Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Siapa Dia??


__ADS_3

“Maafkan aku.. Aku membuat masalah lagi.” Ucap Aiden lirih. Berada dalam dekapan Zura yang hangat membuat amarahnya mereda.


“Bukan salah mu, Aiden.” Wanita itu menepuk pelan punggung Aiden.


Menenangkan Aiden. Hanya hal ini yang bisa Zura lakukan. Bukankah masalah ini memang datang begitu saja? Ini bukanlah salah Aiden.


“Tetap saja..”


“Sudah malam, kamu harus makan dan mengisi tenaga. Aku juga. Ken juga. Heris dan Helios juga.”


Ceklek..


Sontak Aiden dan Zura melepas pelukan, menoleh ke arah pintu. Ingatan siang tadi membuat mereka merasa parno. Takut jika yang datang kali ini juga para reporter sialan itu.


“Ups.. sorry..” ucap seorang wanita yang kini membawa bingkisan di tangannya. Di belakangnya juga tampak seorang gadis berdiri dengan wajah tersenyum kaku.


“Luci.. Selen..” seru Zura.


Melihat sahabat dan adik sepupunya yang datang, Zura bernafas lega. Ia segera menarik dua wanita itu masuk dan kembali menutup pintu.


“Darimana kalian tahu bangsal ini?” tanya Zura. Sebelumnya Aiden berada dalam bangsal vip. Dan mereka pindah ke bangsal vvip setelah insiden tadi.


“Helis?? Pokoknya laki-laki itu yang memberi tahu. aku lupa namanya.” Ucap Luci.


“Halo.. kakak ipar. Kita baru bertemu. Namaku Selen, aku adik sepupu kan Zura.” Sapa Selen. Ia menjulurkan tangannya mengajak bersalaman. Aiden pun membalasnya.


“Ku rasa kita pernah bertemu. Kamu tuan putri AS bukan?” tanya Aiden.


Wajah Selen tampak bersemu. Ayolah. Dia salah satu fans garis keras Aiden!!


“Aiden! Jangan menggoda adik manisku.” Ancam Zura. Melihat Selen bersemu membuatnya sedikit khawatir. Selen masih polos dan suci meski pergaulannya sedikit bebas.


“Woah!! Kamu cemburu, hm?” tanya Aiden.


Wajah Zura memerah.


“Ti dak!! Apa kamu gila? Aku khawatir pada adikku!!” sergahnya. Dia memang tidak cemburu. Tidak banyak, hanya sedikit.


Drrrrrtttt drrrrrttt..


Getar ponsel Aiden kembali membuat perhatian laki-laki itu teralihkan. Dia telah menonaktifkan satu sim nya. Sekarang yang aktif hanya nomer pribadi yang hanya diketahui keluarga.


Aiden menatap nama yang tertera dalam layar, membuatnya seketika mengeluh tertahan.


‘Kesayangan ku’


Nama itulah yang terpampang. Aiden dengan segera mengambil langkah menjauh dan menyeret besi yang menggantungkan kantong infus. Wajahnya tampak tertekuk dan kalut. Bahkan laki-laki itu pergi tanpa pamit atau sekedar menatap Zura.


‘Siapa kesayangan Aiden?’ batin Zura.


Tak!


Zura terkejut mendapat tepukan ringan dari Luci.


“Mau mendatangi Aiden atau girls talk?” tanya Luci. Dia juga sempat melihat nama itu. Selen hanya diam. dia ingin bicara tapi takut salah.


Zura menghembuskan nafasnya panjang.


“Aku tidak mau jujur, tapu hati ku akan kalut jika aku tak mengikutinya sekarang.” Ucap Zura dengan wajah yang gelap.


Luci justru terkekeh ringan.


“Oke.. sana!!”


Zura mengangguk singkat dan pergi. Sementara Selen menatap Luci.


“Apa kak Aiden masih berhubungan dengan banyak wanita setelah mereka menikah?” tanya Selen.


Luci sedikit tertergun, namun wanita itu justru menatap Ken yang masih sibuk sendiri.


“Aku tak tahu. kenapa kamu tak bertanya pada asisten yang selalu menemani Aiden itu?” ucap Luci sambil dagunya menunjuk ke arah Ken.


Selen ikut menoleh, menatap Ken yang kini mendongakkan wajahnya.


“Aku?” ucap Ken dengan dahi berkerut.


“Lalu siapa lagi? Hantu??”


Jawaban Luci membuat Ken mendengus.


“Menurut mu Aiden begitu?” ucap Ken yang balik bertanya dan menatap Selen, membuat gadis itu salah tingkah.


“Aiden tak begitu, Selen.” Ucap Luci akhirnya. Melihat Selen kesulitan membuatnya tak tega. Gadis itu masih muda.


“Aku tak tahu kebenarannya. Setidaknya, itulah yang Zura yakini.” Sambung Luci.


“Benarkah? Kalau begitu, syukurlah. Kak Zura memang cerdas, tapi kadang dia menjadi bodoh karena terus memikirkan kehormatan diri.” Gerutu Selen.

__ADS_1


Zura yang Selen kenal adalah orang yang sangat disiplin. Ia terus disiplin tanpa lelah. Ia menjaga kehormatan bukan karena ingin dihormati orang-orang. Zura hanya melakukannya karena ia memang harus menjaga kehormatannya. Hanya itu. Entah apa maksudnya, Selen sendiri tak mengerti.


Yang jelas, saat masalah selingkuh dan aborsi itu merebak, bukannya takut dengan pandangan dunia, kakaknya takut tak bisa menepati janji pada ayah Selen. Itu lah Zura yang selen kenal.


Ken menghembuskan nafasnya panjang.


“Aiden memang bejat. Tapi dia tak sebejat itu.” ucap Ken. Luci dan Selen menatap laki-laki itu.


“Setidaknya saat Aiden bersama Zura.” Sambung Ken. Ia kembali fokus pada laptopnya.


Luci pun mendekat dan ikut duduk di sofa. Begitu pula Selen.


“Mau makan? Kamu pasti lapar bukan?” tanya Luci.


“Iya. Kakak pasti lapar bukan? Makanlah..” timpal Selen.


Mereka akhirnya membuka bingkisan makanan.


Ya. Ken memang sangat kelaparan.


...**...


Zura mendekat perlahan ke arah Aiden. Laki-laki itu keluar ke serambi. Lagipula, karena tengah berada dalam ruang vvip, serambi luar yang bisa dibilang balkon itu juga luas. Dan tentunya aman dari para wartawan. Aiden mengangkap panggilan ponselnya dan mendekatkannya ke telinga.


Zura mendekat hingga berdiri di sisi Aiden. Ia tak bisa mendengar percakapan dalam telepon itu. Dan entah kenapa, Aiden malah hanya meliriknya singkat. Membuat Zura semakin penasaran dan merasa kesal. Sebenarnya siapa sih yang menelepon Aiden?


“Hm.. ya..” ucap Aiden singkat. Nada suaranya lirih dan patuh.


Zura semakin mengeluh dalam hati karena tak tahu apa yang Aiden bicarakan. Wajahnya semakin menggelap. Aiden yang melihat Zura malah hanya tersenyum miring.


“Tidak.. aku tak melakukannya.”


“…”


“Tidak.. aku tidak meremehkan. Di sini hanya ada kucing lucu.”


“….”


“Tidak.. sungguh!!”


“….”


“Ya, baiklah..”


Ugh! Semakin lama Zura semakin kesal.


“Aiden!!” ucap Zura singkat, dengan nada tajam. Ia tak bisa menahan diri karena Aiden seperti sengaja membuatnya kesal.


Aiden kini tertawa.


“Sempat-sempatnya..” Bungkam. Zura memutuskan diam tak melanjutkan.


Aiden kembali beralih, ia mendengarkan seruan suara di seberang panggilan ponselnya.


“Iya.. Maaf..”


“...”


“Haha, maaf. Dia sangat lucu.”


“…”


“Aku tak bisa menceritakannya sekarang. Intinya, ehm, dia kekasih ku.”


“…”


“Iya. Baiklah..”


“…”


“Baiklah, terimakasih.”


Aiden menutup panggilan, matanya beralih menatap Zura yang kini tampak jelas bad mood, namun wajahnya masih sedikit merona. Lagi-lagi Aiden terkekeh ringan.


“Kenapa?” tanya Aiden dengan nada menggoda.


Zura memalingkan wajahnya.


“Aku meyakinkan hatiku bahwa dia bukan wanita yang.. pokoknya itu.” gumam Zura lirih.


Aiden tersenyum. Tangannya memeluk pinggang Zura.


“Hem.. Terimakasih.” Jawab Aiden ringan.


Zura menatap Aiden dengan ragu-ragu.


“Bisakah.. kamu beri tahu aku siapa dia?” tanya Zura. Membuat Aiden menyeringai semakin lebar.

__ADS_1


“Cium aku dulu!” goda Aiden.


“Ck! Kamu masih dalam situasi gawat dan sempatnya—


“Tidak mau?”


Zura mendessah kesal.


“Bukan begitu, Aiden..”


Gadis itu akhirnya memberikan sebuah kecupan singkat di pipi.


“Itu saja, untuk sekarang.” Sambung Zura. Aiden tersenyum. Ya, kecupan singkat itu saja cukup. Saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk berbagi hasrat dan gairah.


“Terimakasih. Aku akan mengenalkan kalian suatu saat. Dia.. ibu ku.”


Zura mengerjap. Ibu? Astaga..


“Ternyata kamu seorang anak yang manis dan patuh. Sangat tidak terduga.”


Aiden tertawa.


“Benar kan?!” ucap laki-laki itu. lantas, ia mengajak Zura kembali masuk ke dalam.


...**...


[intermezzoo]


[ [flashback aiden] ]


“Aiden, kamu di sana? Apa kamu baik-baik saja?”


“Hm.. ya..” ucap Aiden singkat. Nada suaranya lirih dan patuh.


Aiden melirik ke samping, menatap Zura yang mengikutinya dengan wajah masam. Ia pun tersenyum miring memikirkan bahwa Zura tengah cemburu.


“Apa berita itu benar? Kamu menggelapkan uang?? Aku juga menemukan sedikit kejanggalan, Aiden..”


“Tidak.. aku tak melakukannya.”


“Hei, jawaban apa itu. kenapa rasanya kamu tengah menahan senyum? Apa kamu meremehkan hal ini??”


“Tidak.. aku tidak meremehkan. Di sini hanya ada kucing lucu.”


“Aiden!! Jangan main-main. Mereka menyerangmu. Jangan lengah!!”


“Tidak.. sungguh!!”


“Selesaikan masalah ini sebelum semakin memburuk. Musuh kali ini cerdik. Jangan lupa menghubungi Varlos.”


“Ya, baiklah..”


Ugh! Semakin lama Zura semakin kesal.


“Aiden!!” ucap Zura singkat, dengan nada tajam. Ia tak bisa menahan diri karena Aiden seperti sengaja membuatnya kesal.


Aiden kini tertawa.


“Kamu cemburu, hem??” tanya Aiden kemudian. Zura tampak sangat menggemaskan.


“Sempat-sempatnya..” Bungkam. Zura memutuskan diam tak melanjutkan.


Aiden kembali beralih, ia mendengarkan seruan suara di seberang panggilan ponselnya.


“Aiden? Apa itu suara aktris Saffir Azura??”


“Iya.. Maaf..”


“Kamu sedang bersamanya?? Apa yang kalian lakukan? Kamu tertawa kan tadi?”


“Haha, maaf. Dia sangat lucu.”


“Apa hubungan kalian sebenarnya?”


“Aku tak bisa menceritakannya sekarang. Intinya, ehm, dia kekasih ku.”


“Sudahlah, baiklah. Hati-hati di sana. Jaga diri kalian baik-baik.”


“Iya. Baiklah..”


“Baiklah. Sudah dulu, aku harus menganani banyak hal karena kamu.”


“Baiklah, terimakasih.”


[flashback off]


...***...

__ADS_1


...butuh semangat nih, gak ada yang mau berbagi semangat untukku kah?...


...Ah, aku sediih :(...


__ADS_2