Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Mau Bermalam Denganku?


__ADS_3

“Jadi, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?” tanya Aiden, menatap Zura lekat. Ia lantas melempar pandangan ke arah Varlos.


“Kakak juga. Bagaimana kakak sampai di sini? Bisa kalian jelaskan?” sambungnya.


“Benar. Saya juga tak mengerti.” Ujar Ken setuju.


“Kamu ingat aku sempat membuka ponsel saat di kamar hotel?” tanya Zura. Aiden hanya mengernyit, berusaha mengingat.


“Intinya, saat itu aku membuka file yang dikirim paman. Kamu bisa menebak sisanya bukan?”


“Aku juga mendapat kiriman file dari Andhika Ansana beberapa saat setelah skandal ini meledak. Sisanya, aku hanya bekerja cepat. Selain itu, kamu cukup berterimakasih saja, adikku.” Varlos tersenyum mengejek, dan Aiden hanya menggerutu.


“Jadi karena itu kamu meminta Aiden diam? Aku mengerti jika kamu ingin membalas Aiden atau memberi pelajaran misal. Tapi, bukankah setidaknya aku juga harus tahu?” tanya Ken pada Zura.


“Ken, aku hanya tahu dua hal yang ku katakan tadi. Itu pun aku masih tak tahu kebenarannya. Waktunya juga terlalu mepet. Sisanya, ku rasa kak Varlos yang lebih tahu. Aku hanya sedikit menebak dan.. memojokkan?”


Ken hanya mendengus. Dan Aiden menatap Varlos kesal.


“Jadi, sisanya itu apa? Aku juga perlu tahu kan kak? Setidaknya, apa aku benar-benar salah satu orang yang..” Aiden menelan saliva, tak melanjutkan.


Varlos balas menatap Aiden dengan satu alis terangkat.


“Aku tak tahu.” Jawabnya cuek.


“Kak!!” seru Aiden kesal.


“Aku benar-benar tak tahu, adikku sayang. Tapi menurutku, jika kamu bilang tak ingat, maka itu tak terjadi. Yang aku tahu, kamu kembali ke kamar dini hari bukan? Dan sepertinya itu sekitar setengah jam sebelum.. para pak tua bajingan sebelumnya keluar dari kamar itu.”


Aiden, Ken, dan Zura pucat.


“Ja- jadi, gadis itu.. oleh banyak orang..” Ken terbata. Untuk bertanya pun enggan.


“Ia melakukan operasi selaput dara sebelumnya, kalian sudah tahu bukan? Sepertinya itu membutuhkan biaya yang terlalu besar untuk keuangannya. Jika aku tak salah, dia mengumpulkan uang sebelumnya dengan menjadi.. wanita panggilan. Lalu, kakaknya yang bajingan marah besar saat tahu uang mereka habis demi operasi itu. Dan, ya.. dia dijual oleh kakaknya sendiri, kepada banyak orang sekaligus. Dan uangnya dibawa kabur. Hanya itu yang aku tahu. Jadi, aku tak tahu apakah Aiden juga melakukannya atau tidak.” Ujar Varlos panjang lebar. Ia lantas menatap Zura dalam.


“Tapi, adikku bilang dia tidak ingat apa-apa. Dan aku percaya padanya.” Sambung Varlos.


Zura hanya mendengus.


“Lalu, kenapa wanita malang itu sekarang ditangkap polisi?” tanya Zura.


Varlos mengedikkan bahunya dengan acuh.


“Pencemaran nama baik? Penipuan? Well, aku sedikit mengubah fakta.” Jawab Varlos enteng.


Zura menganga tak percaya. Varlos benar-benar gila jika menyangkut Aiden. Entah apa yang laki-laki itu lakukan untuk membuat semua kesalahan ada pada gadis malang itu dan.. hanya demi menyelamatkan wajah Aiden?


“Hei.. kenapa menunduk hem?” tanya Varlos. Zura dan Ken menatap Aiden, yang memang tampak lesu.


“Aku berterimakasih. Tapi.. bagaimana jika aku memang melakukannya juga? Aku hanya merasa bersalah dan.. takut? Lalu, aku tak suka saat kakak bermain kotor hanya untukku. Kakak tahu itu bukan?”


Aiden menatap Varlos sedih. Ya, kakaknya itu selalu cerdas dan tegas. Namun, laki-laki itu rela mengotori kehormatannya dengan menggunakan cara kotor hanya demi dirinya. Dan Aiden tak suka.


Varlos menghembuskan nafas.

__ADS_1


“Kakak tahu. Kakak memang sedikit buruk melakukan penangkapan wanita itu dengan cara tadi. Tapi tenanglah, kabarnya belum beredar. Kakak melakukan hal tadi hanya agar kakak bisa menginterogasinya. Nanti, jika memang kamu juga terlibat, kakak takkan menutup mata dan.. meng-kambing hitamkan?”


Aiden tersenyum tipis. Ya, seperti inilah kakaknya. Terkadang menggunakan cara kotor, namun tetap memiliki hati bersih. Ia takkan menutup mata jika Aiden memang bersalah.


...**...


Aiden telah banyak berubah. Zura juga banyak berubah. Bahkan Ken juga banyak berubah. Meski perubahan tak selalu mengarah ke yang lebih baik. Seiring waktu, manusia tetap akan selalu berubah.


Bagi Zura dan Aiden, semua masalah yang mereka hadapi mengajarkan mereka bahwa hubungan itu rumit, namun sebenarnya hanya tentang memahami. Dan memahami berbeda dengan menerima. Zura belajar untuk lebih dingin menghadapi permasalahan Aiden. Lebih terbuka, bertanya, menerima, memahami pandangan lain, namun tetap menyelidiki sendiri. Manusia akan melihat hal yang berbeda tergantung dari sudut mana matanya melihat.


Zura memahami, bahwa Aiden tak sepenuhnya bersalah. Tidak selama Aiden tak memiliki ingatan apa pun tentang malam itu. Namun, bukan berarti ia menerimanya begitu saja. Aiden juga tahu. Jika ia terbukti bersalah, Aiden mungkin harus melepas Zura. Mungkin, ia juga harus mempertanggungjawabkan janin yang entah milik siapa.


“Rumit ya..” ujar Aiden lirih. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk rileks. Zura juga sama. Merebahkan diri di atas ranjang adalah hal terbaik untuk mengistirahatkan otaknya.


“Menurutmu, kapan Kak Varlos akan membawa kabar terharu?” tanya Zura, sama lirihnya.


“Entahlah. Haaa.. Zura, jika aku bersalah, apa yang akan kau lakukan?”


“Entah. Mungkin, bercerai?”


“Hm.. itu bagus. Aku setuju. Tidak baik mempertahankan rumah yang tiang penyangganya sudah penuh keropos.”


Zura sama sekali tak menyangka seorang Aiden akan mengucapkan hal itu. Tapi mungkin, memang itulah yang terbaik.


“Ya. Pasti akan sulit untukku.”


“Dan lebih sulit lagi untukku.”


“Benar.”


“Aiden..”


“Hm..”


“Kau tak ingin mengajakku bercinta?”


Pertanyaan Zura membuat Aiden membuka mata, ikut memiringkan rubuh menghadap Zura.


“Kau ingin bercinta?” tanya balik Aiden. Zura hanya tersenyum dan menggeleng.


“Aku hanya bertanya.”


“Biasanya orang menanyakan itu sebagai kode, karena ingin diajak bercinta.”


“Hm, aku tak menyangkal. Tapi itu bukan aku. aku kan memang tidak biasa, atau mungkin situasi kita yang tidak biasa.”


“Lalu, kenapa kamu bertanya?”


“Karena aku pasti akan merindukanmu.”


Diam. Keduanya diterpa rasa sepi dan kekosongan. Zura memutuskan berinisiatif mendekati Aiden, memeluk laki-laki itu.


“Aku lelah. Bisa kita tidur saja?”

__ADS_1


“Ya, tentu. Aku juga lelah.”


...**...


Setiap orang yang dekat dengan Varlos mengetahui satu hal. Bahwa laki-laki itu bisa menjadi gila jika menyangkut Aiden. Sejak status anak haram Aiden terkuak, banyak orang yang penasaran tentang tanggapan Varlos. Apa dia merasa tertipu? Apa dia akan membenci Aiden? Apa dia akan mengambil alih seluruh Antarest Group?


Pasalnya, ketenaran Aiden sebagai artis membuat namanya dikenal sebagai pewaris Antarest. Sedangkan Varlos yang terjun dalam dunia hukum malah terkesan menyembunyikan identitasnya sebagai Antarest. Orang-orang yang mengenalnya mulai berpikir bahwa Varlos mungkin akan merebut kekuasaan Aiden. Dan hari ini, semua argumen mereka terpatahkan. Bahkan Nyonya Monica yang sebelumnya jarang terlibat juga muncul secara langsung dan malah membela Aiden. Bukankah seharusnya Aiden yang anak haram dibenci?


“Anda sendiri yang akan masuk?” tanya Jeska, asisten baru Varlos.


Varlos menatap gadis itu. Perempuan yang ia kenal belum lama. Dan kebetulan cara kerjanya sangat sesuai dengan kriteria yang Varlos inginkan. Padahal, Jeska sebenarnya dari keluarga yang cukup berada. Namun dia tumbuh menjadi gadis baik hati yang cekatan dan cerdas.


“Hm, kamu tak terlalu terkejut?” tanya Varlos balik.


“Saya sudah menduganya. Dan saya tak terkejut lagi sejak saya sedikit menyimpulkan tentang hubungan anda dengan tuan Aiden.” Ujarnya kemudian.


Jeska memang sedikit terkejut. Varlos memiliki banyak kenalan polisi hingga jaksa penyidik. Dan terkadang, laki-laki dengan ketegasan dna keadilan tinggi itu bermain kotor. Contohnya saat ini, jika bukan karena koneksi, Varlos tak mungkin bisa masuk untuk menginterogasi Kisya Atrida secara langsung. Tapi, masih terlalu banyak hal yang membuat Jeska penasaran dengan sosok di depannya. Jeska menatap Varlos lekat.


“Tuan Var, boleh saya bertanya hal pribadi?” tanya Jeska lagi, ia melangkah mengikuti Varlos yang tengah menyeka darah di tangannya.


Entah apa yang barusan laki-laki itu lakukan di dalam ruangan bersama Kisya Atrida. Jeska hanya bisa berharap Varlos tidak menyiksa seorang wanita yang tengah mengandung. Tapi jika begitu, darah apa yang ada di tangan Varlos? Jeska menyerah dengan segala asumsinya yang semakin berlebihan.


“Hm. Suasana hatiku sedang baik.” Ujar Varlos singkat, meneruskan langkahnya dengan acuh.


“Apa anda tahu anda terlalu berlebihan? Saya tak tahu harus mengartikan perasaan anda terhadap tuan Ai dengan kalimat apa. Obsesi? Kasih sayang berlebih? Kegilaan? Sejujurnya, saya bahkan seringkali mengira kalau anda diam-diam mungkin seorang psikopat.”


Ucapan panjang Jeska yang terlampau jujur itu membuat Varlos berhenti dan menoleh. Asisten barunya benar-benar orang yang menarik.


“Aku juga kadang berpikir bahwa aku memiliki jiwa psikopat yang tertidur dalam diriku.” Ujar Varlos. Ia merapatkan mulutnya menahan tawa melihat ekspresi Jeska sekarang. Wanita cantik itu mengerutkan dahi dengan ekspresi yang aneh. Apakah itu ekspresi jijik?


“Berapa usiamu?” tanya Varlos kemudian.


Jeska menatap Varlos, masih dengan kening berkerut. Hanya saja, ia tampak mengenyahkan ekspresi tak suka dalam wajahnya.


“Saya yakin anda hafal identitas saya dengan detail. Bahkan jika data itu mencantumkan ukuran tubuh hingga ukuran sepatu dan tekanan darah saya.” Jawab Jeska. Varlos menaikkan satu alisnya.


“Bahkan tanpa data ukuran tubuh, aku bisa langsung tahu jika tubuhmu sangat seksi dan.. menonjol di tempat yang tepat.”


Jeska menatap Varlos horor dengan mulut yang sempurna terbuka. Ia bahkan berkali-kali membuka dan menutup bibir kecilnya dengan wajah merah padam.


“Pengacara Varlos yang.. tidak terhormat, yang barusan anda katakan itu terdengar seperti pelecehan verbal.” Ujar Jeska kemudian. Ia tiba-tiba merasa sangat kesal. Apalagi Varlos malah tertawa puas. Jujur, ini pertama kalinya Jeska melihat Varlos tertawa, dan ia sedikit terpesoan. Namun, dengan cepat ia mengenyahkan semua pikiran bodoh itu.


“Dibandingkan ucapan, aku lebih menyukai tindakan langsung, nona Jeska.”


J


eska lagi-lagi menatap atasannya tak mengerti.


“Kalimat anda sangat ambigu, tuan Var.”


Varlos melangkah mendekat. Dan entah insting apa, Jeska melangkah mundir tiap kali tuannya maju satu langkah. Jengah dengan kondisi menyebalkan ala novel picisan itu, Jeska akhitnya mengangkat tangan, menahan tubuh Varlos. Yang malah membuatnya berda dalam posisi semakin tidak menyenangkan. Jeska mengeluh kasar, sama sekali tak berniat menutupi rasa tak sukanya.


“Sekarang tingkah anda juga sangat ambigu, tuan Varlos.” Geramnya.

__ADS_1


Menyikapi itu, Varlos menarik Jeska, mebuat tubuh mereka semakin dekat dan menempel. Ketertarikannya dengan wanita di depannya meningkat melihat Jeska yang tampak tak suka dan mulai gugup, namun tetap bersikap tenang. Wanita manis ini tetap berdiri tegak dan diam, namun Varlos tahu bahwa ia tengah berusaha mencari akal dengan cerdas. Benar-benar menggemaskan.


“Dengan sangat tidak terhormat, apa kau mau bermalam denganku?”


__ADS_2