Jerat Cinta Kirana

Jerat Cinta Kirana
Pergi Ke Club.


__ADS_3

"Halo Jingga? Lu dimana sekarang?"


Gwiyomi terlihat sudah berdandan sangat cantik sekali malam itu, malam itu adalah malam minggu dan dia berencana untuk pergi keluar bersama sahabatnya. Tapi biasanya, Papanya tak memperbolehkannya untuk keluar malam kalau tidak di antar oleh supir. Itupun hanya boleh keluar jika ada hal penting.


"Gue nggak bisa keluar, Papi sama Mami lagi di rumah, elu lah yang jemput gue"


"Mana bisa? Lu lupa gimana ketatnya Papa gue" kata Gwiyomi mendesah kesal. Kalau begini dia gagal untuk malam mingguan di club bersama sahabatnya.


"Gue juga nggak bisa kalau harus jemput elu, kalau lu yang jemput gue, pasti Papi sama Mami percaya"


"Masa iya kita nggak jadi jalan?" kata Gwi.


"Ya terserah, elu kan yang ngajakin jalan, kalau gue sih nggak harus pergi, mau nonton drakor lebih enak"


"Drakor mulu sih lu, makanya hidup lu penuh drama" kata Gwi mendengus kesal. Jingga ini memang pecinta drama garis keras.


"Bodo amat, big mouse gue lebih seru daripada ke club, ketemu orang nggak jelas"


Jingga langsung menutup panggilan itu membuat Gwi semakin kesal, sahabatnya ini memang pecinta drama garis keras, bahkan sangking cintanya, semua barang-barang Jingga berbau dengan hal Korea. Sedangkan Gwi justru kebalikannya, dia paling tidak suka dengan hal-hal yang berbau drama karena baginya drama itu sangat membosankan. Gwiyomi lebih suka tantangan dan pastinya bersifat nyata.


"Sayang, kamu belum tidur?" Mama Bella terlihat memasuki kamar Gwi membuat Gwi cepat-cepat masuk kedalam selimut untuk menutupi bajunya yang sangat seksi.


"Belum Ma, ada apa?" kata Gwiyomi pura-pura menguap agar terlihat ia sudah mengantuk.


"Barusan Oma telepon, katanya Opa tekanan darahnya naik" kata Mama Bella terlihat menghela nafasnya, belakangan ini kondisi Papanya memang sering drop.


"Opa sakit apa?" kata Gwiyomi langsung kaget mendengar kakeknya sakit, apalagi hubungan mereka sangat dekat karena Kakeknya sangat menyayanginya pastinya sangat memanjakannya.


"Kayaknya penyakit asmanya kambuh. Mama sama Papa malam ini akan kesana, kamu mau ikut atau di rumah aja?" kata Mama Bella lagi.


"Aku pengen ikut Ma, tapi besok aku ada kelas pagi" kata Gwiyomi.

__ADS_1


"Yaudah kamu nggak usah ikut, di rumah sama Kak Eril, Mama udah menghubunginya agar tidak pulang terlalu larut nanti, kamu baik-baik ya di rumah" kata Mama Bella mencium kening anaknya dengan penuh kasih.


"Iya Ma" kata Gwiyomi mengangguk seraya mengulas senyum tipisnya.


"Mama langsung berangkat, kalau ada apa-apa hubungin Mama, besok kalau kamu selesai kelas usahakan buat jengkuk Kakek sama Kakakmu" kata Mama Bella lagi sebelum keluar dari kamar putrinya.


"Gwi nggak ikut?" tanya Papa Axel saat melihat istrinya kembali sendirian.


"Enggak, besok ada kelas pagi katanya. Nanti biar dia di rumah sama Eril, coba kamu hubungi dia, masih lama nggak pulangnya" kata Mama Bella juga tak tenang jika meninggalkan putri kesayangannya sendirian di rumah.


"Udah, katanya tinggal deket. Rendra juga nggak bisa pulang karena ada banyak tugas" kata Papa Axel.


"Apa kau tidak terlalu membebani Rendra By? Dia jadi jarang di rumah sekarang" kata Mama Bella merasa sudah lama sekali tidak bertemu putranya.


"Aku sudah mengurangi pekerjaannya, tapi dia yang memang ngotot ingin semua dia yang mengurus. Kamu tau sendiri kalau Rendra punya kemauan itu bagaimana, Eril juga udah banyak bantu kok ini" kata Papa Axel sudah sangat hafal sekali dengan sifat putra sulungnya itu.


"Aku hanya tidak mau dia terlalu capek, umur segitu harusnya Rendra udah punya pacar" kata Mama Bella.


Mama Bella tak menyahut, ia tidak ingin memaksa Rendra untuk mempunyai pacar atau bagaimana. Tapi sebagai orang tua, Bella khawatir karena putra sulungnya itu tidak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada wanita manapun.


Berbeda dengan Eril yang sering berganti-ganti pacar, bahkan sejak Eril masih duduk di bangku SMA dia sudah berpacaran. Tapi Bella sudah mewanti-wanti putranya untuk tidak berpacaran yang sampai kelewat batas apalagi sampai merusak anak orang.


*****


"Jing, lu buruan siap-siap, gua bakalan otewe ke rumah elu"


Sepeninggal Mamanya dari kamar, Gwiyomi langsung bergerak cepat untuk bersiap-siap pergi. Karena saat ini hanya satu-satunya kesempatan untuk dia bisa keluar tanpa halangan apapun.


"Seriusan? Lu sama siapa? Emangnya boleh?"


"Nggak usah banyak tanya, pokoknya kalau gue sampai di rumah elu, lu harus sudah siap"

__ADS_1


Tut Tut Tut Tut.


Gwiyomi langsung mematikan sambungan teleponnya, ia mengintip mobil kedua orang tuanya yang sudah meninggalkan rumah. Gwiyomi langsung berlari turun, dia harus secepatnya pergi sebelum kakak posesifnya datang dan akan menghalanginya lagi.


"Pak Arman, tolong bukain gerbang, aku mau keluar" kata Gwiyomi pada satpam rumahnya.


"Nona mau kemana? Tuan Axel tadi berpesan kalau anda tidak boleh keluar rumah kalau tidak bersama Tuan Eril" kata Pak Arman sudah di wanti-wanti oleh bosnya sebelum pergi tadi.


"Aku cuma mau beli obat di apotik, udah buruan ah, buka gerbangnya" kata Gwiyomi tak sabar.


"Tapi Nona..."


"Kalau bapak nggak mau buka, aku bakalan laporin ke Papa kalau bapak macem-macem sama aku biar di pecat" kata Gwiyomi terpaksa mengeluarkan ancamannya agar Pak Arman mau di ajak bekerja sama.


"Eh Nona, jangan lakukan itu Nona, anak dan istri saya masih butuh makan" kata Pak Arman ketakutan.


"Lah makanya, bukain cepet" kata Gwiyomi langsung masuk kedalam mobilnya setelah melihat anggukan dari Pak Arman.


Jantung Gwi rasanya berdegup kencang, seumur hidupnya Gwi tidak pernah melanggar peraturan Papanya. Tapi kali ini entahlah, sepertinya memang gejolak darah mudanya harus segera di tuntasakan.


Umurnya yang masih 19 tahun, merasa ingin sekali tau hal-hal yang menarik perhatiannya. Dan club adalah tempat yang paling ingin sekali di datangi, kenapa alasannya Gwi ingin datang kesana? Karena ia penasaran, kenapa banyak sekali teman-temannya yang sering menghabiskan waktunya di club. Hanya itu saja, dia penasaran.


Perlahan mobilnya meninggalkan rumah menuju rumah sahabatnya Jingga. Namun Gwiyomi tidak tau kalau ada mobil lain yang langsung mengikutinya di belakang.


"Target sudah keluar rumah bos" ucap sang penelepon misterius kepada bosnya.


"Bagus, ikuti terus dia dan pastikan dia jangan sampai lolos. Aku sendiri yang akan menjemputnya untuk ikut bersamaku"


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2