
Zura setengah berlari menuruni tangga dengan sangat semangat. Seketika, gerakannya berhenti. Ia mengernyit bingung melihat keempat laki-laki itu. Aiden, Ken, Heris, dan Helios sama-sama membeku di tempat. Mereka menatap ponsel di tangan Aiden dengan pandangan kosong.
“Apa tadi benar-benar kak Varlos?” gumam Aiden.
“Ya. Aku juga tak percaya.” Balas ken.
“Kak Varlos bertanya apa yang harus dilakukan setelah bercinta dengan wanita?” tanya Heris masih tak percaya.
Helios hanya ikut menatap tak percaya ke arah ponsel Aiden.
Zura yang mendengar percakapan itu akhirnya mengerti apa yang terjadi. Hei, bukankah ini kabar besar? Varlos sekarang punya wanita?
“Oh, God!! Aku akan segera punya kakak ipar?” teriak Aiden penuh semangat.
“Helios, bagaimana menurutmu?” tanya Aiden lagi, menatap Helios.
“Em, saya rasa tuan Varlos memang bertemu dengan perempuan yang memikat hatinya.”
“IYA KAAAN.. astaga!! Aku akan segera punya kakak ipar!!”
“Aiden..” panggil Zura memecah percakapan. Seketika, Aiden menoleh dan menghampiri gadis itu dengan penuh semangat.
“Oh, sayang!! Istriku yang cantik!”
Dengan erat, Aiden memeluk Zura. Istrinya kini berpakaian rapi dan sangat cantik dengan dressnya. Gadis itu menata rambutnya dengan kepang sedemikian rupa dan dengan polesan make up tipis. Benar-benar sangat cantik.
“Kak Varlos barusan menghubungi?” tanya Zura.
“Hm!! Dan kamu tahu, dia bertanya cara memperlakukan perempuan setelah melewati malam panas bersama!” jawab Aiden antusias.
Zura tersenyum.
“Aku penasaran wanita seperti apa yang telah berhasil merebut hati kak Varlos.”
“Ya-
“Ekhem.. aku juga penasaran. Tapi, sekarang kita harus segera keluar dan melakukan konferensi pers.” Potong Ken, mengingatkan.
“Oh, benar. Sayang, ayo kita umumkan pernikahan kita pada dunia.” Aiden mengulurkan tangannya. Dengan senyum sumringah, Zura pun membalas uluran tangan Aiden.
__ADS_1
“Oh, aku sampai lupa ingin mengabarkan sesuatu.”
“Sesuatu?” Aiden mengernyit, menatap Zura sambil berjalan pelan.
“Hm..” Zura mengangkat tangan Aiden, memberikan sebuah benda kecil dengan dua garis.
“Positif..” bisiknya.
“Positif??” Aiden yang masih bingung menatap benda di tangannya sambil mengingat-ingat. Rasanya, ia pernah melihat benda semacam ini.
“Oh, God!!” Aiden terbelalak. Ia bahkan menghentikan langkah dan menatap Zura tak percaya.
“Sa- sayang.. kamu.. kita..”
Melihat senyum lebar istrinya, hati Aiden semakin berdebar dan menggebu.
“Ya. Aku hamil.”
...**...
Varlos menikmati kopi pagi sambil membuka beberapa file dalam tabletnya. Pagi ini ia benar-benar sangat bahagia. Ternyata, menikmati waktu semacam ini cukup menyenangkan juga. Sesekali, Varlos mencuri tatap pada seorang wanita yang justru terlihat bosan. Wanita yang sangat menggemaskan.
Wanita itu menggeram kesal.
“Bukankah anda yang melarang saya bekerja?” sungutnya. Yang malah hanya ditanggapi dengan kekehan Varlos. Laki-laki itu ikut menaiki ranjang, duduk dan memeluk wanitanya.
“Aku akan melupakan kesalahan hari ini jika kamu memanggilku sayang dengan mesra.”
Jeska benar-benar tak bisa memahami atasannya. Ia masih atasan yang sama, menyebalkan dan sedikit gila. Bedanya, sekarang atasannya itu juga sedang bermain drama cinta.
“Sekarang konferensi pers tuan Aiden pasti sudah dimulai. Anda tidak berniat menonton?” tanya Jeska, mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh. Aku lupa.”
Varlos pun menaikkan Jeska dalam pangkuannya. Wanita itu hanya diam menurut. Maniknya memperhatikan tangan Varlos yang dengan cekatan mengetikkan sesuatu. Sesaat kemudian, gambar Zura dan Aiden terpampang di layar. Konferensi pers kali ini dengan sengaja disiarkan secara langsung oleh Aiden di akun sosial media pribadinya. Terlihat keributan para wartawan yang menanyakan banyak hal di sana. Aiden dan Zura hanya tersenyum menatap layar.
“Semuanya, aku di sini untuk melakukan klarifikasi mengenai masalah yang akhir-akhir ini memenuhi jagat hiburan. Pertama, perkenalkan, Saffir Azura Antarest. Kami telah menikah secara sah belum lama ini. Ini sertifikat pernikahan kami. Maaf sekali jika akhir-akhir ini masih sangat banyak skandal berita tentangku. Semua berita itu palsu. Sejak menikah, aku tak pernah memiliki hubungan dengan wanita lain. Aku sangat berterimakasih pada istriku. Kalian tahu bahwa aku telah melalui sangat banyak hal berat akhir-akhir ini. Zura lah yang menemaniku dan mendukungku. Dia bersedia mendukungku bahkan jika aku kehilangan semua aset dan popularitas. Aku sungguh sangat bangga dan bersyukur karena menikahinya.”
Varlos tersenyum simpul, menatap layar kecil itu dengan pandangan teduh. Aiden tampak sumringah. Jelas sekali adiknya bahagia setelah semua masalah telah berakhir. Tangan Varlos pun perlahan mengeratkan pelukan di pinggang Jeska.
__ADS_1
“Adikku sudah menikah dan bahagia.” Gumamnya.
Jeska hanya melirik singkat. Wajahnya terasa sedikit panas. Apalagi ia bisa merasakan sesuatu yang sedikit mengganjal di bagian bawah sana. Siapa yang mengira, Varlos yanga antipati terhadap wanita, dingin, dan selalu bersikap sesuka hatinya itu ternyata juga orang yang cukup gila di atas ranjang. Jeska tersenyum kecil. Bahkan, Varlos juga bertingkah sesuka hati sekali terhadapnya.
Sebenarnya, statusnya itu apa sih? Asisten with benefits? Mungkin, Jeska arus mengundurkan diri secepatnya saja.
“Oh, adik iparku memang selalu cantik. Benar kan sayang?” Varlos mencium singkat pipi Jeska. Matanya kembali menilik tablet di tangannya.
“Saya juga sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Aiden. Saya sangat berterimakasih pada para penggemar setia di sana. Jujur saja, rasanya lucu sekali jika mengingat masa lalu. Aiden yang paling saya hindari, kini menjadi orang yang paling berharga dan penting dalam hidup saya.”
“Oh, kami masih memiliki banyak kejutan. Tolong nantikan di masa depan.”
“Termasuk menjawab banyak pertanyaan kalian mengenai semua skandal yang merebak. Akan kami konfirmasi beserta bukti.”
“Ya. Kami juga akan segera menyelenggarakan resepsi.”
“Tentu. Aku akan mengundang banyak relasi. Tunggu ya, guys. Oh iya, pagi tadi aku juga mendapat kabar bahagia dari istriku. Tapi, itu masih rahasia.”
“.....”
Varlos lantas mematikan tabletnya. Ia sudah mendapat apa yang paling ingin ia lihat. Kebahagiaan adiknya.
“Jes, apa kamu mau menikah denganku? Jika iya, kita bisa mengadakan resepsi bersama dengan Aiden.”
Jeska membeku. Ia membiarkan Varlos yang mulai menciumi tubuhnya dengan intens. Wanita itu mulai membalas kala ciuman Varlos semakin dalam, menyusup ke dalam mulutnya. Padahal, niatnya hanya membiarkan dirinya menerima cinta dari laki-laki yang belum lama ini ia kagumi.
Jeska pikir setelah ini ia harus menghilang membawa perasaannya. Kenapa Varlos malah mengajaknya menikah? Apa laki-laki itu benar-benar tahu berapa belas tahun umur mereka terpaut? Ah, sepertinya Jeska juga lebih muda daripada Aiden.
“Jes..”
Varlos berhenti. Ia senang Jeska tak menolaknya. Jeska juga tak berteriak atau mengelak saat kini Varlos tengah membuka bathrobe yang ia kenakan. Hanya saja, entah kenapa rasanya hampa jika hanya dirinya yang menginginkan Jeska. Varlos tahu, perasaannya pada gadis itu masih hanya sebuah ketertarikan belaka. Namun, tidak ada yang main-main dalam hidup Varlos. Ia bersungguh-sungguh mengajak Jeska menikah dan hidup dengannya. Varlos ingin Jeska juga menginginkan dirinya.
“Jes..” panggil Varlos lagi.
“Em, kira-kira, panggilan apa ya yang harus ku pakai di masa depan?” gumam Jeska. Varlos pun mengernyit tak mengerti. Wanita di bawahnya itu justru tersenyum lebar, menatap Varlos yang bingung dengan wajahnya yang manis.
“Jadi, kapan anda akan menikahiku?”
Seketika, senyum Varlos ikut melebar.
__ADS_1
...**...