
Hai semua, ada yang nungguin kelanjutan kisah Aiden dan Zura?
Maaf yaa kemarin gak bisa update bab terbaruu karena aku sakit. Doakan semoga ke depannya bisa update terus sampai tamat.
Kalo sesuai rencana, tamatnya gak bakal lama lagi sih
Tapi gatau nanti, hehe
...**...
“Apa belum ada kabar dari Helios?” tanya Aiden gusar.
Sudah 3 hari berlalu. 3 hari sejak Zura pergi dan menghilang bersama Helios. Pikiran Aiden semakin runyam. Berbagai prasangka buruk memenuhi otaknya. Bagaimana jika Zura tak berniat kembali? Bagaimana jika mereka ternyata mengalami musibah atau kecelakaan? Bagaimana jika ternyata Zura dan Helios kabur bersama? Dan hei!! Bagaimana jika ternyata mereka melakukan affair dan ber—
Tidak!!
Aiden segera menggelengkan kepalnya yang semakin ngawur.
Ken meminum kopinya dengan santai, begitu juga Heris. Mengabaikan Aiden yang terus saja berjalan mondar mandir seperti setrika rusak.
“Mereka pasti baik-baik saja kak. Helios dapat diandalkan. Percayalah padanya!”
Aiden menggeram.
“Justru karena dia bisa diandalkan, aku jadi semakin pusing.”
Tentu saja. Helios paling pandai mencari tempat bersembunyi. Dan yang lebih parahnya, dia laki-laki tampan penuh pesona yang sesuai dengan kriteria suami idaman!
Bagaimana bisa otak Aiden tidak berpikir kemana-mana?!
“Kau sangat bodoh jika cemburu pada Helios, Aiden!!” ujar Ken dengan santai. Sebagai seorang sahabat sekaligus asisten yang paling mengenal Aiden, tentu saja Ken harus bisa menerka apa yang tengah Aiden pikirkan.
“Kakak cemburu pada Helios??” tanya Heris tak mengerti. Helios memang laki-laki. Tapi rasanya aneh sekali jika Aiden cemburu pada Helios, seseorang yang hidupnya sangat lurus. Jangan lupa, meski tak pernah mengucapkannya secara langsung, Helios juga menganggap Aiden sebagai kakaknya.
“Rasanya terlalu sia-sia jika kakak cemburu pada Helios.” Sambung Heris, mengutarakan pemikiran sekaligus kebingungannya.
Aiden mendengus.
“Heris, kau ingat Helios orang yang seperti apa?” tanya Aiden tajam.
Heris berpikir keras.
“Helios orang yang sangat teguh, lurus, em.. perhatian, meski dingin, baik, em..”
“Yap! Berhenti!! Kau benar. Bukankah laki-laki semacam itu pasti akan membuat wanita manapun terpesona?”
Heris lagi-lagi berpikir keras mendengar ultimatum Aiden.
“Ah, ternyata begitu. Tenang saja, kakak ipar adalah wanita terhorma-
“AKU TAHU!!” lagi-lagi Aiden memotong.
“Aku sangat tahu tentang itu, oke? Tetap saja, apa kau akan tenang jika pacarmu tengah berduaan dengan laki-laki meski itu saudara sepupu misal?”
Heris lantas menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Sekarang aku mengerti maksudmu, kakak..” ujarnya pelan.
Ken menaikkan satu alis. Interaksi Aiden dengan Heris sekarang sudah seperti kakak adik sungguhan. Bahkan Aiden lebih terbuka dan nyaman dengan mereka berdua, termasuk Ken. Tak ada bentakan-bentakan menyebalkan seperti dulu. Tak ada juga kerja berlebihan dan perintah penuh paksaan. Ken dengan nada santai menikmati kopi yang nikmat di tangannya.
__ADS_1
“Kamu sekarang tampak seperti suami sungguhan, Aiden.” Tukas Ken. Aiden benar-benar banyak berubah. Meski sifat pencemburu itu masih sama, masih terkhususkan untuk Saffir Azura.
Aiden terperangah menatap Ken tak percaya.
“Apa!! Apa maksudmu Ken?!!”
Ken hanya mengedikkan bahu dengan acuh.
“Ken, camkan baik-baik!! Aku memang suami Zura!! Fakta dan bukan sekedar akting atau kebohongan!!”
Ken masih menikmati kopinya, membiarkan Aiden yang marah-marah meluapkan kegelisahan hati. Toh mau dijawabi atau dinasehati sebanyak dan sebijak apa pun, Aiden akan tetap gelisah memikirkan Zura yang belum datang kabar beritanya. Entah tengah berada di mana dan melakukan apa, berdua dengan Helios.
“Fakta!! Kau mendengar ku?”
“KEN!!”
...**...
Zura menapaki jalan setapak kecil penuh bebatuan. Kini ia tengah menuju sebuah sungai di dekat panti asuhan terpencil di sudut kota. Ia mengetahui panti asuhan ini saat dulu mengikuti acara televisi Give Your Heart. Sebuah acara televisi yang menelusuri tempat terpencil dimana orang-orang butuh bantuan finansial.
Acara televisi yang melejitkan nama aktris Saffir Azura. Setelah kepopuleran yang meningkat itu, Zura bersama beberapa figur publik mengadakan acara penggalangan dana dan donasi tiap tahun yang disalurkan ke berbagai tempat yang membutuhkan.
Sayangnya, Zura tak tahu apakah tahun depan acara tersebut masih akan diselenggarakan tahun ini. Setelah skandal besarnya meledak, Zura masih menutup diri dari semua relasi di dunia entertainment.
Dan Zura baru sadar, ternyata pantai dimana ia menenangkan diri dengan Helios memiliki rute melewati hutan yang tembus ke daerah ini, desa Kalalae. Dan di sinilah Zura sekarang, menapaki jalan setapak menuju sungai bersama anak-anak panti asuhan Kalalae.
“Kakak, kami kemarin melihat monyet yang tersesat di desa!!” seru salah satu anak panti dengan antusias, ia menapaki jalan bebatuan sambil sesekali menengok ke arah Zura.
“Oh ya? Bagaimana bisa monyet itu tersesat?”
“Entah. Paman Ode bilang monyet itu nakal. Jadi sekarang paman Ode mengurung monyet itu. Paman Ode akan melepaskannya siang ini di tengah hutan. Kakak Zu mau ikut melihat??”
Zura tersenyum.
“Mungkin kakak tidak bisa. Siang nanti kakak dan kakak tampan akan pulang.”
“Pulang? Kemana?”
“Kenapa cepat sekali??”
“Kami masih ingin bermain, kak.. Dengan kakak, dengan kakak tampan juga.” para anak panti melihat Zura dengan nada sendu, dan Zura hanya bisa menatap mereka lekat.
“Maaf. Suami kakak sedang menunggu di kota. Dia sibuk. Dan tidak baik dika kakak pergi meninggalkannya terlalu lama.”
Mata anak-anak itu membesar dan berbinar menggemaskan.
“Suami?”
“Jadi kakak tampan bukan kekasih kakak cantik?”
“Jadi kakak tampan boleh menjadi kekasihku?!!”
Seruan seorang anak perempuan kecil yang menggemaskan itu membuat Zura terkekeh ringan. Bertemu mereka sungguh memperbaiki mood Zura. Ia merasa sedikit lepas dari beban pikirannya. Dan ia merasa bahagia. Juga, Zura kembali diingatkan pada fakta bahwa dia sudah bersuami.
Ya. Aiden adalah suami Zura. Dan sebaliknya, Zura adalah istri dari Aiden Antarest. Dalam kehidupan rumah tangga, tidak ada satupun di dunia ini yang akan berjalan muls tanpa rintangan dan cobaan. Apalagi dalam rumah tangga seorang Aiden.
Pikiran Zura rasanya lebih terbuka. Begitu pula hatinya. Rasa sakit dan sesak itu berkurang. Berganti dengan kecamuk pikiran untuk segera menyelesaikan masalah ini. Zura harus memikirkan ulang dengan baik. Dengan sebaik-baiknya.
“Sudah sudah!! Ayo kita ke sungai dan memancing. Hari semakin siang. Kalian ingin menjamu kakak makan ikan sebelum kakak pulang bukan?”
__ADS_1
Anak-anak itu akhirnya kembali berseru-seru dengan semangat. Langkah mereka semakin riang menuju sungai. Mereka ingin memberikan Zura makan siang terbaik dari olahan ikan sungai.
...**...
“Aiden, Helios bilang Zura sedang dalam perjalanan pulang. Dia akan sampai dalam 1 jam.”
Aiden yang tengah menikmati cemilan sore seketika terbatuk ringan. Baru tadi pagi dia marah-marah pada Ken dan khawatir, sekarang Ken akhirnya membawakan kabar kepulangan sang kekasih.
Sedetik lalu Aiden masih sedih, sedetik kemudian bahagia, dan sedetik kemudian lagi ia merasa cemas.
“Ken, menurutmu bagaimana sikap Zura nantinya? Maksudku, kita masih bertengkar.”
Ken mengangkat satu alisnya.
“Ya. Bahkan Zura sampai kabur. Aku tak tahu bagaimana sikapnya setelah kembali.”
Aiden menghela nafasnya.
“Benar. Aku sangat merindukannya. Meskipun dia sudah memaafkanku, hubungan kami belum baik-baik saja. Terlebih, Zura sampai kabur.”
“Ya. Dia memang kabur.”
“Jadi Zura kabur?”
“Uhuk uk..”
Untuk kedua kalinya Aiden terbatuk. Bahkan kali ini Ken ikut terbatuk. Suara yang menyahut itu jelas mereka kenal. Ken dan Aiden menoleh. Dan tampaklah sosok Varlos tengah berdiri dengan tangan terlipat di belakang mereka.
“Ka- kakak??” Aiden menatap tak percaya.
“Sejak kapan kakak datang?” tanya Aiden. Ia sedikit cemas dan khawatir tentang bagaimana reaksi Varlos setelah tahu Zura kabur. Dan sayangnya, Aiden atau pun Ken tidak tahu sama sekali kalau Varlos telah mengancam Zura sedemikian rupa.
Varlos beranjak duduk di sofa, di depan Aiden.
“Jadi istrimu kabur?” tanya Varlos kembali, mengabaikan pertanyaan Aiden.
“Tidak-” “Iya-”
Aiden menatap tajam ke arah Ken. Mereka menjawab bersama dengan jawaban yang berbeda. Dan entah kenapa Aiden tak suka Ken mengadu pada kakaknya.
“Ken hanya berfantasi liar, kakak.” Ujar Aiden.
“Kalau begitu, dimana gadis itu?” tanya Varlos sambil mengangkat satu alisnya.
Astagaaa... demi apa pun interogasi dari Varlos adalah yang paling tidak disukai Aiden.
“Zura menenangkan diri. Dia sudah menungguku dan merawatku selama aku di rumah sakit. Kakak tidak melupakan itu bukan?”
Aiden mendengus kesal. Ia ingat sekali. Dulu semasa sekolah menengah atas, Aiden pernah terlibat tawuran sekolah sampai dipanggil ke ruang kepala sekolah, BK, dan kesiswaan. Tapi bukan mereka yang membuat Aiden takut. Aiden justru takut Varlos marah. Dan saat mendengar Varlos datang ke sekolah, Aiden seketika berlari menyusuri lorong. Ia menuju ruang Kepala Sekolah, dimana katanya Varlos tengah berada di sana. Ia gusar seharian, takut dihukum, takut dimarahi, dan takut dibenci oleh Varlos. Terlebih sebelumnya ia diancam sanksi skorsing selama 2 minggu.
Dan setelah tiba di ruang Kepsek, Aiden tercengang. Wajahnya yang putih semakin putih karena pucat. Yang dilihatnya disana adalah Varlos, beserta beberapa bodyguard yang mengawal. Varlos yang berstatus sebagai Mahasiswa Hukum, tengah mengancam seluruh staf sekolah menggunakan kekuasaan Antarest Group. Bahkan membuat kepala sekolah yang gila harta itu bersimpuh di bawah kaki Aiden.
Aiden kembali meremang, bulu kuduknya berdiri mengingat hari itu. Aiden sangat bahagia karena Varlos sangat menyayanginya, bahkan lebih besar dari saudara kandung. Namun terkadang Varlos sedikit gil- maksudnya, berlebihan. Varlos akan menasehati Aiden sambil menenangkan hatinya, sembari di belakang layar ia melakukan aksi teror kepada semua orang yang mengusik hati Aiden.
“Zura hanya menenangkan diri. Dia butuh waktu dan kebesaran hati, terlebih setelah aku melakukan kesalahan fatal. Kakak tidak melupakan itu bukan?” ulang Aiden.
Aiden takut Varlos mengancam Zura. Nyatanya, memang Varlos sudah mengancam Zura.
...**...
__ADS_1