Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Suatu Jalan


__ADS_3

Ceklek.


Suara gagang pintu yang terkunci itu membuat Zura menahan nafas. Apalagi kini ia dan Aiden tengah memasuki salah satu ruang VVIP Antarest Hotel III.


Aiden menarik tangannya dengan tanpa kelembutan sama sekali. Dan wajahnya tampak sangat dingin. Zura tahu, Ken takut Aiden akan memperlakukannya dengan kasar. Tapi entah kenapa, Zura tak setakut itu.


Aiden menarik Zura dan mendorongnya jatuh ke atas tempat tempat tidur. Dan tanpa segan, ia meraup bibir gadis itu. Ciuman yang penuh amarah dan emosi. Dalam hal ini, Aiden benar-benar melampiaskan perasaannya pada Zura.


“Ah! Aiden!!” Zura mendorong Aiden saat bibirnya terasa sakit, laki-laki itu menggigitnya sampai berdarah.


Zura tak ingin ia ikut terbawa emosi. Percuma bukan? Jika api bertemu api, yang terjadi selanjutnya adalah kebakaran.


“Kamu terlalu kasar, Aiden!” ujarnya kemudian dengan nada protes.


Sayang, Aiden tak menggubris. Laki-laki itu kembali mendekat dan meraup bibir Zura dengan penuh nafsu. Ciumannya semakin turun, dengan kasar meninggalkan jejak-jejak dirinya.


“Ck. A- aiden, itu sakit!!” seru Zura kesal, memejamkan matanya dengan erat.


Meski begitu, gadis itu tak menolak. Ia memang mencekal lengan Aiden, namun Zura tak mendorongnya pergi dan hanya pasrah. Bahkan saat Aiden merobek pakaiannya dengan brutal, Zura hanya meneriakkan nama Aiden.


“Ya. Lakukan apa maumu! Lakukan saja sesukanya!” geram Zura. Ia memejamkan mata erat, namun ternyata gerakan Aiden berhenti.


Perlahan, Zura kembali membuka matanya. Aiden tampak menatap lekat tubuh bagian atasnya itu dengan mata yang entah mengatakan apa. Zura tak tahu. Tatapannya dingin, datar, dalam, dan.. entahlah. Benar-benar tidak terbaca. Gemas dengan tingkah Aiden yang tak tertebak, Zura pun menyentuh rahang Aiden, perlahan mengangkat wajahnya mendongak. Kedua manik mereka bertemu, saling menatap.


“Katakan sesuatu, aku benci situasi ini.” Ujarnya dengan kening berkerut. Zura tampak kesal, namun tidak tampak marah. Aiden hanya tersenyum getir.


“Aku lebih senang jika kamu membenci dan memakiku.” Ujar Aiden. Wajahnya benar-benar tampak terluka.


“Setidaknya, tunjukkanlah wajah depresi dan tertekan.” Sambungnya lirih. Zura hanya bisa menghela nafas. Memang sih, terlalu aneh karena ia bisa menghadapi kabar mengejutkan ini dengan tenang. Meski ia juga sempat syok, akal sehatnya kembali dengan cepat.


“Mau bagaimana lagi, sepertinya Zura yang tenang dan berpikir rasional telah kembali.” Jawab Zura dengan tenang. Padahal, dibanding rasional, lebih tepat dikatakan jika ia bodoh bukan?


Aiden ikut menghembuskan nafas. Jika seperti ini, dia juga jadi tak bisa emosi. Melihat ekspresi tak berdaya Aiden, Zura berniat mendekat dan menciumnya. Sayang, Aiden lebih dulu menahan tubuhnya.

__ADS_1


“Kenapa? Sebelumnya kamu menciumku dan aku tidak protes.”


Aiden terkekeh kecil. Ternyata datang juga, masa dimana dia menghadapi dunianya runtuh, dan dia masih bisa baik-baik saja, bahkan tertawa. Dengan pelan, Aiden melepas jas yang ia kenakan dan menutupi tubuh Zura yang terekspos karena ulahnya.


“Aku sedang tak ingin bercinta. Tapi aku masih takut tergoda.” Ujarnya, menunjukkan senyum pahit.


“Aku akan meminta Ken membawakan pakaian baru.” Sambung Aiden.


“Bagaimana dengan.. em.. wanita itu?” tanya Zura ragu-ragu.


“Entahlah. Ayo temui dia bersama.”


Mendengar jawaban itu, Zura akhirnya bisa sedikit lega.


“Ugh, Ken pasti marah dan akan salah paham jika melihat.. kondisimu dan.. pakaian yang hancur ini.” Sesal Aiden kemudian.


Zura hanya tersenyumpahit melihat Aiden. Ia teringat sesuatu yang sebelumnya sempat dikatakan paman Dhika. Wanita itu lantas mencari ponselnya. Ia menyiapkan hatinya untuk semua kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya. Dan pesan yang dikirim oleh paman Dhika pasti juga memiliki dampak terhadap semua pusaran badai ini. Dan seketika, tubuh Zura membeku, meniti tiap detail layar ponselnya.


“Aiden, boleh aku meminta satu hal?”


...**...


Kisya Atrida. Aiden masih mengingat dengan jelas wajah wanita yang menjerit pagi itu di hotel. Wanita yang menjadi awal mula kehancuran Aiden. Melihat kembali wajah itu membuat Aiden merasa kacau. Jujur saja, Aiden ingin menyalahkan semuanya pada wanita ini. Meski Aiden tahu, semua yang terjadi adalah kesalahannya. Aiden menghela nafas, menoleh sejenak ke arah Zura. Dan hatinya entah kenapa merasa sakit saat melihat gadis itu tampak tenang.


“Ke- kenapa ada banyak orang? Aku ingin bertemu berdua!” ujar Kisya gugup. Ia meraih gelas di atas meja dan meminum habis isinya.


“Jadi, anda sedang hamil, miss Kisya?” tanya Zura balik, mengabaikan pertanyaan Kisya. Wanita di depannya cantik. Tidak kalah dari para artis. Tapi ada satu hal yang berhasil Zura tangkap, ekspresi kebencian dan ketakutan dalam matanya. Mungkin, ini hanya sebuah insting.


Kisya menatap Zura dengan penuh permusuhan.


“Si- siapa kamu?! Aku tak ada urusan dengan artis hina sepertimu! A- apa kamu berniat membunuh bayiku?”


Aiden menggeram, sedang Zura hanya mengangkat satu alisnya. Ayolah, ia memang sempat dirumorkan aborsi. Tapi bukan berarti dia menjadi oknum yang terlibat dengan praktik aborsi anak ilegal kan?

__ADS_1


“Miss Kisya, bisa anda jelaskan langsung apa yang anda inginkan?” tanya Ken kemudian. Ia tak ingin melihat perdebatan, juga ingin semua ini cepat selesai. Tapi, aneh sekali rasanya karena dari tadi Aiden hanya terdiam. Apa Zura yang menyuruhnya?


“A- aku sudah bilang aku hamil. Aku ingin Aiden tanggung jawab.” Ujarnya kemudian. Nampak sekali ia gugup.


“Miss, setidaknya anda harus memiliki bukti bahwa anak itu milik Aiden, bukan?”


“Ka- kau menuduhku? Aku bahkan kehilangan keperawanan karena bajingan itu!!” Kisya berteriak dengan wajah merah padam.


“Kalau begitu, bisa kami lihat bukti yang menunjukkan anda tengah hamil?” tanya Ken lagi dengan tenang.


“A- apa perlunya?! Ba- bajingan itu mengambil kehormatanku, dia memperrkosa aku dengan sangat kasar. Pa- pasti korbannya sudah banyak bukan? Dasar berengsek!! Ha, bukankah kau hanya bisa mengobral ketenaran dengan bermain wanita jallang?!” Kisya menunjuk Aiden.


“Da- dan ini, artis tukang aborsi. A- apa kamu simpanan barunya? Wanita murahan!! Berapa banyak laki-laki yang sudah memasukimu hah? Tak terhitung? Apa termasuk laki-laki gempal? Pria tua? Kamu juga menjual tubuh untuk ketenaran kan? Ah, ya. Bukankah kamu hanya seorang yatim piatu? Pasti dari sana kamu mendapat banyak uang. Atau mungkinkah kamu sudah mengidap HIV?” ujar Kisya lagi, kali ini menunjuk Zura dengan pandangan merendahkan.


Aiden hanya kembali menggeram dan mengeraskan wajah. Tangannya mengepal erat. Jika bukan karen jemari Zura menggenggamnya, Aiden pasti sudah buka suara, atau bahkan sudah menampar wanita di depannya. Tak masalah dirinya dihina. Namun, tak pantas sekali mereka menghina Zura. Ken juga sama. Ia sungguh tak rela mendengar Zura dihina.


Zura hanya menatap datar Kisya. Ia menyesal karena sempat gugup sebelum bertemu wanita ini. Zura lantas tersenyum simpul. Ia sungguh merasa kasihan dengan wanita di depannya. Tapi, mau bagaimana lagi. Lebih baik ia memberikan rasa ibanya untuk orang yang lebih pantas.


Kisya semakin geram melihat senyum Zura. Ia segera meraih gelas yang masih berisis air, berniat menyiram wanita murahan di depannya itu. Sayang, tangan Aiden dengan cepat mencekalnya.


Zura menghembuskan nafas.


“Nona, aku sungguh bersimpati dengan nasib anda. Namun aku minta maaf. Kita tak tahu janin milik siapa yang ada dalam rahim anda jika malam itu ada 7 pria yang memasuki kamar anda.”


Seketika wajah Kisya pucat. Begitu pula Aiden dan Ken yang menatap Zura dengan tatapan kaget dan tak mengerti. Tangan Kisya melemah, mebiarkan gelas di tangannya terjatuh dan pecah.


“Juga, itu pasti sangat menyakitkan. Bukankah seharusnya anda menahan diri sampai 5 hari lagi sebelum diperbolehkan berhubungan sksual? Aku menghitungnya berdasarkan informasi di sebuah blog yang membahas tentang operasi selaput dara.” Lanjut Zura.


Belum selesai keterkejutan semua orang, tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka. Tampak Varlos dan beberapa polisi di sana.


“Nona Kisya Atrida, bisa anda ikut kami sebentar untuk dimintai keterangan?”


...**...

__ADS_1


...Hai guys, aku bersyukur banget karena cerita ini sekarang semakin mendekati ending. Sejujurnya, respon yang terlalu dingin dari pembaca membuat mood ku terjun bebas. But, no problem. A story is just a story. Setiap penulis punya cara tersendiri untuk mencintai tulisannya. So, pembaca yang budiman juga punya cara untuk mengapresiasi bacaannya. Itu terserah kalian. Yang jelas, thanks buat kalian yang kasih komentar, gift, dan like....


...Bab selanjutnya aku usahakan update besok pagi....


__ADS_2