Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Rasa dan Rahasia


__ADS_3

Semua orang selalu menganggap Zura sebagai wanita yang teguh, menjaga moral dan etika, penuh disiplin, ramah, dan berbagai title baik lainnya. Semua title itu mungkin tak lagi tersemat. Tetap saja, pandangan orang mengenai Zura pada umumnya sama. Mereka yang berinteraksi dengan Zura mengatakan bahwa gadis itu ramah dan sopan, serta lemah lembut.


Itu adalah pandangan semestinya. Karena Zura memang bersikap demikian pada orang-orang.


Namun, itu hanya sikap yang terlihat oleh mata manusia.


...**...


Di Vuittes Casino and Bar, ada sebuah ruangan yang disebut ‘bilik rahasia’. Seperti namanya, ruang itu adalah sebuah ruang rahasia yang mayoritas pengusaha kelas atas bahkan tak tahu. hanya segelintir orang yang mengetahui keberadaan dan cara aksesnya.


Dan salah satu dari orang itu kini tengah duduk sambil memainkan biola dengan sangat lihai.


Ia adalah seorang wanita yang mengenakan gaun renda mewah yang memamerkan lekuk indah tubuhnya. Gaun yang tak jauh berbeda dengan lingerie. Terbuka dan menerawang. Lagipula, pemilik tempat ini hanyalah seorang perempuan paruh baya yang buta. Tak ada cctv atau alat penyadap. Dan selalu hanya satu ‘pelanggan’ yang diizinkan masuk.


“Nada yang begitu sendu, huh?” tanya wanita tua itu, menyesap wine perlahan.


“Ya. Lagu ini sebenarnya lagu gembira. Ini salah satu lagu Karibia yang dimainkan dalam Karnaval Notting Hill dua tahun lalu. Dan aku memainkannya hingga terdengar sendu. Apa anda tahu lagu ini, nyonya?”


“Aku tak tahu.”


Sang pelanggan mengulas senyum, lantas memainkan kembali lagu yang sama dengan nada gembira. Bahkan pelanggan itu mengulang tempo lagu itu hingga tiga kali. Wanita paruh baya buta yang di depannya hanya diam tanpa berkomentar. Menunggu dengan sabar sampai lagu tersebut berhenti dimainkan.


“Bagaimana?” tanya sang pelanggan kemudian, meminta pendapat.


“Aku bisa merasakan suka cita banyak orang dalam sebuah pesta.”


“Benar. Itulah makna sebenarnya lagu ini. Nyonya, apa anda keberatan mendengar kisah?”


“Tidak. Meski aku sudah tua, aku menikmati suara saat seseorang berceloteh ria. Lagipula, aku hanya seorang wanita buta. bagaimana lagi aku menikmati waktu selain dengan memanfaatkan indra ku selain mata?”


“Anda bersedian mendengar cerita saya karena anda buta?”

__ADS_1


“Haha.. tidak juga. Aku mendengarnya karena aku pengangguran yang sudah tua.”


“Anda belum tua, nyonya. Meski terbilang sudah sekalipun, anda masih tampak cantik dan memesona.”


“Aku tahu..”


Keduanya kembali diam untuk beberapa saat. Sampai sang pelanggan kembali bersuara.


“Aku ingin bercerita mengenai prinsip, nyonya. Pada suatu hari di awal bulan Desember, seorang anak kecil yang sebelumnya baik-baik saja harus menelan pil pahit kehidupan. Ia kehilangan kedua orang tuanya pada usia yang masih sangat belia. Lalu, ia hidup bersama keluarga pamannya.”


Sang pelanggan memperbaiki posisi duduknya.


“Paman adalah satu-satunya keluarga yang tersisa yang ia miliki. Mendiang orangtua gadis itu selalu hidup sederhana. Berkecukupan namun tidak kaya. Mereka orang yang selalu menekankan mengenai prinsip hidup, prinsip hidup, dan prinsip hidup. Karena itulah, sang gadis sedikit terkejut saat mengetahui pamannya ternyata orang yang sangat kaya dan berpengaruh. Kehidupan mereka sangat berbeda.”


“Gadis kecil yang hidup dalam ajaran prinsip hidup, akhirnya menjalani kehidupan dengan ajaran itu. Prinsip menghormati yang lebih tua, prinsip bekerja keras, prinsip menjaga etika, prinsip tidak meninggikan suara, prinsip bertatakrama saat makan, dan prinsip-prinsip lainnya. Orang tuanya telah tiada, dan prinsip itu seolah menjadi wasiat yang harus ditunaikan. Peninggalan terakhir, sekaligus janji hidup yang mengikat.”


“Sayangnya, meski sang paman menyayangi gadis itu, meski sekarang ia hidup bergelimang harta, ia hanya seperti kenari emas dalam sangkar. Hidupnya penuh dengan batasan dan larangan. Dia harus membalas budi, menghormati, dan hidup dalam kekangan. Dan dia merasa kesepian.”


“Nyonya, meski ia kini merasa bahwa ia boleh berbuat sesuka hatinya, ia tetapa tidak bisa merasa tega. Hatinya kacau dan sakit. Semua yang ia tunjukkan hanya kepalsuan. Ia ingin hidup bebas, persetan dengan segala larangan atau prinsip sialan itu. Nyatanya, ia tetap akan tersenyum ramah sambil menyapa. Prinsip membuat hatinya kokoh menghadapi ujian hidup yang keras. Dan prinsip membuat hatinya sangat tersiksa menjalani tiap detik kehidupannya.”


“Nyonya, jika anda bertemu dengan gadis itu, saran apa yang akan anda berikan padanya?”


Lengang. Sang nyonya kembali menyesap wine di depannya, perlahan dan perlahan, hingga gelas itu kosong. Ruangan kedap suara itu hening untuk waktu yang lama.


Sang nyonya meletakkan gelas kosong di atas nakas sembari meraba-raba. Lantas, ia kembali tersenyum dan menatap lekat pelanggan di hadapannya.


“Nona.. kehidupan manusia terbentuk dari keseharian hidup. Terlepas dari seberapa banyak wajah palsu yang dinampakkan seseorang, watak manusia tetap terbentuk. Begitu pula dengan gadis malang yang ada dalam cerita anda. Meski hatinya menyangkal, nyatanya prinsip itu telah melekat menjadi jati diri. Meski hatinya ingin memberontak, nyatanya tubuhnya akan dengan lancang bersikap sebaliknya. Bersikap sopan, penuh etika, dan ramah.”


“Mengapa anda berpikir bahwa semua yang ia tunjukkan adalah kepalsuan? Meski hati kecilnya menolak dan memberontak, jauh di lubuk hati yang terdalam, semua prinsip itu sudah menjadi ruh, dan melebur ke dalam jiwa.”


“Jika gadis itu meminta saran padaku, maka aku akan menyuruhnya bertahan dengan caranya sendiri. Mempertahankan prinsip hidupnya, namun juga memberi ruang pada dirinya sendiri untuk bersikap bebas sesuai apa yang ia inginkan.”

__ADS_1


Sang nyonya tersenyum dengan senyuman yang teduh.


“Kenapa harus terkekang? Jika keduanya memiliki sisi baik tersendiri, lakukanlah keduanya. Apa anda tak mampu? Maka lakukanlah apa yang paling ingin anda lakukan. Tanyakan pada diri anda sendiri. Lagipula, manusia hidup hanya sekali. Sayang sekali, jika seseorang menyerah hanya karena ia merasa hidup kacau dan tak berjalan sesuai keinginannya. Yakinlah, bahwa sebuah kebahagiaan tengah menantimu. Meski kebahagiaan itu bukan sesuatu yang pernah kamu bayangkan.”


“Bukankah kebahagiaan itu memang sesuatu yang ambigu?”


“Karena itu pula, kebahagiaan memiliki bentuknya sendiri. Bentuk yang sama sekali tak terkira.”


Sang nyonya kembali tersenyum simpul, sembari mengakhiri kalimatnya. Mereka kembali terdiam, sampai sebuah suara lonceng terdengar nyaring beberapa kali. Tanda jika seorang tamu lain tengah menunggu.


Sang pelanggan akhirnya beranjak berdiri.


“Saya meminjam kamar mandi, nyonya..” ucapnya, yang dibalas dengan anggukan oleh sang nyonya.


Ia kemudian berjalan perlahan ke arah kamar mandi dan mengganti kembali bajunya dengan kemeja yang sebelumnya ia gunakan untuk datang kemari. Gaun renda ini hanya kamuflase, hanya sebuah pelampiasan atas dirinya yang ingin menunjukkan sisi lain. Dan nyatanya, ia memang tak cukup berani mengenakan gaun ini untuk berjalan.


Ayolah, pria bisa merobek gaun renda itu hanya dengan tarikan pelan. Siapa pula orang gila yang akan berani mengenakannya di tempat umum? Meski beberapa orang tetap akan berani memakainya saat menghadiri pesta atau fashion show.


“Terimakasih atas waktu dan nasihat anda, nyonya..”


Pelanggan itu melangkah pergi, membawa biola dan bingkisan berisi gaun renda di tangannya. Setelah mendengar kalimat demi kalimat yang disampaikan sang nyonya, ia merasa lebih tenang. Sungguh suatu keberuntungan ia mengetahui keberadaan bilik rahasia ini. Tempat berbagai orang dengan berbagai pikiran gila bebas bercerita. Dan ‘sang nyonya buta’ takkan tahu identitas atau rupanya.


Pelanggan itu pun menaiki sebuah mobil yang masih terparkir rapi di tempatnya. Sang sopir dengan setia menunggu tanpa banyak kata.


“Terimakasih telah menunggu. Sekarang, ayo kita pulang.”


Sang sopir hanya mengangguk singkat, mulai melajukan mobilnya. Mengantar sang nyonya muda kembali ke kediaman Aiden Azam Antarest.


Ya, pelanggan itu adalah Saffir Azura. Ia datang untuk bercerita, karena ia tak memiliki tempat untuk bersandar. Ia datang untuk mencari ketenangan dan petuah yang mampu memberikan kekuatan. Dan seperti biasa, ia beruntung karena tempat ini sekali lagi telah berhasil membuat hatinya sedikit ringan.


...**...

__ADS_1


__ADS_2