Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Ayo, Menikah!!


__ADS_3

Ekspresi Aiden tampak tegas.


Zura terdiam sesaat. Lagipula, dia hanya akan pulang beristirahat. Jadi, tak ada salahnya mendengarkan sebentar lagi. Tangan Aiden masih menggenggam pergelangan tangan Zura dengan erat. Biasanya Zura akan langsung menepis dan menjaga jarak. Namun kali ini, dia membiarkannya.


“Jadi, apa jawaban anda?” tanya Zura.


“Hm.. Kamu mengenalku bukan? Aku seseorang yang hidup bersama hubungan intim.” Aiden memicingkan matanya, menatap Zura dengan ekspresi serius.


“Saya bersedia melakukannya. Tapi, saya tak menoleransi perselingkuhan.” Ucap Zura.


'Haa..'


Zura menghembuskan nafasnya. Dia kemudian berbalik sempurna hingga mereka saling berhadapan. Zura lantas melepas tangan Aiden yang menahannya.


“Karena sudah sampai sini, saya akan menjelaskannya. 3 hal. Ada 3 syarat utama yang saya ajukan. Pertama, tidak ada paksaan dalam hubungan intim. Tentu kedua belah pihak harus kooperatif. Saya dilarang menolak kontak fisik tanpa alasan. Tapi saya harap pasangan saya akan menghormati saya jika saya tak menginginkannya. Kedua, tidak ada perselingkuhan. Salah satu pihak dapat mengajukan cerai jika terbukti melakukan perselingkuhan. Dan pihak lain tak boleh menolak. Ketiga, jika terjadi masalah, maka kedua belah pihak harus berdiskusi sebelum saling menyalahkan. Jika saya atau pasangan saya ingin bercerai, kita harus membicarakannya dengan baik terlebih dahulu.” Ucap Zura panjang.


Dia menatap Aiden dengan tatapan serius. Dahinya berkerut dan matanya sedikit memicing. Untuk sesaat, mereka saling diam. Zura dengan gugup menunggu Aiden memberinya sebuah jawaban.


Aiden diam sejenak, memikirkan ucapan Zura. Dia merasa gila. Hampir saja dia mengiyakan permintaan Zura secara spontan. Dia menatap Zura dengan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa yang membuatnya merasa begitu antusias? Aiden pun menghela nafas sebelum membuka mulutnya untuk menjawab Zura.


"....."


“Baiklah.” Ucap Aiden singkat.


Sebuah senyum kecil tak bisa dia tahan dari wajahnya.


Sementara Zura yang terkejut mendengar jawaban itu tak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang tak percaya.


'Apa pendengaran ku ada yang salah? Apa aku berkhayal?' batin Zura


Aiden ingin tertawa melihat wajah itu. Dia lantas mengulangi jawabannya.


“Aku mau, menikah denganmu. Apa kamu malah berubah pikiran sekarang?” tanya Aiden.


“Ah.. yah..” Zura tergagap, lalu ia kembali berucap.


“Ka.. kalau begitu, sekarang! Ayo pergi ke kantor pencatatan sipil sekarang! Sa-saya akan memimpin jalan, jadi ikuti saya.” ucap Zura gugup.

__ADS_1


Ia merasakan wajahnya yang memanas.


Aiden sebenarnya ingin mencium bibir Zura saat itu juga. Namun, dia menahan diri.


Akhirnya. Setelah bertahun-tahun, dan kini dia memiliki gadis itu.


Dia harus bersabar sebentar lagi.


Zura yang canggung pun berbalik pergi. Ia segera menuju tempat mobilnya diparkir dan Luci menunggunya. Dan Aiden pun menuju mobilnya.


Zura menaiki mobil miliknya dengan wajah yang masih panas. Luci yang melihatnya hanya diam. Dia pikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Kali ini Luci yang mengemudi, jadi setelah semua kegugupan, Zura pun berucap dengan suara pelan.


“Kita ke kantor pencatatan sipil.” Ucapnya.


Luci mengedipkan matanya masih tak percaya. Namun dia segera melajukan mobilnya tanpa tanya. Bertanya sekalipun sepertinya akan percuma.


...**...


Sementara itu, Aiden memasuki mobilnya dengan semangat. Dia menyuruh Ken mengikuti mobil Zura. Ken pun melajukan mobilnya tanpa banyak bertanya. Tak selang lama, mobil mereka berhenti di depan kantor urusan sipil.


'Apakah teman ku.. Tidak!'


'Apakah bos yang penggila wanita dan malamnya itu berniat menikah? Serius?'


Aiden mulai mengambil berkas data pribadinya yang memang selalu dia siapkan di mobil. Ken menatapnya dengan sangat lekat.


“Anda.. benar-benar akan menikah?” tanya Ken ragu.


“Tentu.” Jawab Aiden singkat. Dia lantas keluar begitu saja dari mobil. Meninggalkan Ken yang masih terpaku.


Zura sudah memberikan pesan pada pamannya yang akan datang sebagai wali. Dan pamannya membalas segera. Pamannya juga sedang dalam perjalanan. Jadi Zura keluar dari mobilnya dengan berkas pribadi di tangannya. Luci masih memilih diam. Dia merasa lebih baik bertanya saat situasinya sudah tenang.


Zura pun berdiri, menunggu Aiden yang tak lama kemudian membuka pintu. Aiden berjalan ke arahnya.


Berbeda dengan Zura yang tampak masih belum beradaptasi dengan situasi, Aiden tampak sangat menikmatinya. Ini membuat perasaan Zura aneh.


Aiden seperti seorang mempelai laki-laki yang memang sedang menantikan pernikahannya.

__ADS_1


'Sepertinya.. ada yang salah.' batin Zura, bertanya-tanya.


Aiden mendekati Zura. Padahal dia dikenal sebagai raja aktor, tapi dia tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya sekarang.


Aneh. Melihat Zura yang berdiri canggung menunggunya terasa sangat aneh. Tapi Aiden merasa sangat senang dan bahagia.


“Ayo..” ucap Aiden setelah dia sampai di depan Zura.


“Hm. kita urus berkasnya. Wali saya juga sedang dalam perjalanan.” Jawab Zura.


'Wali? Ah, iya.'


Aiden ingat bahwa Zura yatim piatu. Jadi yang akan datang adalah seorang wali?


Aiden dan Zura pun mulai melangkah masuk ke gedung itu.


“Apa paman mu yang menjadi wali?” tanya Aiden kemudian. Biasanya, jika orang tua sudah tak ada, maka wali yang akan datang adalah paman terdekat.


“Ya. Dia akan segera sampai.” Jawab Zura.


Mereka pun langsung menuju meja pendaftaran dan mengurus berkas.


"Ka-kalian.."


Pegawai yang berjaga sangat terkejut melihat dua tokoh publik itu. Namun, dia dengan professional tetap menjalankan tugasnya. Itu membuat Zura merasa tenang.


Tak lama kemudian paman Zura datang. Aiden seketika tampak sedikit terkejut.


Siapa yang tidak mengenal Andhika Ansana? Aiden tak pernah tahu bahwa pebisnis terhormat itu adalah paman Zura.


Orang itu, Andhika Ansana, menatap Aiden dengan tatapan tajam dan tak suka.


'Kenapa bajingan itu yang di sini?!! Bajingan yang selalu muncul dengan berbagai skandal buruk!' Batin paman Dhika.


Dia ingin marah dan tak setuju. Bahkan dia ingin memukuli berengsek itu sampai hancur. Berani sekali dia menghamili keponakannya yang terhormat.


Namun apa daya, Andhika sudah berjanji pada keponakannya bahwa dia akan setuju siapa pun mempelai laki-lakinya.

__ADS_1


__ADS_2