
"Papa!"
Rendra terlihat dikawal oleh dua orang polisi ketika menemui Papa Axel yang sedang menjemputnya. Pria itu sudah didampingi oleh kuasa hukum keluarganya. Semua kejadian ini tentu membuat Axel sangat marah karena ia yakin kalau Maxi adalah salah satu orang yang ingin menghancurkan keluarganya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Axel dengan suaranya yang berat.
"Aku baik, Papa sudah tau semuanya?" kata Rendra.
"Ya, Papa percaya kau tidak melakukan hal buruk itu, tapi apa yang sebenarnya terjadi?" kata Axel lagi.
"Aku juga bingung, awalnya aku berpikir kalau wanita itu hanya wanita biasa yang memang butuh pertolongan ku, tapi ternyata dia sudah bekerja sama dengan Maxi, pria itu pasti sengaja melakukan ini untuk menjatuhkan nama perusahaan kita Pa" kata Rendra kembali emosi jika mengingat wajah polos Kirana, sial sekali ia bisa tertipu dengan wajah polos itu.
"Kau benar, anak itu rupanya belum ingin menyerah. Setelah ini kau sudah bisa keluar, Papa mungkin tidak bisa membantumu karena Mamamu masuk rumah sakit" kata Axel menghela nafas ingat kondisi istrinya yang langsung drop begitu melihat berita tentang Rendra.
"Mama masuk rumah sakit?" tanya Rendra kaget.
"Ya, tekanan darahnya naik" kata Axel lagi.
"Maafkan aku sudah membuat nama keluarga kita malu, tapi percayalah Pa aku pasti akan membersihkan namaku seperti semula lagi" kata Rendra menatap Papanya serius.
"Papa percaya kau bisa, biarkan Eril nanti yang membantumu" kata Axel menepuk pundak anaknya pelan.
"Baik Pa" kata Rendra mengangguk mantap.
Axel segera menyuruh kuasa hukumnya untuk pembebasan Rendra dengan jaminan. Axel sebenarnya sangat marah karena ada yang berani mengusik keluarganya, tapi sekarang Rendra sudah dewasa dan dia pasti sudah bisa mengatasi semua masalah ini.
Rendra membenarkan sedikit jas yang dipakainya, ia sudah berganti baju dan membersihkan dirinya. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sangat ramai itu. Wajahnya dingin sekali dan sangat tak tertebak, ia akan mengurus Maxi setelah dia menemui Mamanya, karena Rendra belum tenang jika belum memastikan wanita nomor satu dalam hidupnya itu baik-baik saja.
"Rendra? Kamu baik-baik saja kan? Mama sangat mencemaskan mu" Bella langsung memeluk putranya dengan penuh haru.
"Aku baik-baik saja Ma, maaf udah buat Mama sakit gini, jangan sedih ya Ma" kata Rendra mengusap air mata Bella.
__ADS_1
"Gimana Mama nggak sedih, anak Mama ilang tapi begitu ketemu malah dituduh menculik seorang wanita, itu semua nggak bener kan?" kata Bella menatap anaknya.
"Enggak Ma, Mama nggak usah khawatir, Rendra pasti bisa ngatasin masalah ini, Mama harus sehat ya biar bisa dukung Rendra" kata Rendra mencium lembut tangan Ibunya yang masih sangat cantik meksipun usianya sudah kepala 4.
"Pasti, Mama pasti dukung Rendra, kamu juga jaga kesehatan" kata Bella lagi.
Selama lahir kedunia ini, Rendra itu jarang terkena masalah karena dia memang sangat menghindari yang namanya bertengkar dengan orang lain karena dia ingin hidup tenang tanpa masalah.
Tapi meskipun begitu tetap saja ada orang yang tidak menyukainya karena persaingan bisnis semakin ketat ditambah sebelumnya Axel juga sudah sangat terkenal di kota ini membuat pebisnis lain cukup susah untuk mengembangkan usahanya. Kini bahkan hampir seluruh negeri ini dikuasai oleh Belaxe High Conporation.
"Kak" Eril menghampiri Rendra setelah mereka berdua keluar dari ruangan Mamanya.
"Ya, apakah kau sudah menghubungi Bram?" kata Rendra langsung memasang wajah serius.
"Sudah, dia sedang menunggu Kakak di kantor" kata Eril juga ikut serius, ia membuang sejenak sikap santainya.
"Kita akan kesana langsung" kata Rendra lagi.
*****
"Namanya Kirana Van Houten, Ibunya berasal darisini dan Ayahnya keturunan luar. Dia baru pindah kesini sekitar tiga tahun, Ayahnya memiliki hobi berjudi dan karena hobinya itu dia terlilit hutang yang sangat banyak hingga seluruh asetnya disita. Tapi menurut laporan, Ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu" kata Bram membacakan biodata Kirana yang di dapatnya.
Rendra mengerutkan dahinya, cerita ini sama seperti apa yang di ceritakan oleh Kirana waktu mereka dihutan kemarin.
"Kak, sepertinya wanita itu memang sudah bekerjasama dengan Maxi, kemarin saat melakukan wawancara, dia mengatakan kalau kau memang sudah menculiknya, dia bahkan mengatakan kalau kau melakukan kekerasan fisik dan sek su al padanya" kata Eril juga ikut geram mendengar berita yang tersebar di seluruh kota.
Rendra diam, ia ingat perkataan Kirana yang meminta maaf padanya, apakah ini maksudnya? Tapi jika melihat apa yang dilakukan oleh wanita itu memang besar kemungkinan kalau Kirana sudah bersekongkol dengan Maxi untuk menjebaknya.
"Sekarang dimana wanita itu?" tanya Rendra.
"Anak buah kita melaporkan kalau beliau masih di dalam rumah Tuan Maxi, anak buah kita kesulitan menyusup masuk karena penjagaan sangat ketat" kata Bram lagi.
__ADS_1
"Baiklah, laporkan apapun padaku jika ada perkembangan apapun, kau sudah menyiapkan apa yang aku minta kan Bram?" kata Rendra.
"Semua sudah siap, anda bisa langsung menemuinya besok pagi" kata Bram lugas.
Rendra tersenyum puas, dari dulu Bram memang sangat bisa di andalkan, ia kemudian menatap beberapa foto Kirana yang didapat anak buahnya.
"Mau bermain-main denganku? Bersiaplah untuk kehancuranmu"
*****
Kirana memberikan salep di dadanya yang terluka, ia menahan perih saat ia mengoleskannya. Ia kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin, seorang wanita yang sangat cantik menggunakan lingerie tipis berwarna merah menyala. Kirana tidak menginginkan ini semua, tapi dia bisa apa? semua sudah menjadi takdir hidupnya yang harus menjalani hidup seperti ini.
Kirana memejamkan matanya, tangannya menggenggam erat pinggiran meja rias itu. Ia kembali mengingat malam dimana kehormatannya direnggut paksa dengan cara yang sangat menyakitkan, Kirana masih bisa mengingat jelas jeritan dan permohonannya waktu itu tapi tak membuat Maxi mau menghentikan kelakuan be ja tnya.
"Ternyata kau sudah siap untukku Babe"
Kirana tersentak saat mendengar suara Maxi, ia sangat ketakutan jika pria itu mendatanginya, sepertinya malam ini dia akan mengalami malam yang sama seperti malam sebelumnya.
"Aku sangat lelah hari ini, tolong jangan melakukan apapun padaku" kata Kirana menutupi tubuhnya yang terbuka.
"Boleh saja, tapi aku akan meminta ibumu menggantikanmu melayaniku, bagaimana?" kata Maxi mendudukkan dirinya dengan angkuh di sofa.
"Jangan, jangan lakukan apapun pada ibuku Max" kata Kirana sekali lagi harus mengiba kepada iblis ini.
"Kemarilah, jika kau bersikap baik padaku, aku akan melakukannya dengan lembut" kata Maxi mengulurkan tangannya seperti memanggil ja la ng yang siap menghangatkan malamnya.
Kirana mengigit bibirnya, hatinya menolak ini semua tapi sekali lagi dia sudah tidak berdaya, mungkin jika hanya dia yang mati, dia akan sangat rela, tapi bagaimana dengan ibunya. Kirana hanya bisa memejamkan matanya seraya menangis dalam diam saat Maxi menyentuh tubuhnya dengan kasar.
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1