Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Apa Maharnya?


__ADS_3

Aiden, Zura, dan Andhika Ansana. Tiga orang itu lantas pindah ke sebuah ruangan, di mana prosesi pernikahan yang sangat sederhana akan dilakukan.


“Permisi. Jadi, apa maharnya?” tanya petugas kemudian.


Seketika, wajah Aiden dan Zura pias.


'Astagaaa!!'


Mereka tak memikirkannya.


Aiden segera membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Zura tak tahu apa yang Aiden lakukan.


Sementara itu, tatapan mata paman Dika semakin tajam. Ia terus berusaha mati-matian menahan amarahnya.


'Bajingan ini bahkan tak menyiapkan mahar?'


Segerombolan rencana buruk mulai mengalir di pikiran paman Dika. Dia merasa marah, dan harga dirinya sedikit terluka.


'Awas saja nanti!'


Ceklek..


Ken tiba-tiba masuk ke dalam. Dia membungkuk sekilas memberi salam, lantas mendekati Aiden. Dia mengeluarkan sebuah kertas kosong dan stempel. Aiden mulai menuliskan sesuatu di sana, lantas memberikan stempel.


Zura menatap kertas itu sebelum dia terbelalak kaget saat melihat isinya. Bahkan Ken tampak terbatuk karena kaget.


“Tu.. tunggu!! Ini.. terlalu berlebihan!!”ucap Zura.


Kertas itu bertuliskan sesuatu yang sama sekali tak diduganya.


Aiden Azam Antarest. Dengan ini, memberikan 15% saham Antares Group, ½ dari jumlah saham yang dimilikinya, diberikan kepada Saffir Azura Ansana sebagai mahar atas pernikahan mereka.


Ttd


Aiden Azam Antarest.'


Kertas itu bertandatangan dan memiliki stempel. Zura menatap kertas itu tak percaya.


“Apa kau gila?!” tanya Zura.

__ADS_1


“Gila?! Benar. Pernikahan ini terlalu gila sampai-sampai aku tak sempat menyiapkan cincin nikah atau mahar. Ini sungguh tidak seberapa. Jadi, terima saja.” Ucap Aiden.


“Tapi…” Zura masih ragu, itu benar-benar terlalu banyak.


“Aku sudah menuruti keinginanmu untuk menikah saat ini juga meski sangat mendadak. Jadi, setidaknya kamu juga harus menuruti ku sekarang.” Ucap Aiden tegas.


Zura akhirnya menghembuskan nafas, menyerah. Sesi pernikahan pun dilanjutkan dan berjalan singkat.


Zura dan Aiden kemudian duduk di sebuah bangku. Seorang fotografer bersiap mengambil gambar mereka untuk buku nikah. Aiden dan Zura pun tersenyum dengan professional. Mereka adalah aktor dan aktris. Bahkan jika mereka canggung, mereka masih bisa menutupinya.


Prosesi itu selesai. Dan sebuah buku nikah sekarang ada di tangan Zura dan Aiden. Zura menatapnya tak percaya.


“Hei..” panggil Aiden, membuyarkan pikiran Zura.


“Ayo pergi. Ah, tidak. Ayo pulang!” sambung Aiden.


'Pulang?'


Zura menatap Aiden dengan wajah terkejut.


Aiden menyeringai kecil sebelum berbalik pergi.


Sementara Zura yang wajahnya memanas, segera mengikuti langkah Aiden. Mereka pun keluar dari gedung itu.


Zura mendatangi Luci dan menyuruhnya pulang lebih dulu. Sementara aiden menyuruh Ken pulang menggunakan taksi. Kini tersisa 3 orang dengan paman Dika.


“Aku akan menunggu di dalam mobil.” Ucap Aiden yang mengetahui sedikit mengenai situasinya. Pasti ada hal yang ingin dibicarakan oleh gadis itu dengan pamannya. Aiden memberi ruang agar Zura dapat berbincang dengan pamannya.


Zura pun mengangguk.


"Terimakasih.." ucapnya singkat.


...*...


Zura memasuki mobil paman Dika untuk berbicara sejenak.


“Bajingan itu!!" Paman Dika segera mengendalikan dirinya, berhenti mencerca.


"Tidak! Aku sudah berjanji untuk menurutimu kali ini. Jadi…. berbahagialah.” Ucapnya kemudian.

__ADS_1


Zura menatap paman Dika. Ia bersyukur karena pamannya tak mempermasalahkannya untuk saat ini. Yah, meski sudah pasti di masa depan akan ada masalah yang harus dia hadapi.


“Terimakasih..” ucap Zura kemudian dengan tulus. Bagaimana pun, ia menghormati paman yang telah merawatnya sejak kecil.


Zura menundukkan kepalanya sekilas, memberi salam, lantas dia pun keluar dari mobil itu dan memasuki mobil Aiden.


...**...


“Sebentar sekali?” tanya Aiden sembari mulai melajukan mobilnya ke rumahnya.


Zura meliriknya sekilas.


“Yah.. bagaimana pun, paman menepati janjinya. Dan aku juga.” Jawab Zura.


"Janji?" Aiden mengerutkan dahinya.


"Ya. Aku berjanji akan menikah dalam 5 tahun, dan tenggat waktu itu berakhir hari ini. Sebagai gantinya, paman berjanji akan menerima siapa pun calon yang aku pilih."


"Dan itu aku."


"Benar.." ucap Zura lirih, menatap ke luar jendela.


Dia.. benar-benar sudah menikah?!


Ah.. Zura kini benar-benar sudah menikah.


...***...


...Hai semuaa...


...Maaf ya, update hari ini dikiit...


...Seperti alesan di novel yang satu, aku lagi sibuk...


...Dan aku up pas senggang aja karena ini non kontrak...


...Jadi maaf sekali lagi kalo aku suka ngilang...


...~Thanks buat dukungannya~...

__ADS_1


__ADS_2