
"Yang mana Tuan?" tanya Kirana tak menemukan bintang yang di maksud oleh Rendra.
"Itu, ada dua yang lebih terang dari yang lain, posisi mereka berdekatan, jadi bisa saja mereka berdua sudah berkumpul bersama di surga" kata Rendra kembali menunjuk bintang yang di maksudnya.
Kirana bisa melihatnya, namun tatapannya beralih ke Rendra yang menjelaskan itu, ucapan pria itu menguap dalam lamunannya.
"Apa kau bisa melihatnya?" kata Rendra melirik Kirana yang hanya diam ya.
"Eh? Oh iya aku melihatnya Tuan. Ehm, semoga benar kalau Ayah dan Ibuku berada di surga" kata Kirana salah tingkah karena ketahuan memandang lama pada Rendra.
"Benarkah kau melihatnya? Coba tunjukkan padaku, mana bintang yang aku maksud tadi?" kata Rendra menarik sudut bibirnya.
"Ehm....yang itu bukan? Itu juga yang paling terang" kata Kirana menunjuk asal bintang karena di lupa bintang mana yang dimaksud Rendra.
"Salah, aku tau kamu tidak menyimak kan?" kata Rendra langsung memberikan lirikan tajamnya.
"Nyimak kok, saya nyimak, bukankah itu ya tadi bintang yang Tuan tunjukkan?" kata Kirana mengelak tuduhan itu.
"Bohong, dari tadi kau melihatku kenapa?" kata Rendra memutar tubuhnya hingga menghadap Kirana.
"Tidak Tuan, saya tidak melihat anda" kata Kirana dengan kegugupan yang kentara di wajahnya.
"Masih nggak mau ngaku juga?" kata Rendra semakin menajamkan tatapannya.
"Iya, iya, saya memang melihat anda karena tadi saya melihat ada noda di pipi anda" kata Kirana mencari-cari alasan.
"Noda?" kata Rendra mengerutkan dahinya.
"Iya Tuan" kata Kirana.
"Noda apa? Apa kau bisa bantu menghapusnya?" kata Rendra tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke arah Kirana. Ia tau kalau wanita itu berbohong dan Rendra sengaja ingin menggodanya, rasanya sangat menyenangkan melihat wajah Kirana yang bersemu merah karena kegugupannya.
__ADS_1
"Eh?" Kirana kaget hingga reflek menggeser tubuhnya sampai ke pinggir dan tak sengaja ia terlalu ke pinggir hingga hampir saja jatuh kalau Rendra tak menarik tangannya.
Rendra menarik tangan Kirana dengan cepat dan tanpa di duga terlalu keras hingga tubuh Kirana menempel erat padanya. Pandangan mereka bertemu dengan posisi yang sangat dekat, mungkin hanya sebatas berapa senti.
Rendra terus menatap keseluruhan wajah Kirana dengan sorot mata mendamba, tangannya tanpa sadar meremas pelan pinggang Kirana untuk meluapkan perasaan aneh yang menjalar di hatinya. Tangannya kemudian terulur untuk menyentuh pipi Kirana dan mengusap bibir tipis merah jambu yang entah kenapa begitu menggodanya.
Kirana membesarkan matanya, jantungnya berdetak kencang hingga rasanya sangat kesusahan untuk bernafas. Bahkan kini mungkin Rendra bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup keras.
Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja Rendra sudah menempelkan bibirnya ke bibir Kirana yang hanya bisa mematung. Ia bahkan tak bisa hanya untuk sekedar membalas ciuman yang diberikan Rendra di bibirnya. Meskipun ciuman itu sangat lembut, tapi Kirana merasa Rendra tak menghargai dirinya.
Kirana langsung memalingkan wajahnya hingga ciuman itu terlepas, ia mengusap air matanya tanpa sepengetahuan Rendra.
"Maafkan aku, aku hanya..." kata Rendra mengutuk kebodohannya yang seenaknya saja mencium Kirana.
"Tidak apa-apa Tuan" kata Kirana mengigit bibirnya untuk menyamarkan tangisnya.
"Aku sudah tau semuanya" kata Rendra.
"Semua yang terjadi padamu aku sudah tau" kata Rendra melirik Kirana yang hanya bisa menunduk.
"Kalau Tuan sudah tau, bolehkah aku meminta satu hal padamu?" kata Kirana tak berani menatap Rendra.
Sekarang Rendra sudah tau semua tentang dirinya dan pastinya Rendra juga sudah tau se menjijikan apa dirinya. Kalau sudah begini, apalagi yang harus dibanggakannya?
"Hal apa?" kata Rendra.
"Tolong bebaskan aku" kata Kirana langsung membuat Rendra menatapnya tajam.
"Maksudmu?" kata Rendra bukannya tak tau apa maksud perkataan Kirana, ia hanya ingin mendengar lebih jelas apa yang diinginkannya.
"Bebaskan aku Tuan. Untuk sebelumnya, aku ucapakan terimakasih kepada Tuan karena sudah mau menolongku, sekarang aku ingin kembali ke kehidupanku yang dulu" kata Kirana tak ingin lagi terlibat dengan orang-orang seperti Maxi dan juga Rendra.
__ADS_1
"Apa kau tidak senang tinggal disini?" kata Rendra merasa tak rela jika melepaskan Kirana begitu saja.
"Saya senang bisa tinggal disini, semua orang disini sangat baik kepada saya. Tapi saya ingin memulai hidup yang baru Tuan, mungkin dengan tempat tinggal baru dan lingkungan baru" kata Kirana.
"Bukankah kau sudah tau kalau saat ini Maxi pasti senang mengincar dirimu lagi?" kata Rendra mencoba memberitahu bahaya nya dirinya kalau sampai keluar dari perlindungan Rendra.
"Ya saya tau, jika pun saya tertangkap, mungkin itu sudah menjadi takdir saya Tuan" kata Kirana entah berpikir apa, tapi ia tak ingin lagi hidup bersama Rendra. Kirana malu karena Rendra sudah mengetahui semuanya.
"Dan kau lebih ingin menjemput takdir dan kembali untuk mendapatkan penyiksaan itu begitu? Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Aku tidak akan membebaskan mu apapun alasannya" kata Rendra membentak kesal, tak habis pikir dengan jalan pikiran Kirana.
"Kenapa?" hanya satu kata itu yang meluncur dari mulut Kirana tapi Rendra sudah paham maksudnya.
"Aku melakukan ini karena perduli padamu. Mungkin kau tidak akan percaya, tapi aku rasa, aku mulai jatuh cinta padamu" kata Rendra to the point saja.
Kirana langsung kaget, ia menatap Rendra yang menatapnya sangat serius itu, tak ada kebohongan atau keraguan dari sorot mata itu. Tapi Kirana ingat kalau Rendra itu orang yang tidak mudah jatuh cinta kepada seorang wanita, jadi mungkin saja Rendra saat ini membohonginya.
"Tuan, tolong jangan bersikap seperti ini. Jangan buat seolah kau memang mencintaiku, perasaanmu itu hanya sekedar rasa kasihan karena tau apa yang terjadi pada hidupku kan?" kata Kirana menutup wajahnya dan menangis, ia juga mencintai Rendra, tapi kenapa hatinya juga sangat takut.
Rendra menghela nafas panjang, ia meraih tangan Kirana dan melihat wajah Kirana yang sembab karena menangis, ia mengusap air mata yang terus meleleh membasahi pipi Kirana.
"Seumur hidup aku memang tidak pernah jatuh cinta kepada siapapun selain kepada keluargaku. Tapi aku sangat mengenali hatiku, mungkin awalnya aku memang hanya kasihan padamu, tapi semakin aku mengenalmu, aku merasa ingin melindungi mu dalam kondisi apapun" kata Rendra memegang erat lengan Kirana, namun tak menyakitinya.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku atau tidak tapi, seumur hidupku, aku hanya melakukan ini kepadamu" kata Rendra mencium kembali bibir Kirana, hanya sekejap namun sudah membuat Kirana membeku.
Kirana tak percaya jika Rendra hanya pernah berciuman pertama kalinya dengan dirinya, mendengar itu, perasaannya bukannya membaik, justru semakin takut dan tak nyaman.
"Tapi aku tidak pantas untukmu Tuan"
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1