
“Kamu harus pergi kan? Berangkatlah..” ucap Zura kemudian, menepis pikiran anehnya.
“Ah.. tentu.” Jawab Aiden.
"Baiklah, ayo!" Zura beranjak dari duduknya, kening Aiden pun berkerut.
"Ayo? Kemana??" tanya Aiden.
"Tentu saja mengantarmu ke depan." Zura menatap Aiden, memang kemana lagi?
"Oh.."
"APAA???" Mata Aiden membelalak kaget. Ia menatap Zura tajam.
"Tidak!! Tidak boleh!!!" Tegas Aiden. Tentu saja Zura semakin tak mengerti.
"Kenapa?" tanya gadis itu.
"Kau berniat keluar dengan gaun it--" Aiden berhenti, menelan ludah. Ah sial! Dia lupa bahwa dia sendiri lah yang membuat Zura memakai pakaian seksi itu.
Ha?? Apa sekarang kamu menyesal membuatku memakai pakaian ini? Cih! Salah sendirii!! batin Zura.
"Kenapa? Toh ini gaun spesial pemberian kamu bukan?" Zura menyeringai sinis.
"Sudah ayo.." ucapnya sambil melangkah.
Ugh siaaalll!!
Aiden mengacak rambutnya, lantas dengan sigap ia menarik lengan Zura. Sampai kiamat sekali pun, Aiden takkan sudi tubuh molek dan seksi Zura ditatap oleh laki-laki lain. Ayolaah!! Beberapa pekerja laki-laki ada di luar mansion.
Zura yang ditarik pun dengan terpaksa berbalik. Mereka saling berhadapan dan Aiden memegang kedua lengan Zura.
"Zuraa.. Saffir Azuraa.." panggil Aiden dengan lembut.
Aku tak bisa marah, ini salahku. Jadi, aku akan membujuk Zura. Ha!! Gadis manis, kamu pasti luluh bukan??
__ADS_1
Benar. Sejujurnya Zura terkejut, dan kemarahannya menguap. Dalam hati ia merutuk. Ah, Aiden sungguh licik. Bahkan kedua tangan Aiden yang memegang lengannya kini mengusap lengan itu perlahan, seolah sedang menenangkan. Dan sialnya, itu berhasil.
"Zura, istriku tercinta.. Aku senang sekali kamu mengantarku. Dan aku, ehem. Aku minta maaf membuatmu memakai dress ini. Padahal aku tahu kamu tidak suka memakai pakaian yang terlalu ketat dan terbuka." Aiden menjeda kalimatnya. Dengan pelan, Aiden menarik Zura ke dalam pelukannya.
Tuhan tolong aku!! Selamatkan aku dari bujuk rayu Aiden!! batin Zura dalam hati.
Ah!! Kenapa Aiden malah memakai cara lembut seperti ini?! Dan kenapa aku mudah sekali luluh pada laki-laki ini!!!
Melihat Zura yang diam, Aiden pun melanjutkan aksinya.
"Maaf.. Sebenarnya, ka- kamu sangat cantik. Aku tidak memikirkannya dengan baik setelah membayangkan kamu memakai pakaian seperti ini."
"Apa?? Membayangkan??"
"Uh.. maksud ku.. Baa- bayangan itu muncul begitu saja. Dan aku spontan menyuruh bi Inah membeli pakaian semacam ini. Maaf!!"
Aiden melepas pelukannya dan menatap Zura.
"Apa aku dimaafkan??" tanya Aiden.
Zura hanya bisa menghela nafasnya.
"Apalagi??"
"Ck!!" Zura mendecak dan menatap Aiden kesal. Wajahnya bersemu.
"Ka- kerena ulah mu semalam!!" ucapnya sembari mengalihkan pandangan. Zura sangat malu.
"Ulah ku?-
"Ahh!!" Seru Aiden yang kini mengerti. Ia menelisik tubuh Zura dengan seksama. Dari leher turun hingga kaki, lalu kembali naik. Dan saat maniknya sampai pada wajah ayu Zura, gadis itu sudah sempurna merah padam.
Aiden tersenyum.
"Maaf.. Ayo aku carikan sesuatu." ucap Aiden, mengajak Zura ke atas. Gadis itu hanya diam mengikuti.
__ADS_1
Aiden berpikir sejenak. Memikirkan apa yang kiranya ia berikan untuk Zura. Lantas pikirannya terkontaminasi oleh ingatan tadi. Tubuh seksi Zura yang tertutup mini dress. Dari leher, tulang selangka, lengan, bagian paha, dan mungkin juga punggungnya. Banyak sekali kissmark di sana. Merah, bahkan keunguan.
Ah, sial! Aku jadi kembali terangsang jika memikirkan semalam.
Tapi, kenapa bi Inah diam saja ya? Mungkin penglihatan beliau memang tak sebagus dulu.
Setibanya di walk in closet, Aiden membuka lemari dan memilah pakaiannya. Hingga matanya tertuju pada sebuah pakaian berwarna merah terang. Dengan lengan panjang, dan panjangnya selutut Aiden. Itu adalah pakaian hadiah saat ia mengisi peran utama dalam drama kolosal yang akhirnya mendapat total 17 penghargaan sepanjang tahun itu.
Aiden pun mengambil pakaian itu. Bagian depannya terbuka tanpa kancing, namun ada kain yang dijadikan sabuk.
"Nah, ini akan bagus." Ucap Aiden sembari memakaikan pakaian itu pada Zura. Tentu saja pakaian itu tampak sangat besar karena tubuh gadis ini kecil.
"Ah. Kamu memang cantik memakai apa pun.." Gumam Aiden.
Dia tak tahu bahwa Zura merona. Dalam hati, gadis itu merasa trenyuh dan hangat akan sikap manis Aiden. Laki-laki itu memakaikan pakaian dengan hati-hati.
Sungguh!! Laki-laki ini.. Dia sangat mahir membuat setiap wanita melayang di angkasa. Hingga rasanya, rasa manisnya akan terus tertinggal meski laki-laki ini telah pergi.
Sepertinya, aku tak akan menyesal bahkan setelah hubungan kita berakhir.
Ah, apa sih?!! Masa aku sudah luluh dalam waktu kurang dari 24 jam!
Demi Darlingtonia Californica!! Aku telah terjebak dalam pesona mematikan laki-laki licik ini!!
...**...
Zura mengirim Aiden ke depan pintu. Aiden pun berdiri di depan mobilnya dengan pintu terbuka. Dia menatap Zura. Ada perasaan tak senang dan sedih karena dia harus pergi.
Zura mendekat ke arah Aiden. Dengan lembut, dia mengecup pipi Aiden dengan kaki yang sedikit menjinjit.
“Hati-hati di perjalanan.” Ucap Zura.
Tanpa menunggu lagi, Zura mundur, berbalik masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya. Hatinya sedikit berdebar dan malu sehingga ia memilih pergi lebih dulu.
Sementara di luar, Aiden masih berdiri kaku. Ada rasa menggelitik yang asing. Mengirimkan rasa panas dan hangat. Tanpa sadar telinga Aiden kini memerah.
__ADS_1
Shitt!! Sialan!! Atas dasar apa hatiku berdebar dengan lancangnya cuma karena itu!!
...***...