Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Masalah Baru


__ADS_3

"A- alat penyadap?!"


“A- Aiden.. kamu bilang, alat penyadap?” ulang Zura saat Aiden tak menjawab pertanyaannya.


Aiden mendengus.


“Ya. Itu alat penyadap. Dan orang yang paling memungkinkan menaruhnya di situ hanya Ken.” Sungut Aiden.


Zura kembali menatap Ken. Wajah gadis itu penuh tanya.


“A- apa benar, Ken?” tanya Zura.


Ken hanya diam, kepalanya menunduk.


“Kamu mendengarnya? Percakapan kami? Semuanya?!” tanya Zura lagi, suaranya terdengar lirih dan parau.


Kepala Ken menunduk semakin dalam. Bahkan kini Heris dan Helios juga tampak menunduk. Jelas sekali menunjukkan bahwa mereka merasa bersalah.


Seketika Zura merasa sakit kepala.


Aiden lagi-lagi mendengus, meski kali ini tidak sekeras sebelumnya. Tangan Aiden mulai mengusap punggung Zura dengan pelan.


“Tidak apa. Ken bisa dipercaya.” Ucap Aiden, berusaha menenangkan.


“Ta- tapi..” Wajah Zura masih tampak pucat, ia masih belum bisa menerimanya.


“Ken melakukannya karena peduli pada ku. Maafkan dia. Ini juga salah ku. Aku pasti sudah memberikan beban yang sangat besar di pundak Ken.”


Seketika Ken mengangkat wajahnya, menatap Aiden dengan mata terharu. Bahkan Heris tampak berkaca-kaca. Aiden hanya melengos. Jika bukan karena Zura tampak sangat panik, Aiden takkan sudi membela Ken.


Ayolah, dia baru saja berdamai dengan Zura! Jika mereka kembali bersitegang, betapa apesnya Aiden nanti!


Zura akhirnya menatap Aiden sekilas dengan wajah yang lebih tenang. Ia menghembuskan nafasnya begitu panjang. Baiklah, tak masalah Ken tahu. Zura hanya merasa sedikit keberatan karena Ken tahu dengan cara memasang alat penyadap. Tapi sekarang setelah dipikir ulang, Zura pikir ia tak keberatan lagi. Melihat hal itu, Aiden kembali menatap Ken dengan tajam.


“Mendekat kemari!” titah Aiden.


Ken, Heris, dan Helios pun mendekat.


“Maafkan kami, nona..” ucap Helios mengawali, menatap wajah Zura dengan tenang, namun matanya menampakkan kesungguhan.


“Maafkan kaamii, noonaaa..” Heris dengan cekatan mengikuti saudara kembarnya, yang berbeda adalah nada bicara mereka.


“Ma- maafkan kami, terutama saya, nyonya..” cicit Ken, ikut meminta maaf.


Zura masih diam, dia tampak memalingkan wajahnya, membuat ketiga orang yang bersalah itu merasa semakin bersalah.


Aiden menatap Zura sejenak. Gadis itu memang tampak kesal dan mengerucutkan wajahnya. Namun, pipinya sedikit merona. Ah, ternyata dibanding marah, Zura merasa malu karena percakapannya didengar langsung oleh orang lain. Aiden kembali menatap ke arah tiga kriminal itu.


“Sejauh apa kalian mendengarnya?” tanya Aiden. Tak ada satu pun yang menjawab.

__ADS_1


“Jadi, kalian mendengar semuanya?” tanya Aiden lagi. Mereka masih tak menjawab.


“Aiden.. apa itu sungguhan?” tanya Ken kemudian, memutuskan bersuara. Ia memanggil nama Aiden alih-alih dengan kata tuan.


Aiden lantas mendengus. Ken tak tahu sedikit pun tetang hal ini. Padahal Aiden tak pernah menyembunyikan apa pun sebelumnya. Aiden melirik sekilas ke arah benda yang masih terpasang di vas bunga itu. Dan dia memutuskan mengabaikannya.


“Ya. Itu benar.” Jawab Aiden akhirnya.


Zura hanya diam. Lebih baik ia mendengarkan saja percakapan Aiden dengan Heris, Helios, dan Ken. Lagipula, mereka jauh lebih mengenal Aiden. Dan Aiden juga sangat mengenal mereka. Ini juga sebuah kesempatan untuk Zura memahami Aiden lebih dalam.


“Apa hanya itu? Hanya karena kamu bermalam? Maksudku, kamu tampak lebih terbebani.” tanya Ken lagi. Aiden diam sejenak.


“Wanita itu, gadis yang bermalam dengan ku saat itu.. Dia bilang dia masih virgin.” Ucap Aiden.


Semua orang terkejut. Tapi yang paling terkejut adalah Zura. Untuk sesaat, dia bertanya-tanya apakah keputusan mempertahankan pernikahan ini adalah hal yang benar atau tidak. Haruskah dia berpikir ulang?


Aiden menatap Zura. Wanita itu tampak sangat syok. Aiden paham mengapa Zura merasa seperti itu. Sebelumnya ia juga sangat dilema.


“Jangan berpikir untuk kabur setelah kamu berjanji akan bersama ku, Zura.” Ucap Aiden, bahkan setengah mengancam.


Awalnya Aiden pikir Zura akan menceraikannya tanpa pikir panjang. Terlebih, pernikahan ini terjadi karena akal bulus Aiden. Setelah Zura mengatakan bahwa ia berniat mempertahankan pernikahan mereka, Aiden bertekad untuk mempertahankannya apa pun yang terjadi. Bahkan jika Zura berubah pikiran, maka ia akan memaksa Zura mengubah kembali pikirannya. Zura ternyata cukup menghargai pernikahan mereka lebih dari yang Aiden pikirkan. Dan setelah mengetahui fakta itu, bodoh jika Aiden melepaskan Zura begitu saja.


Zura menghembuskan nafasnya panjang.


“Aku sebelumnya tak tahu tentang ini, Aiden..” ucap Zura. Wajahnya kini tampak gelap.


Zura merasa sangat ragu dengan keputusannya. Aiden telah merenggut kesucian seorang wanita.


Lebih baik mengakui suatu kesalahan di awal dibandingkan membuatnya semakin runyam di kemudian hari. Memiliki keberanian semacam ini adalah hal yang sangat sangat sangat berat. Adakalanya di mana tubuh, hati, pikiran, dan jiwa seorang pelaku yang tidak sengaja melakukan kesalahan dan dihantui rasa bersalah jauh lebih hancur daripada perasaan korban.Perasaan itu yang mendera Aiden berhari-hari terakhir. Ia enggan makan, enggan bekerja, enggan bergerak, enggan menyapa dunia, dan enggan segalanya.


Aiden tak mau terkurung dalam perasaan ini semakin dalam. Karena itu lah, ia kini memberanikan diri, menatap Zura lekat.


“Zura.. tolong dengarkan aku sampai akhir.” Ucap Aiden. Zura menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya dengan panjang. Mempersiapkan hati agar tetap tenang dengan apa yang akan Aiden sampaikan.


“Aku-


BRAKK!!


Cekrek cekrek!! Cekrek cekrekk!!


“Heii!! Apa yang kalian lakukan!!”


“Ini rumah sakit!!”


Seketika suasana tenang itu menjadi sangat riuh. Aiden menatap tajam kerumunan wartawan yang kini tengah ribut, diiringi dengan silau sinar blitz kamera. Ken, Heris, dan Helios yang terpaku sejenak langsung panik. Berusaha mengalihkan wartawan. Berusaha menyuruh mereka keluar. Masalah apa yang tengah menghantui mereka?


Pun Zura. Ia menatap ke arah kerumunan itu, yang kini sangat ribut. Entah kenapa, mendapat sorotan lampu blitz yang terus mengambil gambarnya, Zura merasa kakinya lemas. Setelah menghilang dari dunia entertainment, sosoknya justru muncul di bangsal Aiden.


Firasat buruk apa ini? Kenapa rasanya sangat menakutkan?!

__ADS_1


...**...


Malam menjelang.


Ponsel Aiden masih terus berdering. Pun Ken. Dua manusia itu sangat sibuk dengan ponsel mereka. Jika bisa, mereka ingin mematikan ponselnya. Namun apa daya, semua panggilan itu adalah panggilan penting. Aiden bukan sekedar aktor, dia juga seorang putra Astarest Group. Posisinya sekarang semakin disudutkan. Masalah yang kini menghantui perusahaan membuat para pekerja harus lembur. Saham perusahaan juga turun drastis.


Benar-benar sebuah mimpi buruk yang berada di depan mata.


“Hah?? Blokir semua itu.”


"..."


“Tunggu, apa?! Kenapa pula dugaan itu keluar?”


"..."


“… Selidiki terlebih dulu akar masalahnya.”


"..."


“TIDAK! Aku tak melakukannya! Kau gila??”


Zura menghembuskan nafasnya. Rasanya menyesakkan. Keberadaan Zura di bangsal Aiden saat para wartawan datang membuat masalah semakin rumit. Dan tak ada yang bisa ia lakukan. Zura mengeluarkan ponselnya. Ia mematikan data seluler untuk semua aplikasi pesan. Tak ada yang bisa ia lakukan, bukankah akan membantu jika ia mencari tahu gosip dan kabar terbaru yang beredar? Zura akhirnya mulai duduk dan memainkan ponsel. Mengetikkan berbagai kata kunci dan membaca artikel-artikel yang terus bermunculan.


Sang Raja Aktor, Aiden Azam, diduga dalam kasus pelecehan.


Kemana hilangnya uang senilai 5 triliun?


Dugaan korupsi dan penggelapan Raja Aktor sekaligus pewaris Antarest


‘Sang Ratu Skandal’ ditemukan bersama Aiden dalam bangsal


Saffir Azura Dan 4 Pria Dalam Satu Kamar. Apa Yang Terjadi??


Zura menghembuskan nafasnya pelan. Kebanyakan berita lain membahas tentang keberadaannya di ruangan Aiden. Apanya yang kamar?? Apa para reporter itu gila?? Mereka jelas-jelas sedang berada dalam bangsal rumah sakit.


Spekulasi-spekulasi para netizen semakin gencar berpesta pora di dunia maya. Aiden memang raja aktor dengan jutaan fans. Namun dia juga memiliki banyak reputasi buruk sejak lama. Dan hal itu membuat situasi sekarang semakin panas.


“Shiiiittt!!”


Teriakan Aiden membuat Ken menoleh. Ia tengah sibuk dengan laptop di tangannya karena harus meninjau situasi dan mengarahkan bawahannya untuk menghapus semua artikel itu dalam waktu singkat. Zura juga menoleh, menatap Aiden yang tampak frustasi, mengacak kepalanya. Wanita itu pun berdiri dan mendekat ke arah Aiden. Tangannya mengusap punggung laki-laki itu dengan lembut.


“Bagaimana jika kita matikan saja dulu ponselmu, Aiden. Kamu butuh ketenangan. Kondisimu juga belum baik.” Bujuk Zura.


Aiden menatap perempuan itu, lalu dibawanya ke dalam dekapan hangat tubuh kekarnya.


“Maafkan aku.. Aku membuat masalah lagi.” Ucap Aiden lirih.


...**...

__ADS_1


...ada yang nungguin??...


__ADS_2