Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Pengkhianatan yang Menyakitkan


__ADS_3

“Ugh…”


Aiden mencengkeram kepalanya yang terasa berat dan sakit. Ia ingat, semalam, dia mabuk berat. Lalu dia membuka pintu kamarnya dan..


“Aku tak ingat..” gumam Aiden.


Ingatannya terputus sesaat setelah dia membuka pintu kamar. Aiden pun bersiap beranjak dari tempat tidurnya masih dengan setengah kesadaran.


“Aaaaaaaaaaarghh!!”


Brak!!


Teriakan melengking itu membuat Aiden sangat kaget. Bahkan ia terlonjak sampai-sampai terjungkal jatuh dari ranjang. Aiden mengeluh dengan kesal. Sesaat setelah memaksakan kesadarannya, dia menatap sekitar kamar.


Dan betapa terkejutnya, kala tatapannya menangkap sosok seorang wanita yang menyembunyikan tubuh polosnya dengan selimut. Wajah wanita itu tampak pucat, dan matanya berair. Aiden cukup familiar dengan keadaan ini. Namun kali ini, kemarahannya tiba-tiba melonjak naik.


“SIAPA KAU?” Teriak Aiden dengan suara yang begitu menggelegar. Matanya menatap tajam perempuan tak dikenal yang tampak syok di depannya.


Apakah ia dijebak?


Tapi lebih parah lagi. Tidak pernah sekalipun dalam hidup Aiden dimana dia melupakan adegan bercinta, entah semabuk apa pun dirinya. Sayangnya, kali ini dia benar-benar tak mengingat apa pun. Pikirannya mendadak begitu kusut dan kacau.


“KAU YANG SIAPA?!!” Wanita itu balas berteriak dengan wajah yang seolah sangat frustasi.


“Apa?” Aiden tertawa dengan wajah yang sangat menyeramkan.


Apakah perempuan itu tengah bermain playing victim? Entahlah. Bukankah dia sendiri yang entah bagaiaman berada di kamar Aiden dalam keadaan telanjang bulat?


“TUTUP TUBUH MU DULU, BODOH!!”


Teriakan itu membuat Aiden sadar. Ah, ternyata dia memang tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Dengan enggan Aiden meraih bathrobe..


Kenapa tak ada bathrobe di sana? Aiden pun tak punya pilihan selai mulai memunguti dan memakai pakaiannya yang berserakan di lantai.

__ADS_1


‘Sial! Apa yang terjadi sebenarnya? Siapa wanita itu? bahkan jejak percintaan Nampak jelas di tubuh ku.’


Aiden kembali menatap tajam wanita yang masih meringkuk di atas ranjang.


“Apa yang kau lakukan pada ku? Kau bahkan menyusup ke dalam kamarku?”


Perempuan itu sesaat menatap kosong, lantas ia menyeringai dengan tatapan merendahkan.


“Aiden!! Bukankah aku yang harus berkata demikian? Kamu lah yang masuk ke dalam kamar ku. Merenggut kesucian ku. Lantas sekarang kamu menyalahkan ku?”


“Hah? Apa yang—“


Aiden seketika terdiam, menelan ludahnya. Ia kembali menatap sekeliling kamar itu.


“Berbeda..” gumamnya sangat lirih dengan mata yang menampakkan frustasi.


Benar. Kamar itu memang sedikit berbeda dengan kamarnya. Bagaimana bisa??


“Apa yang kau inginkan?” tanya Aiden lirih. Matanya bahkan berkaca-kaca.


Wajah wanita di depannya tampak sedikit syok. Namun Aiden tak peduli. Dia lantas mengambil sebuah cek kosong dari dalam dompetnya. Cek kosong yang tadinya ia persiapkan untuk suatu hal. Aiden melemparkan cek kosong itu ke atas ranjang.


“Ambil itu! Dan jangan pernah menghubungi atau mencari ku barang sekali pun!!” Ancam Aiden. Ucapannya sangat kasar dan kejam, namun matanya dengan pasti menunjukkan kesedihan yang seolah bisa tumpah kapan pun.


Aiden pun pergi. Tak lagi peduli tentang wanita itu.


Persetan!!


Hatinya sangat hancur. Hancur karena ia telah melakukan kesalahan fatal dan bercinta dengan wanita asing. Hancur karena ia tak mengingat apa pun. Hancur karena bekas kissmark dan cakaran dari punggungnya yang perih. Hancur karena telah merenggut keperawanan wanita dengan cara yang entah bagaimana. Dan hancur karena dengan teganya dia lari dari tanggung jawab dan merendahkan wanita yang telah dikotori olehnya.


Tapi, Ada hal lain yang paling menyiksa dan menghancurkan hati Aiden hingga ia merasa putus asa. Yaitu, fakta bahwa dia telah mengkhianati Saffir Azura dan berselingkuh.


Aiden membuka pintu kamarnya yang berada di sebelah kamar wanita tadi. Dia lantas menatap kamar itu dengan mata yang telah berkaca-kaca.

__ADS_1


“Shittt!! Shitt Shitt!!”


“SHIIITTT”


“AAAAAAAARGHHHHHH!!”


“AARGHH!!”


“Sial!! Aku memang bukannya tak pernah berselingkuh sama sekali! Kenapa sekarang..


“Kenapa??”


Aiden berjalan gontai melangkah ke dalam kamar mandi. Guyuran air yang dingin terasa menusuk kulit. Namun ia tak peduli. Ia memukulkan kepalanya ke dinding kamar mandi dengan pelan. Jika bisa, Aiden bahkan ingin memukulkan kepalanya sampai pecah. Tapi, masih sangat banyak hal.. yang ingin ia lakukan.


Aiden masih ingin bersama Zura, menikmati waktu lebih lama. Dan masih banyak tanggung jawab yang ia emban.


Hati Aiden semakin hancur saat ia mengingat poin-poin perjanjiannya dengan Zura. Dia telah melanggar salah satu ketentuan di dalamnya, selingkuh. Jika Zura tahu, apakah gadis itu akan menceraikannya? Apakah pernikahan mereka akan berakhir?


Selingkuh. Satu hal yang takkan pernah Zura maafkan.


Sekarang, apa yang harus Aiden lakukan?


“Haruskah aku mengakuinya dan meminta ampun? Tapi Zura mungkin takkan pernah memaafkannya. Lalu haruskah aku bersikap seolah tak terjadi apa pun?”


“Ah!! Pikiran ku kacau. Kenapa sekacau ini? Apa aku mencintai Zura? Ataukah terobsesi padanya?”


Aiden memejamkan matanya. Untuk waktu yang lama, dia membiarkan dirinya terguyur air dingin. Dan saat matanya terbuka, ia melihat pantulan dirinya yang samar-samar tercermin dalam keramik dinding kamar mandi. Bahkan bekas kemerahan dalam tubuhnya.


Aiden meninjukan tangannya ke dinding keramik itu dengan keras. Suaranya bahkan menggema. Ia sungguh ingin menghancurkan gambaran dirinya yang penuh jejak pengkhianatan itu. Tangan aiden bergetar hebat. Baru sekarang tangannya merasakan rasa sakit yang nyata. Begitu menyakitkan. Sangat menyakitkan. Aiden tertawa dengan wajah yang menampakkan ekspresi putus asa.


Darah mengucur pelan. Bagian yang dipukul Aiden adalah dinding keramik yang tidak rata. Karena itu pula tangannya terluka semakin parah. Ya. Rasa sakit itu sangat menyiksa. Beradu sangat selaras dengan hatinya yang sangat tersiksa. Antara rasa bersalah, takut, dan.. entahlah. Aiden sendiri tak tahu.


“Haruskah aku melepaskan Zura? Atau mengurungnya? Sial! Aku pasti sudah gila.”

__ADS_1


__ADS_2