari rasa bosan dan cemasnya. Memang datanya belum akurat. Bahkan videonya masih mentah, belum diteliti dengan baik. Itu adalah kumpulan video yang berhasil dicuri oleh orang suruhannya.
Mata Aiden mulai memperhatikan satu demi satu data yang ada. Yah, lebih mudah jika dia mendapat penjelasan langsung dari orangnya. Tapi Aiden tidak bisa melakukan itu. Karena itulah dia mencari sendiri kebenarannya.
Namun, masih belum banyak yang bisa diambil.
“Teruskan penyelidikan.” Ucap Aiden singkat.
“Baiklah.” Ken juga menjawab dengan sama singkatnya.
Aiden yang bosan lagi-lagi mulai bekerja. Meski dia terlihat seperti bajingan, playboy, dan orang yang sembarangan lagi serampangan, sebenarnya Aiden adalah orang yang sangat kompeten dalam bekerja. Jika dia sudah serius, dia bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat 2 kali lipat dibanding orang lain.
“Aku akan menaikkan gaji mu, Ken.” Ucap Aiden.
Ken menatapnya dengan antusias. Dia tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya.
“Saya akan berusaha lebih giat, bos.” Ucap Ken.
“Ah, aku baru ingat. Siapa orang yang menjadi sopirku tadi?”
“Namanya Satya. Dia adalah sopir pengganti karena Heris sebelumnya sedang sakit, dan Helios menjaganya. Apa kamu tertarik?” Ken mengangkat satu alisnya.
Sejak sopir pribadinya, Heris dan Helios berhalangan, Aiden terus mengganti sopirnya tiap beberapa waktu. Baru kali ini dia tertarik dengan seseorang.
“Ya. Aku selamat berkat dia. Aku bisa melihat jarak mobilku dan mobil pelaku itu sangat tipis. Jika bukan karena kemahiran Satya, kami pasti terluka parah.”
“Hem.. baiklah. Saya akan merekrutnya sebagai sopir pribadi resmi perusahaan setelah ini.”
“Ya. Itu bagus.”
__ADS_1
“Ah..” ucap Ken, seolah dikejutkan dengan sesuatu.
Aiden menatapnya. Apa yang terjadi? Ken mengangkat kepalanya menatap Aiden. Dia sebenarnya agak ragu. Tapi, akan lebih baik jika dia mengucapkannya.
“Aku mendapat kabar yang cukup buruk. Aktris Azura berhasil menemui Krish.” Ucapnya kemudian.
Brakk!
“Apa?”
Aiden yang terkejut langsung turun dari kasurnya. Dia bahkan segera melepas infus di tangannya. Ken yang melihatnya ikut berdiri.
“Aku tak mengerti kenapa kamu sangat ribut. Itu hanya pertemuan.” Ucap Ken.
“Hanya pertemuan? Mana mungkin aku tenang jika pertemuan itu menentukan keputusan Zura menikah.”
Aiden segera melepas pakaian pasien di tubuhnya. Dia memakai kaus dan jas hitam yang ada di meja. Ken membalikkan badan. Aiden juga perlu mengganti celananya.
“Menikah? Bukankah Zura baru batal menikah dengan Andre?”
Aiden mendengus kesal.
“Karena itulah dia mencoba menikah dengan Krish.”
Aiden yang sudah selesai dengan pakainnya melewati Ken. Dia berjalan dengan cepat. Ken mengikutinya di belakang. Ada banyak pertanyaan dalam kepalanya. Tapi dia memutuskan mengatakan hal lain.
“Tetap saja, anda masih sakit.”
“Aku baik-baik saja. Bahkan tulang tanganku hanya memar, bukan retak atau patah.”
Itu benar. Ken akhirnya tak punya pilihan lain selain membiarkan dan mengikuti. Mereka melewati koridor rumah sakit dan bergegas memasuki mobil. Aiden tampak tak sabar, tapi dia tetap membiarkan Ken yang mengambil alih kemudi. Mobil itu melaju dengan cepat menuju gedung Sirius, tempat Krish sedang berada.
Malam sudah menjelang dan matahari sudah sempurna tenggelam. Jalanan kota masih ramai dengan gedung tinggi yang menampakkan cahaya lampu. Meski pemandangan di sekitarnya tampak indah, pikiran Aiden kusut.
Aiden tiba-tiba mengacak rambutnya.
“Ah!! Siaaal!! Gadis sialan!!”
__ADS_1