
Helios menatap dari kejauhan.
Wanita itu benar-benar sangat ayu. Parasnya yang cantik dengan mata yang sangat indah. Jemarinya yang lentik tengah menjemur seprai putih dan mengibasnya. Bahkan tanpa kamera dan sutradara yang menyerukan kata ‘action’, gadis itu sudah sangat mempesona.
Helios mendekati gadis yang kini berstatus sebagai istri tuannya. Gadis yang lebih dari seminggu terakhir ditinggalkan sendiri. Seperti seorang putri yang terkurung di mansion mewah ini. Namun, Saffir Azura sama sekali tak tampak seperti putri terkurung. Senyumannya, suara riangnya saat menyapa, tawa kecilnya bersama para bawahan, dan sifat rajin dan teliti yang seolah sudah menyatu bersama darah dan dagingnya.
Siapa pun yang menikahi gadis itu adalah laki-laki yang sangat beruntung.
“Biarkan saya membantu, nona..” ucap Helios.
Dia telah memahami kebiasaan aktris cantik itu. Jika tengah menjemur pakaian pribadi, maka dia akan enggan dibantu, bahkan merasa malu. Lagipula, pakaian pribadi juga termasuk underwear. Namun, jika gadis itu tengah menjemur seprai, selimut, atau tirai, maka dia takkan keberatan.
Helios mampu memahaminya karena saat pertama kali ia datang, Zura juga membersihkan ruangan Aiden, yaitu ruang kerja pribadi yang telah lama ditinggalkan. Ruangan itu adalah ruangan luas yang memiliki meja kerja, lemari-lemari buku, sofa, tempat tidur, dan kamar mandi. Dan sejak kedatangan Zura, gadis itu melarang bi Inah atau pelayan lain membersihkannya.
Heris saat itu pergi pagi buta karena jadwalnya menjadi sopir Aiden. Dan Helios yang baru sampai ke mansion melihat Zura yang tengah sibuk menjemur. Saat itu adalah hari ke-2 di mana Aiden seharusnya sudah pulang ke rumah.
...[flashback]...
“Oh! Heris?? Mengapa rasanya ada yang berbeda?” Zura mengerutkan keningnya, menatap laki-laki di depannya dengan perasaan aneh.
“Saya Helios nona. Saya baru datang.” Jawab Helios dengan sopan.
“Helios?”
“Ya. Saya dan Heris adalah saudara kembar.”
Untuk beberapa saat, Zura terdiam. Matanya tampak mengerjap beberapa kali. Dia tampak larut dalam pemikirannya. Namun dengan cepat gadis itu kembali menatap Helios dengan sebuah senyuman ramah.
“Oh!! Astaga!! Bagaimana bisa Heris tidak memberi tahu aku sama sekali?! Maafkan aku, Helios.”
“Tentu. Mari saya bantu, nona.” Dengan cekatan Heris mengambil selimut. Zura yang menatap laki-laki itu tersenyum ringan.
__ADS_1
“Baiklah. Tapi, jika aku sedang menjemur pakaian, jangan menawarkan bantuan. Aku akan merasa malu dan sungkan.” Ucap Zura dengan santai.
Helios menatap Zura dengan mata bertanya. Ia memang sempat mendengar bahwa nyonya mudanya itu sangat rajin membersihkan rumah dan membantu. Namun, dia masih tak mengerti.
“Nona, sekarang sudah banyak pelayan yang bekerja di sini. Kenapa anda mencuci dan membersihkan kamar anda sendiri?” tanya Helios.
“Hm.. Mencari kesibukan. Lagi pula, aku adalah kekasih Aiden. Aku tidak berniat bertingkah sebagai nyonya.”
Jawaban itu membuat Helios berhenti. Ia menatap Zura.
“Saya, Heris, Bi Inah, dan Pak Awit sudah tahu bahwa anda adalah istri Tuan Aiden. Kami memanggil anda nona untuk berjaga-jaga jika ada pelayan atau pengawal yang bergosip.” Ucap Helios.
Tentu saja Zura menatapnya dengan tatapan terkejut. Dia tak menyangka ternyata statusnya sebagai istri Aiden diketahui beberapa orang.
“Bagaimana kamu tahu aku dan Aiden telah menikah?” tanya Zura kemudian.
“Ah! Saya mendengar percakapan Tuan Aiden dan Aisten Ken. Lalu, saya mengabari Heris dan sepertinya Heris memberitahu Bi Inah dan Pak Awit. Anda tidak perlu khawatir, kami bisa dipercaya. Dan saya yakin Tuan Aiden juga percaya pada kami.”
“Kamu memiliki kepribadian yang berbeda dengan Heris. Tapi, karena kamu sudah tahu, ku pikir aku harus memberikan jawaban yang lain.”
“Ya. Kamu bertanya kenapa aku membersihkan kamar sendiri bukan? Kamar dan ruang kerja Aiden. Bukankah dua tempat itu adalah tempat privasi. Karena itu lah aku hanya berusaha menjaga privasi Aiden. Dan juga, berusaha menjadi istri yang baik.”
Sebuah senyuman manis tampak sangat bersinar. Di antara hangatnya sinar matahari yang semakin meninggi dan panas.
“Kalau begitu, tolong selesaikan. Ku pikir aku sedikit lelah dan ingin beristirahat.”
“Baik, nona.”
Helios terlambat menyadarinya. Bukankah kepulangannya ke mansion juga mengonfirmasi kepulangan Aiden? Lalu kenapa Zura tak bertanya sama sekali?
Setelah selesai dengan urusannya, Helios mendatangi Bi Inah, perempuan yang ia panggil ibu. Karena Bi Inah memang sudah menjadi Ibu angkatnya. Dan Bi Inah menceritakan kejadian tadi pagi di mana seseorang yang mengaku sebagai paman Zura berkunjung datang. Meski tak terdengar jelas, Bi Inah samar-samar mendengar pertengkaran di dalam ruangan itu. Dan nama Aiden juga disebut-sebut. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
...[flashback off]...
...*...
Zura menatap Helios yang menawarkan diri membantu. Gadis itu lantas tersenyum. Sebuah senyuman manis yang kini telah terukir jelas dalam ingatan Helios.
“Terimakasih.” Jawab Zura. Dia lantas hanya berdiri, melihat Helios menyelesaikan pekerjaannya.
Seminggu. Kini sudah seminggu berlalu dan tuannya, Aiden masih juga belum pulang. Dan sang nyonya rumah, Zura, tak sekali pun bertanya. Malah sebaliknya, dia yang seringkali ditanya tentang keberadaan Aiden oleh para pengawal atau pelayan yang mencoba beramah tamah. Rumor pun mulai muncul di mansion, di mana Zura adalah simpanan Aiden yang diabaikan karena pernah aborsi. Dan mungkin, Aiden adalah selingkuhan Zura saat itu.
Padahal, berita tentang perselingkuhan dan aborsi itu sudah dinyatakan sebagai berita salah dan palsu. Berbagai bukti disertakan. Mulai dari dokter yang memberikan pernyataan yang menghilang, hingga bukti bahwa Zura masih virgin juga dihadapkan ke publik. Saat itu, Zura memang melakukan pemeriksaan karena dia hendak menikah. Termasuk pemeriksaan bahwa dia masih virgin. Itu saja sudah menjelaskan bahwa berita aborsi itu palsu. Lalu mengenai foto usg yang dipegang Zura, seorang aktris luar negeri, tepatnya aktris Kanada menyatakan bahwa foto itu miliknya yang tengah diperlihatkan pada Zura. Aktris tersebut meminta maaf karena dia terlambat mengetahui informasi. Dan dia meminta publik berhenti merendahkan Zura.
Kasus Zura ditutup, meski keberadaan sang Muse negeri itu masih menghilang. Masalahnya telah selesai. Tapi sekarang, rumor itu malah kembali merebak di mansion. Bukankah tak mungkin Zura tak mendengarnya sama sekali??
“Nona..” Helios memanggil Zura, yang tampak masih berdiri menunggu pekerjaannya selesai.
“Ya?”
“Tuan Aiden baik-baik saja. Dia sehat. Hanya saja, tuan sepertinya sedang memiliki beban pikiran yang sangat berat.” Ucap Helios kemudian.
Seminggu. Dia telah seminggu memperhatikan Zura. Awalnya dia pikir nona Zura sama sekali tak peduli pada tuannya. Namun, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu sekarang? Wanita yang begitu teguh, dengan telaten membersihkan kamar dan ruang kerja Aiden setiap hari. Bertanya tentang makanan yang disukai atau tak disukai oleh Aiden, warna yang disukai dan tak disukai, kebiasaan, hobi, kegiatan sehari-hari, dan lainnya. Dan tak pernah sekali pun bertanya tentang Aiden. Apakah itu sebuah ketidakpedulian?
Kini Helios tahu jawabannya. Zura, gadis yang telah menjadi istri Aiden itu hanya berusaha menjaga nama baik Aiden. Bersikap seolah hubungan mereka baik-baik saja.
Setidaknya, itu lah yang Helios yakini.
...**...
...Ternyata, untuk kesibukan ku yang sekarang, up 2 episode per hari itu susah. Semalem aja aku tidur udah jam 1 lebih, atau jam 2 malah. Jadi, jangan terlalu ngarep ya.....
...Maklum, aku manusia biasa....
__ADS_1
...Makanya, jangan lupa kasih penyemangat buat manusia rapuh yang suka ngeluh ini, oke??...
...Love for your like, comment, gifts, and vote...