
Aiden membalik tubuh Zura. Masih memangkunya, dengan posisi saling berhadapan. Tubuh mereka sangat dekat sampai hampir bersentuhan. Posisi yang tentu saja sangat intim. Dan otak Zura sudah bertraveling membayangkan berbagai hal. Sialnya, entah kenapa rasanya Zura takkan menolak jika Aiden meminta bercinta.
Wajah Zura menegang. Kedua tangan Aiden merengkuh punggungnya. Laki-laki itu kembali memberikan kecupan singkat di kening, pipi, bibir, bahkan telinga. Betapa membuncah hatinya saat Zura tak menolaknya. Padahal seingat Aiden, terakhir kali Zura masih sangat dingin. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Kebencian Zura, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan gadis itu rasanya sangat samar. Masih ada, namun hanya jejak dan sisa-sisanya saja.
Aiden terdiam sejenak, mengamati wajah cantik di depannya. Binar cahaya dan kehidupan seolah kembali bersinar. Aiden kembali diingatkan dengan sosok Zura yang selama ini ia kenal. Sosok yang membuat hatinya berdebar dan terus menginginkan Zura.
“Boleh aku menciummu?” tanya Aiden serak.
Zura menelan saliva. Ternyata, tubuh dan hatinya merindukan Aiden. Apakah ia telah jatuh cinta pada laki-laki ini? Sejak kapan? Kenapa?
Lamat lamat, Zura menatap Aiden. Hati dan pemikirannya berkelana.
Ah, ternyata begitu. Ternyata ia selama ini hanya menyangkal perasaannya. Zura kembali teringat dengan pernyataannya pada Aiden pada pagi hari setelah mereka melewati malam pertama. Aiden adalah laki-laki pertama dan satu-satunya yang membuat Zura terpesona sedemikian rupa. Sejak lama, bahkan mungkin sejak pertemuan pertama mereka. Sejak waktu yang sangat panjang itu, Zura hanya mengelak. Sejak Awal, ia telah mencintai Aiden.
“Apakah tidak boleh?”
Suara serak Aiden membuyarkan lamunan Zura. Ia menatap Aiden dengan sangat lekat. Ia ingin menyelesaikan lebih dulu permasalahan mereka. Zura menghembuskan nafasnya pelan. Hembusan yang membuat Aiden menutup mata, merasakan desiran angin yang pelan dan hangat. Menenangkan, mendebarkan, sekaligus memabukkan.
“Aiden..”
Zura mengalungkan tangannya di leher Aiden. Aiden kira Zura memberinya izin, nyatanya wanita itu melengos saat Aiden berniat mencium dan melummat bibirnya. Menolak cumbuan Aiden
“Maaf..” ujar Aiden kemudian, ia kini berpikir bahwa Zura tengah sengaja menyiksa batinnya yang bergejolak karena hasrat. Sengaja mempermainkan Aiden karena masih dendam.
“Apa yang kamu pikirkan mengenai hubungan kita selanjutnya, Aiden?” tanya Zura to the point. Ia tak ingin berbasa basi. Ia ingin meluruskan semuanya secepatnya.
Zura telah kembali. Zura yang menyikapi segala sesuatu dengan kepala dinging. Zura yang tak bertele-tele dan segera mencari kejelasan. Dan Zura yang dengan tegas memutuskan segala sesuatu.
“Aku akan mengenalkanmu pada ibu. Jika perlu, pada seluruh dunia. Aku hanya menginginkamu. Aku akan mempertahankan pernikahan kita apa pun yang terjadi. Aku mencintaimu..”
__ADS_1
Zura menelan saliva. Pernyataan Aiden mebuat hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya, Aiden mengatakan bahwa ia mencintainya. Oh, apakah ini mimpi? Bahkan jika ini mimpi, Zura merasa terenyuh. Hatinya bergetar mendengar ungkapan Aiden.
Namun tidak dulu, belum. Masih belum selesai. Masih belum waktunya bagi Zura berbahagia dengan ungkapan cinta Aiden.
“Bagaimana jika perempuan yang bercinta denganmu kemarin datang dan meminta pertanggungjawaban?”
“Aku tak mengingat apa pun pada malam itu, sayang.. Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi. Itu adalah pertama kalinya aku tak mengingat apa pun setelah bercinta dengan seorang wanita. Apalagi dia seorang perawan. Meski aku seorang bajingan, aku bukan orang yang akan mengelak dan tak tahu diri.”
Wajah Aiden tampak memelas.
“Percayalah, sayang. Aku bahkan mengingat samar-samar malam saat aku memper-.. maaf karena malam itu aku melakukannya dengan sangat kasar. Aku menyakitimu. Kita bercinta dengan cara yang tidak seharusnya. Tapi.... aku bahkan mengingatnya, meski aku sangat mabuk.”
Aiden menghela nafasnya dengan wajah tertunduk.
“Karena itu, aku tak berniat bertanggung jawab pada wanita malam itu. Aku akan katakan padanya bahwa aku sudah menikah, sudah memiliki istri yang sangat aku cintai, dan bahwa malam itu adalah kesalahan. Aku akan minta maaf padanya. Tak masalah jika aku lagi-lagi menjadi bajingan. Tak masalah jika karirku harus hancur. Asalkan..
“Asalkan kamu tetap mau bersamaku..”
Ah, jahat sekali. Jahat sekali Zura yang malah merasa lega saat mendengarnya. Jahat sekali Zura yang semakin yakin bahwa Aiden dijebak. Jahat sekali Zura yang memilih percaya pada Aiden. Ia akan tetap mencari tahu kebenarannya. Tapi tetap saja, Zura telah berada dalam keputusan finalnnya. Biarlah meski ia menjadi orang yang sangat egois. Biarlah jika ia menghancurkan kehidupan satu manusia. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Termasuk Zura. Termasuk Aiden juga. Termasuk wanita itu. Setiap orang pasti memperjuangkan kehidupannya sendiri. Membuat keputusan yang terbaik menurut persepsinya masing-masing.
Dan bagi Zura, mempertahankan hubungan dengan Aiden adalah keputusan terbaiknya. Karena ia tahu, melepas Aiden sekalipun takkan banyak berarti.
“Bagaimana jika dia hamil dan ternyata anak itu benar-benar darah dagingmu?” tanya Zura lagi.
Zura memang kejam. Ia yang berniat mempertahankan Aiden memang kejam. Bahkan ia sudah sepenuhnya melupakan perjanjian pernikahan mereka. Tapi jika anak tak berdosa itu benar-benar darah daging Aiden, entahlah. Mungkin Zura akan memilih menyerah dan mengalah saat itu. Jika saat itu tiba Aiden menikahi wanita itu untuk anaknya, Zura tak akan keberatan diceraikan.
Hanya saja, sampai saat itu tiba. Biarlah Zura bertahan sampai saat itu tiba.
Aiden masih membenamkan kepalanya di bahu Zura.
__ADS_1
“Aku berniat meminta Varlos merebut hak asuh anak itu. Aku sangat kejam, bukan?”
Zura terkesiap, mendorong tubuh Aiden, membuat mereka kembali bersitatap.
“Me- merebut hak asuh?” tanya Zura tak percaya. Rasanya telinganya pasti salah dengar.
“Ya. Aku akan tetap mencari tahu kebenaran malam itu. Tapi apa pun kebenarannya, bahkan jika aku yang bersalah, aku tetap akan mengambil hak asuh anak itu.”
Zura menghela nafasnya dengan kasar.
“Itu terlalu kejam, Aiden. Memisahkan ibu dengan anaknya itu terlalu kejam.”
“Bahkan jika kita bercerai, aku tetap tidak akan bisa menikahi wanita itu, Zura. Dan aku tetap harus mengambil darah dagingku.”
“Kenapa tidak bisa? Kau bisa menikahi wanita –
“Aku takkan menikah kecuali jika wanita itu adalah kamu.”
Aiden menatap tajam. Ada ketegasan dan keseriusan dalam binar matanya. Zura lagi-lagi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Padahal, dalam satu sudut hatinya, ia merasa bahagia karena apa yang Aiden ucapkan. Sungguh, Zura hanya manusia biasa. Manusia yang egois dan jahat, hanya karena ia juga menginginkan kebahagiaan.
“Zura.. aku tahu kamu pasti menganggap aku sangat hina. Tetap saja. Aku tidak berniat mengubah keputusan ku.”
Mungkin saja, di masa depan Aiden akan berubah pikiran. Tapi Zura tahu, Aiden yang sekarang, sudah sangat yakin dan mantap dengan keputusannya.
Perlahan Zura pun turun dari pangkuan Aiden dan berbaring di atas ranjang. Rasa sakit dan ngilu di sudut bibir dan kepalanya kembali terasa. Lebam di pipinya juga semakin jelas. Mungkin butuh beberapa hari. Padahal sebelumnya Zura melupakan semua itu. Bahkan ia sempat memikirkan ide bercinta dengan Aiden. Tapi sekarang, lagi-lagi Zura ragu. Lebih baik ia sembuh dulu.
Lagipula, suasana mereka sudah terlanjur tak lagi mendukung.
Aiden yang melihat sikap Zura tentu saja berpikir bahwa gadis itu sangat kecewa dengan keputusannya. Lagipula, sejak masalah kemarin, Aiden tahu bahwa hubungan mereka akna berbeda meski mereka tak bercerai. Bahkan Aiden rela jika ia harus menahan hasratnya, asalkan Zura tetap berstatus sebagai istrinya.
__ADS_1
“Tidur dan beristirahatlah..” ujar Aiden kemudian, dengan suara yang lirih. Ia memberikan kecupan ringan di kening Zura, lantas beranjak turun. Ia harus menemui kakaknya, Varlos, untuk mengurus masalah Andre dan Rebecca.
...**...