
Setelah hari itu, mereka kembali ke bangsal Aiden saat Varlos sudah pergi. Maklum saja, orang itu cukup sibuk. Mereka juga kembali disibukkan dengan hari-hari mereka. Aiden mendapat kunjungan dari penyidik. Para wartawan yang terus saja heboh. Berita yang semakin hari semakin tak jelas. Luci dan Selen yang terkadang pulang ke rumah. Aiden, Heris, dan Helios yang terus berjaga. Bi Inah dan pak Awit yang terus menjaga mansion. Dan kondisi Aiden yang perlahan membaik.
Semua orang kini beristirahat. Luci dan Selena beristirahat di hotel sekitar karena tak sempat masuk ke dalam. Kerumunan wartawan membuat mereka mengurungkan niat kembali ke rumah sakit. Lagipula, mereka merindukan ranjang yang empuk dan nyaman.
Ken dan Helios sudah tertidur karena lelah, sedang Heris tengah keluar karena lapar. Zura masih terjaga menunggu Aiden. Panas tubuhnya naik lagi, bahkan Aiden sampai bergumam lirih karena mengigau. Padahal ia sudah minum obat beberapa waktu lalu. Zura merasa tak enak hati membangunkan Ken dan Helios. Gadis itu hanya bisa menghela nafas melihat kondisi Aiden. Laki-laki itu berusa membuka matanya yang terasa berat.
“Zura..” suara Aiden lirih.
“Kamu butuh sesuatu?”
Aiden tersenyum dan menggeleng pelan.
“Tidak. Ini sudah semakin malam. Tidurlah. Aku tak apa.”
“Apanya? Jelas-jelas kamu tengah menderita!”
Mendengar Zura menggerutu entah kenapa membuat Aiden terharu. Ia terkekeh ringan.
“Aku merasa tubuhku tak enak dan lengket. Tolong bangunkan Ken atau Helios, akku ingin menyeka tubuhku.” Ujar Aiden kemudian.
Beberapa hari terakhir, karena ada Selen dan Luci, juga karena masih ada sisa kecanggungan dengan Zura, Aiden memang memilih meminta Ken, Heris, atau Helios untuk membantu membersihkan tubuhnya. Malam ini demamnya kembali naik, dan tubuhnya lengket karena keringat. Ia juga tak bisa tidur. Aiden ingin diseka dengan air hangat agar ia merasa lebih nyaman.
“Aku akan menyiapkan air hangat.” Ucap Zura, sembari beranjak. Namun, Aiden mencekal tangannya pelan. Tangan besar Aiden terasa sedikit kasar dan sangat panas di pergelangan tangan Zura.
“Biarkan Ken atau Helios membantu. Aku tak ingin merepotkan dan menyusahkanmu lebih banyak lagi. Tidur dan istirahat saja. Aku sudah sangat bersyukur kamu mau menemaniku.”
Zura mengehela nafas lagi.
“Ken dan Helios lelah, biarkan saja mereka beristirahat.” Ujar Zura. Ia tak tega jika harus membangunkan mereka.
“Kalau begitu panggilkan perawat saja.”
Zura berdecak sebal dan menatap tajam ke arah Aiden.
__ADS_1
“CK!! Bagaimana jika perawatnya perempuan? Lebih baik aku saja yang melakukannya. Lagipula, aku masih istrimu, Aiden.”
Aiden tertegun sampai tak mampu berkata-kata. Meski hubungan mereka membaik, Aiden bisa merasakan dengan jelas kalau Zura belum sepenuhnya menerimanya. Mendengar penuturan Zura barusan tentu saja membuatnya tersenyum senang. Ternyata Zura masih sama, masih gadis yang penuh perhatian.
“Sudahlah! Pokoknya aku yang akan melakukannya!” tegas Zura, gadis itu lantas melenggang pergi.
Zura kembali datang dengan baskom berisi air hangat dan sebuah handuk basah. Sosoknya yang dengan telaten menyiapkan pakaian ganti yang longgar dan nyaman untuk Aiden, Zura tampak sangat anggun. Di bawah cahaya bulan yang remang-remang, dan pemandangan malam yang tampak indah di balik jendela. Bagi Aiden, tak ada yang lebih cantik dari Zura. Gadis itu selalu memikat dan memenjarakan hatinya sampai ia tak bisa berpaling.
“Ayo aku bantu membuka pakaianmu.” Ucap Zura pelan. Karena memakai infus, tentu saja ia harus melepas baju Aiden dengan hati-hati.
Aiden hanya menurut tanpa kata. Matanya tak pernah lepas dari memandangi Zura, meski gadis itu tampak cuek dan tak peduli. Ah, apa pun itu, selama Zura peduli padanya, ia merasa dirinya masih memiliki kesempatan untuk kembali mengejar hati gadis itu. Meski sekarang tampak sangat jelas, betapa lelah dan kecewa Zura pada Aiden.
“Maafkan aku..” gumam Aiden lagi.
Mengingat semua kesalahan yang ia perbuat membuat dadanya terasa sesak. Jika dia harus dibenci seluruh dunia untuk mendapat hati Zura, Aiden mungkin akan sanggup melakukannya. Namun, rasanya terlalu sulit jika ia harus menghadapi kebencian Zura, meski seluruh dunia mencintainya.
Karena cinta yang dunia berikan memiliki tuntutan, sedang kepedulian Zura sangat tulus. Entah semarah dan sekecewa apapun, gadis itu menahannya dan tetap peduli pada Aiden. Hanya karena ia masih menyandang status sebagai seorang istri. Zura bisa meninggalkan Aiden kapan pun ia mau. Ia memiliki banyak cara. Dan ada pamannya, Andhika Ansana, yang siap membantu. Namun Zura memilih tetap bertahan. Kenapa? Aiden sendiri tak tahu.
“Sekarang pakaianmu sudah terlepas. Aku akan mulai menyeka. Katakan jika terlalu panas atau terasa tak nyaman..” ujar Zura. Manik matanya menatap Aiden dengan lekat.
Aiden tersenyum tipis.
“Tentu..” jawabnya singkat.
Dengan lembut, Zura mulai mengelap tubuh Aiden dengan handuk basah itu. Rasa hangat mengaliri tubuh Aiden. Membuatnya lebih segar setelah tubuhnya berkeringat sangat banyak. Zura benar-benar melakukannya dengan sangat teliti dan perlahan, menyentuh tiap lekuk tubuh Aiden. Jika laki-laki itu tidak dalam keadaan sakit, ia pasti sudah termakan nafsu.
Bahkan saat tengah sakit sekalipun, pikiran Aiden berkelana. Menatap bibir ranum Zura membuatnya rindu akan ciuman mesra mereka saat melewati malam pertama. Juga kecupan singkat sebelum ia pergi dinas. Andai waktu dapat diulang, Aiden takkan pergi ke dinas luar kota itu. Toh sekarang setelah ia termakan skandal, banyak usaha kerasnya yang menjadi sia-sia.
Zura tiba-tiba diam terpaku, membuat Aiden yang tak lagi merasakan hangat handuk basah mengernyit, menatap Zura dengan bertanya-tanya.
“Apa ada masalah?” tanya Aiden.
“Ehm.. Tunggu sebentar..” Ucap Zura, menatap Aiden seolah mengatakan ia akan pergi sejenak.
__ADS_1
“Apa terjadi sesuatu?” tanya Aiden lagi. Ia ingin tahu hal apa yang tengah mengganggu Zura.
“Sepertinya tamu bulanan ku datang. Aku akan melihatnya dulu.”
“Menstruasi??”
“Ya.”
Tanpa banyak kata lagi, Zura beranjak meninggalkan Aiden. Ia membuka tas dan mengeluarkan beberapa hal yang dibutuhkannya, lantas ia pergi ke toilet. Aiden menunggu cukup lama, namun laki-laki itu tetap tenang meski sebenarnya tubuhnya terasa semakin buruk karena ia tengah melepas pakaian di malam yang dingin. Sampai kemudian, Zura kembali.
“Kamu benar-benar menstruasi?” tanya Aiden, dan Zura mengangguk singkat.
“Hm.. memang sudah waktunya, terlambat 2 hari sih. Syukurlah aku mengingat hal itu dan membuat persiapan.”
“Oh, astaga, apa kamu tak kedinginan? Ayo kita bilas sekali lagi, lalu aku akan memakaikan pakaian ganti.”
Zura tampak sedikit merasa bersalah. Ia dengan cekatan melakukan sisanya dan dengan hati-hati membantu Aiden mengenakan pakaian. Lagi-lagi Aiden hanya tersenyum tipis.
“Baiklah, sekarang buka celananya.”
“Apa?!”
Astaga! Zura mengucapkannya dengan terlalu santai bukan? Aiden tak habis pikir. Kenapa pula malah dia yang malu?
Zura menghembuskan nafasnya.
“Kaki kamu juga perlu dibersihkan Aiden.. Tenang saja, aku tak berminat pada laki-laki sakit.” Ujar Zura.
Sejujurnya ia merasa berdebar. Saat tengah membasuh bagian atas tubuh Aiden, ia mati-matian menahan diri. Tubuh Aiden memang sangat bagus. Dan lancang sekali kenangan tentang malam panas mereka seperti rekaman rusak yang diputar berulang kali dalam otaknya yang mulai tak beres. Namun, setelah mengingat bahwa Aiden telah bercinta dengan wanita lain, semua pikiran itu lenyap seketika.
Aiden ikut menghembuskan nafasnya dengan kasar. Entah kenapa kata-kata Zura begitu menusuk hatinya. Apa dia memang se-tidak-berharga itu?? Apa dia memang se-tidak menarik itu? Aiden frustasi. Tubuh, wajah, kelihaian, kekayaan, semua hal itu tak ada yang membuat Zura sedikit saja merasa tertarik.
Sungguh, dia adalah laki-laki paling malang menurut versinya sendiri.
__ADS_1