Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Sial, Aku lengah!!


__ADS_3

Mobil itu melaju menelusuri jalan di kota C. Malam di sini selalu hidup dan cantik. Jarak yang mereka tempuh tak jauh, jadi mereka segera tiba di rumah itu. Rumah milik Aiden.


"Ayo turun.." ucap Aiden, yang hanya dijawab dengan anggukan singkat. Dan mereka pun turun bersama.


Rumah itu besar, dengan halaman yang luas. Yah, wajar sih. Aiden seorang Raja Aktor sekaligus penerus Antares Group. Aiden kini memegang 30% saham Antarest Group. Jika dia fokus pada perusahaan, dia sebenarnya bisa memegang lebih banyak saham. Namun, Aiden juga sibuk dengan karirnya di dunia entertainment. Mau bagaimana lagi? Toh sekarang saja dia adalah orang kaya termuda nomor 1 dalam negeri.


Zura mengikuti langkah Aiden yang lebat. Mereka berhenti sejenak di depan pintu. Aiden tampak mengotak-atik sandi pintu itu.


“Mulai sekarang, sandi rumah ini adalah tanggal pernikahan kita. 210509.” Ucap Aiden.


Zura menatap Aiden dengan sedikit bertanya-tanya.


“Sebenarnya, tidak harus sampai seperti itu.” Ucap Zura.


Aiden hanya meliriknya sekilas, lantas memasuki rumahnya. Dengan canggung, Zura kembali mengikuti langkahnya. Namun, Zura segera teringat satu hal yang mereka lewatkan.


“Um.. maaf, tapi ada hal penting yang ingin aku bahas sebelum kita melanjutkan.” Ucap Zura.


Aiden menatapnya. Entah kenapa dia merasa buruk. Dia cemas mengenai hal apa yang akan dibahas oleh Zura.


“Kurasa tak ada hal semacam itu.” Ucap Aiden.


Zura melewatinya, dengan percaya diri duduk di salah satu sofa ruang tamu. Ini tak sopan, tapi dia perlu memimpin situasi saat ini.


“Duduklah. Ini takkan lama.” Ucap Zura.


Aiden dengan terpaksa duduk. Dia mendecak kesal dengan lirih.


'Ck.. lagipula Zura sudah menjadi milikku. Apa yang aku khawatikan.'

__ADS_1


Benar.


Sebenarnya Aiden sejak tadi ragu saat ingin mencium Zura. Bahkan dia ragu saat hanya ingin menggenggam tangan Zura. Ini aneh. Bukankah Zura sudah menjadi miliknya? Aiden merasa terlalu terbiasa dengan dinding kokoh milik Zura. Sehingga saat ini sekalipun, Aiden berpikir bahwa dia harus berhati-hati atau Zura akan kabur lagi darinya.


Zura mulai mengeluarkan berkas dari tasnya. Aiden mengerutkan kening menatap selebaran itu.


'Apa itu kontrak pernikahan? Bahkan gadis ini sudah menyiapkan hal semacam ini?'


Ekspresi muram dan kesal tampak sangat jelas di wajah Aiden. Dia tak berniat menutupinya.


“Um.. bacalah. Kamu bisa mengajukan komplain. Kita bisa mengganti salah satu pasalnya. Aku akan mengesahkan kontrak ini-


“Apa kau sedang bercanda sekarang?” ucap Aiden dingin.


Zura menatap Aiden yang tampak kesal.


“Aku akan menghormati pendapatmu. Setidaknya, kamu bisa membacanya lebih dulu.” Ucap Zura, berusaha meyakinkan.


Pernikahan mereka tidak palsu. Dan pasal-pasal itu adalah bentuk penghormatan satu sama lain. Aiden membaca beberapa pasal yang membuatnya tergelitik dan dia menyerigai kecil.


Pasal 7. Apabila salah satu pihak terbukti melakukan perselingkuhan, maka pihak lain berhak mengajukan perceraian dan pihak yang bersalah wajib menandatangani surat cerai.


Pasal 9. Hubungan s*ksual dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak dan pihak A harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Pihak B harus menghormati pihak A saat menolak untuk suatu alasan. Tidak boleh memaksakan **** saat menstruasi dan dilarang melakukan kontak fisik berlebihan di tempat umum atau terbuka.


Pasal 15. Jika pihak B memiliki anak diluar nikah, permasalahan akan dibicarakan secara damai bertiga dengan ibu kandung sang anak. Apabila pihak B harus bertanggungjawab atas anak itu, pihak A akan menerima dan merawat sang anak dengan baik bersama pihak B.


'Anak diluar nikah?!'


Astaga.. Aiden ingin tertawa. Meski begitu, dia mengakui bahwa pasal-pasal itu sangat rasional. Seperti sebuah perjanjian untuk menanggulangi masalah yang mungkin akan muncul dalam hubungan mereka kedepannya. Beberapa pasal lain juga membahas tentang hal-hal seputar hak dan kewajiban suami dan istri. Dan juga, kebanyakan isi pasal itu menguntungkannya.

__ADS_1


'Kalo sebatas ini, ku pikir tak masalah.' batin Aiden.


Tanpa pikir panjang, Aiden menandatangani kontrak itu. Kontrak yang terasa sudah sangat lengkap. Dan pasal terakhirnya pun menyatakan kemungkinan adanya perubahan atau tambahan dengan persetujuan kedua belah pihak.


Zura menatap Aiden. Dia sedikit tak percaya.


'Apa memang semudah itu?'


“Kamu.. tak ingin menambah apapun?” tanya Zura.


“Tidak. Aku suka ini. Sekarang, ayo aku antarkan ke kamar.” Ucap Aiden.


'Lihat saja, begitu sampai di kamar, Aku akan langsung mengunci pintunya dan menerkam habis tubuh mu.' batin Aiden. Ia menyeringai kecil.


Pikiran Aiden merencanakan berbagai hal kotor. Memilah mana yang terbaik. Sungguh rasanya tak sabar. Namun Aiden tahu bahwa ia harus sedikit bersabar lagi.


'Setidaknya, sampai kita masuk ke dalam kamar. Dan Aiden akan segera mengunci seorang Saffir Azura di dalamnya.'


Zura mengikuti Aiden menaiki tangga. Berapa kalipun dia melihat, setiap ruang di rumah itu memang indah. Tidak terlalu mewah, menampilkan gaya elegan namun kuat. Tidak ada lampu warna-warni yang menyilaukan mata. Tidak ada dekorasi yang berlebihan. Dan tiap sudutnya seolah diperhatikan dengan sangat baik.


'Benar-benar sisi Aiden yang berbeda. Namun, bukankah orang ini memang selalu begitu? Penampilannya selama ini juga selalu sangat bagus.'


Zura menatap punggung Aiden. Ia tak bisa memungkiri bahwa dia merasa aman dan tenang. Perasaan aneh untuk orang yang selama ini paling dia hindari.


Punggung yang gagah itu tengah menuntunnya naik, menyusuri rumah itu, lalu berhenti di depan sebuah kamar. Aiden membukakan pintunya. Tangannya menunjuk ke dalam, seolah mempersilahkan Zura untuk masuk. Zura pun mengangguk kecil, memasuki ruangan itu. Aiden mengikutinya di belakang, lantas menutup pintu.


Ceklek..


'Eh?!!'

__ADS_1


Zura berbalik. Menatap punggung Aiden dan tangannya yang tengah mengunci pintu kamar itu. Seketika wajah Zura memanas.


'Sial! Aku lengah.' Batin Zura, mengutuk diri sendiri. Menatap Aiden dengan wajah yang memucat.


__ADS_2