
“Ahhh!! Para wartawan memang selalu menyebalkan.”
Wajah Aiden sekusut penampilannya. Dengan pakaian yang sekarang tak lagi rapi. Menyisakan sisa pertarungan hari ini dengan jelas. Para wartawan gosip memang terkadang sangat brutal. Dan tentu saja itu sangat mengesalkan. Membuat raut Aiden penuh asam. Ia bahkan memasuki mansionnya sambil berdecak dan menggerutu.
“Aiden..”
“Oh, sayang..”
Aiden kembali berseru saat mendengar suara merdu itu. Kali ini seruan gembira. Laki-laki itu membawa tubuhnya dengan binar mata cerah, menjatuhkan diri dan memeluk erat wanita yang masih berstatus sebagai istrinya.
Zura menerima pelukan itu, tanpa memberikan reaksi yang sama. Senyum Aiden merekah, meski secuil hatinya sedikit ngilu karena Zura belum sepenuhnya menerima keberadaannya.
“Kenapa hanya pulang dengan Heris? Dimana Ken?” tanya Zura kemudian. Memang hanya ada Heris di sana, yang mengangguk singkat dengan senyum ramah di wajahnya.
“Ken sibuk mengurus perusahaan dan para wartawan.” Ujar Aiden singkat.
“Dan kamu justru beristirahat?” Zura mengangkat satu alisnya. Padahal, Aiden adalah seorang aktris sekaligus CEO, tapi kadang hidupnya memang terlalu sesuka hati.
“Aku juga akan segera sibuk.”
Zura menghembuskan nafas.
“Ya, dan aku juga.”
“Ah, Aiden, tadi ibumu datang.” Ujar Zura lagi, yang mengingat kedatangan Monica beberapa saat lalu.
“Ibu? Apa yang terjadi? Ah, bagaimana jika kita bicarakan di atas saja? Aku lelah.”
Ya. Aiden memang tampak lelah. Karena ia baru saja menyelesaikan persidangan dan juga lari dari para wartawan. Zura akhirnya mengangguk. Ia ingin bercerita tentang kedatangan Monica, sekaligus mendengarkan cerita Aiden tentang jalannya sidang.
“Baiklah. Dan Heris, makanlah dulu. Ajak Helios sekalian, Oke?”
“Baik, kakak ipar, terima kasih banyak..”
...**...
Memang, keduanya memiliki sangat banyak kesibukan setelah hari itu.
Setelah saling bercerita mengenai kedatangan Monica dan sidang Aiden. Zura merasa cemas karena pertemuan dengan mertuanya tak berjalan dengan baik.
“Tak masalah, sayang. Percayalah.. lain kali kita akan bertemu ibu lagi.”
__ADS_1
Begitulah Aiden menghibur Zura. Sayangnya, Aiden menepati kata-katanya, bahwa setelah itu ia akan sangat sibuk. Dan Zura juga demikian.
Aiden memang memenangkan sidang. Namun, masalah Antarest Entertainment masih menghujaninya. Para petinggi banyak yang mengajukan petisi, beberapa klien dan perjanjian produksi dibatalkan. Kesibukan Aiden mengurus perusahaan juga membuatnya membatalkan banyak kontrak kerja sebagai aktor. Aiden tak memiliki waktu luang untuk kembali bercengkerama dengan Zura, apalagi untuk urusan syuting. Dan Aiden harus membayar penalti yang besar untuk itu.
Seminggu terakhir, skandal mengenai Zura dengan Rebecca dan Andre menjadi trending topic. Begitu pula skandal Aiden yang kini posisinya semakin di ujung tanduk dalam Antarest Entertainment. Terutama ketika sebuah fakta baru terkuak.
Fakta yang menjungkir balikkan segalanya.
“Aiden.. adalah anak haram?” gumam Zura lirih. Ia tampak syok, menatap Varlos dengan nafas tercekat.
“Ah, maaf. Bukan maksudku menghina Aiden.” Gumam Zura lagi, sesaat setelah menyadari betapa tajamnya mata Varlos.
Varlos mendengus. Ia mengaduk lemontea hangat di atas meja itu dengan malas. Perasaannya tengah buruk, dan dia memang tak terlalu menyukai lemontea.
“Di mana Heris dan Helios?” tanya Varlos kemudian, mengalihkan topik pembicaraan.
“Mereka bersama Aiden.” Jawab Zura singkat.
Wajah enggan Varlos tampak jelas. Berita mengenai Aiden sangat merusak mood nya. Dan Aiden malah menyuruhnya kemari menemani Zura. Padahal, sekarang Aiden lah yang jauh lebih membutuhkan dirinya.
“Jadi, ada urusan apa kakak kemari?” tanya Zura kemudian, setelah beberapa saat ia hanya diam mengamati Varlos.
“Aiden bodoh itu yang menyuruhku. Ck. Padahal dia pasti sedang kesulitan sendirian di sana.”
“Silahkan, tuan, nona..”
Zura tersenyum, menatap bi Inah yang membawakan mereka makanan ringan, dan tentu saja potongan buah yang seolah sudah menjadi menu wajib sekarang.
“Terimakasih, Bi Inah.”
Bi Inah mengangguk singkat. Ia juga mengangguk ramah pada Varlos.
“Jangan khawatir, tuan Varlos. Tuan Aiden sekarang sudah dewasa. Saya yakin dia juga sudah bisa mengendalikan hatinya. Ia akan baik-baik saja..” ujar bi Inah sesaat sebelum ia pamit mengundurkan diri.
Varlos hanya bisa menghela nafasnya dengan lelah. Interaksi mereka membuat Zura semakin berprasangka sendiri. Banyak plot drama yang berputar dalam kepalanya.
“Jadi, kakak ipar, apakah suami ku memang benar.. ehm, seperti yang dirumorkan?” tanya Zura lagi. Ia tahu pasti, menyebut istilah anak haram atau anak di luar nikah pasti akan membangkitkan amarah Varlos.
“Aku berhak tahu, Varlos..” sambungnya, dengan nada suara ditekan.
Varlos kini memandangnya dengan tatapan malas.
__ADS_1
“Apa yang kamu lihat di berita?” ujar Varlos, balik bertanya.
“Ehm.. Ya, bahwa Aiden adalah anak seorang wanita rendahan, dan bukan anak sah. Kurang lebih seperti itu.” jawab Zura dengan gamblang.
Nyatanya, semua berita yang ia lihat justru sangat merendahkan Aiden. Dipenuhi bumbu-bumbu yang mampu merobek nurani.
Varlos lagi-lagi menghela nafasnya dengan berat. Seolah ia tengah menanggung beban semesta di atas pundaknya.
Tapi sesaat kemudian, Varlos menatap Zura dengan senyuman miring yang merendahkan.
“Iya. Aiden memang bukan adik kandungku. Juga bukan putra kandung ibu. Dan memang benar, dia lahir dari seorang wanita bejat dengan status rendahan. Dan dia juga seorang anak haram.” desisnya.
Zura menelan saliva dengan kasar. Sungguh, itu berita yang sangat mengejutkan. Terlalu besar dan mengguncang hatinya. Tiba-tiba Zura merasa bahwa ia tak tahu apa pun tentang Aiden.
“Kenapa? Apa sekarang Saffir Azura yang suci dan dari kalangan terhormat merasa hina karena menikahi seorang anak haram?” sinis Varlos lagi. Wajahnya mengeras dengan amarah membara di matanya.
“Kenapa kau mengatakan hal seperti itu?” lirih Zura. Ia sama sekali tak merasa hina karena menikahi Aiden.
“Kenapa lagi? Suami yang kamu nikahi adalah seorang bajingan yang selalu bergonta-ganti wanita. Ia bahkan berselingkuh, melecehkanmu, lalu apa lagi? Sekarang kamu tahu bahwa dia hanya laki-laki hina yang lahir dari rahim seorang wanita malam. Selamat! Selamat, adik ipar. Sekarang kamu memiliki lebih banyak lagi alasan untuk segera menceraikan Aiden.”
Zura menatap Varlos dengan mata yang menyiratkan kesedihan. Karena mata Varlos yang ia lihat sekarang juga penuh dengan amarah dan kepedihan.
“Aku tidak berpikir seperti itu, Varlos.” lirih Zura.
Brak!
“TAPI SEKARANG SELURUH DUNIA BERPIKIR SEPERTI ITU!!” geram Varlos, yang menatap Zura dengan nanar.
“Termasuk pamanmu!” ujar Varlos lagi, yang kini berucap dengan lirih.
Zura kembali menelan saliva. Ia tak tahu kalau pamannya berpikir seperti itu. Dan ia juga tak tahu darimana Varlos tahu pamannya berpikir seperti itu.
“Tapi paman tak menemuiku lagi seperti sebelumnya. Setidaknya beliau hanya merasa sedikit khawatir pada ku.”
Varlos kembali duduk dengan wajah yang frustasi.
“Jadi, kau benar-benar tak masalah dengan status Aiden? Apa kau tidak akan menceraikan Aiden? Apa kau bisa berjanji untuk itu?” desis Varlos, dengan sebuah senyuman mengejek.
“Se- setidaknya, aku bisa berjanji bahwa aku akan berusaha mempertahankan pernikahan ini. Membela Aiden, dan berada di sisinya memberikan semangat. Setidaknya, aku akan berusaha sebaik yang aku bisa.”
“Huh?! Kita lihat saja.”
__ADS_1
Varlos lantas beranjak berdiri, meninggalkan Zura. Toh, percuma ia tetap di sini. Kondisi hatinya benar-benar buruk. Dan ia juga sangat mengkhawatirkan Aiden. Seolah ia ingin membunuh semua manusia yang sekarang tengah menghujat dan menyudutkan Aiden, sang adik tercinta.