
"Percayalah Tuan, saya tidak mencampurkan apapun di makanan ini" kata Kirana mencoba meyakinkan Rendra.
"Kalau begitu kau harus mencoba makanannya terlebih dulu baru aku akan percaya" kata Rendra lagi.
"Baik, saya akan membuktikan kepada anda kalau saya memang tidak mencampurkan apapun di makanan ini" kata Kirana mengambil salah satu sendok disana lalu memakan nasi goreng buatannya tanpa ragu, toh dia memang tidak mencampurkan apapun kedalam makanan itu.
"Lihatkan? Saya tetap baik-baik saja" kata Kirana lagi.
Rendra menarik sudut bibirnya saat melihat wajah Kirana yang mencoba meyakinkannya itu. "Mungkin itu hanya keberuntungan, siapa tau ada disisi sebelah lain?" kata Rendra dengan wajah meragukannya yang kental.
"Anda masih tidak percaya? Disini memang tidak ada apapun Tuan, coba lihat ini" kata Kirana kembali makan nasi gorengnya dengan lahap, mungkin karena lapar ia malah menghabiskan cukup banyak makanan itu.
Rendra tersenyum tipis saat melihat Kirana makan dengan lahap, tanpa sadar dalam hatinya ikut senang melihatnya. Well? Seperduli itu dia dengan Kirana?
"Sudah, kenapa malah kau yang keenakan?" kata Rendra melihat piring nasi goreng itu habis habis.
"Astaga! Maafkan saya, saya sudah lancang menghabiskan makanan anda" kata Kirana panik menyadari apa yang sudah dilakukannya.
"Kau ini bagaimana sih? Kenapa kau menghabiskan jatah makananku?" kata Rendra pura-pura kesal, sebisa mungkin memasang wajah datarnya, padahal hatinya tersenyum saat melihat wajah Kirana yang panik itu.
"Maafkan saya, saya akan membuatkan untuk anda lagi Tuan, sekali lagi maafkan saya" kata Kirana memandang Rendra takut.
"Tidak usah, aku sudah tidak berselera makan" kata Rendra ketus.
"Maaf" kata Kirana semakin merasa bersalah.
"Apa tidak ada kata lain selain kata maaf yang bisa kau katakan?" kata Rendra melirik Kirana tajam.
"Maaf....eh maksudku..." Kirana bingung harus berkata apalagi, ia tak berani menatap Rendra yang jelas-jelas kini menatapnya tajam.
Rendra rasanya ingin sekali tertawa melihat wajah Kirana yang begitu imut, antara bersalah, takut dan juga panik, menggemaskan sekali, pikirnya.
"Kau harus aku hukum" kata Rendra tiba-tiba.
"Hukum aku sepuasmu Tuan, aku pasti akan menerimanya" kata Kirana rela menerima apa saja hukuman itu. Ia sudah pernah mendapatkan penyiksaan, jadi jika harus merasakannya kembali tak masalah.
"Benarkah?" kata Rendra mendekatkan wajahnya hingga membuat Kirana kaget.
__ADS_1
Kirana mengangkat wajahnya hingga langsung bertatapan dengan Rendra. Jantungnya kembali berlompatan ingin keluar rasanya, ia sangat gugup hingga ingin pingsan.
Rendra awalnya masih ingin mengerjai Kirana, tapi saat melihat wajah wanita ini lebih dekat, perasaannya kembali tak tenang, ia menatap lekat-lekat wajah Kirana, ternyata benar-benar sempurna.
"Hukumannya adalah...." kata Rendra tak bisa memalingkan wajahnya dari Kirana.
"Apa?" kata Kirana, suaranya pun tercekat karena perasaan gugupnya.
"Hukumanmu adalah, kau harus membuatkanku sarapan setiap pagi" kata Rendra cepat-cepat mengakhiri kontak mata itu, wanita di depannya ini sungguh bahaya, ia harus ingat kalau tujuannya adalah untuk membalas dendam.
"Membuat sarapan?" kata Kirana kaget, ia pikir Rendra akan menyiksanya.
"Ya dan aku tidak suka kata terlambat, pukul tujuh pagi sarapan sudah harus ada di mejaku" kata Rendra kembali ke model awal, datar dan dingin.
"Baiklah Tuan" kata Kirana mengangguk mengerti, dalam otaknya terus mengingat hal itu agar tidak lupa.
"Sekarang kembalilah ke kamarmu, jangan suka tidur terlalu larut" kata Rendra langsung bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Kirana.
Kirana menatap punggung Rendra yang menjauh, kenapa pria itu memberikan perhatiannya padanya? Kenapa Rendra tidak membencinya saja? Kirana takut, sangat takut jika ia akan semakin jatuh cinta terlalu dalam para pria itu.
*****
"Kiran?" Sella sedikit kaget saat melihat Kirana sudah berada di dapur pagi-pagi sekali, padahal memasak itu bukan tugasnya.
"Hai Sella, baru bangun?" kata Kirana melirik Sella sekilas lalu kembali fokus ke masakannya.
"Ya, kenapa kau memasak?" tanya Sella.
"Aku membuatkan sarapan untuk Tuan Rendra" kata Kiran.
"Tuan Rendra?" kata Sella kaget tentunya.
"Ya, nanti tolong kalau ada Melda bilangin aku belum bisa bersih-bersih ruang belakang sekarang" kata Kirana.
"Melda? Memangnya kau tidak dengar kalau Melda Cs udah di pecat?" kata Sella.
"Di pecat? Kenapa?" kata Kirana kaget, ia malah tidak tau sama sekali, seingatnya semalam Melda masih disini.
__ADS_1
"Ya semalam mereka di pecat, tapi aku nggak tau alasannya juga sih, tapi katanya yang mecat Tuan Rendra sendiri" kata Sella lagi.
Kirana mengerutkan dahinya, kenapa Rendra harus memecat Melda secara tiba-tiba?
"Apa ada hubungannya dengan kamu?" kata Sella mendadak berpikir seperti itu.
"Ha? Memangnya aku kenapa Sel? Ada-ada aja kamu ini" kata Kirana merasa ucapan Sella itu nyeleneh.
"Yaudah deh, aku mau ngerjain cucian. Semangat masaknya ya, oh ya Tuan Rendra itu biasanya kalau pagi suka minum kopi tanpa gula" kata Sella tersenyum sedikit.
"Tanpa gula? Apa nggak pahit?" kata Kiran.
"Ya enggak, kan dia udah manis" kata Sella tertawa renyah lalu pergi dari sana.
Kirana tersenyum geli, ia segera menyiapkan sarapannya dengan cepat. Pukul setengah tujuh pagi, Kirana sudah menata makanan itu di meja. Kirana tampak puas melihat tampilan masakannya, tak lupa ia juga sudah membuatkan kopi hangat tanpa gula seperti yang di katakan Sella.
Setelah menyelesaikan semuanya, Kirana akan kembali ke dapur tapi di urungkan tatkala melihat seorang wanita cantik datang. Wanita itu menatap Kirana tajam dari atas sampai bawah.
"Siapa kau?" kata Gwi merasa tak mengenali wanita didepannya ini.
"Saya Kirana Nona" kata Kirana sopan, menebak siapa wanita cantik ini.
"Pelayan?" kata Gwi sengaja memasang senyumnya yang angkuh saat tau jika wanita di depannya ini pasti adalah wanita yang di maksud kakaknya.
"Benar Nona" kata Kirana diam-diam terus memperhatikan penampilan Gwi yang modis dan sangat elegan, dari atas sampai bawah semuanya begitu sempurna.
"Gwi?" Rendra yang baru saja turun dari kamarnya sedikit kaget saat melihat adiknya sudah berada disana.
Mendengar suara Rendra, kedua wanita itu langsung menoleh. Gwi sempat melihat ekspresi wajah Kirana, ia kemudian tersenyum usil.
"Hai....akhirnya kau bangun juga, aku merindukanmu" kata Gwiyomi langsung memeluk Rendra tanpa canggung.
Meski bingung, Rendra pun membalas pelukan adiknya. Kirana membesarkan matanya melihat hal itu, hatinya terasa begitu nyeri saat melihat Rendra berpelukan dengan wanita itu.
"Sadar Kiran, kau itu bukan siapa-siapanya Rendra" batin Kirana mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Happy Reading.
__ADS_1
Tbc.