
Rendra sedang mengadakan rapat penting pagi ini, karena dampak dari berita yang tersebar itu cukup besar, beberapa pemegang saham di perusahaannya melakukan protes untuk mengganti Rendra yang menurut mereka mencerminkan perilaku yang tidak baik. Tapi untunglah Axel masih bisa membuat mereka mengerti agar tidak sampai menjatuhkan Rendra dari posisinya.
"Baiklah, kali ini kami bisa mentolerir masalah ini Tuan Axel, kedepannya tolong jangan sampai ada hal seperti ini, sungguh memalukan" kata salah satu pemilik saham disana, dia sepertinya memang tidak begitu menyukai Rendra yang diangkat sebagai pemimpin perusahaan.
"Baik Tuan Malik, saya sendiri yang akan memastikan kalau hal ini tidak akan terjadi lagi, tapi sebelumnya mohon maaf, putra saya juga manusia biasa yang kadang bisa berbuat salah, bahkan seorang presiden pun pernah melakukan kesalahan bukan?" kata Axel langsung membuat para mulut-mulut pedas mereka bungkam.
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya akan mengakhiri rapat pagi ini, terima kasih" kata Axel menutup acara itu.
Semua orang mengangguk untuk saling memberi hormat satu sama lain lalu keluar dari ruang rapat itu, kini hanya ada Axel dan juga Rendra yang sejak tadi bungkam.
"Kau dengar sendiri tadi? Kepercayaan mereka kepadamu mulai berkurang, kau harus lebih berhati-hati sekarang" kata Axel pada anaknya namun Rendra hanya diam.
Pikiran pria itu entah melayang jauh kemana saja, raganya disini namun jiwanya diam-diam terus memikirkan Kirana. Rendra selalu ingat wajah penuh kesedihan dan sorot mata sayu itu yang kini terus menghantuinya.
Axel mengerutkan dahinya melihat Rendra yang tidak fokus itu, tidak biasanya putranya ini seperti ini.
"Rendra!" kata Axel dengan suara sedikit keras.
"Ya Pa?" Rendra tersentak kaget.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Axel.
"Tidak ada Pa, Papa bicara apa tadi?" kata Rendra mengusap tengkuknya menutupi perasaannya.
"Lupakan, sebaiknya hari ini kau pulang saja, sepertinya ada banyak sekali yang kau pikirkan, temui Papa kalau kamu sudah baik-baik saja" kata Axel menepuk pundak Rendra sebelum pergi dari ruangan itu.
Rendra mengusap wajahnya kasar, kenapa dia bisa seperti ini? sebenarnya apa yang membuat dirinya terus memikirkan Kirana?. Rendra pun benci sekali jika harus menerka-nerka seperti ini, ia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Eril.
"Halo Kak..."
"Halo, bagaimana?" kata Rendra cepat.
"Anak buah kita sudah mendapatkannya, mereka sekarang membawanya ke markas, dan kondisinya cukup mengkhawatirkan"
__ADS_1
"Jangan bawa ke markas, bawa saja dia ke rumah pribadiku" kata Rendra membuat Eril cukup kebingungan.
"Baiklah, aku juga sudah menelpon Dokter pribadi kita"
"Ya, aku akan kesana sekarang" kata Rendra langsung memutuskan panggilan itu sepihak.
Rendra berjalan cepat menuju mobilnya, untungnya hari ini Axel memberikannya libur membuat ia lebih leluasa untuk menemui Kirana. Perasaannya kembali campur aduk, dan Rendra pun tidak mengerti perasaan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Sesampainya dirumah pribadinya, Rendra langsung menuju tempat dimana Kirana berada, disana sudah ada Eril dan Dokter yang sedang melalukan pemeriksaan.
"Kak" kata Eril menyambut kakaknya.
Rendra hanya mengangguk singkat, ia berjalan mendekati Kirana yang kini berbaring lemah di ranjang. Wanita itu tampak begitu pucat sekali.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rendra.
"Keadaannya cukup parah, dia mengalami trauma berat dan aku menemukan banyak sekali luka ditubuhnya, sepertinya dia baru saja mengalami penyiksaan" kata Dokter menjelaskan.
Rendra diam, perasaannya semakin tak enak sekali. Tapi bukankah dia seharusnya membenci wanita ini, gara-gara wanita inilah kini namanya jadi tercemar.
"Baik" kata Dokter itu mengangguk.
Rendra langsung beranjak dari sana, ia tak ingin hatinya melemah saat melihat keadaan Kirana yang mengenaskan itu. Eril pun segera menyusul Kakaknya yang kini duduk di taman belakang rumah seraya mengambil rokoknya.
"Ngapain lu disini?" kata Rendra sedikit santai kepada adiknya.
"Nggak ada, gua harusnya bertanya kenapa lu ngelakuin ini?" kata Eril ikut mengambil satu batang rokok lalu menyulutnya.
"Bukannya lu udah tau kalau gua mau balas dendam sama perempuan itu, dia harus tanggung jawab dengan apa yang dia lakuin ke gua" kata Rendra acuh.
"Balas dendam ya? Tapi yang gua lihat nggak itu tuh" kata Eril tersenyum kecil, ia sudah sangat hafal sekali bagaimana sifat Kakaknya, dia tak akan menunjukkan keperduliannya kepada wanita manapun meski wanita itu terluka atau bagaimana.
"Apa maksud lu?" kata Rendra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Lu pasti ngerti maksud gua, tapi gua harap lu nggak salah langkah dan jangan sampai lu berubah haluan" kata Eril sengaja mengatakan perkataan ambigu lalu beranjak dari sana.
*****
Kirana membuka matanya perlahan, seluruh tubuhnya terasa remuk dan sendi-sendinya terasa ingin copot, ia lalu melihat sekelilingnya yang sangat asing, ia lalu melihat tangannya yang di infus, dia ada dimana sekarang? Kenapa dia masih hidup?
"Aku tidak ingin hidup lagi? Ibu....." kata Kirana kembali menangis jika mengingat ibunya yang sudah tiada.
Kirana segera mencabut selang infus itu, dia sudah tidak mau lagi, kenapa harus ada yang menolongnya, kenapa tidak membiarkan dia mati saja. Kirana sudah tidak mau lagi hidup dalam penyiksaan seperti ini. Kirana mulai gelap mata dan mengambil gelas yang berada di nakas, ia membantingnya dengan keras lalu mengambil pecahannya dan bersiap menancapkan nya ke pergelangan tangannya.
"Ibu...Kiran akan menyusul ibu, kita akan segera bertemu ibu" kata Kirana menangis putus, ia sudah bersiap mengakhiri hidupnya tapi....
"Apa yang kau lakukan!" teriak Rendra dengan suara menggelegar hingga membuat Kirana kaget.
Kirana membesarkan matanya saat melihat sosok Rendra, air matanya kembali lolos membasahi pipinya, jadi pria ini yang sudah menolongnya, pria ini pasti akan membalas dendam kepadanya.
"Bunuh aku" kata Kirana mendekati Rendra dan menyentuh tangan pria itu agar memukulinya atau apa.
"Kau gila!" kata Rendra melepaskan dirinya.
"Bunuh aku! Kau membenciku kan! ayo bunuh aku sekarang!" kata Kirana mengambil kembali pecahan gelas itu.
"Hentikan kegilaan mu ini!" bentak Rendra menarik tangan Kirana saat ingin menyentuh pecahan gelas itu.
"Lepaskan aku! Aku sudah tidak ingin hidup!" kata Kirana seperti kesetanan tetap mengambil pecahan gelas itu lagi.
"Aku bilang berhenti!" bentak Rendra menarik tangan Kirana dengan kasar.
"Aku mohon bunuh aku saja Tuan, biarkan aku bertemu ibuku...Aku mohon bunuh aku sekarang" kata Kirana berlutut di depan Rendra, tangisnya semakin histeris dan sangat tidak berdaya, tangannya terus menggapai Rendra seperti orang gila membuat Rendra terus mundur hingga wanita itu ambruk begitu saja karena kelelahan.
"Tolong bunuh...aku saja...jangan....siksa...aku..lagi" kata Kirana tampak merancau tidak jelas, semua kesakitan dalam dirinya membuat dia menderita histeria dan depresi berat.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.