
"Kau gila! Maxi itu musuh yang berbahaya, bagaimana bisa kau menyuruh Gwi melakukan ini semua" Rendra justru marah karena tak ingin ambil resiko.
"Kakak tenang saja, aku pasti bisa menjaga diriku kok, lagipula selama ini tidak ada yang tau kalau aku adikmu kak, jadi aku rasa tak masalah jika aku melakukannya" kata Gwiyomi sudah bertekad ingin membantu kakaknya.
"Gwi benar, anak buah kita juga bisa tetap menjaga Gwi jika Maxi akan macam-macam" kata Eril lagi.
"Tapi tetap saja Kakak tidak tenang, kau juga kenapa harus memakai baju seperti ini, sudah berapa kali kakak bilang, jangan memakai pakaian terlalu terbuka" kata Rendra memang sangat tidak suka jika adik perempuannya ini berpakaian minim, ia tak suka tubuh adiknya menjadi santapan para lelaki di luar sana.
"Oh, ini itu fashion tau, bukankah tugasku disini ingin menggoda Maxi?" kata Gwiyomi mencari pembelaan, kakaknya ini memang posesif sekali.
"Jangan keterlaluan, kau juga harus menjaga dirimu" kata Rendra memperingatkan adiknya.
"Iya iya, jadi Kakak setuju kan?" kata Gwiyomi menatap kedua kakaknya bergantian.
"Baiklah, tapi ingat jangan sampai kelewat batas, anak buah kita akan selalu mengawalmu nanti" kata Rendra dengan berat hati menyetujuinya.
"Tidak akan kak, percayalah aku tidak akan tergoda oleh pria seperti Maxi, selama belum ada pria yang melebihi ketampanan kalian, tidak ada kata jatuh cinta dalam kamusku" kata Gwiyomi mengibaskan rambutnya dengan anggun. Itu adalah satu prinsip hidupnya yang paling penting.
"Lalu kapan rencana ini akan dijalankan?" kata Eril menatap Rendra serius.
"Secepatnya"
*****
Kirana membuka matanya perlahan, ia mendesis saat merasakan nyeri di perut bawahnya, ia melirik arah luar yang sudah sangat terang. Kirana langsung turun dari ranjangnya dan membersihkan dirinya, tak lupa ia mengoleskan salep di beberapa luka yang selalu ditinggalkan oleh Maxi ketika pria itu menyentuhnya.
Setelah berpakaian, Kirana keluar kamar menyusuri ruangan demi ruangan yang tampak begitu megah, ia menuju rumah bagian belakang yang dijaga ketat oleh anak buah Maxi.
"Aku ingin menemui ibuku, Maxi sudah memberikan izin" kata Kirana melapor pada ketua penjaga.
"Masuklah" kata penjaga itu mempersilahkan.
Kirana langsung masuk kedalam ruangan yang terlihat sangat sempit dan gelap itu, hanya ada cahaya dari jendela kaca yang begitu tinggi, udara sangat susah sekali masuk kedalam sana. Pandangan Kirana bertumpuk pada sosok ibunya yang berbaring lemah di kasur yang keras itu.
__ADS_1
"Ibu, ini Kiran" kata Kirana memegang lembut tangan ibunya.
"Kiran? kau datang nak?" suara lemah ibunya membuat air mata Kirana langsung lolos.
"Kiran kangen ibu, ibu baik-baik saja kan?" kata Kirana membantu ibunya yang ingin duduk.
"Ibu baik, setiap hari ibu selalu di beri makan, kamu juga baik-baik saja kan? Tuan Maxi memperlakukanmu sangat baik kan?" kata Ibu Kirana menciumi wajah anaknya seolah lama sekali tidak bertemu.
Kirana semakin menangis, selama ini Maxi memang mengatakan kepada ibunya kalau memperlakukannya dengan sangat baik, tapi sebagai gantinya ibunya tidak boleh keluar darisana karena akan sangat merepotkan. Tapi semua itu hanya kebohongan belaka karena Maxi memperlakukan Kirana layaknya binatang peliharaan yang bebas dia apa-apakan.
"Kiran baik, Maxi juga menjagaku dengan baik" kata Kirana berbohong karena tak ingin membuat ibunya sedih.
"Syukurlah, Ibu senang mendengarnya" kata Ibu Kirana memeluk putrinya kembali.
Kirana pun segera membalasnya hingga mereka berdua berpelukan cukup lama sebelum tiba-tiba pintu kamar itu di buka dengan kasar membuat mereka berdua kaget.
"Maxi" kata Kirana kaget.
"Tuan, kau mau membawa dia kemana? kenapa kau kasar sekali kepada putriku" kata Ibu Kirana mencegah Maxi.
"Jangan menghalangi aku, putrimu ini sudah berani mengkhianati ku" kata Maxi seperti kesetanan kembali menarik tangan Kirana dan menyeretnya keluar.
"Jangan! Jangan bawa dia pergi! Tolong jangan lakukan apapun padanya" kata Ibu Kirana kembali menghalanginya, kali ini ia memegang kaki Maxi.
"Dasar perempuan tidak berguna!" kata Maxi menendang ibu Kirana dengan keras hingga kepala ibunya membentur tembok dan berdarah.
"Ibu!" teriak Kirana membantu ibunya tapi Maxi tak mengizinkannya.
"Jangan menentang ku! Penjaga, kunci pintu ini dan jangan memberi makan perempuan ini selama dua hari" kata Maxi menyeret Kirana dari ruangan itu.
"Lepaskan aku! Aku mohon...jangan lakukan itu pada ibuku" kata Kirana menangis meraung, ia memikirkan ibunya yang terluka tapi kenapa Maxi dengan kejam melakukan ini semua.
"Kau harus aku hukum karena sudah berani bermain dibelakangku" kata Maxi mendorong Kirana ke ranjang saat mereka berdua sampai di dalam kamar.
__ADS_1
"Ampuni aku Max, aku tidak pernah mengkhianatimu" kata Kirana beringsut menjauh sangat takut jika Maxi akan berbuat hal gila.
"Pembohong! Apa yang sudah kau lakukan bersama Rendra selama kalian dihutan" teriak Maxi langsung menangkap tangan Kirana dan menekuknya di atas kepala.
"Aku tidak melakukan apapun Max, argh....sakit..." kata Kirana menggelengkan kepalanya tak tahan saat Maxi mencengkeram tangannya.
"Kau memang wanita murahan! Aku tidak percaya padamu" kata Maxi bangkit dari atas Kirana lalu mengambil ikat pinggangnya.
"Max, ampuni aku Max...tolong jangan lakukan itu...." Kirana terus mundur ke belakang tak ingin mendapatkan penyiksaan yang pastinya akan sangat menyakitkan.
Tapi apalah daya Kirana, dia hanya wanita kecil yang lemah hingga perlawanannya pun tak akan ada artinya bagi Maxi. Suara jeritan dan tangisannya menggema di penjuru kamar itu, tapi semakin dia merasakan sakit maka semakin puas Maxi.
"Kau pasti sudah mengatakan apa rencana kita kan? Kau wanita tidak berguna! Gara-gara kau Rendra bisa membalasku dan sekarang aku rugi besar" teriak Maxi mendorong tubuh Kirana yang sudah begitu lemas ke lantai dan meninggalkannya begitu saja.
Kirana masih bisa mendengar semuanya, tapi matanya tak kuat untuk terbuka, seluruh badannya terasa sangat remuk hingga rasanya Kirana ingin mati saja. Kapan penderitaan ini akan berkahir tuhan?
*****
Maxi keluar dari kamarnya, wajahnya masih begitu kesal dengan semua apa yang terjadi hari ini. Ia baru saja ingin merenggangkan sedikit ototnya tapi tiba-tiba asistennya mendatanginya.
"Ada apalagi? aku sudah bilang aku tidak ingin di ganggu" kata Maxi membentak kesal.
"Maaf Tuan, tapi ada seorang wanita ingin menemui anda" kata asisten Maxi.
"Suruh saja dia pulang, aku sedang tidak mood" kata Maxi malas sekali jika harus menemuinya, wanita itu pasti salah satu wanita yang tergila-gila padanya dan saat ini Maxi sedang malas meladeni tingkah manja mereka.
"Tapi Tuan, wanita ini mengatakan kalau dia bisa membantu anda mengalahkan Tuan Rendra" kata Asisten Maxi langsung membuat Maxi menatapnya serius.
"Dimana dia?
Happy Reading.
Tbc.
__ADS_1