Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Waktu untuk Beraksi


__ADS_3

“Tuan Aiden baik-baik saja. Dia sehat. Hanya saja, tuan sepertinya sedang memiliki beban pikiran yang sangat berat.”


Zura terdiam. Matanya mengerjap perlahan. Mendengar ucapan Helios membuat hatinya berdesir aneh. Padahal, laki-laki itu adalah laki-laki yang pendiam. Terutama jika dibandingkan dengan saudara kembarnya, Heris.


Seminggu. Sudah seminggu sejak Aiden seharusnya pulang ke rumah. Zura telah ditinggalkan pada pagi hari setelah malam pertama pernikahan mereka. Dalam hati, gadis itu merasa lega, namun hatinya juga teriris. Zura hanya selalu bersikap seolah baik-baik saja. Meski mungkin, di hadapan Helios atau yang lain yang telah mengetahui statusnya sebagai istri Aiden, tingkahnya justru terlihat sangat memalukan. Dia tak peduli.


Zura menahan diri. Meski ia sangat ingin bertanya bagaimana kabar Aiden. Ayolah, dia bahkan tak memiliki nomor ponsel Aiden. Dan ia bahkan belum memiliki ponsel sendiri. Dan Zura tak mau bertanya. Dia tak ingin kegelisahan hatinya nampak. Setidaknya, meski Bi Inah, Pak Awit, Heris, dan Helios tahu, mereka tak perlu melihat secara langsung bahwa Zura sedikit putus asa untuk menghubungi Aiden.


Tapi, mendengar ucapan Helios nyatanya membuat hatinya berkecamuk.


“Aku.. hanyalah seorang pendatang.”


Ucapan Zura membuat Helios, yang kebetulan sudah selesai dengan aktivitas menjemurnya, kini menatap Zura.


“Semua orang di sini bekerja untuk Aiden. Dan meski kalian tahu aku telah menikah dengan Aiden, kita belum memiliki cukup waktu. Orang-orang lain di mansion juga tak tahu jelas mengenai identitasku. Dan yang terpenting, aku adalah seorang pendatang.”


Helios menatap Zura dengan mata berkedip.


“Saya tak memikirkannya. Maafkan kami. Harusnya kami sedikit lebih peka.” Ucap Helios.


“Tak masalah. Ini bukanlah kesalahan siapa pun.”


Helios menatap senyuman Zura, dan ia pun memaksakan sebuah senyuman balasan yang kaku.


Ya, kini Helios menyadari lebih jauh apa yang Zura pikirkan. Zura hanya sendirian di mansion ini. Mansion yang masih asing. Dia seorang istri, namun orang-orang hanya tahu bahwa dia kekasih Aiden. Helios, Bi Inah, Pak Awit, atau pun Heris juga tak bisa menunjukkan bahwa Zura bukan seorang nona simpanan, melaikan seorang nyonya sah.


Zura tak bisa bersikap sembarangan. Maka satu-satunya hal yang ia lakukan hanyalah berusaha bersikap baik-baik saja meski rumor miring semakin merebak dan merendahkannya.


“Apakah tak ada sedikit pun niatan di hati anda untuk mengakui diri sebagai nyonya?” tanya Helios.


“Aku tidak tahu kapan Aiden akan mengakhiri pernikahan ini.”


Jawaban itu membuat Helios kehabisan kata. Masih banyak yang ingin ia tanyakan. Namun, ia tak bisa.


“Nona, boleh saya bertanya satu hal lagi?”


“Satu atau sepuluh, aku tak pernah melarangnya, Helios.”


Helios ragu, namun rasa penasaran dalam hatinya jauh lebih besar.

__ADS_1


“Kenapa anda tidak menghubungi tuan Aiden terlebih dahulu?”


Senyuman Zura seketika menghilang. Haruskah dia bilang yang sesungguhnya?


“Hanya saja, aku tak bisa menghubunginya. Jika kamu penasaran mengenai satu hal ini, kamu bisa menanyakannya pada Aiden.”


Zura lantas mengembalikan senyum manis di wajahnya.


“Terimakasih telah memberitahu kabar Aiden pada ku, Helios.”


...**...


Apa itu pernikahan?


Jika dalam fantasi manusia umumnya, pernikahan mungkin adalah menjalani hal-hal manis bersama. Namun hal itu tak berlaku untuk Zura. Mengerti dan mengatur diri sendiri saja sangat sulit, apalagi menikah yang mengharuskan dua orang saling mengerti, mengatur, dan memahami.


Menikah tidak selalu tentang dua manusia yang selaras. Bagi Zura, menikah adalah tentang dua manusia yang mencari keselarasan bersama. Karena tak mungkin dua manusia selaras tanpa cela.


Tak ada manusia yang sempurna. Dan menikah membuat dua manusia yang sama-sama tidak sempurna itu harus saling menyatu. Termasuk menyatukan kekurangan mereka. Membuat masalah yang mereka hadapi harus bertambah. Kehidupan yang mereka bina akan penuh dengan lubang dan ketidaksempurnaan. Lalu, bagaimana dua manusia menjaga agar kehidupan mereka tetap berjalan dengan baik?


"Aku tahu pernikahan takkan mudah. Terlebih, laki-laki yang sekarang telah ku nikahi adalah Aiden Azam Antarest. Bukan hanya menjadi incaran ribuan kaum hawa, laki-laki itu juga orang yang memiliki sangat banyak perbedaan dengan ku." gumam Zura lirih di sela waktu sendiri yang ia nikmati.


Setelah memikirkannya dengan baik, siapa lagi yang bisa melakukan itu selain Aiden? Orang yang bisa menyewa pengacara atas dirinya sekarang hanya Aiden. Karena laki-laki itulah yang kini menjadi wali Zura sebagai seorang suami. Pengacara Hakma yang sangat terkenal juga berafiliasi dengan Antarest Group. Lagipula, jika mengingat apa yang dikatakan oleh Selen, paman Dhika baru menyelidiki kebenaran kasus Zura setelah berita itu mulai menyeruak.


"Diam adalah emas. Tapi persetan dengan itu. Diam hanya akan membuat situasi terus kacau. Bahkan mungkin memburuk." Ucap Zura. Dia kembali menerawang.


“Benar. Jika aku hanya diam, takkan ada yang berubah.” Gumamnya lagi.


Setelah percakapan dengan Helios pagi tadi, Zura memutuskan untuk menemui Luci. Dan di sini lah dia sekarang. Di sebuah private room restaurant bintang lima. Menunggu Luci. Dengan makanan pesanan yang kini mungkin mulai mendingin.


Ceklek


“Oh! Apa kau menunggu lama?” tanya Luci sesaat setelah membuka pintu.


“Tidak. Apa kamu membawakan ponsel baru ku?” Zura balik bertanya. Ya, dia memang meminta Luci membelikan ponsel baru untuknya.


“Tentu. Ini model terbaru dan paling mahal.”


Zura tertawa.

__ADS_1


“Aku akan memberikan bonus untuk mu.”


“Baiklah baiklah. Jadi, kenapa kamu memintaku datang?”


“Pinjam ponsel mu sebentar, Luci. Aku akan mengirimkan beberapa kontak yang aku butuhkan. Termasuk kontak milik paman dan Selen.”


Tanpa banyak tanya, Luci menyerahkan ponselnya. Inilah yang Zura butuhkan. Dengan ini, dia juga bisa mengirimkan nomor Aiden.


“Zura, jangan pikir kamu bisa menipu ku.”


Ucapan Luci membuat Zura menatapnya. Luci adalah sahabatnya. Sahabat terbaik yang ia miliki. Orang yang akan menentangnya, tapi jika Zura sudah membuat keputusan, Luci adalah orang yang paling mendukung Zura. Entah apa pun itu. Entah hal yang baik atau hal-hal gila.


Jadi, Zura pikir sangat tak adil jika dia menutup diri dari Luci. Karena Luci juga tak pernah menutupi apa pun masalahnya pada Zura.


“Aiden memiliki masalah. Dan dia justru tak pernah pulang.”


“Apa?”


“Aiden pergi sehari setelah pernikahan kita karena urusan bisnis. Dia seharusnya sudah pulang seminggu lalu. Namun, dia memiliki masalah besar. Dan entah bagaimana, dia justru tak pernah pulang.” Jelas Zura.


“Aku melihat Aiden beberapa kali dalam seminggu ini, Zura. Apa maksudmu tak pernah pulang?” Luci tampak menampakkan wajah marahnya.


“Aku tahu Aiden sudah kembali. Mungkin, dia hanya menghindari ku.”


“Karena masalah nya? Masalah macam apa yang membuatnya tak mau pulang?!”


“Bisakah kita membahas hal ini lain kali. Aku minta maaf, aku hanya belum bisa menceritakannya sekarang.”


Luci menghela nafasnya panjang.


“Baiklah. Tapi, jawab satu hal. Apakah kamu sekarang sedang mengirimkan nomor Aiden?”


“Uhuk!!” Zura tersedak. Ah, sial! Luci benar-benar menyebalkan.


“Benar!! Aku tahu itu! Aku akan membiarkannya karena kamu bilang kamu belum bisa cerita sekarang. Tapi, bukan berarti aku melupakannya.” Kecam Luci.


“Terimakasih. Sekarang, apa kamu tidak tergoda melihat makanan di hadapan mu?”


“Oh sial!! Kamu mengajakku ke Retaurant Vuittest ini untuk menyogok ternyata!!”

__ADS_1


“Haha, Bingo!!”


__ADS_2