
“Zura hanya menenangkan diri. Dia butuh waktu dan kebesaran hati, terlebih setelah aku melakukan kesalahan fatal. Kakak tidak melupakan itu bukan?” ulang Aiden.
Aiden takut Varlos mengancam Zura. Nyatanya, memang Varlos sudah mengancam Zura.
Varlos menatap Aiden dengan malas.
“Apa maksud pertanyaan itu, Aiden?!!”
Ah, sungguh menakutkan. Sisi Varlos yang ini terlalu menakutkan!!
“Aku tak mau kakak mengusik Zura. Di sini, akulah yang salah.” Ujar Aiden.
“Aku tahu kamu lah yang salah dan Zura hanya korban yang malang.” Jawab Varlos datar.
Aiden menghela nafasnya.
“Tapi aku juga tahu kakak akan tetap membenarkanku dan menyalahkan Zura.” Ucap Aiden lirih.
Varlos justru menyeringai dengan sangat manis. Seolah ia baru saja mendengar kabar baik yang membuatnya bahagia dan lega. Ia menatap Aiden dengan sangat teduh.
“Dan aku harap kamu tidak lupa bahwa aku seorang pengacara, Aiden. Pengacara memihak kliennya, terlepas sang klien salah atau benar. Bahkan beberapa pengacara melakukan taktik sedemikian rupa sehingga ia bisa menyabotase barang bukti dan memutarbalik sebuah fakta. Pengacara adalah iblis yang mengendalikan jalannya sidang. Semakin ia mahir, semakin ia bisa bermain kata, semakin ia bisa menguasai seluruh jalannya acara.”
...**...
Zura dan Helios menapaki lantai restoran itu, berjalan menuju salah satu bangku di samping jendela. Kacamata hitam dan seebuah topi melingkat di kepala Zura, membuat sebuah penyamaran kecil. Sudah lama sejak terakhir kali gadis itu datang dan makan di resto, dan ia ingin menikmati waktu singkat ini sebelum ia kembali ke kediaman Aiden.
Sratt!!
Zura terkesiap kaget. Langkahnya mundur dan berbalik karena lengannya ditarik secara kasar oleh seseorang. Membuat Helios ikut menoleh.
“Oh, siapa jaalang ini?” desis manja seorang wanita.
Zura mengernyit, mencoba mengingat siapa wanita di depannya. Seorang wanita dengan dress yang sangat mini dan terbuka. Belahan dadanya sedikit menyembul dan panjang dress itu bahkan menunjukkan kulit mulus dan jenjang kakinya. Belum lagi make up yang cukup tebal dan aksesoris emas yang melingkar hampir di seluruh tubuhnya. Dan yang terpenting, semua itu terlihat sangat glamour dan berkelas alias mahal.
Ah, Zura ingat. Wanita ini bernama Rebecca. Wanita yang paling lama berkencan dengan Aiden. Wanita yang berubah 180 derajat setelah putus dengan Aiden. Padahal dulu dia memiliki kesan sopan dan ramah. Sekarang, kesannya justru sebaliknya.
Plak!!
“Ah..” Zura mengerjap, merasakan sedikit pusing dan panas pada pipinya karena tamparan mendadak itu. Bahkan kacamata hitam dan topi yang ia kenakan sampai terjatuh. Ia mendongak dan menatap bingung pada Rebecca. Sebenarnya apa sih yang tengah dipermasalahkan wanita ini?
“Nona!!”
Helios dengan panik mendekati Zura. Kejadian tadi terlalu tiba-tiba sehingga ia tak sempat menghalangi Rebecca. Zura hanya mengangkat satu tangannya, seolah mengatakan bahwa dia tak apa. Atau mungkin tengah mengatakan agar Helios tak mencoba ikut campur.
“Apa kita punya suatu urusan?” tanya Zura dengan kening berkerut.
“Saya rasa kita tidak punya urusan sama sekali, nona.” Ujar Zura lagi, nada suaranya rendah dan dalam. Ia menatap lawannya dengan sangat dingin. Meski penyamarannya secara otomatis telah terbongkar, tidak ada raut ketakutan atau kecemasan sama sekali.
__ADS_1
Ah, iya. Inilah Zura yang selama ini menghilang. Wanita dengan image sopan namun tangguh. Wanita yang selalu menghadapi lawannya dengan dingin dan tanpa goyah.
“Oh sayang, lihatlah jaalang ini..”
Rebecca bergelayut manja di lengan laki-laki di sebelahnya. Zura baru sadar jika laki-laki itu adalah Andre, mantan tunangan yang telah mencampakkannya begitu saja.
Plakk!!
“Hei!!” Helios berteriak marah. Ia hendak memukul Andre jika saja Zura tak menahannya.
“Jaalang ini memang sama sekali tak punya malu dan tak tahu diri.” Cemooh Andre.
Zura merasakan rahangnya sedikit bergeser, dan ada lendir asin dalam mulutnya. Sudah jelas bahwa ujung bibirnya pasti berdarah. Tamparan Andre bukan hanya membuatnya terkejut. Tubuhnya rasanya oleng hingga ia mundur beberapa langkah. Zura terkekeh kecil. Ia kembali menegakkan tubuhnya. Sekilas ia melihat Helios yang wajahnya pucat dan dipenuhi amarah. Bagus saja ia menahan satu tangan Helios, membuat laki-laki itu menahan diri. Memukul Andre justru akan memperkeruh suasana.
Zura sedikit menggoyangkan giginya. Ia mendesis pelan merasakan perih dan ngilu.
“Helios, aku rasa aku tak bernafsu makan. Dari pada itu, tolong mintakan rekaman kejadian ini.” Ujar Zura ringan. Matanya lekat ke arah Andre dan Rebecca, namun ia berbicara seolah mereka berdua adalah hantu.
Helios menatap gadis itu dengan bimbang. Ia bisa menebak arah pikiran Zura. Namun ia khawatir gadis itu akan terluka semakin parah.
Zura memalingkan wajahnya, kini ia menatap Helios. Wajahnya begitu tenang dan teduh. Bahkan ada senyum kecil yang begitu manis, seolah ia tengah memberikan perintah yang menyenangkan.
“Tidak apa, Helios.” Ujar Zura lagi. Singkat dan hangat.
Helios mendessah perlahan, antas ia mengangguk dan pergi.
“Apa yang kau lakukan?!!” tanya Rebecca dengan suara tertahan.
Zura hanya mengangkat satu alisnya, tidak membuka suara sama sekali. Ia melipat kedua tangannya dan menatap santai dua orang yang mulai gelisah. Sukses memprofokasi dua manusia itu.
“KAU!!”
Andre hendak melayangkan pukulannya, membuat Zura melengos dan memejamkan mata. Beberapa detik berlalu dan tak terjadi apa pun, membuat gadis itu perlahan kembali membuka matanya. Andre tampak menahan tangannya di udara.
Zura menatap Andre. Ia lantas menundukkan kepalanya sekilas.
“Selamat menikmati makan siang. Maaf jika saya mengganggu kalian, saya permisi!” ujar Zura. Ia tersenyum dengan sangat manis, lantas berbalik. Ia baru menyadari ada cukup banyak orang di resto itu, dan ia tengah menjadi tontonan.
Srett!!
“Ahh!!”
Zura baru berniat mengulum senyum ramah sebagai basa basi pada para pengunjung, tapi ia lebih dulu menjerit. Antara sakit dan kaget. Rebecca menjambak rambutnya dengan sangat kencang. Sungguh rasanya sangat pedas dan perih.
“Kau jaalang sialan!! Berapa banyak laki-laki yang kau goda HAH?!!” Maki Rebecca.
“Aaaarghh..”
__ADS_1
“Sialan!! Biiitchh!! Jaalaang!!”
“Lepaskan!! Aaarghhh..”
Zura berteriak setiap kali Rebecca menjambak rambutnya semakin kencang, bahkan menarik gadis itu dengan brutal.
‘Sungguh, dimana letak kewarasan wanita ini yang tersisa? Ada belasan saksi mata di sini! Gilaaa!!’
“Apa hubunganmu dengan Aiden?!! JAWAB HEI!!!”
“Rebecca!!! Lepaskan!!”
“WANITA MURAHAN!!”
“REBECCA!!!”
“NONA ZURA!!!”
Kericuhan itu semakin menjadi saat Helios datang. Andre berusaha menenangkan Rebecca. Helios berusaha menyelamatkan Zura. Dan Zura yang semakin kondisinya semakin payah. Rebecca benar-benar memperlakukannya dengan sangat brutal. Menarik gadis itu kesana kemari dengan menjambak rambutnya.
“HEI!!!”
“REBECCA HENTIKAN!!”
“JANGAN HENTIKAN AKU!!”
“AAARGH...”
BRAAKK!!
Tubuh Zura limbung saat Rebecca mendorongnya, mebuat gadis itu menabrak meja dengan kepalanya. Bahkan ada darah menetes di sana.
“Nona!! Nona!!” Helios sangat cemas. Kondisi Zura sekarang sangat buruk. Meski hanya luka ringan, tetap saja siapa pun yang mengalami hal semacam ini akan berada dalam kondisi buruk.
Helios menatap sangat tajam ke arah Rebecca. Jika bukan karena cengkeraman tangan Zura, ia akan membuat Rebecca menderita sampai tak mampu menggerakkan seujung jarinya.
“Lios..” lirih Zura, wanita memegang kepalanya yang terasa semakin berputar.
Dengan sigap, Helios menggendong tubuh Zura. Ia harus segera keluar dan membawa Zura ke rumah sakit. Wajahnya semakin mengeras dan frustasi melihat kerumunan orang yang menutup mulutnya dengan wajah terperangah.
“MINGGIRRR!!”
Teriakan Helios sangat menggelegar. Tatapan matanya seolah membunuh semua orang. Mereka bergeming dengan tubuh geretar. Helios menggertakkan gigi, menyeruak di antara kerumunan dengan wajah yang merah padam. Dia sangat marah.
Sungguh semua manusia di dalam sana tak punya hati. Mereka hanya sok bersimpati tanpa membantu sama sekali. Bahkan para staff resto yang hanya menatap takut dari kejauhan. Helios bersumpah akan membalas mereka semua.
...**...
__ADS_1