
Zura menoleh, melihat sosok Bi Inah yang membawa secangkir madu di tangannya. Gadis itu lantas tersenyum.
“Apa itu untukku? Terimakasih banyak..” ucap Zura sambil menerima cangkir itu.
Bi Inah menatapnya, ia tadi melihat Zura yang tampak tersenyum sambil melamunkan sesuatu. Bi Inah pun ikut tersenyum.
“Baru kali ini tuan membawa seorang gadis ke rumah. Sebelumnya, jika ada seorang wanita yang datang, tuan takkan membiarkannya masuk barang satu inci ke dalam rumah. Tuan juga akan langsung memutuskan hubungannya dengan gadis itu.” Ucap Bi Inah.
Zura menatap tak percaya.
“Benarkah? Hem.. kalau diingat, hampir semua skandalnya memang berisi foto dia dengan seorang wanita di sebuah hotel.” Ucap Zura, dia lantas terkekeh pelan untuk alasan yang dia sendiri tak tahu.
Sepertinya Aiden tak mengatakan pada Bi Inah bahwa mereka sudah menikah. Namun, Zura tak keberatan. Faktanya, dia merasa pernikahan itu hanya perjanjian di atas kertas untuk Aiden.
“Benar. Sejak semalam saat tuan menyuruh saya datang sendiri dan meliburkan pelayan lain, saya sudah bertanya-tanya. Saya kaget karena tuan bilang akan membawa kekasihnya ke rumah. Tapi saya lebih kaget lagi karena nona Zura yang datang. Astagaa..” mata Bi Inah berbinar dengan wajah bertanya, seolah meminta Zura untuk menceritakan kisahnya.
“Haha.. maaf. Itu pasti mengejutkan, terutama karena saya sedang memiliki skandal yang buruk.” Zura memperlihatkan wajah mengiba dengan senyum tipis. Lagipula tak ada yang bisa ia ceritakan mengenai hubungannya dengan Aiden. Bi Inah dengan cepat menyanggahnya.
“Ah!! Maksud saya bukan itu. Sungguh!! Nona Zura adalah wanita yang sangat cantik dan bermartabat. Apa anda sudah melihat akun sosial? Berita terbaru? Banyak orang yang masih percaya pada anda. Fans fanatik anda masih mendukung. Dan juga, semua berita itu tak benar." ucap Bi Inah membara.
"Apa anda percaya pada saya? terimakasih banyak.." ucap Zura penuh haru.
"Eh.. Saya memang takjub pada anda sejak lama. Tapi orang tua macam saya tak terlalu memikirkan hal itu. Tapi sekarang dan seterusnya, saya akan percaya bahwa non Zura memang orang bermartabat. Saya tadi pagi marah-marah karena melihat bercak darah di atas seprai, saya pikir itu bentuk kekerasan seksual. Saya kaget sekali saat tahu bahwa itu adalah malam pertama nona!”
__ADS_1
“Haha.. benarkah?” Zura tertawa kecil dengan wajah merah padam. Betapa malunya dia.
Dan juga, bagaimana bisa fantasi Bi Inah membayangkan Aiden melakukan kekerasan seksual? Meski tak sepenuhnya salah. Dia memang begitu bergairah dan...
Aaaaargh.. berhentilah wahai pikiran kotor!! Jangan tertular oleh lelaki bajingan itu!!
Bi Inah merasa gemas melihat wajah aktris cantik itu yang merona merah. Ia merasa lebih antusias seketika itu juga.
“Benar!! Bahkan jika saya percaya nona Zura takkan melakukan hal yang amoral seperti selingkuh atau aborsi, saya tak berpikir bahwa nona bahkan masih menjaga keperawanan. Astaga!! Dan anda sangat tidak beruntung karena tuan sudah merenggut kesucian nona. Apa tuan menggunakan cara licik dan memaksa? Apa tuan memberi nona obat? Saya sudah memukulnya tadi pagi. Tapi sepertinya saya harus memukulnya lebih banyak dan lebih keras lagi!!” mata Bi Inah berapi-api.
Lagi-lagi Zura tertawa. Kali ini dia benar-benar tertawa karena merasa tingkah dan ucapan Bi Inah sangat lucu. Lagi-lagi bi Inah beenaaar. Aiden memang menggunakan cara licik untuk mendapatkannya.
Eh, tunggu!! Tentang seprai.. Zura yakin tadi pagi saat dia melihatnya tak ada bercak darah.
Pagi tadi setelah ia bangun, Zura segera mengeceknya. Ada kekhawatiran juga dalam hatinya tentang bagaimana tanggapan Aiden nantinya saat tahu bahwa dia masih perawan. Namun tak ada bercak darah di sana. Lalu apa yang Bi Inah maksudkan??
“Ah! Tuan bilang semalam dia mengganti seprai dan selimutnya agar nona tidur dengan nyaman.” jawab Bi Inah santai.
Zura menatapnya setengah tak percaya. Matanya mengerjap.
“Begi..tukah?? Lalu, dimana seprai dan selimutnya sekarang?”
“Tentu saja saya sudah mencuci dan sedang menjemurnya.”
__ADS_1
“Apa?!” Zura dengan terkejut bangkit.
Cangkir madu yang sudah habis itu dia letakkan di atas meja. Zura lantas menundukkan setengah badan pada Bi Inah.
“Maaf.. saya sungguh minta maaf. Itu sangat tak sopan membuat orang lain membersihkan sisa hubungan intim saya.” Ucap Zura sangat merasa bersalah.
Kehidupan mandiri dan disiplin diri tentang etika membuat gadis itu lebih peka dan perhatian untuk hal-hal kecil. Dia hidup cukup berbeda dengan putri orang kaya lain. Ia selalu penuh sopan santun. Tidak pernah sekali pun pakaian dalam atau hal-hal privasi semacam itu dicucikan oleh orang lain.
Karena sifat itu juga Zura dengan mudah dicintai dan dianggap Muse Nasional. Bahkan saat ia marah atau bersikap kurang ajar, orang-orang tetap melihat keanggunan yang menawan dari gadis itu.
"Maaf.. sungguh.." ulang Zura penuh penyesalan. Ia sangat malu.
Bi inah kaget dan merasa bingung. Bagaimanapun Zura pasti cukup kaya. Bagaimana bisa gadis ini masih memiliki pemikiran tentang ketidaksopanan membiarkan pembantu mencuci. Memang benar dalam etika sebenarnya itu tak sopan membiarkan seseorang mencuci bekas hubungan seksual.
Tapi di jaman sekarang, mana ada yang seperti itu? Bahkan staff hotel melakukannya setiap hari paling tidak untuk satu stel. Sungguh gadis yang luar biasa.
Bi Inah dengan cepat menyuruh Zura untuk bangun. Gadis ini terlalu sopan. Sungguh malang ia berjodoh dengan tuannya yang amoral dan persis binatang itu.
“Tidak apa-apa.. aduh.. jika seperti ini saya malah bingung.. bangunlah!!” ucap Bi Inah panik. Gerakannya tak menentu meminta Zura bangkit.
Zura pun bangun, masih dengan perasaan bersalahnya. Kenapa Aiden membiarkannya? Dan kebetulan sekali, tepat saat itu Aiden tengah datang ke dapur. Ia segera dibingungkan oleh suara ribut mereka yang samar-samar terdengar.
“Ada apa ini?” tanya Aiden penasaran.
__ADS_1