Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Mengenalmu Lebih Dekat.


__ADS_3

Rendra membaca semua berkas yang diberikan Bram kepadanya dengan serius, selain berkas tentang kehidupan Kirana sebelumnya, Bram juga membawa sebuah rekaman CCTV yang baru diretasnya dari rumah Maxi.


"Awalnya Nona Kirana dijadikan gadis penebus hutang oleh Ayahnya kepada Maxi, tapi ternyata Maxi sangat licik, dia mengambil Nona Kirana tapi dia justru membunuh Ayahnya" kata Bram.


"Lalu?" Rendra mulai tak enak perasaannya.


"Nona Kirana menolak mati-matian saat itu tapi Maxi menggunakan ibu Nona Kirana untuk menekannya agar mau menuruti semua perintahnya. Selama ini Nona Kirana sudah diperlakukan sangat tidak baik oleh Tuan Maxi, beliau bahkan tak segan untuk melakukan kekerasan fisik jika Nona Kirana menolak perintahnya" kata Bram membacakan semua laporan terbarunya.


Mendengar itu Rendra merasa tak percaya, apakah ini alasan kenapa Kirana selalu terlihat murung dan sangat ketakutan jika bertemu dengan Maxi? Apa itu juga yang membuat Kirana mengalami depresi hebat saat pertama kali dia menemukannya? Wanita itu sudah mengalami siksaan batin dan juga fisiknya.


"Lalu dimana sekarang ibunya?" tanya Rendra berharap masih ada satu orang bagian dari Kirana yang tersisa.


"Ibu Nona Kirana dikabarkan meninggal saat mereka kabur dari rumah Tuan Maxi, beliau di tembak oleh anak buah Tuan Maxi dan jasadnya...."


Rendra mengangkat tangannya pertanda Bram menghentikan ucapannya, hatinya tak kuat jika harus mendengar hal yang lebih mengerikan lagi. Rendra sekarang tau dibalik sorot mata sayu yang selalu ditunjukkan Kirana, teryata wanita itu menyimpan luka yang sangat dalam.


Entah kenapa hati Rendra ikut sedih, perasaan ingin melindungi itu tiba-tiba muncul dalam dirinya, apakah benar kalau hatinya sudah memilih dia?


"Anak buah kita juga sempat mendapatkan beberapa rekaman CCTV di rumah Tuan Maxi" kata Bram menyerahkan sebuah flashdisk kepada Rendra.


Rendra menatap flashdisk itu dengan ragu, ia menebak akan melihat hal buruk nantinya. Tapi Rendra juga penasaran. Akhirnya setelah Bram keluar dari ruangannya, Rendra segera membuka laptopnya lalu memasang flashdisk itu dan melihat isi rekaman CCTV itu.


Awalnya tak ada yang aneh atau apa, tapi semakin lama rekaman CCTV itu diputar, semuanya mulai tampak jelas. Disana terlihat saat pertama kali Kirana datang dibawa Ayahnya. Di rekaman itu juga terlihat bagaimana Ayahnya dibunuh oleh Maxi dengan cara diberondong tembakan peluru di tubuhnya.

__ADS_1


Lalu adegan selanjutnya sudah bisa di tebak, yaitu Kirana yang diseret paksa oleh anak buah Maxi. Tangan Rendra mulai mengepal saat melihat bagaimana kasarnya mereka memperlakukan Kirana.


Lalu di video selanjutnya, terlihat Kirana sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang bisa dipastikan kalau itu ibunya. Sama seperti sebelumya, Kirana kembali di paksa, kali ini oleh Maxi sendiri, bahkan di video itu terlihat Maxi menjambak rambut Kirana lalu menyeretnya pergi.


"Brengsek!" Rendra tanpa sadar langsung menggebrak meja karena tak terima melihat Kirana diperlakukan sangat kasar seperti itu.


Maxi ternyata orang yang sangat kejam seperti iblis, Rendra sekarang yakin kalau keputusannya untuk membalas dendam kepada pria itu sangat tepat. Selain untuk menuntaskan rasa sakit hatinya, Rendra juga akan membalas Maxi karena sudah memperlakukan Kirana seperti itu.


Rendra tak tau apa alasannya melakukan itu, entah karena rasa kasihan atau karena perasaan lain, yang jelas hatinya merasa tak terima melihat Kirana tersakiti.


"Bram! Aku ingin kau mem-blow up semua video skandal Maxi ke media. Aku ingin pria itu hancur ketitik terendahnya. Dan pastikan jangan ada satu pun orang yang berani menolongnya. Jika ada, maka katakan kalau dia akan berurusan dengan Gyanendra Xavier" kata Rendra dengan sorot mata kejam.


*****


Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 21, Kirana ingat waktu dulu saat mereka berkumpul merayakan ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Saat itu Kirana merasa menjadi wanita yang paling bahagia karena mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dari kedua orang tuanya.


Namun sayangnya, itu adalah perayaan ulang tahun terakhirnya yang sangat indah. Saat Ayahnya mengajaknya pindah tempat tinggal, semuanya pun langsung berubah. Puncaknya adalah saat saham perusahaan keluarganya yang anjlok, ditambah ternyata Ayahnya juga memiliki hutang yang sangat besar.


Kirana yang dulunya menjadi wanita manja dan semua keinginannya di turuti, harus rela berhenti kuliah dan banting tulang mencari uang untuk membantu perekonomian keluarga. Kirana tak masalah jika harus bekerja, asalkan keluarganya akan kembali seperti semula.


Tapi harapannya tak pernah terwujud, Ayahnya yang frustasi karena memikirkan perusahaan yang bangkrut, menjadikan minuman dan judi sebagai pelariannya. Kirana dan ibunya harus pontang-panting mencari uang untuk membayar hutang Ayahnya yang tersebar dimana-mana. Hingga pada saatnya, Ayahnya membawanya kepada Maxi dan terjadilah penderitaan berkepanjangan ini.


"Duduk di taman sendirian malam-malam itu tidak bagus" suara berat yang sangat khas itu terdengar membuat Kirana langsung menoleh.

__ADS_1


"Tuan Rendra?" kata Kirana sedikit kaget melihat pria itu datang, padahal beberapa hari ini Rendra tidak pernah terlihat disana.


"Ya, sedang apa malam-malam disini?" kata Rendra terdengar tak se kaku biasanya. "Apakah aku boleh duduk?" kata Rendra lagi, mengendapkan kesopanannya.


"Oh iya silahkan Tuan" kata Kirana menggeser duduknya sampai ke ujung kursi taman itu.


"Apa yang kau pikirkan?" kata Rendra melirik wajah Kirana, kesedihan itu tampak masih menghiasi wajahnya.


"Ehm, tidak ada Tuan" kata Kirana enggan bercerita, lagipula rasanya tak pantas jika ia menceritakan perjalanan hidupnya yang menyedihkan.


"Baiklah, kalau kau tidak ingin bercerita itu terserah padamu. Aku juga tidak akan memaksa, karena tak semua masalah bisa diceritakan" kata Rendra lagi.


Kirana melirik Rendra sekilas, ia merasa Rendra sangat berubah sekali. Tapi bukannya itu bagus kalau Rendra tak lagi membencinya?


"Tuan, aku pernah mendengar kalau orang yang meninggal itu akan menjadi bintang, apakah menurutmu Ayah dan Ibuku juga akan menjadi bintang?" kata Kirana kembali menatap bintang di langit.


"Mungkin, dulu Mamaku juga pernah bercerita padaku. Saat kakak pertamaku meninggal, Mama sering melihat bintang di langit, dia selalu mencari bintang yang paling cerah dan meyakini kalau itu kakakku. Jadi, mungkin kedua orang tuamu juga bisa menjadi bintang" kata Rendra.


"Yang paling cerah?" kata Kirana mencari-cari bintang yang paling cerah.


"Ya, kau lihat bintang itu? Dua bintang itu terlihat lebih cerah dari yang lainnya, mungkin itu orang tuamu" kata Rendra menunjuk bintang yang dilihatnya.


Happy Reading.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2