Jebakan Cinta Mr Bastard

Jebakan Cinta Mr Bastard
Untuk Dihadapi


__ADS_3

“Aiden, aku akan menerima panggilan sebentar.” Bisik Zura. Kening Aiden mengernyit.


“Siapa?”


“Paman Andhika.”


Aiden pun akhirnya mengangguk. Dan Zura mengambil beberapa langkah menjauh sebelum memasuki private room di Restaurant itu.


“Ada apa, paman?” tanya Zura.


“Bagaimana kabarmu dan.. bajingan itu?”


“Dia suamiku. Kami baik-baik saja.”


“Hm.. bagaimana dengan masalahnya?”


Zura mengernyit mendengar pertanyaan sang paman. Sepertinya pamannya telah menerima Aiden. Beliau bahkan tampak tidak mempermasalahkan status Aiden yang anak haram. Pamannya justru tampak perhatian dengan permasalahan Aiden. Zura kini merasa lega. Rasanya sekarang ia benar-benar telah direstui.


“Masalah perusahaannya sudah selesai. Persidangan juga sudah selesai. Lalu, siang nanti kami akan melakukan pers conferrence.”


“Baguslah. Titpkan salam dariku.”


Zura tersenyum.


“Tentu, paman. Apa ada lagi?”


“Azura..”


“Ya??”


“Soal masalah yang waktu itu..”


“Ya? Masalah yang mana?”


“Aiden yang bermalam dengan seorang wanita.”


“Ah..” Zura sedikit terkejut. Namun, dari nada bicara pamannya, sepertinya beliau bukan tengah mempermasalahkan hal itu.


“Ya, Paman menyelidikinya. Paman tidak berniat mengacaukan hubungan kalian. Paman hanya..”


Paman Andhika terdiam. Zura pun tersenyum kecil. Ia tahu maksud pamannya.


“Ya, paman. Aku mengerti. Paman hanya khawatir padaku.”


“Ya. Paman akan kirimkan filenya.”


“Terimakasih, paman.”


“Hm.. semoga kalian bahagia. Dan juga.. buatkan cucu untukku.”


“Haha.. hm.. baiklah. Aku akan berusaha.”


“Haha.. bagus.”


...**...


Satu masalah telah selesai. Permasalahan Aiden dengan Antarest Entertainment. Meski ke depannya masih akan ada beberapa pertentangan, setidaknya Aiden berhasil mengamankan posisinya sebagai CEO. Lalu, sekarang keluarga Antarest tengah berkumpul di sebuah private room Restourant. Zura menelan ludah, ia duduk dengan gelisah.


Untuk pertama kalinya ia berkumpul dengan keluarga Aiden seperti ini. Ken, Heris, dan Helios makan di tempat lain. Benar-benar ia seolah tengah datang sebagai menantu.


“Ibu, aku belum sempat meperkenalkan istriku secara langsung bukan?” ujar Aiden mengawali. Zura semakin gugup. Ia menegakkan tubuhnya dan berusaha memberikan senyuman terbaik.


“Ya. Aku sudah bertemu sebelumnya.”


Monica berniat menjawab dengan santai. Sayangnya, di telinga Zura, itu terdengar seperti sebuah sindiran.

__ADS_1


“Ibu, menantumu sangat cantik. Kenapa ibu malah terlihat tidak suka?” tanya Varlos, berniat menggoda Zura. Ia tahu ibunya hanya bersikap ala kadarnya. Kadang, ibunya memang sedikit cuek.


Zura hanya bisa terus mempertahankan senyuman palsunya.


“Ck. Dari mana tak suka? Aku sangat menyukainya.” Ketus Monica. Ia lantas menatap Zura lekat. Zura pun balas menatap ibu mertuanya dengan lembut.


“Izinkan saya memperkenalkan diri lagi. Saya Saffir Azura, i- ibu..” ucap Zura kemudian.


“Sangat manis kan bu?” ujar Aiden menambahi.


“Hm.. Kamu sangat beruntung. Jaga dia dengan baik. Juga, cepat berikan aku cucu.”


Aiden terkekeh ringan, “Kami sedang berusaha sangat keras!!”


“Aiden!!” Zura membelalakkan matanya dengan wajah merah. Ia sangat malu!


“Haha.. benar adik ipar, cepatlah berikan aku ponakan!!” ujar Varlos menggoda.


“Adik iparmu sangat cantik. Kapan kamu menyusul menikah, Varlos!!” ujar Monica lagi.


“Eh,” Varlos menegakkan punggung, tampak salah tingkah.


“Ya. Cepat menikah! Kamu sudah tua!”


“Ibu...”


“Benar. Kakak sudah terlalu tua!”


“Ai-Den!!”


“Apa perlu aku bantu, kakak ipar?”


“Ya, menantu, carikan kakak iparmu ini seorang wanita!”


Zura tertawa ringan. Begitu pula yang lain. Mereka pikir setelah konferensi pers Aiden masalahnya akan tuntas, hanya sisa-sisa masalah kecil. Tapi mungkin memang sudah takdir Zura dan Aiden untuk menghadapi berbagai cobaan. Mereka masih harus melewati jurang cobaan untuk mencapai kebahagiaan.


...**...


Ken berjalan cepat dengan raut wajah yang buruk. Sekali lagi ia membawa kabar tak menyenangkan untuk Aiden. Dengan langkah tergesa, Ken mencari sosok sahabatnya. Helios tengah mengantar Varlos. Dan Heris mengantar Nyonya Monica. Ken yakin mereka juga pasti sudah mendapat kabarnya. Sekarang, tersisa Aiden dan Zura.


Brakk!!


Ken membuka pintu ruang tunggu itu dengan kasar. Konferensi pers ada di depan mata. Dan Aiden terlanjur sudah mengumumkan pernikahannya dengan Saffir Azura terhadap dewan rapat Antarest Entertainment. Jika berita ini dibiarkan, masalahnya bisa menjadi lebih rumit lagi. Aiden mungkin tidak hanya diturunkan paksa dari posisi CEO. Dia bisa jadi juga dipenjara. Dan Zura? Entahlah. Mungkin, wanita itu akan memilih menyerah menemani Aiden.


“Ada apa Ken? Kenapa kamu pucat?” tanya Aiden, kaget mendengar suara pintu. Zura juga menatap Ken.


“Apa ada masalah?” tanya Zura.


Ken menelan ludahnya dan mengatur nafas yang entah kenapa sesak. Ia khawatir terhadap masa depan Aiden.


“Kisya Atrida.” Ujar Ken dengan nafas terengah. Aiden dan Zura sama-sama mengernyitkan keningnya.


“Ck. Gadis yang di hotel saat kamu melakukan perjalanan bisnis. Dia mengaku diperrkosa paksa dan hamil. Sekarang beritanya menjadi trending topic.”


Seketika wajah Aiden dan Zura memucat.


“Ha- hamil?” ulang Aiden. Pikirannya tiba-tiba kusut. Hamil? Lalu, bagaimana?


“Ya. Aiden, masalahnya akan semakin membesar. Dan juga..” Ken menelan ludah, menatap ke arah Zura, yang kini mematung.


Pandangan Aiden pun ikut beralih, menatap Zura. Rasanya, pikirannya kosong. Sekarang, Zura pasti akan meninggalkannya. Lalu, bagaimana? Karir, kehormatan, ah, sejak dulu dia memang sudah tak memiliki kehormatan. Atau haruskah dia mati saja? Tapi, bagaimana dengan anak dalam kandungan itu. Anak yang ada karena kesalahannya.


Aiden menelan saliva. Matanya menatap Zura dengan sangat nanar. Ia bersedih, berduka, terluka, takut, dan.. lalu apa?


“.. Den!!”

__ADS_1


“Aiden!!”


Deg! Seketika kesadaran Aiden dikembalikan paksa. Air matanya sudah menggenang menatap Zura. Maaf? Ah, sudah terlalu banyak kata maaf yang ia ucapkan. Dan ia tak pantas dimaafkan. Aiden tahu.


“Aiden!!” Zura mengguncang tubuh Aiden kencang.


“Sadarlah!!” serunya. Aiden hanya bisa menelan saliva. Sadar?


“Ck.” Zura berdecak. Melihat Aiden yang mematung membuatnya kesal. Ia terluka. Sangat terluka saat mendengar kabar ini. Zura juga sangat bersedih. Namun, bukankah mereka sudah berjanji akan melewati semuanya bersama? Melewati dengan hati yang penuh. Zura tahu ia mungkin harus pergi dari Aiden. Ia sudah melewati hari-hari yang dihabiskan untuk terus merenungkan perceraian. Hari-hari itu sudah berlalu. Ya, rasanya menakutkan memang. Tapi, bukankah mereka sudah berjanji?


Mengenal Aiden membuat Zura tahu, bahwa ia harus menyiapkan hati untuk kehilangan. Namun, melewati hari ini lah yang paling penting. Bagaimana mereka berpisah lah yang penting.


Sayangnya, Aiden masih membeku. Dengan memperkuat tekadnya, dengan mata yang memanas karena campuran rasa. Cemburu, marah, kesal, kecewa, benci, sedih, duka, segalanya. Zura lantas mendekat. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir Aiden. Menyusup dan bertukar saliva. Aiden yang masih bergeming. Dan Zura yang sudah dibanjiri air mata.


“Zu-”


Zura perlahan menjauh. Ia menyeka air mata yang tak kunjung berhenti.


“Tenanglah. Lebih baik kita temui dulu gadis itu. Itu yang penting sekarang.”


Aiden masih diam. Melihat Zura yang menyeka air mata jauh dengan tegar malah membuat hatinya semakin porak poranda. Aiden tak ingin ditinggalkan. Tapi, Aiden lebih tak tega meninggalkan bayi itu. Bagaimana jika nasib anaknya sama dengan nasibnya di masa lalu? Aiden tak tega. Ah, lalu kenapa dulu ia menjadi bajingan yang selalu bermain wanita?


Aiden menatap Zura. Seolah, sebagian hatinya ikut melayang pergi. Gadis yang kini malah tengah berdiskusi dengan Ken. Istrinya, yang telah ia sakiti berkali-kali. Kenapa rumah tangganya menjadi sehancur ini? Jika masalah hotel itu tak pernah terjadi, Aiden pasti telah bahagia bersama Zura. Tapi, apakah memang akan begitu?


Aiden menelan saliva kembali.


“Ya, tolong buat janji temu. Konferensi pers nya akan kita lakukan nanti saja setelah masalah ini mencapai titik terang.”


Ken menatap Zura, lantas menghembuskan nafas.


“Tapi, aku tak menyangka kamu akan setenang ini.” Ujarnya.


Zura hanya tersenyum getir.


“Ya. Masalah ada untuk dihadapi. Aku tak ingin lari. Dan juga-”


“Ken, keluar!!” desis Aiden memotong. Sontak saja Ken dan Zura menatapnya dengan wajah penuh tanya. Terlebih saat wajah Aiden kini nampak dingin dan tak bersahabat.


“Hei, apa-”


“Tidak. Buat saja janji temu dengan gadis itu. Aku akan memberi kabar nanti.” Ujar Aiden. Iia lantas menarik tangan Zura, mengajaknya keluar ruangan.


“Tunggu, Aiden, kamu mau kemana?” tanya Ken tak mengerti. Ia juga khawatir pada Zura. Pada masa seperti ini, bagaimana jika Aiden kembali melampiaskan kemarahan pada Zura yang tak berdosa itu?


“Bukan urusanmu, Ken. Aku hanya pergi sebentar.” Jawab Aiden dingin.


Zura mengikuti Aiden dengan rasa tanya dan gugup. Ia merasa diseret oleh langkah panjang Aiden. Dan pergelangan tangannya sedikit sakit karena cengkeraman Aiden. Namun mau bagaimana? Melawan? Sepertinya bukan ide yang baik melawan Aiden dalam kondisi sekarang.


“Aiden, jangan gegabah! Apa kau akan menyakiti Zura lagi? Hei!!” Ken berusaha menghentikan Aiden. Dia bahkan mencegat laki-laki itu dan mendorong kerahnya.


“Ken!!” desis Aiden mulai marah.


“Apa??” balas Ken sama serunya. Mereka menampakkan wajah dingin.


Salahkan Zura, dan anggaplah dia bodoh. Di saat seperti ini dimana dialah yang seharusnya paling tersakiti, Zura justru masih mengkhawatirkan Aiden.


“Ken, minggir!!”


“Lalu, kau mau apa?”


“Ken..” panggil Zura kemudian.


“Its okey, kami hanya akan berbicara.” Sambungnya.


Kini, Ken terpaksa harus pergi. Jujur, ia tak percaya pada Aiden. Namun, ia bisa mempercayai Zura bukan?

__ADS_1


__ADS_2