Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Berkunjung


__ADS_3

“Ugh!!”


Aiden memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Namun sekali lagi, ia menenggak habis gelas berisi wine. Meski kadar alkoholnya tak terlalu tinggi, entah sudah berapa gelas yang telah ditenggak Aiden. Hingga kini kesadarannya makin menghilang ditelan mabuk.


Ruang vvip Vuittest Casino & Bar memang yang terbaik di Negara itu. Dan di antara banyaknya cabang, cabang di kota ini adalah yang terbaik.


Tepatnya, tempat yang sekarang tengah disewa oleh Aiden. Bukan hanya sofa yang besar dan bermutu tinggi. Ruangan yang tengah mereka huni sekarang bahkan memiliki sebuah tempat tidur dengan ukuran King Size. Karena itu pula, tak jarang tempat ini dijadikan tempat para konglomerat kapitalis saat ingin menghabiskan malam.


Dan malam ini, Aiden justru berniat bermalam di ruang vvip ini untuk melepaskan stres nya.


“Aiden! Ku rasa kamu harus berhenti.” Ucap Ken dengan tegas.


“Biarlah Ken. Kak Aiden pasti sedang frustasi berat. Aku tak tahu apa masalahnya, tapi akhir-akhir ini dia benar-benar menyebalkan.” Heris menimpali.


“Aku tahu kamu telah menganggap Aiden sebagai kakakmu karena dia telah menyelamatkan dan menopang hidupmu selama ini, Heris. Aku juga tak masalah meski dia membuang sangat banyak uang malam ini. Tapi, dia memang harus segara berhenti minum alkohol!” Ken berseru dengan kesal.


Bagaimana tidak? Wine yang dipilih Aiden bahkan harganya ratusan juta. Dan Aiden sudah meminum lebih dari 3 botol.


“Haha!! Memang kenapa?? Toh takkan ada yang menghalangi ku!! Bahkan Zura pun tidak bisa!!” racau Aiden.


Ken mengacak kepalanya.


“Ouh.. Zura.. Aku.. Rindu..”


“Jika rindu maka pulang, bodoh!!” Bentak Ken keras. Namun, tak ada jawaban dari Aiden. Justru laki-laki itu berlari ke kamar mandi. Terdengar suara ia tengah memuntahkan isi perutnya.


“Ken, bukankah tadi siang kamu ke mansion? Apa kamu bertemu nona?” tanya Heris kemudian. Ken pun mendengus.


“Aku hanya bertemu Bi Inah. Katanya Helios mengantar Zura keluar.”


“Ouh.. Mungkin memang kalian tak berjodoh.”


“Kenapa kamu masih memanggilnya nona?”


“Lalu apa? Kami tak bisa memanggil nyonya karena statusnya sekarang adalah kekasih Aiden, bukan istri Aiden. Aku pernah mencobanya sih..”


Ken mengangkat satu alisnya.


“Aiden memang bajingan. Lalu, bagaimana tanggapan Zura saat kamu memanggilnya nyonya?”


Heris mengangkat bahu dengan acuh.


“Dia tak mau menambah rumor. Kamu tahu? Rumor yang beredar di rumah saja sudah sangat menyebalkan. Apakah para pelayan itu tak pernah menonton berita?”


“Rumor? Apakah soal selingkuh dan aborsi?”

__ADS_1


“Iya!”


Heris lantas mendekatkan diri dan berbicara dengan setengah berbisik.


“Kamu tahu? Ibu bilang Aiden lah yang mengambil keperawanan nona.”


Ken duduk, menghembuskan nafasnya panjang.


“Aku tahu gadis itu memang sangat menjaga diri. Tapi aku tak menyangka dia rela memberikan hal berharga itu untuk Aiden. Dan kenapa!!” Ken kehabisan kata. Matanya memicing tajam menatap ke arah kamar mandi di mana Aiden kini tengah memuntahkan isi perutnya.


“Kenapa Aiden sekarang malah tak mau pulang?” Desis Ken penuh rasa sebal.


“Benar kan!! Aku juga tak mengerti kenapa kakak seperti itu.” ucap Heris.


“Tapi, dia adalah kakakku. Jadi aku takkan banyak bicara.” Sambungnya.


Sekali lagi, Ken hanya bisa menghembuskan nafasnya.


Heris memang menganggap Aiden sebagai kakak sekaligus penyelamatnya. Tentu saja Helios juga begitu. Meski hanya Heris yang berani memanggil Aiden dengan sebutan kakak. Helios malah seringkali geram jika tahu Heris bertingkah seperti itu. Karena itu pula, meski Ken sangat kesal, meski Aiden memang salah, Heris pada akhirnya tetap membela Aiden.


“Ouh?? Suara dering ponsel siapa itu?”


...**...


Zura berguling di atas ranjang. Matanya terus menatap layar ponsel yang menunjukkan nama ‘darlingtonia californica’. Siapa lagi maksudnya kalau bukan Aiden.


Zura telah melakukan panggilan pertama, dan tidak dijawab oleh Aiden. Entah apa alasannya. Dan kini Zura bimbang apakah dia harus memanggil kembali atau tidak.


“Yah. Setidaknya nomor ponsel ku adalah nomor baru. Artinya, Aiden tidak menjawab panggilanku bukan karena dia menghindari ku. Aiden tidak tahu bahwa aku lah yang memanggil.”


Setelah bimbang beberapa saat, Zura akhirnya kembali menekan tombol dial. Hatinya berdebar menanti detik demi detik nada tunggu. Ponselnya ia letakkan di samping telinga, membuat suara nada tunggu itu semakin jelas. Apakah Aiden akan mengangkatnya?


“Hallo!!”


Oh!!


Zura terkesiap, terlonjak bangkit dari tidurnya. Ia kembali menatap ponselnya yang kini menunjukkan bahwa 10 detik telah terlewat. Panggilan itu tersambung. Tapi..


“A-apakah ada Aiden?” tanya Zura akhirnya.


Panggilan memang dijawab, namun itu bukan suara Aiden. Dan kenapa pula suaranya terdengar sedikit familiar??


“Oh! Apakah ini nyonya Zura??”


Zura bungkam. Bagaimana ia harus menjawab? Ia tak tahu siapa persisnya yang mengangkat panggilan telepon itu. Bagaimana jika ternyata orang itu wartawan?

__ADS_1


Eh tunggu! Barusan ia dipanggil nyonya??


“Saya asisten Ken, nyonya.”


Mendengar suara itu pun membuat Zura menghembuskan nafasnya lega. Namun, sedetik kemudian Zura justru merasa gugup. Sekarang, apa yang harus ia ucapkan pada asisten Ken?


“A-apa Aiden sedang bersamamu?” tanya Zura akhirnya.


Jika setelah Ken mengangkat teleponnya, dan Zura malah tidak bertanya, maka bukankah panggilan ini akan sia-sia?


“Kami berada di ruang vvip Vuittest Casino & Bar nomor 3. Aiden- Eh, Tuan sedang mabuk, nyonya.”


Zura terkekeh kecil. Dari suara Ken, nampak jelas dia sedikit salah tingkah karena memanggil Aiden dengan namanya. Tapi, VCB?? Apa yang sedang Aiden lakukan sampai laki-laki itu mabuk di sana? Di ruang vvip pula!


“Apakah ada pesta di sana?”


“Tidak. Ai- Ehem. Tuan hanya sedang frustrasi dan akhirnya minum sampai mabuk. Ku rasa tuan berniat menginap di sini. Lagipula selama ini tuan selalu menginap di hotel atau bahkan tidak pulang sama sekali, menginap di dalam kantornya.”


Zura diam. Sejak kemarin dan kemarin kemarin yang lain, Zura memang sudah mendengar jika Aiden tengah dalam suasana hati yang sangat buruk. Lalu, sekarang setelah tahu keberadaan Aiden, apa yang akan Zura lakukan?


“Apa kamu dan Heris juga akan menginap di sana, Ken?”


“Tidak. Kami akan menginap di hotel Antarest terdekat. Lalu kami akan kembali ke sini besok pagi.”


“Apa nona akan datang mengunjungi kak- Eh, maksudku, mengunjungi tuan Aiden?”


Suara itu membuat Zura lagi-lagi diam dengan dahi berkerut. Setelah berpikir beberapa saat, Zura akhirnya berhasil mengingat siapakah sang pemilik suara.


“Heris? Apakah kamu biasanya memanggil Aiden kakak?”


“Ouh! Yang lebih penting sekarang, apa anda akan datang atau tidak, nona? Kami bersiap pergi. Tuan sendirian dan sepertinya kondisinya sangat tidak baik. Bukankah anda sebaiknya menjaganya sekarang? Anda akan datang bukan, nona? Kami sangat ingin istirahat.”


“Hei. Kamu terlalu berisik!! Tak perlu dengarkan perkataan Heris, nyonya.”


“Nona. Dengarkan aku dan jangan dengarkan Ken. Lagipula, aku dan tuan sebenarnya memang menjadi kakak adik. Nona akan datang kan? Aiden benar-benar ump..”


Zura lantas menghembuskan nafasnya dengan berat. Dia bisa mengira-ngira apa yang terjadi. Mungkin Ken kini tengah membekap mulut Heris. Omong-omong, ucapan Heris ada benarnya. Ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi, mungkin juga ini adalah waktu paling tepat untuk menemui Aiden. Entah yang mana pun yang benar. Yang jelas, satu hal yang terpenting sekarang adalah Aiden tengah mabuk dan sendirian. Jadi..


“Baiklah. Aku akan datang ke sana.”


...**...


...Kalo sempet, aku bakal up 1 bab lagi nanti sore. Kalo kalo kalian ngerasa kecewa aku up kok cuma 1 bab, kurang panjang pula. Tolong pendem aja rasa kecewa itu. Aku semalem aja tidur jam 2. Dan sayangnya ya gini, nulis di sela waktu senggang....


...Jangan lupa dukungannya!!...

__ADS_1


__ADS_2