Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Topeng


__ADS_3

“Tidak mau! Jika aku melakukannya, kamu pasti tak bisa menahan diri dan kembali menerkam ku.” Ucap Zura dengan tatapan tegas sekaligus malu, wajahnya terasa seolah terbakar.


“Haha.. Heem, benar juga. Tetap saja, jika kamu tak mau melakukannya, aku akan merebut dan merobeknya. Bagaimana?”


Tatapan Aiden menatapnya dengan penuh hasrat. Zura kehilangan kata-kata. Aiden biasa bersikap mengancam seperti ini saat ada yang tak disukainya baik ketika syuting atau bekerja.


Dan meski tampak bercanda, dia biasanya selalu serius. Apa sekarang Aiden juga serius?


Zura menggenggam erat bingkisan di tangannya dan berpikir. Aiden mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Zura.


“Haruskah aku membantu?” bisik Aiden. Zura memang benar, pagi-pagi seperti ini membuat hasratnya kembali membuncah.


Tak..


Zura mendorong tubuh Aiden, dia kemudian mundur. Zura lantas menatap Aiden dengan wajah yang sempurna merah padam.


“Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri.” Ucap Zura.


Zura benar-benar melakukannya di depan Aiden. Perlahan ia melepas bathrobe dan memakai pakaian dalam bingkisan itu. Dia mengalihkan pandangan dari Aiden, lantas mulai memperlihatkan tubuhnya yang indah sempurna dan polos, namun penuh bercak kemerahan. Zura memakai satu demi satu pakaian itu dengan begitu.. seksi.


Aiden yang menyebabkannya, namun dia sendiri yang menelan ludah penuh penyesalan. Bagian bawahnya terasa menegang dan berdenyut. Aiden melihat lekat setiap inci tubuh Zura penuh dengan bekas merah dan keunguan, dan dia mulai mencengkeram pahanya sendiri dengan kencang.


'Sial.. Aku malah terangsang.'


Zura dengan cepat selesai mengenakan apa yang ada dalam bingkisan itu. Sepasang pakaian dalam berwarna putih berenda, dan dress lengan terbuka yang juga berwarna putih polos setinggi pahanya. Pakaian itu mengekspos sebagian besar tubuhnya, dan terasa.. ketat. Itu pakaian yang sangat paling dibenci Zura.


Namun, dia tetap memakainya dengan diam dan tanpa komentar. Mengabaikan Aiden. Dan entah kenapa merasa terlalu kesal untuk menanggapi ulah laki-laki itu.

__ADS_1


'Sial, aku benar-benar terangsang. Oh Tuhan!! Ciptaan-Mu yang satu ini terlalu sempurna.'


Zura lantas menatap Aiden dengan tatapan datar. Aiden lagi-lagi menelan ludah. Aiden langsung tahu bahwa Zura sangat marah padanya.


Dia tahu ia sedikit keterlaluan. Namun laki-laki sekarang hanya bisa berdiri kaku, hasratnya benar-benar memberontak meminta dipuaskan. Astaga.. Dia terjebak permainannya sendiri.


Zura berjalan ke arah meja dengan kesal, mengambil makanan yang telah disiapkan untuknya, lantas kembali melangkah keluar. Dia tak ingin makan di kamar. Ia menyempatkan diri menatap Aiden lagi.


“Sudah puas bukan?” tanya Zura dengan nada datar.


Zura lantas melangkahi Aiden, membuka pintu dan meninggalkan lelaki itu. wajah Aiden pucat. Dia mengaduh pelan.


'Shitt!!'


Dia merasa bersalah karena membuat Zura marah. Namun junior kecilnya malah semakin menegang setelah melihat sifat dingin gadis itu, dan hatinya berdebar.


...*...


Zura berjalan menuruni tangga dengan piring makanan yang dibawanya. Langkahnya sedikit tertahan karena di bagian inti, bawah tubuhnya masih sedikit nyeri. Dia segera duduk di meja makan dan menikmati makanan itu dengan perasaan suram.


Awalnya, dia merasa sangat malu saat Aiden menyuruhnya memperlihatkan tubuhnya. Tapi sesaat kemudian perasaan itu berubah menjadi amarah dan kekesalan. Dia merasa Aiden mempermainkannya. Dia tampak begitu berhasrat hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.


Namun, nafsu adalah nafsu. Dan cinta ataupun kasih sayang adalah hal yang berbeda. Zura tahu bahwa dia mulai serakah hanya dalam waktu satu malam. Dan itu terasa konyol.


Zura memejamkan matanya untuk mengatur perasaan. Dia berusaha berpikir dengan tenang. Zura pun memutuskan untuk kembali membenahi hatinya.


"Benar. Aiden adalah suamiku. Dia berhak--"

__ADS_1


"Ehem.. Masalahnya, aku lah yang terus goyah. Ooh ayolah Zura yang bodoh.. Mu-mustahil seseorang menjadi konsisten dalam perasaannya, tapi bukan hal yang mustahil untuk tetap teguh pada prinsip hidup." Ucap Zura pada dirinya sendiri.


Zura telah menjalani keteguhan yang pahit selama hidupnya. Meski sulit, dia harus tetap menjalani keteguhan itu untuk sisa hidupnya.


"Benar, mari jalani hidup dengan Aiden sebagaimana mestinya."


"Tidak apa berharap karena manusia tak bisa menipu hatinya. Dan terkadang perasaan hadir seperti kutukan yang tak bisa ditolak. Aku hanya harus tetap mengingat batasan diri.


Mari tetap teguh untuk berdiri meski di atas tanah berduri."


Zura pun perlahan kembali membuka matanya, lalu ia menghembuskan nafasnya perlahan.


"Aku siap!"


Zura meneguhkan hatinya, bersiap untuk terus berdiri meski dalam jurang rasa sakit dan tetap bertahan. Bersiap untuk ditinggalkan.


'Jika aku jatuh, bahkan jika aku menjadi lumpuh dan tak mampu lagi untuk berdiri, aku tetap akan bertahan hidup meski harus merangkak.'


Zura tersenyum. Sebuah senyuman pahit yang menghujamkan tombak di hatinya. Sebuah topeng palsu yang sangat tulus.


Ekspresi palsu yang perlahan menjadi nyata, dan perasaan asli yang perlahan menjadi kepalsuan. Berapa kali dia berperan sebagai tokoh yang menangis penuh penderitaan, dan semua penonton menangis hanya untuk melihat wajahnya yang berkaca. Sutradara memujinya sebagai aktris jenius yang luar biasa saat pertama kali melihat bakat aktingnya. Dan Zura menjawabnya dengan tersenyum begitu manis.


Manakah yang sebenarnya akting? Tangisan di depan kamera, ataukah senyumnya di depan semua orang?


“Non..” Zura terkesiap, menoleh. Ia menatap sosok Bi Inah yang membawa secangkir madu di tangannya.


Gadis itu lantas tersenyum, sebuah senyuman yang selalu tampak ramah.

__ADS_1


__ADS_2