Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Perasaan yang Tak Bisa Dimengerti


__ADS_3

Andhika menatap putrinya, Selena, dengan amarah yang meredup. Lantas tatapannya beralih ke arah Zura, menatap gadis itu dengan sedih.


“Aku masih tidak bisa menerimanya..” ucap Andhika lirih.


Bagi Selena, ayahnya adalah seseorang yang sangat egois pada kaka sepupunya, Saffir Azura.


Namun dalam hati dan pemikiran Andhika, dia hanya orang yang merasa sangat bertanggung jawab. Dia ingin bertanggung jawab atas hidup Zura. Dia tak ingin gadis itu berjalan di jalan yang salah. Dia ingin gadis itu hidup dengan penuh kebanggaan dan mengukir banyak prestasi. Dia ingin gadis itu cukup kuat melindungi diri sendiri hingga ia memiliki kemampuan untuk terlepas dari bahaya. Dia ingin gadis itu menyelesaikan pendidikan, menikah, lalu hidup tenang. Atau mungkin bekerja di kantor sebagaimana ayah ibunya dulu. Yang Andhika inginkan adalah memastikan Zura hidup dengan baik.


“Duduklah dulu.. Ayo kita berbicara dengan baik, paman.” Ucap Zura dengan nada membujuk.


Selen dan Andhika pun duduk. Kini, Zura menatap kedua orang itu bergantian. Mereka berdua masih diam untuk beberapa waktu, saling bersikukuh dengan pendapatnya.


“Aku tahu paman. Aku selalu tahu paman menyayangiku. Dan aku juga tahu paman ingin yang terbaik untukku.” Ucap Zura. Perlahan, wajah sedih Andhika menatapnya lekat.


Memang benar. Dalam hati, gadis itu juga merasa sangat terbebani dengan tuntutan pamannya. Tapi, meyakinkan hati seorang laki-laki yang berperan sebagai orang tua tak semudah itu. Terutama karena mereka memiliki pola pikir yang berbanding terbalik. Zura tentu saja ingin pamannya tahu dan ikut bangga dengan apa yang ia ingin lakukan dari hati terdalam. Namun tak semudah itu. Zura tahu, butuh sebuah alasan yang sangat besar untuk membuat hati keras pamannya luluh.


Jadi, yang ingin Zura lakukan sekarang bukan memaksa pamannya ikut bangga dengan mimpinya. Zura hanya ingin pamannya menerima keputusannya.


Hanya itu.


“Selen. Aku sangat berterimakasih kamu selalu percaya dan mendukungku. Dan paman, aku juga sangat berterima kasih karena paman telah merawatku dan memikirkan ku. Tapi, aku telah dewasa. Aku telah menikah..”


“Zura—


“Paman.. Bisakah paman lupakan sejenak soal rasa tanggung jawab untuk merawatku itu? Ini adalah kehidupan ku. Aku ingin melewatinya berdasarkan keputusan ku sendiri. Aku yang akan menua. Dan aku sendiri yang akan menanggungnya. Sungguh, dalam hati, aku selalu menghormati paman dan keputusan paman meski aku merasa sedih atau terbebani. Jadi, bisakah paman melakukan hal yang sama padaku sekarang? Tolong percaya pada ku..”

__ADS_1


Andhika terdiam. Sangat lama. Mereka berada dalam situasi hening sampai Andhika kembali membuka suaranya.


“Sekarang, aku memang ingin kamu bercerai dengan Aiden, Zura.. Tapi aku tidak melakukannya tanpa alasan.” Ucap Andhika kemudian.


Zura menatap pamannya dengan sebuah senyum.


“Aku tahu paman pasti punya alasan. Aku akan mendengarkannya. Tapi keputusan selanjutnya, aku harap paman tidak akan keberatan apa pun keputusan ku selanjutnya.”


Zura menatap pamannya dengan teguh. Begitu pula Selen, menatap Ayahnya menunggu.


Andhika menghembuskan nafasnya panjang. Setelah ia memikirkannya dengan benar, Zura dan Selen tak sepenuhnya salah. Zura kini telah dewasa. Dia telah mampu memikirkan sendiri, mana yang terbaik untuk dirinya. Entah apakah pilihannya benar atau salah.


Lagipula, bukankah berbuat kesalahan adalah kodrat manusia?


...***...


Ken menatap atasannya dengan jengah. Bahkan tak ada lagi sopan santun terlihat di matanya.


“Seminggu! Sudah seminggu berlalu sejak kita pulang dinas. Apa kamu akan terus seperti ini?” tanya Ken.


Ya. Seminggu telah berlalu sejak kepulangan mereka. Namun Aiden masih menyibukkan diri. Bahkan saat jadwal kerjanya kosong, Aiden memilih mengurung diri di dalam hotel. Ken sungguh tak tau titik masalahnya di mana. Tiba-tiba Aiden jadi seperti remaja yang kabur dari rumahnya dan enggan pulang. Bahkan sekarang, saat ada berkas penting yang harus di ambil di rumah, Aiden memilih menyuruh Ken.


Aiden hanya diam. Jangankan menjawab, melirik Ken saja tidak.


“Ck! Kalau kamu sudah bosan dengan Saffir Azura, usir saja dia dan ceraikan. Aku tak masalah menikahinya setelah itu!” geram Ken.

__ADS_1


Kali ini, Aiden menatapnya tajam. Sangat tajam.


Tapi memang mau apa? Sudah begitu pun Aiden masih tak memberikan suara sama sekali. Sungguh Ken tak mengerti bagaimana cara berpikir orang ini.


Ken pasrah, menyerah. Mau marah seperti apa pun, sepertinya Aiden akan tetap bungkam.


“Sungguh, aku tak tahu bagaimana caranya kamu memiliki sejuta muka.” Kesal Ken, lantas, laki-laki itu pun beranjak pergi ke mansion Aiden. Meninggalkan laki-laki yang malah memilih memejamkan matanya di atas sofa dengan tak peduli.


Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia melajukan mobilnya pelan membelah kota. Hari ini jatah Heris yang menyetir. Namun Ken memilih menyuruh laki-laki itu menjaga Aiden. Barangkali orang berengsek itu ingin pergi ke suatu tempat.


Seingat Ken, Heris bilang Zura masih bersikap seperti biasanya di dalam mansion. Menyapa orang-orang, termasuk pelayan yang sudah mulai kembali bekerja. Membantu masak, mencuci dan membersikan kamar dan pakaiannya sendiri, juga dengan riang bergurau bersama Bi Inah, Pak Awit, dan Helios.


Seolah gadis itu hidup tanpa masalah. Dan juga, gadis itu selalu menjawab dengan senyuman ringan bahwa Aiden sibuk saat bi Inah bertanya. Sekarang, bi Inah tak lagi pernah bertanya. Lagi pula, mereka sebenarnya sudah tahu bahwa Aiden lah yang memang tiba-tiba menghilang dan enggan pulang. Bahkan tak pernah menghubungi Zura sekalipun.


“Sungguh laki-laki bajingan!” lirih Ken. Ia melihat sekilas iklan yang dibintangi Aiden beberapa hari lalu kini tengah merebak luas.


Entahlah!! Aiden adalah laki-laki yang sulit dimengerti. Bagaimana bisa dia tersenyum begitu lebar dan berakting dengan amat sangat luar biasa sempurna. Sedangkan di balik itu, Aiden langsung menunjukkan wajah penuh tekanan dan kemarahan dan kesedihan.


“Ck!! Ada apa sih sebenarnya!!” lagi-lagi Ken hanya mengeluh sendiri di dalam mobil. Dan suaranya menguap begitu saja di telan oleh udara.


...**...


...Hari ini 2 bab...


...Dan seterusnya bakal aku usahakan 2 bab per hari...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak!...


__ADS_2