
"Maafkan Mama Sayang, Mama tidak bermaksud," ucap Bella mengelus lembut lengan Kirana, merasa bersalah karena sudah mengungkit luka hati Kirana.
"Tidak apa-apa Tante," sahut Kirana mengangguk singkat.
"Kamu nggak usah sedih, mungkin orang tuamu sudah meninggal, tapi kamu tidak sendiri Kiran. Ada kami yang akan selalu bersama Kiran, kita disini keluarga," ucap Bella tersenyum tulus.
Axel ikut tersenyum, ia merasa bangga karena istrinya ini tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
"Ya benar, kamu bagian keluarga kita juga. Kamu putri kami sekarang," ucap Axel meski berwajah datar, tapi ia sangat tulus mengucapkannya.
Kirana menatap kedua orang tua Rendra bergantian, perbuatan baik apa yang sudah dia lakukan hingga bisa bertemu orang seperti mereka. Kirana benar-benar merasa disayangi dengan tulus oleh keluarga ini.
"Terima kasih, Kiran …" Kirana rasanya tak sanggup mengucapkan kata apapun selain rasa terima kasih yang teramat sangat karena Tuhan mempertemukannya pada Rendra.
Pria itu membawa warna baru dalam hidupnya yang sebelumnya kelam. Dia Rendra, pria yang sangat tulus mencintainya.
"Jangan berterima kasih terus, ayo habiskan makanannya, nanti Mama marah loh kalau nggak habis," ucap Bella mengajak bercanda untuk mengalihkan perasaan Kirana.
"Marahin aja, Ma. Dia emang bandel kalau disuruh makan," celetuk Rendra ikut menggoda Kirana.
Kirana tersenyum, ia memandang Rendra dengan lembut. Ia benar-benar beruntung memiliki pria indah ini.
"Terima kasih," bisik hati Kirana rasanya ingin memeluk pria itu segera untuk meluapkan rasa cinta yang membuncah di dalam hatinya.
*****
"Kirana kira-kira mau konsep pernikahan yang bagaimana?"
Setelah makan malam usai, Bella mengajak Kirana untuk mendiskusikan tentang rencana pernikahan mereka. Rendra sedang bersama Axel untuk membahas beberapa pekerjaan, sedangkan Gwiyomi berpamitan ke kamar karena ingin menyelesaikan tugas kampusnya.
"Ehm, Kiran nggak tahu Ma," sahut Kirana jujur saja tak pernah mempunyai rencana pernikahan impian seperti apa. Hal itu terlalu indah untuk sekedar dibayangkan olehnya.
Bella melirik Kirana sesaat. "Kiran, apa Mama boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Bella kini menatap Kirana lebih serius.
"Bertanya apa, Ma?" sahut Kirana penasaran.
"Apa alasan kamu menerima Rendra?"
Kirana terdiam, pertanyaan itu sebenarnya sangat mudah. Tapi apakah ia harus menjelaskan semua pertemuannya yang kurang enak untuk dibicarakan.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak mau jawab ya sudah, yang penting kalian berdua hidup bahagia, Mama sudah senang," ucap Bella seolah mengerti kebingungan Kirana.
"Rendra baik, dia pria yang pertama kali mengajarkan arti sebuah ketulusan," ucap Kirana lirih, tatapan matanya menerawang jauh dimana saat Rendra menemaninya melihat bintang.
"Benarkah? Mama kira, dia seperti Papanya yang tidak banyak bicara," kata Bella tersenyum kecil, senang karena Kirana mulai berani terbuka.
"Ya, dia memang sangat dingin. Waktu pertama kali kita bertemu, Rendra bahkan terus menatapku tajam," kata Kirana ikut tersenyum mengingat kilas balik pertemuannya dengan Rendra di hutan.
Pria dingin, arogan dan menyebalkan, kalau ditanya sangat ketus. Namun entah kenapa bisa membuatnya jatuh cinta.
Kali ini ucapan Kirana membuat Bella tertawa, definisi nyata kalau Rendra jelas titisan dari suaminya. Bella juga ingat betul bagaimana cara Axel memandangnya dulu, tatapan tajam dan sangat dingin.
"Nggak Papa, nggak anak sama aja. Dulu juga Papanya Rendra gitu," kata Bella masih dengan tawanya.
"Oh ya?" sahut Kirana tertular tawa Bella, ia merasa senang bisa berbincang hangat seperti ini.
"Iya, sekarang juga masih suka gitu," ucap Bella seadanya.
Kirana mengangguk membenarkan, kesan pertama yang ia tangkap dari Axel juga sama persis seperti Rendra. Meski sudah berumur, Axel memiliki aura yang kuat.
Mereka berdua melanjutkan mengobrol, Bella yang pada dasarnya orang yang humble, bisa dengan mudah mencari topik pembahasan agar suasana tidak canggung. Kirana sebenarnya sedikit minder melihat Bella yang bisa berbicara begitu luwes, pengetahuan Bella pun sangat luas. Tidak seperti dirinya yang hanya lulusan SMA.
"Kamu juga nanti akan terbiasa seperti ini," ucap Bella tiba-tiba.
"Kiran nanti pasti akan sering bertemu orang baru. Menjadi istri Rendra, mungkin akan membuat perubahan dalam diri Kirana, tapi it's oke, kita bisa belajar pelan-pelan," ucap Bella sangat mengerti apa yang dipikiran Kirana saat ini.
"Aku nggak pernah sekolah tinggi, Ma" ucap Kirana jujur, tak ingin menutupi apapun lagi.
"Untuk itu Kiran bisa membicarakannya sama Rendra. Yang penting kalian menikah dulu," ucap Bella lebih mementingkan hal itu dulu. "Kamu sudah setuju 'kan? Menikah sama Rendra," sambung Bella kemudian.
"Bagaimana baiknya saja, Ma" ucap Kirana tersenyum kikuk, rasanya tak enak jika ia mengatakan langsung setuju sedangkan Rendra juga belum melamarnya secara resmi.
"Lagi ngobrolin apa sih, kayaknya serius banget,"
Obrolan mereka terputus tatkala Rendra dan Axel datang. Sepertinya pekerjaan mereka sudah selesai.
"Udah selesai kerjanya?" tanya Bella tersenyum menyambut kedua pria penting dalam hidupnya ini.
"Udah, kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Axel seperti biasa langsung mengambil duduk di samping Bella.
__ADS_1
Kirana sendiri langsung berpindah tempat duduk di samping Rendra saat Papa mertuanya datang.
"Oh, lagi bahas pernikahan Rendra, Kirana sudah setuju kalau pernikahannya dua minggu lagi," ucap Bella dengan santainya namun membuat ketiga pasang mata terkejut.
"Dua minggu lagi?" ucap Rendra tentu terkejut karena merasa waktu itu cukup cepat. Ia menatap Kirana yang sama terkejutnya seperti dirinya, sejak tadi Bella tidak membahas soal kapan pernikahan mereka, kenapa menjadi dua minggu lagi? pikir Kirana.
"Ya, lebih cepat lebih bagus 'kan?" ucap Bella sekarang mengerti apa yang dirasakan oleh Mama mertuanya dulu saat ingin secepatnya melihat ia dan Axel menikah. Sangat senang dan sangat tak sabar.
"Mama benar, lebih cepat lebih bagus," kata Rendra mendadak tersenyum manis, ia juga sangat setuju jika pernikahannya dipercepat.
Kirana membesarkan matanya, kenapa sekarang Rendra malah ikut-ikutan setuju.
"Ehm, maaf Ma, apa ini tidak terlalu cepat?" ucap Kirana benar-benar belum siap jika menikah secepat ini.
"Bukannya kamu sudah setuju?" tanya Rendra sedikit bingung.
Kirana hanya menggelengkan kepalanya seraya melirik Bella, pertanda ia tak tahu apapun.
Rendra ikut melirik Mamanya yang hanya senyum-senyum saja. "Ya benar, Mama memang belum mengatakannya pada Kirana. Sekarang Mama katakan lagi, pernikahan kalian akan diadakan dua minggu lagi? Gimana?" ucap Bella menatap Rendra dan Kirana bergantian.
"Kamu keberatan?" tanya Rendra meski setuju saja dengan keputusan Mamanya, ia tetap memprioritaskan pendapat Kirana.
"Ehm, baiklah," sahut Kirana setelah berpikir cukup lama, ia juga tak enak jika harus menolak. Apalagi melihat wajah orang tua Rendra yang sangat berharap. Toh menikah sekarang atau nanti sama saja.
"Baiklah, Papa juga setuju 'kan?" kata Bella tak menyembunyikan nada senang di raut wajahnya.
Axel hanya mengangguk tanpa suara, sebagai orang tua, ia juga ingin secepatnya melihat kebahagian anaknya.
"Wah … wah … sepertinya aku ketinggalan sesuatu nih," terdengar suara Eril baru saja datang membuat semua perhatian teralihkan.
"Eril, baru pulang jam segini? Ayo gabung sini," ucap Bella bangkit menyambut kedatangan Putra keduanya itu.
"Biasalah Ma, macet," kata Eril seadanya. "Ada tamu?" tanyanya sedikit mengerutkan dahinya
"Ya, dia calon istri Kakakmu. Ayo kenalan dulu," ucap Bella menggandeng tangan Eril mendekat ke arah Rendra dan Kirana.
Eril mengerutkan dahinya, calon istri? Sejak kapan Kakaknya mempunyai seorang kekasih? Lagipula wanita mana yang sudah berhasil mencairkan sikap dingin Kakaknya. Eril sangat penasaran, namun saat melihat siapa wanita yang menjadi calon istri Kakaknya, seketika ekspresi wajahnya berubah.
"Untuk apa dia disini?"
__ADS_1
Happy Reading.
Tbc.