Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Sarapan Siang


__ADS_3

“Lupakan soal itu. Aku ingin mendengar tentang permasalahanmu, Aiden..” ujar Zura lagi.


Ya. Agaknya dia sempat lupa bahwa Aiden masih dihujani masalah sekarang. Para petinggi Antarest Entertainment yang semakin menyudutkannya, fakta kelahirannya yang terungkap, dan skandal lama yang kembali merebak. Posisinya sebagai aktor ikut terancam. Dan selama 2 hari terakhir sejak masalah kelahirannya muncul, Aiden baru pulang semalam.


“Em, tidak perlu mandi dulu?” tanya Aiden. Dia merasa risih karena tubuhnya sedikit lengket kembali meski sudah mandi. Aiden juga ingin sedikit mengundur waktu.


Sayangnya Zura menggeleng dengan tegas.


“Tidak. Jika kita mandi terlebih dahulu, kita akan berakhir bercinta lagi.”


Aiden mengerjap. Lantas ia terkekeh ringan.


“Jadi, kamu masih ingin-


“Kamu yang masih menginginkannya, Aiden..” potong Zura.


“Oh, atau kamu sudah tidak ingin la-


“Aku ingin!!” Kini Aiden yang memotong ucapan Zura. Dengan amat sangat semangat.


Zura merotasikan matanya. Darimana dia tahu Aiden masih menginginkannya? Dari dua hal. Pertama, Zura menyimpulkannya dari dua kali sesi bercinta mereka sebelumnya, minus semalam. Dan kedua, entah bagaimana menjelaskannya. Intinya wajah Aiden seolah mengatakan ia masih menginginkannya.


Tapi tak masalah juga sih. Karena toh, Zura juga menikmatinya. Anggap saja fase pengantin baru yang terlambat.


“Kalau begitu, bagaimana dengan ini. Kita bercinta dan mandi bersama untuk terakhir kali, lalu turun ke bawah.” Ujar Zura kemudian. Memang ia juga kurang nyaman dengan tubuhnya. Ia ingin berbincang dengan pikiran dan tubuh yang fresh.


“Bercinta sekali lagi lalu mandi bersama.” Timpal Aiden.


Zura mengernyit. Ia tak sebodoh itu untuk termakan jebakan Aiden.


“Maka sesi bercintanya akan menjadi 2 kali.” Protesnya dengan bibir mengerut.


“Haha.. hanya mandi, aku janji. Tapi dengan satu syarat.”


Aiden dengan antusias menunjukkan jari telunjuknya. Tak tanggung-tanggung, laki-laki itu mendekat, mengangkat tubuh Zura ke atas pangkuannya dan mendekap pinggang Zura.


“Bagaimana, hm?” tanya Aiden.


“Aku akan mendengarkan syaratnya lebih dulu.”


Aiden terkekeh. Ia sangat senang dan bahagia. Padahal sebelumnya ia sangat kalut menghadapi berita kelahirannya yang hina tersebar. Apalagi di tengah semua kekacauan dan masalah tanpa akhir. Kini, semua masalah yang tengah menerjangnya malah terasa ringan. Kedua netra indah Aiden menatap Zura, gadis cantik yang entah kenapa sudi menjadi istrinya.


“Aku ingin bercinta, tapi kamu harus memanggilku dengan sebutan sayang.” Bisik Aiden lirih, tepat di samping telinga Zura.

__ADS_1


‘Ah, Sial!! Rayuan gombal Aiden benar-benar terlalu berbahaya!!’


Rasanya Zura ingin terbang atau tenggelam sekalian. Wajah gadis itu merona. Aiden ingin ia memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Zura yang tampak tersipu malu menatap Aiden dengan gugup.


“Ehm..” dehemnya, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering.


“Bagaimana, hm?” tanya Aiden. Ia mulai kembali mengecupi leher Zura. Tangannya menyusup ke dalam bathrobe dan menyusuri punggung gadis itu, menggoda. Perlahan, Aiden kembali membangkitkan gairah Zura. Gairahnya sendiri masih setengah menyala, jadi tak sulit baginya untuk kembali ke posisi siap tempur.


“Em.. lihat saja nanti..” ujar Zura.


Aiden terkekeh. Sebenarnya, mau Zura memanggilnya demikian atau tidak, mereka tetap akan bercinta bukan? Aiden sudah sangat bersyukur karena ia bisa merasakan kehangatan Zura. Meski ia akan lebih lebih bersyukur lagi jika Zura mau memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.


“Baiklah.. ayo lihat nanti..”


Dengan cepat, Aiden mulai melancarkan aksinya. Menghujani Zura dengan cinta dan damba. Dengan sepenuh hatinya. Tak butuh waktu lama untuk membuat Zura mulai mengerang. Ia tahu dengan pasti titik sensitif gadis itu. Zura sekali lagi kembali diingatkan bahwa laki-laki di depannya memang sangat lihai urusan ranjang.


Aiden menjatuhkan tubuh Zura, ia dengan agresif menaikkan lagi gairah mereka. Dengan caranya tersendiri yang membuat Zura tak pernah jera dan bosan. Selalu ada sensasi baru yang membuatnya terpesona. Pun sekarang, saat Aiden dengan sedikit kasar mengangkat satu kaki jenjangnya ke samping pinggangnya.


“Aaaaaahhhhh!!”


Zura mengeratkan kakinya. Tangannya mencengkeram seprai saat Aiden tiba-tiba menyatukan tubuh mereka dengan sedikit kasar. Bahkan dalam sekali hentakan saja. Sedikit menyakitkan, namun lebih pada mengagetkan. Membawanya terbang bersama ledakan gairah. Lagipula, ia memang telah cukup siap menerimanya.


“Ah- Ai- Engh..”


“Ai—


Zura menggeram, urung memanggil Aiden. Ia menggertakkan giginya. Zura terlalu malu untuk meminta Aiden bergerak lebih cepat. Tidak, itu terlalu memalukan! Matanya memejam erat karena menahan hasrat. Ia yakin Aiden akan bersikeras menyiksanya seperti ini, bahkan jika Zura membalas, memancing hasratnya dengan berbagai cara. Lagipula, Zura tahu apa yang Aiden inginkan.


“Engh.. sa- sayang..” lirih Zura kemudian.


Baiklah, ia menurut, mengalah. Aiden hanya ingin merasa dicintai, sebagaimana Zura bahagia merasa dicintai oleh Aiden. Sayang, atau panggilan apa pun, Zura bersedia melakukannya. Ia hanya merasa malu, bukan tak mau.


...**...


Ken menatap dua orang yang tengah menikmati makanannya itu dengan sinis. Ada Heris di sampingnya, yang menatap antusias. Dan Helios? Laki-laki itu kini tengah melakukan patroli. Helios memang terlalu berdedikasi hampir dalam segala hal.


“Sarapan siang, huh?” sindir Ken. Ia tak habis pikir, bukan hanya baru turun dari kamar, Aiden bahkan bersikap sangat santai seolah ia manusia tanpa beban. Padahal sekarang ia berada di ambang kehancuran. Jika ia menambah satu lagi saja masalah serius, karirnya benar-benar tamat.


Aiden yang mendengar itu hanya mengangkat dagu dan menatap Ken datar.


“Aku sudah sarapan, ini makan siang.” Sahutnya.


Ken mendengus, “Maksudnya kamu sudah mendapat jatah?”

__ADS_1


“Uhuk.. uhuk uhuk..”


“Astaga, sayang, minumlah.” Aiden menyodorkan minuman ke arah Zura yang tersedak. Yang diterimanya dengan malu. Tubuh Zura rasanya remuk dan kakinya lemas karena ulah Aiden. Laki-laki itu juga memapahnya turun meski ia menolak. Memberikan tontonan untuk Ken, Heris, dan bi Inah. Rasanya memalukan sekali bukan?. Terlebih jika mengingat kissmark Aiden di lehernya. Laki-laki itu melarang Zura menutupinya.


“Aku benar-benar sudah sarapan tadi pagi. Zura yang memasaknya dan membawakannya langsung ke kamar.” Ujar Aiden. Memang benar begitu kok.


“Kami butuh stamina untuk menghancurkan ranjang.” Lanjutnya dengan suara menggoda.


“Uhukk..” sekali lagi Zura tersedak. Kenapa semua orang berbicara tanpa filter sih?


“Sayang.. hati-hati..” ujar Aiden lagi, sok perhatian. Zura hanya membalasnya dengan tatapan tajam. Ia lantas beralih menatap Ken, dengan sama tajamnya.


Memangnya hanya mereka yang pandai memojokkan?


“Apa kamu butuh pelampiasan, Ken? Barangkali kamu menganggur terlalu lama, stres berat mengurus Aiden, dan merasa iri mungkin?”


“Uhukk.. uhuk..” kini giliran Ken yang tersedak mendengar penuturan Zura. Astaga! Itu keterlaluan!! Ken hanya mendengus kasar dan membuang muka.


“Kakak.. jika kamu menyinggung asisten Ken, kamu yang akan kesulitan sendiri loh..” seloroh Heris menimpali. Laki-laki itu tersenyum-senyum sendiri.


“Ken takut dipecat.” Acuh Aiden, mengedikkan bahu.


“Oh ya? Kamu pikir aku tak berani?”


Melihat Ken yang terpancing, Aiden dengan segera berdehem pelan.


“Ehem.. kamu memang takut Ken. Bukan padaku. Setidaknya kamu takut pada kak Varlos kan?”


Entah kenapa Zura dan Heris merasa ikut merinding. Benar, Varlos memang menakutkan. Apalagi jika sudah terkait Aiden, adik kesayangannya.


Ken yang mendengar itu hanya mendengus pelan. Memang benar. Ia takkan berani jika menyangkut Varlos.


“Ehem.. Aiden, kamu tidak lupa jika kamu masih berutang penjelasan mengenai masalahmu sekarang, bukan?” tanya Zura kemudian, berusaha mencairkan suasana.


Aiden mendessah malas. Menyebalkan. Ia ingin melupakan itu. Bisakah ia hidup bahagia saja terus dengan Zura?


Zura yang melihat itu berdiri. Ia mengajak Aiden duduk di ruang keluarga. Lagipula makanan mereka memang sudah tandas.


“Heris, tolong bawakan beberapa cemilan.” Pinta Zura.


“Siap, kakak ipar.”


“Aku akan mengambil bir.” Ujar Ken.

__ADS_1


__ADS_2