Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Pergi Untuk Selamanya.


__ADS_3

Kirana membuka matanya perlahan, kepalanya berdenyut pusing dan tubuhnya remuk redam. Perutnya pun terasa begitu perih karena dua hari tidak diberi makan oleh Maxi, ia juga kini di kurung disebuah kamar sempit yang berada dibelakang rumah.


"Air......" kata Kirana lemah, ia sudah tak kuat jika harus menahannya lebih lama lagi.


Tubuhnya yang terluka dan ditambah tidak diberi makan membuat ia sangat lemah, mungkin dia hampir saja mati sebelum ada seorang pelayan mengantarkan makanan padanya.


"Ini makananmu, kau harus menghabiskannya kalau tidak ingin Tuan Maxi marah" kata Pelayan itu.


Kirana langsung bergerak mendekati makanan itu dan langsung melahapnya dengan rakus, ia tak memperdulikan bagaimana rasanya yang jelas ia hanya butuh makan, ia juga tak perduli makanan itu masih sangat panas, rasa lapar diperutnya sudah begitu mengigit hingga ia melahap makanan itu hingga tandas.


Kirana begitu kenyang sekali, ia lalu melihat pintu ruangannya yang sedikit terbuka, sepertinya pelayan tadi lupa mengunci pintunya, perlahan Kirana beranjak untuk melihat pintu itu dan ternyata memang benar tidak di kunci. Kirana lalu sedikit mengintip di luar ruangan yang tak kalah sepinya, sepertinya semua orang beristirahat karena ini sudah malam.


Kirana menggunakan kesempatan itu segera kabur, ia berjalan mengendap-endap menyusuri lorong demi lorong rumah Maxi yang begitu besar, jantung Kirana berdegup kencang karena takut jika dia ketahuan, ia lalu masuk kedalam ruangan Ibunya yang juga tidak dikunci.


"Kenapa semua penjaga malam ini ceroboh sekali?" batin Kirana sedikit aneh karena biasanya penjagaan Maxi sangat ketat.


Kirana tak mau ambil pusing, saat ini adalah kesempatannya untuk kabur, ia segera membangunkan Ibunya yang terlelap.


"Ibu...bangun ibu" bisik Kirana mengguncang pelan tangan ibunya.


"Kiran?" kata Ibu Kirana sedikit kaget melihat ibunya.


"Iya ini Kiran, ibu kita harus secepatnya pergi darisini" kata Kirana cepat.


"Pergi kemana Nak? Bagaimana kalau Tuan Maxi tau?" kata Ibu Kirana.


"Saat ini aman, ibu kita harus cepat" kata Kirana sedikit mendesak, ia beberapa kali melihat ke arah pintu, takut sewaktu-waktu ada penjaga yang datang.


"Baiklah" kata Ibu Kirana mengangguk setuju.


Kirana membantu ibunya berjalan, ia kembali mengendap-endap untuk keluar dar rumah itu, saat melewati bagian dapur Kirana hampir saja ketahuan saat ada penjaga yang tak sengaja lewat, ia bersembunyi sebentar lalu melanjutkan lagi jalannya menuju pintu belakang rumah yang ternyata dikunci.


"Pintunya dikunci ibu" kata Kirana bingung.


"Lebih baik kita kembali saja nak, Ibu takut kalau Tuan Maxi tau, dia pasti akan menghukumu lagi" kata Ibu Kirana.

__ADS_1


"Enggak, kita pasti bisa keluar darisini" kata Kirana sudah tidak mau lagi kembali ke tempat yang menjadi neraka baginya itu, lebih baik dia mati jika harus kembali lagi kesana.


Kirana berpikir sejenak, ia lalu melihat batu yang cukup besar, ia segera mengambilnya lalu memukulkannya kearah gembok itu, dengan beberapa kali pukulan gembok itu berhasil terlepas membuat Kirana lega.


"Sudah terlepas ibu, kita harus pergi" kata Kirana menarik tangan ibunya dan ingin membawanya lari, tapi....


"BERHENTI! JANGAN KABUR WOI" Teriak seorang penjaga yang melihat mereka berdua.


"Kita lari ibu" kata Kirana langsung berlari dengan menarik tangan Ibunya.


Penjaga itu juga langsung memanggil beberapa temannya dan menyusul Kirana. Bagian belakang rumah Maxi adalah sebuah lahan kosong yang ditumbuhi banyak pohon-pohon, karena malam hari membuat malam itu sangat gelap.


Kirana terus berlari tanpa arah tujuan, yang jelas dia tidak ingin tertangkap. Tapi ibu Kirana sudah tidak kuat karena tubuhnya yang tua dan lemah.


"Kiran! Ibu sudah tidak kuat" kata Ibu Kirana dengan nafas tersengal.


"Kita sebentar lagi sampai dijalan raya ibu, ayo" kata Kirana ingin menangis rasanya karena tak tega melihat ibunya.


"Itu dia mereka" teriak penjaga yang berhasil menemukan mereka kembali.


"Ayo ibu, demi Kiran" kata Kirana membantu ibunya berdiri.


Para penjaga itu juga sudah tiba di dekat Kirana, mereka sudah bersiap menangkap Kirana, tapi wanita itu kembali berlari hingga membuat salah satu dari mereka mengambil pistolnya dan mene mbak kannya langsung.


Duar!!!


Langkah Kirana langsung terhenti, jantungnya terasa ingin lepas dari tempatnya saat mendengar suara tembakkan yang begitu dekat dengannya, tapi tembakan itu tidak mengenai dirinya melainkan mengenai Ibunya yang hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa.


"Ibu" teriak Kirana menahan tubuh Ibunya yang perlahan luruh ke tanah.


"Ce-pat-per-gi" kata Ibu Kirana terbata-bata.


"Tidak, Kiran sayang ibu, kita harus pergi bersama" kata Kirana menangis meraung.


"Ti-dak.....ce-pa-t pergi...." kata Ibu Kirana mendorong pelan tubuh putrinya.

__ADS_1


Kirana menggelengkan kepalanya beberapa kali, ia tak sanggup meninggalkan ibunya, tapi perlahan genggaman tangan Ibunya melemah dan nafas ibunya mulai putus-putus hingga perlahan menghilang, ibunya sudah pergi untuk selamanya.


"Mampus! Cepat kejar dia" suara penjaga itu kembali terdengar.


Kirana mengusap air matanya cepat, ia mencium wajah ibunya sebelum kembali pergi, dia harus lolos apapun yang terjadi, jangan sampai pengorbanan ibunya sia-sia.


*****


"Dia sudah berhasil melarikan diri Tuan, anak buah kita mengatakan kalau ibunya meninggal karena terkena tembakan" asisten Maxi melaporkan semua yang terjadi.


"Ibunya mati? sayang sekali, biarkan saja mayatnya membusuk disana" kata Maxi menganggap seolah nyawa ibunya Kirana bukan hal penting.


"Baik Tuan, Nona Kirana saat ini sepertinya sudah berlari cukup jauh, saya sudah memerintahkan anak buah kami untuk mundur" kata Asisten Maxi lagi.


"Bagus, semua berjalan sesuai rencana kita, sekarang aku ingin tau apa yang kau dapatkan dari yang aku suruh tadi siang?" kata Maxi tak ingin lagi tau kabar wanita sampah seperti Kirana.


"Sudah, Nona Gwiyomi ternyata Putri dari seseorang yang berpengaruh di kota Bandung, dia juga anak tunggal namun seluruh keluarganya kini tinggal di Bandung, sedangkan beliau tinggal sendirian karena masih kuliah" kata Asisten Maxi membaca data yang didapatnya.


"Dia tinggal disini sendiri?" kata Maxi, matanya berbinar cerah mendengarnya.


"Benar Tuan, Nona Gwi sedang baru saja masuk ke kampus satu tahun lalu"


"Kau juga sudah mendapatkan alamatnya?"


"Sudah Tuan"


"Baiklah, besok aku akan menemuinya, sekarang kau boleh istirahat" kata Maxi mengusir asistennya.


Ia kemudian merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk, ia memejamkan matanya membayangkan wajah cantik Gwi yang sering berputar di kepalanya, benar-benar wanita yang begitu menggoda, pikiran liarnya berimajinasi akan melakukan hal yang menyenangkan bersama wanita itu.


Gwiyomi...Gwiyomi...Gwiyomi Maxi terus mengulang nama itu sepanjang malamnya seolah mantra yang melekat di otaknya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2