Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Masa Lalu Aiden 1


__ADS_3

Bab ini mengandung bawang


selamat membaca


**


Kini Aiden dan Zura sudah duduk bersama. Aiden sedikit gugup. Meski sekarang Zura tampak biasa saja, Aiden takut Zura akan mempermasalahkan statusnya. Dia hanya seorang anak hina yang menjadi aib keluarga.


“Aiden.. apa kamu keberatan menceritakannya padaku?” tanya Zura.


“Tidak, sayang..” lirih Aiden.


“Aku hanya belum sepenuhnya siap.”


Ken dan Heris datang dengan makanan dan minuman di tangan mereka, meletakannya di atas meja. Mereka ikut duduk di sana, dan Helios juga ternyata ikut.


“Apa anda keberatan dengan kehadiran kami, tuan?” tanya Helios.


Aiden hanya menggeleng.


“Lagipula, kalian tahu. Atau setidaknya, kalian pasti sudah pernah mendengar rumornya.”


Aiden yang bersikap tenang semacam ini malah membuat hati Zura sedikit gelisah. Ia lantas menggenggam jemari Aiden, menatap laki-laki itu dengan senyuman menenangkan.


“Aku ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang paling memahami dirimu, Aiden.” Ujar Zura.


Ya, bagi Zura yang sekarang, masa lalu Aiden yang penuh skandal bahkan tak lagi mengusiknya. Memang, Zura menginginkan sosok suami seperti Varlos, yang hidup dengan sangat disiplin, tegas, dan bukan pecinta wanita. Tapi Aiden lah yang ia cintai. Meski laki-laki ini memiliki karakter yang berkebalikan dengan Varlos. Aiden adalah orang yang sesukanya, urakan, dan sialnya seorang cassanova.


Tapi sekali lagi, yang Zura inginkan adalah Aiden.


Aiden mengangguk dan tersenyum, menggenggam balik jemari Zura yang terasa hangat, lembut, dan kecil. Ia menarik nafas dalam, mempersiapkan hatinya.


“Ibuku.. dia adalah wanita yang tak pantas disebut ibu.” Lirih Aiden. Matanya menenrawang dengan sendu. Ia mengingat kembali tentang siapa dirinya. Tentang fakta bahwa dia hanyalah orang yang rendah dan hina.


“Ketika kak Varlos berusia sekitar 5 tahun, Antarest Group mengalami kerugian besar dan terlilit hutang. Nyonya Monica saat itu dinyatakan hamil muda. Namun takdir tengah mengujinya. Kak Varlos saat itu demam tinggi, badannya sampai kejang-kejang. Dan malam itu, ayah ditipu oleh seorang investor.


Parahnya, ia dicecoki obat perangsang yang sangat kuat. Ayah lebih memilih mati daripada mengkhianati istrinya. Dan saat itulah, seorang wanita penghibur memanfaatkan situasi ayah. Ayah bisa gila atau mati. Tapi ia tak ingin pergi terlalu cepat. Istrinya tengah mengandung. Sedangkan kak Varlos tengah sekarat.”


“Ayah menghabiskan satu malam kelam itu bersama sang wanita penghibur. Dengan seorang wanita rendahan yang tamak. Setelah malam kelam itu, karena merasa bersalah, ayah menghabiskan waktunya untuk bekerja. Lalu, wanita itu mendatangi Nyonya Monica dalam keadaan hamil 2 bulan.”


Mata Aiden berkaca. Genggaman tangannya terus mengerat dan melemah. Suara laki-laki itu bergetar.


“Rumah tangga itu retak, dan berada di ambang kehancuran. Saat Kak Varlos mulai membaik, saat bisnis Antarest mulai pulih, wanita itu datang dan menikam kebahagiaan kecil mereka. Entah kenapa, perusahaan mulai berkembang pesat. Ayah mengabaikan Nyonya Monica dengan sibuk mengurus pekerjaan, namun ia mengurung wanita itu di dalam mansion.”


“Ada banyak hal yang terjadi. Dan puncaknya, saat Nyonya Monica keguguran ketika kandungannya menginjak usia 5 bulan. Dan kandungan wanita itu menginjak usia 3 bulan. Malam itu adalah malam yang mengenaskan. Ayah yang kalap bahkan hampir membunuh wanita itu beserta bayinya, jika Nyonya Monica tidak menghentikannya.”


“Akhirnya, mereka membuat sebuah kesepakatan. Ayah akan mengirim uang setiap bulan pada wanita itu dengan jumlah fantastis, asalkan wanita itu pergi sejauh mungkin dan tetap merahasiakan semuanya. Dan Nyonya Monica, beliau bersedia mempertahankan pernikahan dengan satu syarat. Ia ingin wanita itu merawat dan membesarkan sendiri anaknya.”


Air mata Aiden sudah tak terbendung. Satu tetes turun di sana. Bersamaan dengan jakun lelaki itu yang naik turun. Tenggorokannya tercekat. Sulit. Sulit sekali hanya untuk mengucap satu patah kata saja. Aiden menunduk. Menunduk dalam sambil mencengkeram wajahnya dengan frustasi. Ia kembali melanjutkan kisahnya, dengan tubuh bergetar, dan suara yang serak lagi tercekat.

__ADS_1


“Ya.-


“Anak pembawa sial itu, adalah aku.”


Dengan susah payah, Zura menelan saliva. Matanya ikut memanas. Tenggorokannya ikut terasa serak. Dan dadanya terasa serak. Ia ingin bilang bahwa itu bukan salah Aiden. Tapi ia tak bisa. Yang bisa Zura lakukan hanya memberi Aiden sebuah pelukan. Mengusap pelan punggung laki-laki itu. Kini Zura tahu, baik Aiden melanjutkan kisahnya atau tidak, ia tahu bahwa kisah ini akan pilu.


Aiden terus terisak. Ia menumpahkan semua tangis dan kesedihannya pada tubuh kecil Zura. Sungguh, ia tak mampu melanjutkan kisahnya. Bukan karena ia merasa masa lalunya menyedihkan. Tapi karena Aiden merasa masa lalunya terlalu hina.


“Haruskah aku yang melanjutkannya?”


Suara serak rendah itu membuat semua orang menoleh, kecuali Aiden. Ya, di sana berdiri Varlos, yang kini beranjak ikut duduk bersama yang lain. Ia hanya terus menatap lekat Aiden, yang masih terisak tanpa menatapnya. Pandangan Varlos beralih ke Zura, yang memeluk Aiden. Ia memicingkan matanya melihat kissmark yang memenuhi leher Zura. Seketika, Varlos tersenyum kecil. Kini, rasanya ia bisa sedikit mempercayai Zura.


“Tak ada yang keberatan jika aku yang melanjutkannya bukan?” tanya Varlos.


Zura hanya menatap Varlos dengan bingung. Ia tak keberatan, tapi bagaimana dengan Aiden? Perasaan Aiden sekarang adalah yang paling penting.


“Aiden takkan keberatan.” Ujar Varlos.


Melihat Aiden yang hanya terus bergelayut dalam pelukannya tanpa merespon, Zura akhirnya mengangguk singkat pada Varlos.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menceritakannya dengan versi ku sendiri.”


...**...


Pertama kali Varlos mengenal Aiden adalah saat ia kurang lebih berusia sekitar 9 tahun. Dan Aiden merupakan bocah laki-laki kecil berusia 3 tahun. Bocah kumal yang diseret oleh seorang wanita dengan mulut kotornya memaki, dan tangan jahannamnya memukuli bocah itu. Seorang bocah dengan tubuh kurus kering dan dipenuhi lebam dan luka.


Varlos masih mengingat momen bersejarah itu dengan jelas. Ayahnya sangat murka, ibunya juga emosi, dan wanita yang membawa bocah seperti orang gila. Saat Varlos gemetar karena takut, ia tak sengaja bersitatap dengan bocah kumal itu. Bocah yang tubuhnya gemetar, namun manik matanya tajam.


“Hei..” panggil Varlos.


Ia sungguh tak habis pikir. Siapa bocah ini? Kenapa berani sekali berjalan kesana kemari di mansion rumahnya? Dan juga, kenapa bajunya sangat kumal? Kenapa tubuhnya biru dan ungu? Kenapa pula ia berani mengabaikan Varlos?


“Hei!! Bocah!!!” Geram Varlos.


Berkali-kali ia memanggil, dan bocah itu terus saja mengacuhkannya. Tetap saja, Varlos hanya terus membuntuti bocah itu di belakangnya.


“Ck! Kau mau ke mana sih? Ini rumahku tahu!!”


“Hei!! Apa kau tak mendengar ku?”


Varlos terus memanggil. Entah kemana tujuan bocah ini. Dia hanya terus berjalan ke sana ke mari. Bahkan Varlos sampai lupa kalau ayah dan ibunya sedang adu mulut dengan seorang wanita.


“Kamu mau ke mana?”


Jengah dengan pertanyaan yang terus diabaikan, Varlos pun mulai memutar otak.


“Hei, beritahu aku, nanti aku kasih banyak permen sama roti.”


“Pemen?”

__ADS_1


Varlos mendelik, hampir terjungkal karena kaget. Bocah itu sekarang menanggapi pertanyaannya.


“Pemen tu apa?”


Astaga. Kini Varlos bahkan menganga. Bocah mana yang tak tahu permen?


“Pokoknya makanan yang manis dan enak. Mau?” tanya Varlos. Bocah itu menggemaskan. Terlalu menggemaskan. Dan entah kenapa, mata Varlos terasa pedih. Ia melihat bercak darah di ujung bibir bocah itu. Pasti rasanya sakit sekali kan?


“Mau.” Ujar bocah itu. Matanya tampak sedikit tertarik.


“Ayo ikut aku.” Ajak Varlos.


Tapi, saat melihat bocah itu yang pincang berjalan mengikutinya, lagi-lagi mata Varlos terasa semakin pedih. Bocah itu kasihan sekali.


“Aku gendong mau?” tawar Varlos. Sayangnya, bocah itu hanya menggeleng pelan.


“Ga mau, aku belat.”


Tak disangka, tubuh Varlos merinding, dan pucuk matanya basah. Varlos harus berdehem agar ia tak terisak. Ia sungguh sangat kasihan pada bocah itu.


“Gak berat kok. Kakak itu kuat! Seperti superhero!”


Bocah itu mengernyit.


“Tupello tu apa?”


Varlos mengerang. Ia tak tahan lagi. Ia segera mengangkat tubuh kecil bocah itu, yang rasanya ternyata ringan.


Varlos pun mengajak bocah itu ke dapur, memberikan banyak permen, roto, buah, dan aneka makanan, juga minuman yang ada di sana. Semuanya di taruh di atas lantai.


Bocah itu tampak berkedip, melihat makanan itu dengan lekat. Lalu perlahan ia mulai memakannya.


“Nama kamu siapa?” tanya Varlos lagi. Bocah itu menatapnya dengan mulut penuh makanan dan kening berkerut.


“Awa?”


“Iya, panggilan. Kamu dipanggil apa?”


“Olah alan.”


Varlos mengernyit.


“Telan dulu makanannya.” Ujar Varlos lembut. Dan bocah itu dengan segera menelan makanannya, lalu kembali menatap Varlos.


“Bocah tialan. Aku telalu dipanggil gitu.”


Deg!!


Gawat, air mata Varlos sempurna tumpah sekarang.

__ADS_1


...**...


__ADS_2